NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan di Bawah Palu Keadilan

Hari Kamis yang dinantikan tiba. Langit di atas gedung Pengadilan Agama membentang biru jernih tanpa awan kelabu. Sinar matahari pagi menyirami pilar-pilar gedung dengan kehangatan yang melapangkan dada, seolah menandai dimulainya babak baru yang lebih bersih bagi mereka yang melangkah dengan kejujuran.

Pukul delapan lewat tiga puluh menit, sebuah mobil sedan hitam milik PT Buana Teknik Mandiri memasuki pelataran parkir pengadilan. Dari dalam mobil, melangkah keluar Dimas Kurniawan.

Penampilan Dimas hari ini tampak sangat berbeda dari dua minggu lalu. Ia mengenakan kemeja batik tulis bernuansa cokelat keemasan yang terpotong rapi di tubuhnya yang tegap, dipadu dengan celana bahan hitam dan sepatu kulit yang bersih. Wajahnya yang tirus kini tampak berisi, segar, dan memancarkan wibawa kepemimpinan yang tenang namun sangat kuat.

Di sampingnya, Pak Joko melangkah dengan bangga, sementara Sari berjalan anggun mengenakan gamis berwarna biru muda senada dengan kerudungnya. Kehadiran mereka berdua memberikan kehangatan yang tak ternilai bagi Dimas.

"Bismillah ya, Dim," bisik Pak Joko seraya menepuk bahu tegap Dimas. "Hari ini keputusan pembuktian akan berjalan lancar. Semua syarat hukum sudah kamu penuhi dengan jujur."

"Terima kasih banyak, Pak Joko, Mbak Sari," jawab Dimas tulus dengan senyuman hangat yang menghiasi bibirnya.

Saat mereka bertiga melangkah menuju selasar ruang tunggu, dari arah gerbang depan, sosok Arini melangkah masuk.

Suasana mendadak hening sejenak di sekitar selasar. Penampilan Arini hari ini membuat siapa pun yang pernah melihatnya di sidang pertama akan terhenyak kaget. Tidak ada lagi gaun malam hitam bermerek desainer mahal, tidak ada lagi sepatu hak tinggi bernilai puluhan juta, dan tidak ada lagi riasan wajah tebal yang memamerkan keangkuhan.

Arini berjalan anggun namun sangat bersahaja. Ia mengenakan kemeja katun polos berwarna putih bersih hasil jahitan tangannya sendiri, dipadu dengan rok panjang hitam dan kerudung sederhana yang menutupi dadanya. Di sampingnya, Bu Ratna berjalan perlahan mendampinginya dengan raut wajah penuh kasih sayang.

Arini menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Dimas. Sepasang matanya yang sembab menatap Dimas—menatap perubahan drastis pada diri mantan suaminya itu. Di dalam dadanya, ada desiran kepedihan yang luar biasa saat melihat Dimas berdiri begitu megah, tampan, dan terhormat. Namun kali ini, tidak ada rasa iri atau gengsi di hati Arini. Yang tersisa hanyalah rasa malu yang teramat dalam dan kepasrahan yang utuh.

Arini menundukkan kepalanya, membungkuk pelan di hadapan Dimas dan Bu Ratna.

"Mas Dimas... Ibu... Pak Joko..." bisik Arini dengan suara lirih yang gemetar, tanpa berani mengangkat wajahnya menatap langsung ke manik mata Dimas.

Dimas menatap Arini dengan pandangan yang tenang. Pria itu menganggukkan kepalanya pelan tanpa ada raut kebencian. "Selamat pagi, Arini. Ibu Ratna."

"Panggilan untuk perkara nomor empat ratus lima puluh garis miring Pdt.G garis miring dua ribu dua puluh enam atas nama Pemohon Dimas Kurniawan dan Termohon Arini Wulandari. Silakan memasuki ruang sidang utama."

Suara panggilan dari pengeras suara panitera memecah keheningan di antara mereka. Dimas menarik napas panjang, mengangguk pada Pak Joko dan Sari, lalu melangkah menuju pintu ruang sidang. Arini dan Bu Ratna berjalan mengekor di belakangnya dengan langkah yang pasrah.

