"A...aku hanya ingin kamu bahagia, menikahlah dengannya. Aku bersedia berpisah..."
Tatapan suaminya yang pada awalnya penuh amarah menjadi penuh rasa iba."Aku rasa tunjangan perlu di revisi."
"Dia muda dan cantik, kamu berhak mendapatkan yang lebih baik. Hanya saja foto pernikahan boleh untukku? Aku hanya ingin mengenang saat kita susah dan senang bersama-sama."
Sang suami kembali tertegun, menelan ludahnya."Aku akan menambahkan satu villa lagi dalam pembagian harta nanti."
Sementara putranya, berbisik kepada ibunya."Bagus ibu, manipulasi rasa bersalah Ayah. Agar kita mendapatkan lebih banyak hartanya lagi."
***
Ayu Ningsih merupakan istri sekaligus ibu rumah tangga yang baik. Memiliki seorang putra yang begitu cerdas.
Suaminya datang, mengatakan bahwa selingkuhannya hamil dan ingin menceraikan istrinya.
Ayu Ningsih, pada awalnya marah, tapi putranya memberikan gagasan yang lebih bagus."Cerai Boleh! Harta Harus!"
Ibu dan anak yang ingin memiskinkan pasangan selingkuh itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa Harta? Mana Tahan...
“Tentu saja tidak, Ibu berniat membuat wanita muda itu bertambah shock. Dia harus mengenali statusnya, harus menyajikan teh untukku.” Wanita itu mengedipkan sebelah matanya.
Hingga tiba-tiba suara dering telepon terdengar. Pihak rumah sakit menghubunginya.
“Maaf, selamat siang bu Ayu. Ini dari rumah sakit Kenanga, saya ingin mengabarkan bahwa operasi untuk ibu mertua anda. Nyonya Dian akan segera dijadwalkan dalam beberapa hari. Untuk itu kami ingin konfirmasi dan persiapannya. Karena tidak ada pihak keluarga yang menjaga dari kemarin.” Itulah yang disampaikan oleh pihak rumah sakit.
Jujur saja Ayu menipiskan bibir menahan tawanya. Ibu mertuanya sudah berusia 73 tahun. Begitu cerewet masalah makanan, tidak bisa dibantah sama sekali. Begitu mengagumkan Dani sebagai putra kebanggaannya.
“Saya akan mengalihkan tugas kepada orang lain. Kebetulan saya sedang berada dalam tahap perceraian dengan suami saya. Nanti siang, saya akan datang memanggil orang yang akan mengurus ibu mertua saya nanti.” Ucapnya pada pihak rumah sakit.
“Baik, kami akan menunggu konfirmasinya.”
Ayu mematikan panggilannya, kemudian melirik ke arah putranya. Putranya menatap sinis padanya.
“Ibu akan kembali ke rumah sakit dan merawat nenek? Atau ibu akan mengadu pada nenek tentang perselingkuhan ayah?” Tanya Virgo penasaran.
“Pada awal pernikahan, Aku adalah menantu yang paling dipuja dan dipuji. Itu karena aku bersedia menemani anaknya dalam hidup yang susah. Ketika karir anaknya melejit, nenekmu sudah mulai pikun. Melupakan perjuanganku dari awal, lalu menghujatku sebagai menantu tidak tahu diri. Hanya bisa berdiam di rumah tidak membantu karir suami. Padahal alasan aku diam di rumah, itu karena dia yang sakit-sakitan. Alasan aku hanya tetap diam di rumah, itu karena ayahmu sendiri yang membujukku. Dengan alasan aku hanya lulusan SMU, memangnya dapat pekerjaan dengan gaji berapa? Katanya dia akan menanggung hidupku dan membahagiakanku. Asalkan aku merawat ibu mertuaku dengan baik. Janji hanyalah janji…ibaratnya ayahmu seperti politikus saat pemilu. Sudahlah…”
Sang Ibu menghela nafas lega. Tidak akan mengharapkan apapun lagi kecuali uang. Bau duit yang menyegarkan tidak akan pernah menghianatimu.
“Aku bertanya serius…jadi Apa rencana ibu?” Sang anak bertambah penasaran lagi.
“Kamu lihat saja nanti…Aku harus pergi ke restoran dulu untuk membelikan nenekmu sup iga yang berguna untuk kesehatannya.”
“Biasanya ibu masak sendiri! Masakan penambah tenaga, masakan untuk kesehatan bagi ibu mertua.”
“Lebih baik beli pakai uang, lagi pula dia bukan ibu mertuaku lagi.”
Sang Ibu memukul kepala putranya, putranya yang selalu mengejeknya karena begitu penurut pada neneknya.
Tapi ada banyak hal dalam pikiran Ayu Ningsih saat ini. Memang pernikahan ini lebih baik diakhiri saja daripada dipertahankan.
Pada awalnya dirinya ingin marah dan mengamuk. Pada awalnya dirinya ingin berusaha bertahan. Tapi kata-kata bisikan dari putranya ada benarnya. Daripada mempertahankan pria brengsek, lebih baik mempertahankan uangnya untuk tetap disisinya.
***
Jemari tangan Virgo bergerak begitu cepat di atas keyboard. Pria itu begitu fokus mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk. Jabatannya hanya staf biasa, walaupun kemampuannya luar biasa.
