NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — Perburuan di Balik Kota

Gu Chen berlari melewati gang sempit di belakang Paviliun Seribu Catatan. Suara pertarungan masih terdengar dari kejauhan, bercampur dengan teriakan para pedagang yang berusaha menyelamatkan barang dagangan mereka. Ia tidak tahu apakah Shen Mo berhasil bertahan, tetapi kembali ke sana sekarang sama saja dengan menyerahkan nyawanya secara cuma-cuma. Dengan kekuatannya saat ini, ia bahkan tidak mampu menghadapi seorang murid luar sekte, apalagi kultivator yang dikirim untuk memburunya.

“Hebat. Baru sehari memutuskan untuk membalas dendam, sekarang aku sudah menjadi buronan.” Gu Chen mengatur napas sambil terus berlari. “Kalau hidupku memang permainan, setidaknya berikan aku waktu untuk berkembang sebelum mengirim bos terakhir.”

Bidak hitam di sakunya mendadak memanas. Gu Chen segera mengeluarkannya dan melihat tulisan samar muncul di permukaannya.

\[Peringatan: Target pengejaran telah memperoleh izin untuk membunuh Anda.\]

Senyumnya menghilang.

“Target pengejaran? Izin dari siapa?”

Tidak ada jawaban. Tulisan itu menghilang, digantikan oleh simbol menyerupai mata yang perlahan terbuka. Gu Chen merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya. Ia segera menyimpan bidak tersebut dan berbelok ke sebuah lorong yang dipenuhi tumpukan peti kayu. Jika para pengejarnya mengetahui posisinya, berlari tanpa rencana hanya akan mempercepat kematiannya. Ia membutuhkan tempat bersembunyi sekaligus cara untuk mengalihkan perhatian mereka.

Di ujung lorong terdapat sebuah saluran air tua yang mengarah ke luar kota. Gu Chen pernah melewatinya ketika masih kecil, tetapi saluran itu sudah lama ditutup karena dianggap tidak aman. Ia memeriksa pintu besi berkarat yang menutupi mulut saluran. Terkunci dari luar, tetapi engselnya sudah rapuh.

Gu Chen mengambil batu dan memukul engsel itu beberapa kali. Bunyi logam beradu menggema di lorong.

“Cepatlah rusak. Aku sedang dikejar orang yang bisa membunuhku hanya dengan menggerakkan jari.”

Engsel akhirnya patah. Gu Chen menyelinap masuk dan menarik pintu besi itu kembali hingga hampir tertutup. Bau lumpur dan air busuk langsung menusuk hidungnya. Ia menahan napas, lalu berjalan membungkuk melewati terowongan gelap. Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki terdengar di luar.

“Periksa lorong ini!”

Gu Chen berhenti bergerak.

“Tidak ada orang di sini, Tuan. Hanya saluran air tua.”

“Kalau begitu, periksa juga bagian dalamnya. Jangan kembali sebelum menemukan mayatnya.”

Langkah kaki menjauh, tetapi Gu Chen tidak langsung melanjutkan perjalanan. Ia menunggu sampai suara itu benar-benar hilang sebelum bergerak kembali. Orang yang mengejarnya bukan sekadar ingin menangkapnya. Mereka telah menerima perintah untuk membunuhnya, dan seseorang di balik perintah itu tampaknya mengetahui lebih banyak daripada yang seharusnya.

Setelah berjalan cukup lama, Gu Chen akhirnya menemukan jalan keluar di balik bukit kecil di luar Kota Batu Merah. Matahari mulai condong ke barat. Ia duduk di bawah pohon, mengeluarkan lempengan kayu pemberian Shen Mo, lalu memeriksa ukiran gunung dengan sembilan garis tersebut.

Pegunungan Tulang Kelabu.

Tempat itu terletak beberapa puluh kilometer dari kota, di wilayah yang terkenal karena binatang buas dan reruntuhan kunonya. Tanpa peta dan persediaan, perjalanan ke sana akan sangat berbahaya. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain. Kembali ke Desa Qingyuan sama saja dengan mengundang musuh ke tempat yang mungkin masih menyimpan petunjuk tentang keluarganya.

Gu Chen merogoh sakunya dan menghitung uang yang tersisa. Dua keping perak pemberian Zhao Tua, beberapa koin tembaga, dan sepotong roti keras yang dibelinya pagi tadi.

Ia menatap semuanya dengan getir.

