Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU MANGKOK DAGING DAN LANGKAH DI LANTAI TERATAS
Pagi masih sangat kabur ketika Nyonya Xin melangkah menuju gubuk keluarga Shen. Di jemarinya yang kasar, tersemat sebuah mangkuk bertutup kain bersih berisi daging ayam hutan yang masih mengepulkan aroma gurih.
Kemarin sore, putra sulungnya pulang membawa hasil buruan yang lumayan. Mengingat nasib mereka yang sama-sama merana di tanah pengasingan, ia tak ragu berbagi sedikit rezeki itu dengan keluarga Shen.
"Nyonya Shen!" panggil Nyonya Xin hangat sembari mengetuk pintu rumah keluarga Shen.
Tak ada jawaban dari dalam. Saat itu, Nyonya Shen sedang sibuk membolak-balik kayu bakar di dapur belakang, tak mendengar sapaan di depan. Menyadari hal itu, Nyonya Xin mengambil jalan memutar melewati samping rumah dan langsung menuju dapur.
"Nyonya Shen..."
Nyonya Shen terperanjat kecil, lalu tersenyum menyambut tamunya. "Loh... Nyonya Xin? Mari masuk, maaf ya dapurnya masih berantakan."
"Ah, tidak apa-apa, dapurku juga sama saja," sahut Nyonya Xin ramah sembari menyodorkan mangkuknya. "Ini, ada sedikit daging ayam hutan. Kemarin Meng Ye berhasil menangkap dua ekor. Yang satu kami masak, dan satu lagi sengaja kami kurung di kandang. Siapa tahu bisa bertelur."
"Wah, Meng Ye makin lihai saja berburunya," puji Nyonya Shen tulus.
Nyonya Xin terkekeh pelan. "Dia masih harus banyak belajar. Ngomong-ngomong, ke mana Yu Jin? Tumben sekali gubuk ini sepi, tidak terdengar tangisannya."
"Syukurlah, hari ini dia agak tenang. Tadi Ting'er membawanya jalan-jalan keluar sekalian memetik sayuran liar bersama Pelayan Ma."
Meskipun Xiao Luo sebelumnya telah membawakan pasokan beras dan gandum yang cukup, ia lupa menyertakan sayur-sayuran. Namun, bagi keluarga Shen, hal itu justru ada hikmahnya.
Berburu sayuran liar di sekitar kawasan pemukiman membuat kehadiran mereka tampak wajar dan tidak mengundang kecurigaan orang lain.
Nyonya Xin tidak bisa bertandang lama-lama. Setelah menyerahkan mangkuk tersebut, ia berpamitan untuk membantu keluarganya merintis lahan.
Di pulau pengasingan ini, setiap keluarga buangan memang diizinkan membuka lahan pertanian sendiri. Namun, jalurnya ketat: luas tanah ditentukan oleh petugas, dan sebahagian hasil panen kelak wajib disetorkan sebagai upeti.
Beruntung, pejabat yang memimpin pulau ini tergolong adil. Ia tidak bertangan besi atau gemar menyiksa, selama para pengasingan tahu diri dan tidak melanggar batasan hukum.
Tak lama setelah kepulangan Nyonya Xin, Shen Tingting melangkah terburu-buru memasuki halaman rumah bersama Pelayan Ma. Di dekapan Tingting, bayi kecil Yu Jin menangis sejadi-jadinya. Mereka terpaksa menyudahi perburuan sayur liar lebih cepat padahal hasil yang didapat baru seadanya.
Mendengar jeritan sang cucu, Nyonya Shen bergegas menyongsong ke pintu. "Kenapa Yu Jin menangis seramai ini?"
"Sepertinya dia lapar lagi, Bu. Tolong buatkan susunya," kata Tingting kewalahan.
"Loh, bukannya tadi sebelum berangkat sudah minum susu? Masa sudah lapar lagi?"
"Kalau bukan lapar, lalu kenapa dia rewel terus?" sahut Tingting bingung.
