NovelToon NovelToon
Ingat! Kita Itu Mantan

Ingat! Kita Itu Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Update setiap hari!

Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.

"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.

"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Pagi harinya, Bianca telah terbangun dari tidurnya. Gadis itu menatap jam yang terpasang di dinding, jam itu menunjukkan pukul 3 pagi.

Beberapa menit setelahnya, alarm berbunyi. Tidak ada gunanya Bianca memasang alarm itu, lantaran ia sudah terbangun sebelum alarm berbunyi.

Bianca kini turun dari ranjang, gadis itu meregangkan tangannya lalu pergi untuk bersiap-siap.

Setengah jam kemudian, Bianca keluar dari kamarnya. Gadis itu terlihat cantik dengan rok kantoran serta blus biru. Rambutnya telah tergerai rapi.

Bianca menatap kunci kamarnya yang telah tergeletak di lantai, tepat di sebelah kunci itu ada Nando. Pria itu tengah tertidur lelap di lantai, pria itu masih menunggu Bianca keluar dari kamarnya.

Bianca yang menatap itu tidak tega, ia mengambil kunci kamarnya, menaruhnya di dalam tas. Bianca mencoba membangunkan Nando, hal itu berhasil. Nando berpindah ke sofa dan tidur di sana.

"Maaf ya kak, maaf telah menyingungmu. Aku paham bagaimana posisimu saat ini." Bianca berucap dalam hati.

Bianca kembali ke kamar, mengambil selimut lalu menaruh selimut itu di badan Nando agar pria itu tidak lagi kedinginan.

Bianca sudah keluar dari rumah setengah 5 pagi, ia bahkan belum sempat sarapan lantaran sibuk membangunkan kakaknya. Wajahnya bahkan masih menunjukkan muka bantal. Namun ia sudah harus pergi bekerja sekarang, “Apakah ada yang jauh lebih gila dari ini? astaga, aku benar-benar masih mengantuk,”

Bianca kembali menekan tombol lampu di tembok, lampu itu pun mati. Bianca membuka pintu, ia keluar dari rumah. Berjalan ke arah garasi, jalanan kampung benar-benar masih sepi, gadis itu pun mengeluarkan motor beat dari garasi rumahnya.

"Ayo semangat Bianca!" Bianca menyemangati dirinya sendiri.

Gadis cantik itu kini menaiki motor beatnya, memakai helm bogo, lalu keluar dari gerbang rumahnya. Ia pun mengendarai motornya di jalanan Jakarta yang masih sangat petang pagi itu.

Udara yang sejuk, lantaran masih pagi. Namun ini sangat menyegarkan, lantaran saat siang. Udara di kota terasa sangat panas, belum lagi polusinya. Hingga akhirnya Bianca berpikir bahwa...

"Ternyata berangkat sepagi ini tidak buruk juga." Ucapnya dengan senyuman yang lebar.

"Jujur, ini ternyata sangat seru sekali. Jalanan menjadi sepi dan aku bisa bebas ngebut tanpa takut ada bus atau truk," Bianca mengendarai motornya dengan kecepatan 80. Ia benar-benar melupakan keluh kesahnya sejenak.

Setelah perjalan yang cukup panjang, ia akhirnya sampai di apartemen Arsen. Gadis itu kini menaruh motornya di parkiran. Bianca kini masuk ke dalam apartemen, ia menggunakan lift untuk sampai ke lantai 15, tempat tinggal Arsen yang sekarang. Saat sampai sana Bianca malah di buat kebingungan dengan kode apartemen milik Arsen.

Pasalnya, Arsen sama sekali tak memberitahukan kepadanya, berapa nomor kode apartemen miliknya itu. Bianca kini mencoba menelepon pria itu, namun tak di angkat. Sudah beberapa kali Bianca mencoba meneleponnya, namun tidak ada respons apa pun dari Arsen.

Di dalam apartemen, rupanya Arsen masih tertidur di kamarnya dengan posisi tengkurap, jadi percuma bagi Bianca, karena tak akan ada yang menjawab teleponnya. Padahal suara dering ponsel milik Arsen terdengar keras. Namun pria itu tetap tak mendengarnya dan malah semakin lelap tertidur.