“Dengan kekayaan sebanyak ini, mungkin aku bisa membeli setengah batu nisan.”

Meski mengeluh, ia tetap menyimpan uang tersebut. Sebelum pergi, ia harus menemukan tempat untuk beristirahat dan mencari tahu apakah ada jalur yang aman menuju pegunungan.

Namun, ketika ia hendak berdiri, sebuah suara terdengar dari balik pohon.

“Kau benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti, ya?”

Gu Chen segera mengambil batu dan berbalik. Seorang gadis berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan pakaian pemburu berwarna cokelat gelap. Rambutnya diikat tinggi, sebuah busur tergantung di punggungnya, dan sebilah belati berada di pinggangnya. Usianya mungkin sebaya dengan Gu Chen. Di tangannya terdapat seekor kelinci liar yang baru diburu.

Gu Chen mengamati sekeliling. “Sejak kapan kau berada di sana?”

“Sejak kau mengeluh tentang batu nisan.”

“Kalau begitu, kau seharusnya tahu bahwa aku sedang tidak ingin diganggu.”

Gadis itu mengangkat alis. “Kau sedang bersembunyi dari orang-orang Sekte Pedang Awan, membawa benda yang dicari banyak orang, dan berjalan menuju Pegunungan Tulang Kelabu. Tetapi justru aku yang mengganggumu?”

Gu Chen langsung berdiri tegak. Tangannya mengepal, sementara pikirannya bergerak cepat mencari kemungkinan. Gadis ini mengetahui terlalu banyak. Bisa jadi ia bagian dari kelompok pengejar, atau seseorang yang sengaja dikirim untuk memancingnya.

“Siapa kau?”

“Lin Yue.”

“Anggota keluarga Lin?”

“Sayangnya, ya.”

Gu Chen menatapnya beberapa saat, lalu menghela napas panjang.

“Bagus. Aku baru saja membuat musuh dari keluargamu, dan sekarang salah satu anggotanya muncul di depanku. Apakah kalian mengadakan pertemuan keluarga untuk menentukan siapa yang akan membunuhku hari ini?”

Lin Yue mendengus. “Kalau aku ingin membunuhmu, kau sudah mati sejak tadi.”

Ia melemparkan sebuah benda kecil ke arah Gu Chen. Pemuda itu menangkapnya secara refleks dan menemukan sebuah kantong obat berwarna hitam.

“Minumlah satu pil. Kau mengalami luka dalam akibat serangan di rumahmu. Kalau dibiarkan, kau mungkin tidak akan bertahan sampai besok.”

Gu Chen tidak langsung meminum obat tersebut. Ia memeriksa pil itu, mencium aromanya, lalu mengangkat wajah.

“Kenapa membantuku?”

“Karena aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ayahmu.”

Jawaban itu membuat Gu Chen semakin waspada.

Lin Yue duduk di atas batu dan meletakkan kelinci hasil buruannya di samping kaki. “Ayahku adalah salah satu tetua keluarga Lin. Beberapa hari lalu, aku mendengar percakapannya dengan seseorang dari Sekte Pedang Awan. Mereka membicarakan seorang lelaki bernama Gu Yuan dan sebuah benda yang tidak boleh jatuh ke tangan siapa pun.”

“Jadi, keluargamu memang terlibat.”

“Aku tidak bilang keluargaku tidak bersalah.” Tatapan Lin Yue berubah dingin. “Aku hanya ingin mengetahui alasan mereka melakukan semua itu. Sejak percakapan tersebut, beberapa orang di keluarga kami menghilang. Ayahku melarang siapa pun membicarakannya.”

Gu Chen memandang gadis itu dengan saksama. Ia tidak memiliki alasan untuk mempercayainya, tetapi cerita Lin Yue sesuai dengan beberapa hal yang telah ditemukannya. Keluarga Lin mengetahui keberadaan ayahnya, Sekte Pedang Awan menginginkan benda tertentu, dan seseorang telah menghapus catatan masa lalu Gu Yuan. Ketiga hal tersebut mungkin terhubung.

Namun, menerima bantuan dari seseorang yang berasal dari keluarga musuh juga merupakan risiko besar.

“Aku tidak membutuhkan sekutu yang bisa menusukku dari belakang.”

Lin Yue mengangkat bahu. “Bagus. Aku juga tidak membutuhkan teman yang mudah mati.”

Gu Chen hampir tersenyum. Gadis itu menyebalkan, tetapi setidaknya ia tidak berpura-pura menjadi orang baik.