Ayahnya benar-benar menekan karirnya. Matanya melirik ke arah ayahnya, yang melangkah merangkul Siska menuju ruang kerja. Itu cukup bagus bagi Virgo, pria itu berjalan. Melangkah menuju ruangan staff bagian perencanaan.
Mencari titik buta CCTV. Seperti perkataan ibunya…dirinya harus merencanakan semuanya dari awal. Hak sebagai pewaris, sudah pasti akan jatuh ke tangan selingkuhan ayahnya.
Ayahnya tidak akan peduli dengan hubungan darah. Neneknya terlalu menyayangi ayahnya, sama sekali tidak akan membela cucunya.
Jemari tangannya bergerak cepat, memasukkan hampir semua data. Matanya mengamati ke arah sekitar, sama sekali tidak ada orang di ruangan ini. Ketika semuanya sudah selesai, ketika dirinya ingin mencabut flash disk.
Suara pintu terbuka dari ruangan sebelah terdengar. Pintu terbuka dari ruangan ayahnya, pria itu melangkah keluar bersama sang sekretaris menuju ruangan tempat Virgo berada saat ini.
Dirinya mencabut flashdisk dengan cepat. Tapi file-file di komputer masih terbuka. Ketika pintu dibuka oleh ayahnya dan Siska.
Dengan cepat dirinya bersembunyi di bawah meja. Menelan ludahnya berkali-kali, Untung saja sudah sempat mematikan komputer.
Matanya menatap ke arah sekitar. Dua orang itu masuk ke ruangan ini. Dua pasang kaki yang bergerak sejajar.
Satunya menggunakan sepatu hak tinggi. Satunya lagi menggunakan celana panjang. Suara decapan begitu mesra terdengar.
Bahkan Virgo sekarang ketakutan untuk bernafas. Bagaimana kalau ayahnya tahu dirinya ada di dalam ruangan ini?
Masih tetap bersembunyi di bawah meja, tapi adegan semakin nekat terlihat.
“Sayang…ah! Ah…!”
Pakaian dalam wanita terjatuh di atas lantai. Bukan hanya satu tapi sepasang pakaian dalam. Wanita itu sepertinya dinaikkan ke atas meja, mengingat kaki wanita itu yang melayang.
Virgo masih menutup mulutnya menggunakan tangan. Ayahnya memang dasar sialan! Mempertontonkan adegan seperti ini kepada putranya yang masih perjaka.
Suara ikat pinggang terjatuh terdengar, diiringi dengan celana panjang yang melorot. Disertai dengan boxer, yang berada di bagian lutut.
Bagian atas meja mulai terasa bergoyang. Benar-benar bergoyang bagaikan gempa. Dan dirinya saat ini ketakutan, karena berada di bawah pusat gempa tersebut.
“Oh…owh…ssshh…ha…ha…nikmat sayang… kamu selalu bisa memuaskanku. Ah! Ah…” suara racauan dari ayahnya.
“Ugh…ha…ha…” suara Siska menyahut terdengar.
Sedangkan dirinya masih menutup mulutnya sendiri. Sampai kapan dirinya akan berhenti seperti ini. Sampai kapan dirinya harus bersembunyi di bawah meja ketika Siska menjadi hidangan, sedangkan ayahnya yang menyantapnya.
Hingga tiba-tiba tanpa diduga sama sekali.
“Ah!”
Semuanya berakhir, cairan putih menjijikan itu. Maksudnya bakal adik-adiknya, merembes hingga jatuh ke atas karpet.
Dirinya hanya dapat menatap jenuh. Ayahnya ternyata tidak tahan lama, 5 menit sudah game over.
“Sayang, tadi kamu luar biasa.” Ucap Dani kembali menggunakan pakaiannya.
“Kamu tidak mementingkan kebutuhanku. Kamu cuma mementingkan kepuasanmu sendiri.” Wanita itu turun dari atas meja, meraih pakaian dalamnya yang berceceran. Kemudian kemungkinan menggunakannya.
“Lain kali…aku coba pakai obat kuat ya?” Suara mesra dari Dani, kembali suara ciuman itu terdengar.
Tidak menyadari, Virgo yang berada di bawah meja ingin rasanya berkata-kata kasar kepada ayahnya. Tapi sudahlah…
Dirinya juga sudah menyerah dengan sosok ayahnya. Ayahnya bukan pria mokondo, tapi pria komedo. Sekali pencet langsung keluar.
“Jadi bagaimana…kapan lebih tepatnya kamu akan menceraikan istrimu.” Tanya Siska begitu manja.
“Draft perceraian baru sudah disusun. Pengacaraku berkata hari ini draftnya akan tiba. Kalau kamu mau, kita bisa membujuknya bersama-sama agar dia tanda tangan dengan damai. Lagi pula selama ini Ayu begitu sabar. Dia bukan orang yang picik sama sekali.” Dani meyakinkan, mengecup jemari tangan wanita selingkuhannya.
“Apanya yang tidak picik? Dia itu wanita jahat! Dia ingin merebutmu dariku.” Ayu kembali bermanja-manja, memeluk erat kekasihnya.
“Sayang lalu kamu maunya apa…”
“Ceraikan istrimu tanpa harta. Biarkan dia hidup menderita.”
“Wanita goblok, kurang ajar, Aku ingin menyebutkan semua nama hewan di kebun binatang karenanya. Tapi julukan yang paling tepat adalah kapibara…perutnya sudah mulai buncit tapi masih bercinta.” Komat-kamit Virgo mengomel dengan suara yang benar-benar kecil.