Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Seratus Anak Tangga
Ujian kenaikan calon murid dalam digelar di kaki tangga batu yang menghubungkan kampung murid luar dengan gerbang utama sekte dalam. Seratus anak tangga tertata miring ke atas, lebar dan licin oleh lumut yang tidak pernah kering. Di ujungnya berdiri gerbang kayu merah dengan dua patung singa batu, dan di bawah gerbang itu, tiga kursi untuk tiga tetua penguji.
Empat puluh dua murid luar berbaris di dasar tangga. Jian Chen berdiri di barisan ketiga dengan nomor kayu bertuliskan tiga puluh sembilan tergantung di lehernya. Di sampingnya, seorang pemuda berbadan lebar dan berwajah datar sedang meregangkan bahu. Namanya Fang Cheng, kata nomor di lehernya dan bisik-bisik di barisan. Ia teman dekat Gu Hong dulu, dan ia sudah dua kali menatap Jian Chen dengan senyum yang tidak ramah.
"Tiga puluh sembilan," kata Fang Cheng sambil menoleh sedikit. "Nomor yang bagus untuk jatuh."
"Aku tidak berencana jatuh."
"Semua orang tidak berencana jatuh." Fang Cheng terkekeh. "Tapi anak tangga itu licin."
Tetua Yan berdiri dan mengangkat tangannya. Suaranya yang tajam memotong keributan. "Ujian pertama: ketahanan. Setiap peserta memanggul sebuah batu penguji dari kaki tangga ke gerbang. Berat batu sudah ditentukan oleh aula. Tidak boleh dijatuhkan, tidak boleh disentuh pihak lain. Jika batu jatuh, peserta gugur. Mulai dari nomor satu."
Satu per satu peserta maju, memanggul batu bundar sebesar kepala kerbau yang diletakkan di keranjang kayu. Sebagian terhuyung di anak tangga ketiga puluh, sebagian tersandung di anak tangga ketujuh puluh. Sembilan orang sudah gugur ketika nomor tiga puluh sembilan dipanggil.
Jian Chen berjalan ke arah tumpukan batu. Seorang pembantu aula, pemuda berwajah licin dengan lencana Tetua Bai di dadanya, menyodorkan keranjang dengan batu yang sudah disiapkan. Jian Chen mengangkat keranjang itu dan menahan napas. Lengannya langsung turun separuh jengkal.
Berat sekali. Terlalu berat.
Ia menurunkan keranjang itu dan menatap batu di dalamnya. Di sisi batu, diukir angka kecil dengan pahat: lima belas. Tetapi di samping angka itu ada bekas goresan baru, seperti seseorang sudah mengerik angka lain di bawahnya. Jian Chen menyentuhnya dengan jari. Goresan itu menyisakan sebagian garis yang kelihatannya milik angka dua puluh lima.
"Tetua," katanya, cukup keras agar terdengar. "Aku ingin batu ini ditimbang ulang."
Pembantu berlencana itu langsung menoleh. "Apa katamu?"
"Berat batu ini tidak sama dengan angka yang tertera."
"Itu batu lima belas kati. Sudah diperiksa."
"Kalau begitu tidak masalah menimbangnya."
Tetua Yan berdiri dan menghampiri dengan langkah pelan. Tetua Sun menyusul sambil menguap. Tetua Bai tetap duduk, wajahnya tersenyum tipis, tangannya terlipat di atas perut besar.
"Apa yang kau persoalkan, anak muda?" tanya Tetua Yan.
"Angka di batu ini sudah digores ulang, Tetua. Dan rasanya lebih dari lima belas kati. Aku pandai besi paruh waktu di bengkel Dao. Aku tahu berat besi dari tanganku."
"Kau menuduh pembantu aula berbuat curang?"
"Aku hanya meminta menimbang."
"Timbangan ada di sana," kata Tetua Sun sambil menunjuk ke samping gerbang. "Bawa ke sana."
Pembantu itu mengerutkan dahi, tetapi tidak bisa menolak. Mereka membawa batu itu ke timbangan besi di samping gerbang. Jarum bergerak, berayun, lalu berhenti di angka dua puluh enam.
Tidak ada yang bersuara. Tetua Yan menatap angka itu lama, lalu menoleh pada pembantu berlencana.
