Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peningkatan
Lagi-lagi malam ini mereka tidur terpisah. Tidak ada obrolan di antara keduanya.
Beberapa saat kemudian, keduanya sama-sama belum bisa memejamkan mata. Tiyas sedang berpikir keras untuk mengajak Zain tidur di tempat tidur juga. Sedangkan Zain, ia sedang sibuk memikirkan bagaimana ia dan Tiyas bisa lebih dekat sedangkan ia tidak berani untuk mengambil langkah.
Seperti kontak batin, keduanya justru bangun dan duduk di tempatnya masing-masing. Sontak mereka sama-sama menoleh.
"Belum tidur?"
"Em, belum bisa. "
"Kenapa, apa AC nya terlalu dingin?"
"Eh tidak kok. Nggak tahu kenapa."
"Oh.... "
Hening....
Zain pun pergi ke kamar mandi karena ingin buang air kecil. Saat kembali dari kamar mandi, ia melihat Tiyas tidak ada di tempat tidur. Setelah menoleh ke pintu balkon. Ternyata pintu terbuka, dan Tiyas berdiri di sana. Zain pun menyusulnya.
"Apa kamu rindu rumah?"
"Eh, tidak juga mas. Rumah itu hanya tinggal kenangan. Sudah tidak ada lagi kehidupan di sana."
"Tidurlah, sudah malam. Nanti kamu masuk angin."
Zain berbalik badan.
"Mas.... "
"Iya?"
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Maaf, mungkin aku lancang. Tapi aku harus menanyakannya agar aku tidak menyakiti hati siapa pun nantinya."
"Tanyakan saja, akan kujawab dengan jujur."
"Apa mas punya pacar?"
"Aku tidak punya pacar dan tidak pernah pacaran. Dalam keluargaku tidak dianjurkan untuk pacaran."
"Mas, aku minta maaf jika kehadiranku dalam hidupmu menjadi beban."
Zain menggelengkan kepala.
"Aku sudah menerima takdirku. Kamu adalah istriku. Aku sudah mengikat janji suci dan berjanji kepada Allah."
"Em... lalu kenapa kamu masih tidur di sofa?"
Pertanyaan Tiyas justru membuat Zain terkejut.
"Aku takut mengganggumu. Tapi jika kamu mengizinkannya tentu saja aku mau tidur di kasur."
Tiyas menghela nafas panjang.
"Maafkan aku, mas. Terima kasih sudah pengertian. Mulai saat ini aku akan belajar menjadi istri yang sesungguhnya. Tolong bimbing aku."
Zain mengulum senyum. Ternyata Tiyas sudah membuka pintu kemudahan untuknya melangkah lebih jauh.
Akhirnya mereka kembali ke tempat tidur. Mereka berbaring dengan jarak yang cukup jauh karena ukuran kasur yang besar.
"Selamat tidur, mas."
"Kamu juga, selamat tidur. Mimpi indah."
Berharap bisa terlelap, namun nyatanya keduanya masih memandang langit-langit kamar itu. Zain pun memutuskan untuk memastikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur. Tidak lama kemudian akhirnya mereka terlelap juga.
Seperti biasa, Zain terbangun jam 2 dini hari. Matanya terbelalak saat kesadarannya berkumpul. Wajah Tiyas dapat ia lihat sangat dekat. Meski kamar itu redup, namun Zain dapat melihat Tiyas tidur dengan nyenyak. Entah kenapa pandangannya tertuju pada bibir Tiyas. Ia belum beranjak dari tempat tidur karena ada sesuatu yang bangkit dari dirinya.
"Oh ya Allah... tidak-tidak." batinnya.
Saat Zain hendak bangun, tangan Tiyas menindih perutnya. Hal itu membuat Zain semakin panas dingin. Ia bisa saja menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Namun, ia tidak melakukannya karena takut membuat Tiyas kecewa. Jika pun mau mencium atau memeluknya, Tiyas harus tahu dan dalam keadaan sadar. Zain mencoba menyingkirkan tangan Tiyas pelan-pelan. Akhirnya ia bisa lolos juga.
"Huf.... sabar Zain."
Zain pun masuk ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu'.
Keesokan harinya.
Tiyas membawakan coklat hangat untuk Zain.
"Terima kasih, zaujati."
Tiyas mengerutkan keningnya mendengar panggilan Zain. Dia salah dengar atau Zain salah sebut nama.
"Kok bengong?"
"Eh itu, tidak kok mas."
"Kamu tidak suka dengan panggilan itu?"
