Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Jejak Darah di Hutan Misti
Hutan Misti (Qirwood Forest) diselimuti kabut tebal yang tidak pernah benar-benar sirna, seolah-olah ditenun dari sisa-sisa sihir purba yang mati. Di antara pepohonan raksasa berusia ratusan tahun dan semak belukar yang lebat, suara ranting patah berderak pelan, diiringi derap sepatu bot berat yang mencengkeram tanah lembap.
Sebuah kelompok yang terdiri dari sepuluh orang berjalan dalam formasi waspada. Mereka adalah para ksatria pilihan dari Kadipaten Rivenhart, dikawal oleh para pemburu bayaran berpengalaman. Di garis depan, sesosok pria paruh baya berambut kelabu dengan mata setajam elang memimpin jalan-Klethar, seorang petualang berperingkat Perunggu yang disewa khusus untuk melacak keberadaan sang putri bangsawan.
"Perlambat langkah kalian," bisik Klethar, mengangkat tangan kirinya memberi isyarat berhenti. Ia berjongkok, mengamati tanah di dekat akar pohon besar. "Kita sudah memasuki teritori dalam. Jejak tapak kaki goblin semakin pekat."
Wakil kapten ksatria pengawal, seorang pria berzirah baja dengan lambang keluarga Rejerson di dadanya, mendengus jijik. "Makhluk-makhluk menjijikkan itu... Beraninya mereka menculik Lady Lyra. Begitu kita menemukan sarang mereka, aku akan memenggal kepala setiap goblin dan menjadikan tengkorak mereka sebagai piala."
"Jangan meremehkan mereka, Kapten," balas Klethar tanpa mengalihkan pandangannya dari tanah. "Grup goblin di wilayah ini bukan lagi sekadar gerombolan liar pengumpul sampah. Ada sesuatu... atau seseorang yang mengorganisasi mereka. Perangkap yang kita temui di sepanjang jalan kemarin bukanlah kerjaan goblin bodoh."
Benar apa yang dikatakan Klethar. Sepanjang perjalanan mereka menembus hutan, dua orang pengawal telah menjadi korban-satu tewas tertusuk tombak kayu tersembunyi di dalam lubang jebakan, dan satu lagi hampir kehilangan kakinya akibat lilitan akar beracun yang dipasang secara sistematis.
Bagi para ksatria istana yang terbiasa bertempur dalam formasi terbuka melawan manusia atau monster besar, perang gerilya psikologis yang dimainkan para goblin ini sangat menguras mental.
Namun, tidak ada satupun dari manusia-manusia itu yang menyadari satu hal: mereka sedang diawasi.
Tinggi di atas dahan-dahan pohon yang tertutup dedaunan lebat, mata-mata hijau kecil bersembunyi dalam diam. Melalui sepasang mata goblin pengintai itu, kesadaran Altair terhubung secara mutlak.
Dari singgasananya di dalam gua, Altair melihat setiap gerak-gerik pasukan manusia tersebut. Layaknya pemain catur yang mengamati bidak-bidak lawan di atas papan, sudut bibir Altair terangkat membentuk senyuman dingin.
Mereka berjalan tepat ke arah yang kuinginkan, batin Altair. Biarkan mereka merasa di atas angin. Biarkan mereka terus mendekat hingga perangkap pemusnah itu tertutup rapat.
Altair memberikan perintah mental kepada para Goblin Archer dan Goblin Warrior yang bersiaga di sepanjang jalur ngarai sempit di depan.
Di medan pertempuran bawah, Klethar tiba-tiba merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya. Insting bertahan hidupnya sebagai petualang berpengalaman menjerit keras.
"Tunggu! Ada yang tidak beres-"
Syuuuk! Syuuuk! Syuuuk!
Belum sempat Klethar menyelesaikan kalimatnya, puluhan anak panah beracun meluncur deras dari kegelapan dahan pohon layaknya badai kelam.
"Serang! Pertahanan!" sang wakil kapten berteriak panik, menghunus pedangnya dan menebas panah-panah yang mengarah ke wajahnya.
Namun, hujan panah itu hanyalah permulaan. Dari balik semak-semak, gerombolan Goblin Fighter yang dipimpin oleh White Goblin bertubuh besar tiba-tiba menerjang keluar, mengaum buas sambil mengayunkan gada kayu berduri. Kekacauan seketika meledak di tengah barisan pasukan manusia.
Di dalam gua, jauh dari hiruk-pikuk pertumpahan darah tersebut, Altair menutup matanya sejenak, memutus koneksi pengintaian. Ia berbalik dan melangkah kembali ke ruangan tempat Lyra beristirahat.
Gadis itu sedang duduk di tepi ranjang, memeluk kedua lututnya dengan ekspresi cemas mendengar suara gemuruh pertempuran samar dari kejauhan.
"Altair..." bisik Lyra gemetar saat melihat sosok berdarah Elf itu masuk. "Suara apa itu? Apa... apa mereka datang untuk menyelamatkanku?"
Altair berjalan mendekat, lalu duduk di sebelah Lyra. Ia merapikan sehelai rambut hitam yang menutupi dahi sang putri bangsawan dengan kelembutan yang kontras dengan kekejaman yang tengah terjadi di luar hutan.
"Jangan khawatir, Lyra," bisik Altair menenangkan, manik merah rubinya berbinar teduh. "Tidak ada seorang pun yang bisa mengambilmu dariku. Biarkan mereka berteriak di luar... dunia luar tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi di sini."
Lyra menatap mata Altair, dan di tengah ketakutannya, rasa aman yang aneh kembali merayap, menenggelamkan sisa-sisa kewarasannya ke dalam dekapan sang Kaisar goblin.