Di dalam Ruang Sidang Utama, Majelis Hakim yang dipimpin oleh Hakim Ketua paruh baya berkacamata tebal telah duduk siap di mimbar kehormatan.

Dimas mengambil tempat di kursi Pemohon, sementara Arini duduk di kursi Termohon. Bu Ratna, Pak Joko, dan Sari duduk bersanding di jajaran kursi pengunjung belakang.

Ketuk! Palu sidang diketuk sekali oleh Hakim Ketua.

"Sidang perkara cerai talak nomor empat ratus lima puluh resmi dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua berwibawa.

Hakim Ketua memandangi kedua pihak yang duduk di hadapannya. Ia mengamati perubahan sikap dan penampilan Arini yang sangat bertolak belakang dari sidang mediasi dua minggu lalu yang berakhir ricuh.

"Saudara Pemohon, Dimas Kurniawan, apakah Saudara tetap pada permohonan cerai talak Saudara untuk menceraikan Termohon, Sdri. Arini Wulandari?" tanya Hakim Ketua tegas.

Dimas berdiri tegak di tempatnya, menangkupkan kedua tangan di depan dada. "Tetap pada permohonan awal saya, Yang Mulia. Keputusan saya sudah bulat dan tidak dapat diubah lagi."

Hakim Ketua lalu berpaling menatap Arini. "Saudari Termohon, Arini Wulandari. Berdasarkan laporan dari Hakim Mediator, proses mediasi dinyatakan gagal. Hari ini adalah agenda pembacaan permohonan sekaligus jawaban dari Saudari Termohon. Apakah Saudari ingin mengajukan sanggahan, eksepsi, atau tuntutan nafkah mut'ah terhadap permohonan cerai talak suami Saudara?"

Suasana di dalam ruang sidang mendadak mencekam. Seluruh mata tertuju pada Arini.

Arini perlahan-lahan berdiri dari kursi kayunya. Jemarinya meremas kain rok hitamnya erat-erat. Air mata bening mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya agar tidak tumpah secara histeris seperti dulu. Ia mengangkat wajahnya, menatap Majelis Hakim, lalu perlahan memalingkan pandangannya ke arah Dimas yang duduk tegap di sebelahnya.

"Yang Mulia Majelis Hakim yang bijaksana..." suara Arini bergetar pelan, mengalun lembut dan tulus menembus keheningan ruangan. "Saya... saya tidak akan mengajukan sanggahan apa pun. Saya tidak akan mengajukan tuntutan harta atau nafkah apa pun terhadap suami saya, Dimas Kurniawan."

Pernyataan itu membuat Panitera dan Hakim Anggota menaikkan alisnya heran.

Arini melanjutkan kalimatnya, air matanya menetes pelan menelusuri pipinya yang tirus. "Semua alasan dan dalil permohonan cerai yang diajukan oleh Mas Dimas adalah benar adanya. Saya adalah istri yang buruk. Saya telah dibutakan oleh kesombongan, keangkuhan, dan kemewahan semu hingga tega meninggalkan Mas Dimas yang telah berjuang tulus memeras keringat demi saya."

Arini membalikkan badannya sepenuhnya menghadap ke arah Dimas. Di hadapan Majelis Hakim, di hadapan ibunya, dan di hadapan semua saksi yang hadir di ruang sidang itu, Arini membungkukkan badannya dalam-dalam hingga membentuk sudut sembilan puluh derajat.

"Mas Dimas..." ratap Arini dengan suara yang sarat oleh penyesalan jiwa yang paling dalam. "Di depan hukum dan di hadapan Tuhan, aku mengakui seluruh kesalahanku padamu. Aku minta maaf atas setiap tetes keringatmu yang dulu aku hina, atas setiap kata-kata kasarku yang melukai harga dirimu, dan atas pengkhianatan yang aku lakukan. Aku ikhlas menerima penceraian ini... Aku ikhlas melepasmu agar kamu bisa bahagia bersama orang yang benar-benar menghargai ketulusanmu."

