Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah sepatu hak tinggi Marissa menggema di aula yang mendadak hening itu.
Wanita berwajah supermodel itu berjalan lurus ke arah meja nomor tujuh dengan senyum yang terlihat sangat keibuan.
Dewi secara refleks langsung menggeser tubuhnya menutupi Elvan yang masih memegang kuas cat air.
"Elvan sayang, ini Mama pulang Nak. Sini peluk Mama," ucap Marissa dengan suara merdu yang mendayu-dayu.
Marissa merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut pelukan dari anak kandungnya.
Namun reaksi Elvan sungguh di luar ekspektasi wanita cantik itu.
Anak berusia tiga tahun itu malah memundurkan kursinya dan memeluk pinggang Dewi dengan sangat erat.
"Mama Dewi, Tante itu siapa? Elvan takut," bisik Elvan dengan suara gemetar menyembunyikan wajahnya di perut Dewi.
Mendengar penolakan itu, senyum di wajah Marissa seketika menjadi kaku.
Ibu-ibu sosialita yang menonton dari kejauhan mulai berbisik-bisik heboh.
"Ya ampun, anaknya sendiri sampai tidak mengenali ibunya?" bisik salah satu ibu-ibu.
"Wajar saja, dia kan ditinggal ke luar negeri saat masih bayi merah," sahut ibu-ibu lainnya.
Mendengar bisikan yang menyudutkannya, Marissa dengan cepat merubah ekspresi wajahnya menjadi sangat sedih.
Air mata buaya langsung menggenang di pelupuk matanya dalam hitungan detik.
"Ya Tuhan, apa yang sudah kau ajarkan pada anakku, Nona Pengasuh?" ratap Marissa dengan suara bergetar.
Marissa menunjuk Dewi dengan jari lentiknya yang dihiasi cincin berlian besar.
"Kau pasti mencuci otak anakku dan menjelek-jelekkan namaku setiap hari kan?"
"Tega sekali kau memisahkan seorang ibu dari anak kandungnya sendiri!" tuduh Marissa sambil terisak pelan.
Beberapa ibu-ibu sosialita yang hatinya mudah tersentuh langsung menatap Dewi dengan pandangan sinis.
Bahkan Kepala Sekolah mulai melangkah maju dengan wajah ragu-ragu.
"Maaf Nyonya Mahardika, eh maksud saya Nona Dewi, tolong biarkan Nyonya Marissa memeluk anaknya," tegur Kepala Sekolah dengan sopan.
Darah Dewi langsung mendidih mendengar fitnah murahan dari wanita ular ini.
Ding!
Suara mekanis sistem kembali berbunyi tepat di dalam kepala Dewi.
Layar biru transparan muncul memblokir pandangan Dewi dari wajah palsu Marissa.
[Misi Darurat: Hancurkan Sandiwara Tangisan Palsu!]
[Kondisi: Mantan istri sedang memainkan kartu korban untuk merebut simpati publik dan menyudutkan Anda.]
[Misi: Jangan gunakan kekerasan! Gunakan logika telak dan panggil bala bantuan terkuat Anda sekarang juga!]
[Hadiah Penyelesaian: Poin Kasih Sayang +20 dan Item Payung Anti Fitnah!]
Dewi menghela nafas panjang untuk menstabilkan emosinya.
Berkat Skill Aura Keibuan Elegan yang baru saja menjadi permanen, Dewi tidak terpancing untuk berteriak bar-bar seperti biasanya.
Dia mengelus rambut Elvan dengan sangat lembut lalu menatap Marissa dengan senyum tenang.
"Nyonya Marissa yang terhormat, kau ini model internasional atau aktris sinetron murahan?" tanya Dewi dengan nada datar namun sangat lantang.
Suara isakan Marissa terhenti sejenak, wajahnya terlihat sangat terkejut mendengar balasan santai dari Dewi.
"Apa maksudmu? Kau berani menghinaku di depan umum?!" balas Marissa menaikkan nada suaranya.
Dewi bersedekap dada dan menatap Marissa dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Aku tidak mencuci otak anak ini. Aku bahkan tidak pernah menyebut namamu di depannya sama sekali."
"Bagaimana anak ini bisa mengenalimu, kalau kau kabur meninggalkannya saat dia masih minum ASI umur dua bulan?" skakmat Dewi tanpa ampun.
Suasana aula mendadak hening, bahkan suara jarum jatuh pun mungkin akan terdengar.
Ibu-ibu sosialita yang tadinya bersimpati pada Marissa kini mulai saling pandang dengan canggung.
Mereka baru ingat fakta bahwa Marissa memang kabur ke Paris bertahun-tahun yang lalu.
"Itu... itu karena aku harus mengejar karirku! Aku melakukannya demi masa depan Elvan juga!" kilah Marissa dengan wajah mulai memerah menahan panik.
Dewi tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat meremehkan di telinga Marissa.
"Demi masa depan Elvan? Atau demi pria selingkuhanmu yang bernama Kevin itu?" tembak Dewi lagi makin telak.
Kali ini Marissa benar-benar mati kutu.
Matanya membelalak lebar, tidak menyangka rahasia paling kotornya bisa diketahui oleh wanita yang dia anggap sebagai gembel ini.
"Tutup mulut kotor mu itu! Kau tidak tahu apa-apa tentang keluargaku!" jerit Marissa yang mulai kehilangan kendali emosinya.
"Kemarikan anakku! Elvan, ayo ikut Mama pulang!"
Marissa melangkah maju dengan kasar dan berniat menarik tangan Elvan secara paksa.
Grep.
Dewi menepis tangan Marissa dengan sangat keras sebelum wanita itu sempat menyentuh Elvan.
"Jangan berani menyentuhnya dengan tangan kotormu itu!" ancam Dewi dengan mata melotot tajam.
"Mama! Elvan takut!" tangis Elvan akhirnya pecah melihat wanita asing itu mencoba menariknya.
Mendengar Elvan menangis, Dewi tahu dia tidak bisa membuang waktu lagi meladeni orang gila ini.
Sret.
Dewi merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel titanium terbaru pemberian Raka tadi pagi.
Dia langsung menekan tombol panggilan darurat nomor satu tanpa melihat layar sama sekali.
Tuuut. Tuuut.
Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum telepon itu diangkat.
"Halo? Ada apa Dewi? Elvan baik-baik saja?"
Suara bariton Raka yang berat dan terdengar sedikit cemas langsung mengalun dari speaker ponsel.
Dewi sengaja menekan tombol pengeras suara agar semua orang di ruangan itu bisa mendengarnya.
"Bos, mantan istrimu yang gila ini sedang membuat sirkus di sekolah anakmu."
"Dia mau merebut Elvan paksa, dan anakmu sekarang menangis ketakutan," lapor Dewi dengan nada mengadu yang sangat kentara.
Hening sejenak dari seberang telepon.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