NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

rahasia dicafe madero

Pagi itu, Nayla terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi.

Cahaya matahari masuk samar dari celah tirai kamar lamanya. Tidak terang, karena langit masih dipenuhi awan sisa hujan semalam. Namun cukup untuk membuat Nayla menyadari bahwa malam telah berganti pagi.

Ia menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka lebar.

Tidurnya tidak nyenyak.

Setiap kali hampir terlelap, bayangan Arga bersama Siska kembali muncul. Pesan-pesan di ponsel suaminya. Nada suara Arga yang memintanya pulang. Lalu pesan misterius dari nomor tidak dikenal.

*Kalau kamu mau tahu semuanya tentang Arga dan Siska, jangan percaya pada pengakuan Arga saja.*

*Besok pagi, datang ke kafe Madero dekat kantor Arunika. Datang sendiri.*

Nayla meraih ponselnya yang terletak di meja samping ranjang. Pukul 05.46.

Pesan itu masih ada.

Tidak ada pesan lanjutan. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada petunjuk siapa yang ingin menemuinya.

Seharusnya Nayla mengabaikannya.

Ia baru saja keluar dari apartemen. Baru saja mengakui kepada orang tuanya bahwa Arga selingkuh. Emosinya belum stabil. Bertemu orang asing yang mengirim pesan misterius mungkin bukan keputusan yang bijak.

Namun rasa ingin tahunya lebih kuat.

Arga sudah berbohong terlalu lama.

Jika ada sesuatu yang belum ia ketahui, Nayla ingin mendengarnya sebelum kembali berbicara dengan suaminya.

Ia bangkit perlahan dari ranjang dan membuka lemari. Di dalamnya masih ada beberapa pakaian lama yang ditinggalkannya setelah menikah. Nayla memilih blus cokelat muda dan celana panjang hitam. Ia tidak ingin terlihat seperti sedang menghadiri pertemuan penting, tetapi juga tidak ingin tampak terlalu rapuh.

Saat ia keluar kamar, aroma nasi goreng tercium dari dapur.

Bu Ratih sedang berdiri di depan kompor dengan rambut yang masih diikat sederhana. Beliau menoleh ketika mendengar langkah Nayla.

“Kamu bangun?” tanya ibunya.

“Iya, Ma.”

“Kamu tidur nyenyak?”

Nayla ingin menjawab iya agar ibunya tidak khawatir. Namun ia tidak sanggup berbohong.

“Lumayan.”

Bu Ratih mematikan kompor lalu menatap putrinya dengan lembut. “Kamu mau ke mana pagi-pagi begini?”

Nayla terdiam sejenak.

Ia tidak ingin membuat ibunya semakin cemas. Namun setelah semua yang terjadi, ia juga tidak ingin lagi menyembunyikan sesuatu dari orang tuanya.

“Aku dapat pesan dari seseorang,” jawab Nayla akhirnya. “Orang itu bilang tahu sesuatu tentang Arga dan Siska. Dia minta bertemu di kafe dekat kantor Arga.”

Wajah Bu Ratih langsung berubah khawatir.

“Siapa orangnya?”

“Aku tidak tahu.”

“Kalau begitu jangan pergi sendiri.”

“Pesannya minta aku datang sendiri.”

“Nayla, Mama tidak enak hati.”

“Aku juga,” kata Nayla jujur. “Tapi aku cuma mau dengar apa yang dia tahu. Aku akan kirim lokasi ke Mama. Kalau ada yang aneh, aku langsung pulang.”

Bu Ratih terdiam. Jelas sekali beliau ingin melarang. Namun kemudian ia menghela napas pelan.

“Baik. Tapi kamu janji jangan minum apa pun yang tidak kamu pesan sendiri. Jangan ikut ke tempat lain. Dan kalau orang itu membuat kamu tidak nyaman, segera hubungi Mama atau Papa.”

Nayla mengangguk. “Aku janji.”

“Papa masih tidur. Jangan bangunkan dulu, nanti beliau malah ingin ikut.”

Nayla hampir tersenyum. “Iya, Ma.”

Bu Ratih menyodorkan sepiring nasi goreng. “Makan dulu.”

“Aku tidak lapar.”

“Makan beberapa sendok saja.”

Nayla duduk dan menurut. Setiap suapan terasa berat di tenggorokan, tetapi ia tahu ibunya benar. Ia tidak bisa menghadapi hari ini dengan perut kosong dan kepala yang terlalu penuh.

Setelah selesai, Nayla berpamitan. Ia memesan kendaraan daring dan mengirimkan lokasi tujuannya kepada Bu Ratih sebelum berangkat.

***

Kafe Madero berada di sebuah deretan ruko tidak jauh dari PT Arunika Properti.

Tempat itu terlihat cukup ramai saat Nayla tiba. Dinding bagian depan terbuat dari kaca, memperlihatkan beberapa orang yang sedang sarapan sambil bekerja menggunakan laptop. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara ketika Nayla membuka pintu.

Ia memilih meja dekat pintu masuk.

Sengaja.

Ia ingin mudah keluar jika sesuatu terasa tidak aman.