"Siapa yang menyiapkan batu ini?"
"Aku, Tetua," jawab pembantu itu, wajahnya mulai pucat. "Aku... aku tidak tahu. Mungkin ada yang tertukar."
"Mungkin." Tetua Yan menatap Tetua Bai. "Tetua Bai. Pembantumu."
"Aku tidak tahu apa-apa soal ini," kata Tetua Bai dengan senyum yang tidak berubah. "Mungkin kesalahan. Anak muda zaman sekarang kurang teliti."
"Itu kesalahan yang menguntungkan satu orang dan merugikan satu orang lain," kata Tetua Sun pelan. "Aku tidak suka kesalahan seperti itu."
"Aku akan menyelidikinya," kata Tetua Bai, masih tersenyum.
"Tidak," kata Tetua Yan. "Aula Hukum yang menyelidiki. Pembantu ini diskors sampai ujian selesai." Ia menunjuk Jian Chen. "Dan kau, anak muda. Ambil batu lima belas kati dari tumpukan di sana. Aku akan memeriksa sendiri."
Jian Chen membungkuk. Batu yang diberikan Tetua Yan memang lebih ringan. Ia mengangkatnya, mengatur keranjang di punggung, dan mulai menaiki tangga dengan langkah mantap. Dari belakang terdengar gumaman penonton dan bunyi sepatu Fang Cheng yang dengan tidak sabar menunggu giliran.
Anak tangga pertama sampai kedua puluh terasa mudah. Anak tangga ketiga puluh mulai berat. Napasnya memburu. Lengan kirinya berdenyut, dan lututnya mengirimkan peringatan dengan setiap langkah. Ia mengingat latihan ayunan besi, seratus kali pagi dan seratus kali sore. Ia mengingat suara Dao yang mengomel. Ia mengingat tangan Lin Xue yang menekan nadinya.
Anak tangga kelima puluh. Anak tangga enam puluh. Keringat menetes dari dagunya. Di anak tangga tujuh puluh, kakinya hampir terpeleset di lumut licin, dan ia menahan diri dengan mencengkeram tali keranjang dan memutar pinggul. Dari bawah terdengar seseorang menahan napas.
Anak tangga delapan puluh. Pandangannya mulai berbintik. Dari atas gerbang, ia melihat Zhao Feng berdiri di antara murid dalam yang menonton, dengan lengan terlipat dan wajah tanpa ekspresi. Di sampingnya, Shen Yu tersenyum dan mengangkat satu tangan sedikit, seperti memberi semangat.
Anak tangga sembilan puluh. Ia hampir tidak mendengar apa-apa lagi selain napas dan denyut jantungnya sendiri.
Anak tangga sembilan puluh sembilan.
Anak tangga keseratus.
Ia menurunkan keranjang itu di depan gerbang dengan tangan gemetar dan jatuh berlutut. Tidak ada tepuk tangan. Hanya keheningan sejenak, lalu suara Tetua Sun.
"Nomor tiga puluh sembilan. Lulus."
Jian Chen mendongak. Dari kejauhan, di dasar tangga, ia melihat Fang Cheng menatapnya dengan wajah yang sudah tidak lagi tersenyum.
Zhao Feng turun dari barisan penonton dan berhenti di depannya. "Batu itu," katanya pelan. "Kau tahu siapa yang mengubah angkanya?"
"Tidak."
"Aku akan mencari tahu."
"Kau tidak perlu."
"Aku mau." Zhao Feng menatap ke arah tempat Tetua Bai duduk. "Aku tidak suka ada orang yang bermain di belakang punggung ujian sektemu."
"Sektemu juga," kata Shen Yu dari belakang Zhao Feng. Ia melangkah maju sambil menyodorkan kantong air. "Minumlah, Jian Chen. Wajahmu seperti habis dikubur."
"Terima kasih," kata Jian Chen sambil mengambil kantong itu.
"Kau lulus ujian pertama. Itu saja sudah hebat." Shen Yu tersenyum hangat. "Dua ujian lagi. Jangan terlalu keras pada dirimu."
"Aku akan berusaha."
"Itu kalimatmu yang paling kusuka," kata Shen Yu, dan ia menepuk bahu Jian Chen, bahu kanan, bukan yang kiri.