Ruang sidang mendadak diselimuti rasa haru yang amat menggebu. Pak Joko mengusap sudut matanya yang basah, sementara Sari menatap Arini dengan rasa iba dan hormat atas keberanian wanita itu untuk mengakui kesalahannya secara jujur.

Dimas menatap Arini yang masih membungkuk memohon maaf di hadapannya. Di dalam dada Dimas, tidak ada pendaran kemenangan egois, tidak ada sorak-sorai dendam yang terbalaskan. Yang ada hanyalah keheningan yang amat dalam dan rasa lega karena mantan istrinya telah menemukan kembali kesadarannya sebagai manusia.

Dimas berdiri, menatap Arini dengan tenang. "Arini... berdiri."

Arini menegakkan tubuhnya kembali, menyapu air matanya yang terus mengalir.

"Sebelum hakim membuat keputusan hukum," tutur Dimas dengan suara bariton yang sangat hangat dan dewasa. "Di hari yang baik ini, saya pribadi sudah memaafkan seluruh kesalahanmu, Arini. Saya memaafkanmu bukan karena kamu memintanya, tapi karena saya tidak ingin menyimpan beban benci sedikit pun di dalam hati saya. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi kita berdua untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik."

Kata-kata maaf dari Dimas menghantam dada Arini bagaikan penyejuk yang menyirami tanah kering jiwanya. Arini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis terisak-isak dalam rasa syukur yang amat sangat.

Hakim Ketua mengangguk-angguk penuh rasa hormat atas kedewasaan dan kebesaran jiwa kedua belah pihak. Pria paruh baya itu mengetukkan palu kayunya tiga kali.

Ketuk! Ketuk! Ketuk!

"Menimbang bahwa Pemohon tetap pada ikrar talaknya, dan Termohon telah mengakui serta menerima seluruh permohonan Pemohon secara ikhlas tanpa tuntutan, maka Majelis Hakim mengabulkan permohonan cerai talak Pemohon secara penuh!" tegas Hakim Ketua. "Sidang dinyatakan selesai dan ditutup!"

Palu keadilan telah diketuk. Ikatan pernikahan yang penuh dinamika, air mata, dan pengkhianatan itu resmi terputus secara sah di mata hukum dan agama.

Di luar gedung Pengadilan Agama, sinar matahari siang terasa begitu sejuk.

Dimas melangkah keluar dari lobi utama. Di tangga gedung, ia berpapasan sebentar dengan Arini dan Bu Ratna. Arini menatap Dimas dengan senyuman tipis yang sangat tulus—sebuah senyuman bebas tanpa keangkuhan.

"Terima kasih banyak atas segala kebaikanmu selama ini, Mas Dimas," ucap Arini pelan. "Selamat atas jabatan barumu di perusahaan. Kamu memang pantas mendapatkan hal-hal terbaik di dunia ini."

"Terima kasih, Arini. Jaga Ibu Ratna baik-baik," jawab Dimas ramah.

Bu Ratna memeluk Dimas sebentar, menepuk punggung mantan menantunya itu dengan air mata haru. "Dimas... Ibu akan selalu mendoakan keselamatan dan keberkahan untuk hidupmu, Nak."

"Terima kasih, Ibu. Ibu akan selalu jadi ibu bagi Dimas," sahut Dimas tulus.

Arini dan ibunya melangkah pergi menuju angkutan umum di tepi jalan, siap memulai kehidupan baru mereka yang bersahaja dari hasil keringat mesin jahit tua.

Dimas membalikkan badan, menatap Pak Joko dan Sari yang menunggunya di dekat mobil. Sari menatapnya dengan senyuman jernih yang memancarkan ketenangan jiwa. Dimas melangkah mendekati mereka dengan napas yang begitu lapang. Masa lalunya yang kelam telah resmi ditutup, dan di hadapannya, sebuah lembaran hidup baru yang penuh harapan, kehormatan, dan cinta yang tulus kini terbentang luas.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!