"Tidak, bukan begitu. Hanya saja aku tidak kurang paham. Maaf mas."
"Zaujati artinya istriku."
Tiba-tiba bunga-bunga bermekaran dalam diri Tiyas. Pipinya merah tersipu malu. Hal sederhana itu saja sudah membuatnya bahagia.
"Pipimu kenapa?"
Tiyas meraba pipinya.
"Haha, kenapa mas?"
"Tiba-tiba merah."
"Ah tidak apa-apa."
Zain kembali mengulum senyum.
"Duduklah, temani aku minum. Kenapa kamu tidak membuat untukmu juga?"
"Tidak, mas. Aku tidak terlalu suka coklat. "
Tiyas pun duduk di samping Zain meski masih berjarak.
"Oh ya, sukanya apa?"
"Semuanya suka kok. Cuma biasa saja gitu. Di kampung kan, aku jarang makan atau minum coklat. Paling minumnya wedang jahe makannya singkong goreng atau rebus. Kadang juga kacang rebus kalau lagi panen kacang. Jagung bakar, jagung rebus. Kalau di kota kan, jagung sudah bervariasi sekarang. Ada es jagung, jasuke, ya kan?"
Zain menganggukkan kepala. Matanya tak berkedip saat melihat istrinya yang tiba-tiba saja sedikit banyak ngomong pagi ini. Tapi dia suka itu.Itu artinya Tiyas sudah mulai terbuka kepadanya.
"Setelah resepsi nanti aku mau ajak kamu umroh."
"Umroh?"
"Iya, kenapa, kamu nggak mau?"
"Eh mau, mau kok mas."
"Sekalian nanti mau badal-in umroh untuk bapak sama ibumu."
"MasyaAllah, ini benar kan, mas?"
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Apa lagi mengenai ibadah. InsyaAllah semoga Allah meng ijabah niatku ini."
"Aamiin.... "
Tiyas sangat terharu mendengarnya. Bagaimana ia mau meragukan ketulusan lelaki yang sudah menikahinya itu. Lelaki yang bertanggung jawab dan sangat baik. Tiyas bahkan tidak habis pikir bisa bertemu dengan lelaki sebaik dia dan keluarganya. Padahal usia pernikahan mereka masih seumur jagung. Namun Tiyas sudah dapat merasakan secercah kebahagiaan.
Dua hari kemudian.
Hari ini Zain mulai kembali bekerja. Setelah selesai sarapan, Tiyas mengantar suaminya sampai depan. Kebetulan Zean dan abi sudah berangkat duluan.
"Aku berangkat dulu. Baik-baik di rumah. Kalau perlu teman bisa panggil bibi'. Ummi juga pasti mau menemani asal bukan waktunya istirahat."
"Iya, mas. "
Zain mengulurkan tangannya agar Tiyas mau menciumnya. Tiyas pun dengan tanggal langsung mencium punggung tangan Zain.
"Hati-hati." Ujar Tiyas sambil menundukkan kepala.
Zain kembali lagi menghampirinya.
"Ada apa, mas?"
"Maaf, ada yang ketinggalan."
"Apa?"
Tiba-tiba Zain mengecup kening istrinya. Itu adalah kecupan pertama. Tiyas menundukkan kepala lagi Ia tersipu malu.
"Ehem.... aku berangkat. Assalamu'alaikum.... "
"Wa'alaikum salam."
Zain pun masuk ke dalam mobil. Setelah mobil Zain pergi dari halaman rumah, Tiyas kembali masuk.
Ummi cepat-cepat pergi ke ruang tengah agar menantunya tidak tahu kalau dirinya baru saja mengintip anak dan menantunya. Ummi senyum-senyum sendiri melihat hal itu.
"Sekarang masih malu-malu ya. Tapi ummi senang kalian sudah ada peningkatan. Ih jadi nggak sabar pingin lihat anakku bucin. "
"Ummi.... "
"Eh nak Tiyas.... "
"Ummi bicara sama siapa?" Tiyas mencari orang di sekitar itu.
"Ah tidak ada ini tadi ummi ngomong sendiri. Ummi sedang mengingat-ingat sesuatu."
"Oh, iya. mi, Tiyas balik ke kamar dulu."
"Iya, nak."
Tiyas merasa sudah waktunya ia bersuci karena haidnya sudah tuntas. Jadi siang ini ia mandi wajib.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
maju Zain pantang mundur.. hehehehe
sabar, sabar.... 🤣🤣🤣