“Aku akan menuju Pegunungan Tulang Kelabu,” kata Gu Chen. “Jika kau ingin mencari tahu tentang ayahku, kau bisa ikut. Namun, jangan berharap aku akan mempercayaimu hanya karena kau memberiku obat.”

Lin Yue berdiri dan mengangkat kelincinya.

“Aku memang berencana pergi ke sana. Ada sesuatu yang harus kucari di reruntuhan kuno.”

Gu Chen menatapnya curiga. “Kebetulan yang luar biasa.”

“Dunia ini luas. Tidak semua orang merencanakan hidupnya berdasarkan masalahmu.”

“Benar. Sebagian orang justru muncul untuk menambah masalahku.”

Mereka meninggalkan bukit sebelum matahari terbenam. Lin Yue memimpin melalui jalur hutan yang jarang dilalui orang, sementara Gu Chen berjalan beberapa langkah di belakangnya. Ia belum mempercayai gadis itu, tetapi ia juga tidak cukup bodoh untuk menolak seseorang yang mengenal wilayah tersebut.

Sepanjang perjalanan, Gu Chen terus memikirkan bidak hitam di sakunya. Ia ingin memahami mengapa benda itu mampu menampilkan pesan, siapa yang mengawasi dirinya, dan mengapa seseorang harus memberikan izin untuk membunuhnya. Semua pertanyaan itu saling berhubungan, tetapi ia belum menemukan titik awal yang tepat.

Ketika mereka berhenti untuk beristirahat, Gu Chen mengeluarkan bidak tersebut secara diam-diam. Permukaannya masih dingin, tetapi sebuah tulisan baru muncul.

\[Pemain Kedua telah memasuki wilayah pengamatan.\]

Gu Chen segera menatap Lin Yue.

Gadis itu sedang duduk di dekat api kecil, membersihkan belatinya. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan dari gerak-geriknya.

Ia kembali melihat bidak tersebut. Tulisan kedua muncul perlahan.

\[Identitas pemain tidak dapat ditampilkan.\]

Gu Chen menyipitkan mata.

“Pemain kedua…”

Ia menyimpan benda itu tanpa mengatakan apa pun. Jika Lin Yue benar-benar terhubung dengan para pemain, ia tidak boleh memperlihatkan bahwa dirinya telah mengetahui sesuatu. Sebaliknya, jika gadis itu hanya orang biasa, ia tetap harus berhati-hati agar tidak menuduh tanpa bukti.

Untuk sementara, ia memutuskan satu hal: mengamati Lin Yue sama pentingnya dengan mencari rahasia Pegunungan Tulang Kelabu.

Di tempat yang jauh, di dalam ruang yang tidak dapat dijangkau oleh kultivator mana pun, seorang sosok bertopeng menatap papan raksasa. Di hadapannya, dua bidak mulai bergerak menuju wilayah yang sama.

“Bidak Gu Chen tidak lagi sendirian,” ujar sosok itu.

Sosok lain yang duduk di seberangnya tertawa pelan. “Apakah kau ingin aku menghapus gadis itu?”

“Tidak. Biarkan mereka berjalan bersama.”

“Bukankah itu berbahaya?”

Sosok bertopeng putih mengangkat satu jari dan menyentuh bidak Lin Yue.

“Tidak ada yang lebih mudah dikendalikan daripada dua bidak yang mengira mereka sedang memilih jalan sendiri.”

Namun, tepat ketika jarinya menyentuh papan, sebuah retakan kecil muncul di antara kedua bidak tersebut. Senyumnya menghilang.

Sebuah tulisan merah muncul di udara.

\[Peringatan: Hasil permainan tidak lagi dapat dipastikan.\]

Untuk pertama kalinya, sosok itu tidak segera memberikan perintah.

Sementara itu, di tengah hutan, Gu Chen menatap api yang mulai mengecil. Ia tidak tahu bahwa langkah kecilnya telah mengganggu perhitungan makhluk yang mengawasi dunia. Ia juga belum menyadari bahwa Lin Yue mungkin menyimpan rahasia yang sama berbahayanya dengan rahasia keluarganya sendiri.

Namun, ia tahu satu hal.

Jika seseorang sedang berusaha mengendalikan jalannya, maka ia harus mulai melakukan sesuatu yang tidak dapat diprediksi.

Dan untuk memulainya, ia akan mencari tahu siapa sebenarnya Lin Yue.

Bab 4 selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!