"Kurang ajar! Beraninya kalian mengotori rumah tangga kita!" bentak Sandra dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Sebelum Sandra bisa memberikan pelajaran lebih jauh kepada wanita itu, sebuah benturan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak!
Tamparan itu begitu kuat hingga kepala Sandra terpelanting ke samping. Rasa perih langsung menjalar di pipinya, meninggalkan sensasi panas yang membakar. Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Anton sendiri. Suami yang selama empat tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, kini berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan mengepal.
"Seharusnya kamu sadar, kamu wanita lusuh, jelek, tidak bisa menjaga tubuhmu, aku muak denganmu!" teriak Anton dengan suara menggelegar, melampiaskan seluruh kebencian yang selama ini ia pendam.
Kata-kata itu menghujam jantung Sandra jauh lebih tajam daripada pisau bermata dua. Wanita lusuh? Jelek? Selama ini ia mengorbankan waktu istirahatnya demi mengurus rumah, sementara Anton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antrean Para Pencari Harapan
Mobil sedan hitam itu akhirnya memelankan lajunya, lalu berhenti tepat di depan sebuah pagar besi tempa berukuran raksasa dengan ukiran keemasan yang sangat megah. Sandra membayar ongkos taksi menggunakan sisa uang di dompet digitalnya, lalu perlahan melangkah keluar dari dalam mobil.
Begitu kakinya memijak tanah, mata Sandra membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka, melongo menatap pemandangan menakjubkan di hadapannya. Bangunan di balik pagar tinggi itu bukan sekadar rumah besar, melainkan sebuah mansion bak istana kerajaan Eropa klasik. Dinding marmer putihnya terpapar cahaya lampu taman yang mewah, dengan pilar-pilar raksasa yang berdiri kokoh menyangga atap tingginya. Rumah milik Anton dan keluarga besarnya yang selama ini ia anggap sangat mewah, mendadak terlihat biasa saja jika dibandingkan dengan tempat ini.
Dengan langkah ragu dan tubuh yang masih setengah basah, Sandra mendekati pintu gerbang utama. Dua orang bodyguard bertubuh tegap dengan jas hitam rapi dan earphone terpasang di telinga langsung menatapnya tajam. Tatapan mereka begitu intimidatif, cukup untuk membuat orang awam gemetar ketakutan.
Sandra mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia merogoh saku celananya dan menunjukkan kertas pengumuman yang sudah agak kusut serta basah kepada salah satu penjaga.
"Maaf, Pak... saya datang untuk pengumuman ini," ujar Sandra dengan suara agak pelan namun terdengar jelas.
Pria berbadan tegap itu memandangi kertas di tangan Sandra, lalu mengamati penampilan Sandra dari ujung kepala hingga ujung kaki. Meski tatapannya tegas, penjaga itu tidak menunjukkan raut melecehkan seperti yang dilakukan Anton. Pria itu mengangguk pelan, lalu menyentuh earphone di telinganya sejenak sebelum menempelkan kartu akses ke gerbang.
Klek.
Pagar besi yang sangat berat itu terbuka secara otomatis. "Silakan masuk dan bergabung di aula depan," ucap bodyguard tersebut singkat sembari memberikan jalan.
Sandra mengangguk dan menguncupkan bibirnya rapat-rapat, lalu melangkah menyusuri jalan setapak beraspal mulus menuju teras depan mansion. Namun, begitu ia sampai di bawah naungan teras aula yang luas, langkah kakinya mendadak terhenti kembali.
Di sana, sudah berdiri berjejer sekitar tujuh hingga delapan orang wanita. Mereka tampak rapi dan berpenampilan menarik, meski ada juga yang terlihat gelisah sepertinya. Ada yang berdandan cukup mencolok, ada yang tampak elegan, dan ada pula yang terlihat sama terdesaknya seperti Sandra.
Melihat pemandangan itu, Sandra tak mampu menahan senyum tipis yang getir di bibirnya. Ia menggelengkan kepala perlahan, menyadari betapa absurdnya situasi yang sedang ia hadapi malam ini.
"Astaga... ternyata bukan aku saja yang kurang waras malam-malam begini," gumam Sandra pelan pada dirinya sendiri, merasa geli dengan keputusan nekad yang diambilnya.
Sandra berjalan pelan menuju bagian belakang barisan tersebut, mencoba menyamakan posisinya dengan wanita-wanita lain. Kehadiran Sandra yang basah kuyup dengan rambut agak acak-acakan serta bekas luka lecet di lutut dan tangannya tentu saja menarik perhatian beberapa wanita di barisan itu. Mereka melempar tatapan heran dan berbisik-bisik pelan, namun Sandra memilih untuk tidak memikirkannya. Bagi Sandra, tidak ada lagi rasa malu yang bisa melukainya lebih dalam dari apa yang telah Anton lakukan malam ini.
Tiba-tiba, pintu kayu jati raksasa di hadapan mereka terbuka perlahan, memancarkan cahaya lampu gantung kristal yang sangat menyilaukan dari dalam aula. Seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas eksekutif melangkah keluar, menatap dingin ke arah rombongan wanita yang berdiri berbaris di hadapannya.
tapi cocok sih, laki-laki pengecut seperti kamu punya istri pelacur murahan yang ga tahu diri 🤣🤣😂😂 dan kalian berdua siap-siap mati