Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GESEKAN PERTAMA DENGAN UTUSAN
Hawa dingin yang menusuk di lapangan tengah Benteng Tembok Besi mendadak terasa makin membeku. Udara pagi yang biasanya diisi oleh dentingan senjata dan langkah sepatu bot para veteran kini senyap total, terserap oleh ketegangan yang merebak di antara barisan prajurit.
Su Jing, Utusan Muda Kekaisaran dari Ibukota Emas, masih berdiri kaku dengan ujung jarinya menunjuk lurus ke arah Lin Yuan. Sapu tangan sutra putih di tangan kirinya masih menutupi hidung, seolah bau uap darah dan jelaga dari tubuh Lin Yuan adalah racun yang sanggup merusak napas bahagianya.
"Aku bertanya padamu, Prajurit!" Bentak Su Jing dengan suara melengking penuh keangkuhan. "Kenapa matamu menatapku seperti itu? Di mana tata kramamu di hadapan Utusan Resmi Kekaisaran?!"
Dua pengawal elit berseragam zirah emas murni di belakang Su Jing langsung melangkah maju dua jangkah. Tangan mereka menguat di atas gagang pedang panjang, memancarkan aura tekanan *qi* spiritual yang sengaja ditebar untuk menundukkan prajurit buangan di hadapan mereka.
"Bocah kusam! Berlutut!" Teriak salah satu pengawal emas dengan suara menggema keras. "Tundukkan kepalamu dan minta maaf atas kelancangan matamu pada Utusan Su!"
Lu Chen yang berdiri di samping Lin Yuan mengepalkan tangannya rapat-rapat di dalam saku jubahnya. Sebagai mantan bangsawan dari Ibukota Emas, ia tahu betul permainan orang-orang seperti Su Jing. Mereka sengaja mencari mangsa di antara prajurit bawah untuk dijadikan contoh agar tidak ada satu pun yang berani mempertanyakan pemotongan jatah logistik.
"Lin Yuan..." Bisik Lu Chen pelan tanpa menggeser sudut bibirnya, nada suaranya diwarnai kehati-hatian yang dalam. "Orang ini mencari alasan untuk mengeksekusi prajurit di tempat. Jangan terpancing."
Shi Tou menelan ludahnya yang terasa pahit, bahunya yang tegap menegang kaku saat ia secara refleks menggeser posisi berdiri untuk sedikit menutupi tubuh Ah Xiu di belakangnya. Ah Xiu sendiri tidak bergerak satu inci pun, namun matanya yang gelap menatap jemari para pengawal emas dengan kewaspadaan murni seorang pemburu.
Namun, Lin Yuan tidak bergeming.
Ia tidak menundukkan kepala, tidak memalingkan pandangannya, dan tidak menggeser kakinya satu milimeter pun. Lin Yuan yang baru saja menembus *Level Pembentukan Otot* berdiri dengan kerapatan fisik yang tak tergoyahkan. Garis-garis otot di tubuhnya yang tersembunyi di balik jubah kusam bergetar halus, memancarkan rasa hangat yang menetralkan tekanan aura dari kedua pengawal emas di depannya.
"Kenapa aku harus berlutut?" Tanya Lin Yuan datar.
Suara Lin Yuan tidak keras, tetapi kejernihan dan ketenangannya memotong keheningan lapangan dengan sangat membumi.
Su Jing terhenyak. Wajahnya yang pucat dan halus serta merta memerah padam akibat kaget dan rasa hina yang meledak di dalam dadanya. "Apa katamu?! Kau bertanya kenapa kau harus berlutut?!"
"Utusan Su," Ucap Lin Yuan seraya menatap lurus ke dalam pupil mata pemuda bersutra itu. "Di Tembok Besi ini, ada aturan tidak tertulis yang diwariskan oleh puluhan ribu veteran yang telah gugur. Lutut prajurit perbatasan hanya ditekuk untuk dua hal: pada Kaisar di singgasana, dan pada tanah tempat darah rekan-rekan kami tewas bertarung."
Lin Yuan menyilangkan tangannya di dada, tatapannya begitu dingin dan pekat.
"Kau datang dari ibukota membawa perintah yang memotong pasokan obat dan minyak spiritual kami di tengah badai salju," Lanjut Lin Yuan tanpa nada emosi sedikit pun, namun setiap katanya menusuk hati ratusan prajurit yang menonton. "Kau tidak sedang memimpin kami bertarung, dan kau tidak berada di atas medan perang. Jadi, atas dasar apa seorang prajurit yang bertahan hidup di luar tembok harus berlutut di hadapan pejabat yang mencuri jatah hidupnya?"
DESISAN KAGET MEREBAK DI SELURUH LAPANGAN!
Ratusan prajurit veteran dari Unit 4, Unit 7, dan unit buangan lainnya terbelalak tak percaya. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa seorang prajurit muda buangan berani menyuarakan apa yang tertahan di dalam dada mereka selama ini tepat di depan wajah sang utusan ibukota.
"Bocah itu... benar-benar punya nyali dari batu," Bisik seorang veteran berkumis tebal dari Unit 7 dengan mata bersinar takjub.
"Dia mengatakan apa yang ingin kita katakan!" Tumpuk teman di sampingnya seraya mengepalkan tangan.
Gema rasa hormat dan solidaritas mendadak mengalir deras dari ratusan prajurit di lapangan menuju tempat Unit 9 berdiri. Chemistry persaudaraan di antara para prajurit buangan yang biasanya terpecah-pecah seketika menyatu rapat di belakang Lin Yuan.