Nayla memesan air mineral kemasan dan menunggu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Setiap kali pintu kafe terbuka, Nayla menoleh dengan jantung berdebar. Namun tidak ada seorang pun yang mendekatinya.

Pukul sembilan tepat, seorang perempuan datang dari arah pintu.

Ia mengenakan kemeja putih longgar dan celana jeans gelap. Rambutnya dipotong sebahu, wajahnya terlihat pucat, dan matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan.

Perempuan itu berhenti di depan meja Nayla.

“Kamu Nayla?” tanyanya.

Nayla berdiri sedikit. “Iya. Kamu siapa?”

Perempuan itu menarik kursi di hadapan Nayla, tetapi tidak langsung duduk.

“Nama aku Mira,” katanya pelan. “Aku yang mengirim foto dan pesan kemarin.”

Nayla menatapnya.

“Mira?”

“Aku mantan tunangan seseorang yang pernah dekat dengan Siska.”

Nayla teringat panggilan misterius dari nomor yang sama. Perempuan itu pernah berkata bahwa Siska dekat dengan tunangannya.

“Duduklah,” kata Nayla.

Mira duduk perlahan. Ia tampak gugup. Tangannya menggenggam tas kecil di pangkuannya.

“Aku tidak bermaksud merusak rumah tanggamu,” ujar Mira. “Aku tahu ini pasti terasa menyakitkan. Tapi aku pernah ada di posisi kamu, dan aku tidak mau kamu terus dibohongi.”

“Kenapa kamu yakin Arga dan Siska bukan hanya sekadar dekat?”

Mira mengeluarkan ponsel dari tas. Ia membuka beberapa foto dan meletakkannya di atas meja, menggesernya ke arah Nayla.

Foto pertama memperlihatkan Arga dan Siska keluar dari sebuah hotel.

Nayla langsung membeku.

Foto itu tidak terlalu dekat, tetapi wajah Arga terlihat jelas. Siska berjalan di sampingnya. Mereka tidak berpegangan tangan, tetapi senyum di wajah keduanya cukup untuk membuat dada Nayla terasa dihantam sesuatu yang keras.

Foto kedua menunjukkan mobil Arga di depan hotel yang sama.

Foto ketiga adalah tangkapan layar percakapan.

Bukan percakapan Arga dan Siska.

Melainkan percakapan Siska dengan seseorang bernama Bayu.

**Siska:** Arga gampang diatur. Asal aku marah sedikit, dia langsung nurutin.

**Bayu:** Kamu yakin dia bisa bantu urusan proyek?

**Siska:** Bisa. Dia punya akses ke dokumen yang kita butuhkan.

**Bayu:** Jangan sampai ketahuan.

**Siska:** Tenang. Istrinya saja tidak tahu apa-apa.

Jari Nayla terasa dingin ketika membaca kalimat terakhir.

*Istrinya saja tidak tahu apa-apa.*

Ia seperti bukan manusia dalam percakapan itu. Hanya penghalang bodoh yang bisa mereka lewati dengan mudah.

“Bayu siapa?” tanya Nayla.

“Mantan tunanganku,” jawab Mira. “Dia bekerja sebagai vendor untuk beberapa proyek properti. Dulu aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi setelah hubungan kami hancur, aku menemukan beberapa chat dan foto di ponselnya.”

“Mereka memakai Arga?”

Mira mengangguk. “Sepertinya begitu. Siska dekat dengan Arga bukan cuma karena suka. Dia ingin memakai akses Arga di kantor.”

Nayla menatap foto-foto itu.

Selama ini, ia hanya berpikir Arga berselingkuh karena bosan. Karena tertarik pada perempuan lain. Karena lemah terhadap godaan.

Namun jika Arga juga terlibat dalam sesuatu di kantor, masalahnya mungkin lebih besar dari yang ia bayangkan.

“Kamu sudah melapor ke perusahaan?” tanya Nayla.

Mira menggeleng. “Aku tidak punya bukti lengkap. Aku takut Bayu dan Siska akan menyalahkan aku. Lagipula, aku tidak lagi terlibat dengan mereka.”

“Lalu kenapa memberikannya kepada saya?”

“Karena kamu adalah orang yang paling terdampak.” Mira menatap Nayla dengan mata berkaca-kaca. “Aku tahu rasanya dibuat merasa gila oleh orang yang kita percaya. Aku tahu rasanya menemukan bukti, tetapi tetap takut mempercayainya.”

Nayla menunduk.

Kata-kata itu terasa sangat dekat.

“Kamu harus hati-hati,” lanjut Mira. “Siska tidak suka kehilangan. Kalau Arga mulai menjauh, dia bisa melakukan apa saja agar tetap mendapat yang dia mau.”

“Kenapa kamu yakin?”

Mira tersenyum pahit.

“Karena dulu, ketika tunanganku mencoba meninggalkannya, Siska menyebarkan foto dan cerita yang membuat hubungan kami hancur. Dia membuat seolah-olah aku yang bersalah.”

Nayla merasa punggungnya merinding.