"Bagaimana sih, katanya jam 5 harus sampai. Tapi aku telepon tidak di angkat aku chat juga dia tidak balas. Bagaimana si kamu Arsen," ucap Bianca yang kini tampak panik, sambil terus mondar mandir tidak jelas.

"Bagaimana ini, masa iya harus potong gaji kan tidak mungkin. O iya, kenapa aku tidak coba tebak sendiri saja." Mungkin pemikiran Bianca ini memang salah satu ide yang baik dan harus di coba.

Bianca pun mulai menekan tombol kode di pintu, ia menebak mulai dari tanggal lahir Arsen. Hal itu salah rupanya.

"Ok, kita coba ganti. Tapi apa ya, mungkin tanggal jadian kita," ternyata hal itu juga masih salah. Entah apa yang Bianca pikirkan sampai menebak seperti itu.

"Loh salah juga, terus apa ya. Tidak mungkin tanggal lahirku kan," Bianca pun memasukkan tanggal lahirnya sebagai kode.

"Ayolah Bianca, mana mungkin itu benar," namun ternyata pintu itu terbuka. Bianca yang melihat itu seketika langsung terdiam melongo.

"Hah? Apa yang? BAGAIMANA MUNGKIN?"

"Apa ini? Arsen. Kenapa kamu malah pakai tanggal lahirku sebagai kode." Bianca pun tak ingin berseteru dengan pemikirannya sendiri.

"Sudahlah, jangan di pikirkan." Dari pada berseteru dengan isi pikiranya sendiri. Kini Bianca memilih masuk ke dalam apartemen milik Arsen.

Ia baru saja sampai, bahkan ia baru masuk. Namun ia sudah berikan pemandangan yang membuatnya kembali di buat syok. Kali ini bahkan dia sampai jatuh dan terduduk di atas lantai. Lagi dan lagi, Bianca di buat tak percaya dengan apa yang tengah ia lihat.

"Arsen, bagaimana kita bisa saling asing jika terus seperti ini," Bianca mengacak-acak rambutnya sendiri, ia sudah terlihat sangat muak sejak pertama kali menginjakkan kakinya di pintu.

Bianca lalu kembali berdiri, ia menatap foto besar yang terpampang di tembok. Di dalam foto itu terdapat Bianca yang di peluk oleh Arsen dari belakang, Arsen membenamkan wajahnya di bahu gadis itu. Senyuman Bianca terlihat begitu cerah dan bahagia. Begitu juga dengan Arsen. Mereka tampak sangat serasi.

"Arsen," ucap Bianca dengan sendu. Bianca tak bisa mengalihkan pandangannya dari foto itu. Sedangkan di balik tembok itu, ada Arsen. Dia sudah bangun sejak Bianca membuka pintu tadi. Ia bahkan mendengar ucapan Bianca.

Pria itu tersenyum, dan foto itu memang sengaja di taruh oleh Arsen agar Bianca dapat melihatnya secara langsung.

Pria itu kini keluar, dan berpura-pura menguap. "O, hai nona mantan. Senang bertemu denganmu lagi" ucap Arsen sambil tersenyum mendekat ke arah Bianca. Sedangkan wanita itu merasa sangat canggung, bahkan detik itu juga, Bianca langsung melangkah mundur saat Arsen mendekat ke arahnya.

“Bianca, jangan tatap wajah tampan itu, dan jangan termakan rayuannya lagi, pergi Nathan! jangan mendekatiku.” Batin Bianca. Sedangkan Arsen, pria itu malah semakin mendekat ke arah Bianca. Hingga Bianca terpojok ke tembok.

Arsen dengan cepat langsung mengunci tubuh Bianca, dan tanpa gadis itu sadari ia sudah tak bisa kabur lari dari Arsen.

"Mampus." Ucap Bianca lirih.

Sedangkan Arsen, kini semakin mendekat kepada Bianca. Jarak wajah mereka hanya beberapa cm searang. Hal itu pun spontan membuat Bianca memejamkan matanya.

"Arsen, apa yang ingin kau lakukan?" Ujar Bianca dalam hati. Detak jantungnya meningkat, raut wajahnya menjadi merah merono seperti kepiting rebus. Arsen yang melihat raut wajah Bianca, seketika langsung tersenyum smirk.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!