Wajah Su Jing berubah dari merah padam menjadi kebiruan akibat amarah yang tak tertahankan. Jari-jarinya yang mengenakan cincin giok berguncang hebat seraya menunjuk wajah Lin Yuan.
"LANCANG! PRAJURIT TAHANAN BUANGAN TIDAK TAHU DIRI!" Teriak Su Jing dengan suara melengking tinggi, kepalanya hampir kehilangan kendali. "Kau hanyalah sampah klan yang dibuang ke perbatasan! Beraninya kau berbicara tentang aturan perbatasan di hadapanku?!"
Su Jing berpaling kasar ke arah kedua pengawal elitnya. "Tangkap dia! Patahkan kedua kakinya dan paksa dia berlutut di lumpur ini sampai badannya membeku!"
"Siap, Utusan!" Teriak kedua pengawal emas seraya mencabut pedang panjang mereka secara bersamaan.
Dua bilah baja bersepuh emas memancarkan pendaran *qi* tajam, meluncur lurus ke arah bahu dan lutut Lin Yuan dengan kecepatan tinggi!
SREEEET!
Sebelum pedang pengawal itu menyentuh Lin Yuan, dua siluet melesat maju menutupi jalur serangan.
BAM! DENTANG!
Shi Tou menghentakkan perisai besi tebalnya ke depan, menahan tebasan pengawal pertama hingga percikan api membumbung tinggi di udara. Di saat yang sama, belati kembar Lu Chen meluncur dari bawah, menangkis bilah pedang pengawal kedua dengan sudut kemiringan yang amat presisi, mengalihkan arah serangan ke tanah es.
"Jangan coba-coba menyentuh Kapten kami!" Raung Shi Tou dengan mata menyala merah.
Ah Xiu sudah menarik tali busur tulang hitamnya hingga melengkung penuh, anak panah berujung perak mengincar tepat di celah pelindung leher Su Jing dari jarak lima jangkah.
"Satu langkah lagi..." Desis Ah Xiu dengan suara sedingin es utara. "...dan panah ini menembus tenggorokanmu."
Suasana di lapangan tengah meledak dalam titik didih yang sangat berbahaya! Rombongan pengawal elit ibukota langsung mencabut senjata mereka, sementara puluhan prajurit veteran dari berbagai unit di lapangan mulai merapatkan barisan di belakang Unit 9, memegang gagang senjata mereka masing-masing.
"CUKUP!"
Sebuah raungan berat dan berdaya ledak luar biasa menggelegar dari atas mimbar kayu utama, memotong ketegangan yang hampir memicu pertumpahan darah antar sesama prajurit.
Komandan Zhao melangkah turun dari mimbar. Satu matanya yang tersisa memancarkan aura membunuh yang amat pekat—aura membunuh murni dari seorang jenderal veteran yang telah membantai ribuan monster di garis depan. Tekanan *qi* dari Komandan Zhao membuat para pengawal emas ibukota terdorong mundur dua langkah dengan wajah pucat.
Komandan Zhao berdiri di antara Su Jing dan Unit 9. Ia menenguk arak dari botol kulitnya, lalu meludah ke tanah.
"Utusan Su," Ucap Komandan Zhao dengan suara serak dan dingin. "Di Benteng Tembok Besi ini, pedang prajurit hanya boleh dicabut untuk memotong kepala monster di luar tembok. Jika orang-orangmu mencabut senjata pada prajuritku di dalam lapangan ini, aku sendiri yang akan memenggal kepala mereka atas tuduhan memicu pemberontakan militer."
Su Jing gemetar menahan murka, namun ia tahu ia tidak bisa melompati batas kewenangan Komandan Zhao di depan ribuan prajurit yang sudah tersulut emosi.
"Komandan Zhao!" Desis Su Jing dengan napas memburu. "Prajurit buanganmu ini telah menghina utusan resmi kekaisaran dan menolak mematuhi hierarki militer! Jika kau tidak menghukumnya hari ini, aku akan melaporkan Tembok Besi sebagai wilayah pembangkang ke Kementerian Perang di Ibukota Emas!"
Komandan Zhao memutar badannya perlahan, menatap Lin Yuan dengan mata tunggalnya yang tajam. Di dalam tatapan sang komandan tua, tidak ada rasa marah, melainkan kilatan penilaian yang amat dalam pada pemuda yang berdiri tegak di depannya.
"Lin Yuan," Panggil Komandan Zhao berat. "Kau menolak berlutut dan membangkang pada perintah Utusan Kekaisaran di depan umum. Menurut Hukum Militer Tembok Besi, pelanggaran hierarki dijatuhi hukuman tiga puluh cambukan roh."
Shi Tou terbelalak kaget. "Komandan! Cambuk roh itu disuntikkan energi spiritual! Tiga puluh cambukan bisa meremukkan tulang orang biasa!"
Lu Chen hendak melangkah maju untuk memprotes, namun Lin Yuan mengangkat tangan kanannya, menghentikan kedua rekannya.
Lin Yuan menatap Komandan Zhao, lalu beralih menatap Su Jing yang menyunggingkan senyum kemenangan yang amat licik dan puas. Lin Yuan tahu, Komandan Zhao sedang memberi jalan tengah untuk mencegah pertumpahan darah yang lebih besar di lapangan ini.
Lin Yuan melepaskan jubah kusamnya, menyerahkannya pada Ah Xiu, lalu melangkah tenang ke tengah lapangan tanpa keraguan sedikit pun di wajahnya.
"Aku terima hukumannya," Ucap Lin Yuan dengan suara membumi, tenang, dan tidak tergerus rasa takut. "Tiga puluh cambukan roh. Lakukan sekarang."