Ia memikirkan pesan Arga semalam. Cara suaminya menuduh Nayla mempermalukannya hanya karena pergi bersama Raka. Cara Arga selalu membalikkan keadaan agar Nayla merasa bersalah.

Mungkin Siska memang pandai memanipulasi.

Namun Arga tetap membuat pilihannya sendiri.

“Boleh aku kirim foto-foto ini ke ponselku?” tanya Nayla.

Mira tampak ragu.

“Aku akan simpan baik-baik. Aku tidak akan menyebarkannya.”

Beberapa detik kemudian, Mira mengangguk.

“Boleh. Tapi jangan sebut namaku dulu.”

Nayla mengirim semua foto dan tangkapan layar ke ponselnya. Setelah memastikan file masuk, ia mengembalikan ponsel Mira.

“Terima kasih,” ucap Nayla.

Mira menatapnya lama. “Jangan berterima kasih. Aku hanya berharap kamu bisa mengambil keputusan yang tidak sempat aku ambil dulu.”

“Maksudmu?”

“Jangan biarkan pengkhianatan orang lain membuat kamu lupa bahwa kamu berharga.”

Kalimat itu membuat mata Nayla kembali panas.

Sebelum ia sempat menjawab, suara kursi bergeser cukup keras dari meja sebelah.

Nayla menoleh.

Siska berdiri beberapa meter dari mereka.

Perempuan itu mengenakan blus krem dan rok hitam. Wajahnya terlihat cantik, tetapi tatapannya dingin saat melihat Nayla dan Mira duduk bersama.

Nayla tidak tahu sejak kapan Siska berada di sana.

Namun dari ekspresinya, jelas perempuan itu mendengar cukup banyak.

“Mira,” sapa Siska dengan senyum tipis. “Aku pikir kamu sudah selesai mengganggu hidup orang.”

Mira langsung berdiri.

“Kamu mengikuti aku?” tanyanya.

Siska mengangkat bahu. “Kafe ini dekat kantor. Aku cuma mau sarapan.”

Tatapannya kemudian beralih kepada Nayla.

“Jadi kamu sudah tahu banyak hal sekarang?” tanya Siska.

Nayla menatapnya tanpa menjawab.

Siska tersenyum kecil, tetapi tidak ada kehangatan di sana.

“Bagus,” lanjutnya. “Setidaknya kamu tidak perlu lagi pura-pura jadi istri bahagia.”

Mira mengepalkan tangan. “Siska, jangan macam-macam.”

“Aku tidak melakukan apa-apa.” Siska menatap Mira lagi. “Kamu yang selalu membawa masa lalu ke mana-mana.”

Nayla berdiri.

Dulu, mungkin ia akan menunduk dan memilih pergi. Namun setelah melihat bukti-bukti itu, kemarahan dalam dirinya perlahan mulai mengalahkan rasa takut.

“Kamu tahu Arga sudah menikah,” kata Nayla.

Siska tersenyum tipis. “Tentu saja aku tahu.”

“Lalu kamu tetap dekat dengannya?”

“Kalau seorang laki-laki bahagia dengan istrinya, dia tidak akan mencari perempuan lain.” Nada Siska terdengar tenang, bahkan seperti sedang memberi nasihat. “Kamu seharusnya bertanya pada diri sendiri kenapa Arga bisa merasa lebih nyaman bersamaku.”

Kalimat itu menampar Nayla.

Namun kali ini, Nayla tidak mundur.

“Tidak,” jawab Nayla pelan tetapi tegas. “Saya tidak akan menyalahkan diri sendiri atas pilihan buruk suami saya. Dan kamu juga tidak bisa lari dari pilihanmu sendiri.”

Senyum Siska menghilang.

Tatapannya berubah tajam.

“Kamu pikir Raka akan menyelamatkanmu?” tanyanya tiba-tiba.

Nayla terdiam.

Siska melangkah sedikit lebih dekat. “Aku tahu dia mengantarmu semalam. Satu kantor sudah mulai membicarakannya.”

Mira menatap Siska dengan kesal. “Kamu yang menyebarkannya?”

Siska tersenyum lagi.

“Aku cuma bilang apa yang kulihat.”

Nayla merasakan perutnya mengeras.

Ternyata Arga bukan satu-satunya yang bisa memutarbalikkan keadaan.

Siska ingin membuat Nayla tampak bersalah.

“Jangan pernah dekat-dekat dengan Raka,” bisik Siska. “Atau kamu akan tahu bagaimana rasanya kehilangan lebih banyak daripada suami.”

Setelah mengatakan itu, Siska berbalik dan berjalan pergi.

Nayla berdiri tanpa bergerak.

Mira menatapnya dengan cemas. “Kamu tidak apa-apa?”

Nayla menarik napas panjang.

Ia menggenggam ponselnya, tempat semua bukti kini tersimpan.

“Tidak,” jawabnya jujur. “Tapi kali ini saya tidak akan diam.”

Di luar kafe, Siska masuk ke dalam mobil putih yang sudah menunggu.

Nayla melihat perempuan itu pergi dengan tatapan dingin.

Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya ingin mengetahui kebenaran.

Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan perempuan lemah yang bisa dipermainkan begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!