"Coba periksa popoknya, masih kering tidak?"
"Masih kering kok, Bu."
"Ya sudah, kemari, biar Ibu yang gendong. Bibi Ma, tolong lanjutkan urusan dapur ya," pinta Nyonya Shen.
"Baik, Nyonya," jawab Pelayan Ma sigap lalu melangkah ke belakang.
Nyonya Shen mengambil alih Yu Jin ke dalam pangkuannya, menimang-nimang bayi itu dengan helaan napas lembut agar tangisnya mereda.
Sementara itu, Shen Tingting bergegas menyeduh susu hangat di sudut ruangan.
Di tempat lain, Xiao Luo sudah memeras keringat sejak fajar menyingsing. Gedung sembilan lantai tempatnya bekerja berdiri megah di pusat kota.
Lantai satu hingga tiga difungsikan sebagai area produksi yang bising dan sibuk, lantai empat ke atas digunakan untuk operasional administrasi, sedangkan lantai puncak—lantai sembilan—adalah wilayah terlarang yang hanya dihuni para petinggi perusahaan.
Pagi itu, suasana briefing rutin berlangsung ketat seperti biasa. Seluruh staf kebersihan berbaris mendengarkan pembagian tugas harian.
"Xiao Luo, hari ini kamu gantikan tugas Mey Lin di lantai sembilan," perintah sang pengawas mendadak. "Mey Lin berhalangan hadir. Ingat, kerjakan dengan teliti! Jangan sampai ada cela sedikit pun di sana."
"Baik, Tuan," jawab Xiao Luo patuh, meski degub jantungnya mendadak tak menentu.
Sehari-hari, Xiao Luo bertugas di lantai satu. Ia belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di lantai atas . Rasa cemas merayap halus di benaknya; ia takut melakukan kesalahan sekecil apa pun yang bisa berujung pada tindakan disipliner.
Ketegangan Xiao Luo tidak lepas dari tatapan tajam bermusuhan dari sudut barisan. Tatapan itu milik Su Jin, seorang rekan kerjanya.
Su Jin menaruh dendam pribadi dan berkali-kali mencoba memfitnah Xiao Luo agar gadis itu ditendang dari perusahaan. Su Jin sendiri masih memiliki ikatan kekerabatan jauh dengan Su Wanwan. Meski hanya saudara jauh dan posisinya sendiri di gedung ini hanyalah seorang Office Girl (OG), keangkuhannya melangit.
Hari ini, dada Su Jin makin panas membakar. Ia sangat iri melihat Xiao Luo mendapat kesempatan naik ke lantai sembilan. Bagi staf kebersihan, lantai teratas adalah wilayah bergengsi yang tidak sembarang orang bisa masuki.
Secara umum, tugas seorang OG memang menjaga kebersihan area serta melayani kebutuhan operasional harian para karyawan dan manajemen.
Keharmonisan dan kerja sama tim sangat dibutuhkan. Khusus untuk lantai puncak, manajemen menetapkan standar ketat: hanya ada dua Office Boy dan dua Office Girl terpilih yang berhak bertugas di sana. Kecuali ada staf inti yang absen seperti hari ini, tidak akan ada OG biasa yang diberi akses naik.
Tanpa diketahui siapa pun di gedung itu, konglomerasi Huang’s Family saat ini dipimpin oleh CEO muda bernama Huang Jingyu. Ayah dari Huang Jingyu itulah sosok dermawan misterius yang sebelumnya telah menyelamatkan hidup Xiao Luo.
Namun, Xiao Luo sendiri tidak mengetahui identitas asli penolongnya. Yang ia tahu, orang baik itu bekerja di gedung ini.
Sepanjang hidupnya, Xiao Luo baru pernah bertemu dengan pria paruh baya itu sebanyak tiga kali—tanpa pernah menyadari bahwa sebentar lagi, langkah kakinya akan membawanya masuk lebih dalam ke lingkar kehidupan keluarga pemilik perusahaan tersebut.