Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reyna!
Satu minggu berlalu begitu cepat di tengah kepulan debu kertas dan deretan angka yang tak ada habisnya. Hari Jumat yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba, hari di mana Agnia akan mengikat janji suci pernikahan bersama pria yang dicintainya.
Di sebuah hotel berbintang di pusat kota Bandung, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan suasana sakral prosesi akad nikah menyelimuti Agnia yang tampil begitu anggun berbalut kebaya putih modern.
Agnia memandangi layar ponselnya sebelum melangkah ke area akad, sebuah pesan singkat dari Reyna masuk beberapa menit sebelumnya
^^^Reyna: Agnia, sahabatku yang paling cantik... Maafin aku ya, aku nggak bisa mendampingi kamu di momen paling membahagiakan ini. Selamat menempuh hidup baru, aku akan usahakan besok pasti datang ke resepsimu, doaku selalu bersamamu dan suami.^^^
Agnia mengusap sudut matanya yang sedikit basah agar tidak merusak riasan wajahnya, ia membalas pesan itu dengan penuh pengertian.
Agnia: Reyna sayang, nggak apa-apa. Aku tahu betul kondisi dan perjuangan kamu, kerjakan tugasmu baik-baik ya. Aku tunggu kamu besok malam di resepsi, jangan sampai nggak datang!
Sementara di sudut kota yang berbeda, atmosfer di ruangan administrasi kantor Reyna terasa sangat berbanding terbalik. Sejak pukul delapan pagi, hawa ketegangan begitu pekat menyelimuti ruangan. Tim audit dari kantor pusat yang terdiri dari tiga orang berpakaian formal ketat sudah duduk di ruang rapat utama, membedah setiap dokumen keuangan, arsip transaksi dan rekapitulasi stok kain impor yang dipegang oleh divisi tempat Reyna bekerja.
Reyna berdiri sigap di depan meja rapat, bolak-balik mengambil bundel berkas dari lemari arsip manual. Tangannya yang lelah menggeledah map demi map, menyodorkan data fisik yang diminta oleh ketua tim audit. Di sampingnya, Clarissa ikut membantu memegang berkas susulan dengan cekatan, sementara Bu Sandra duduk di pojok ruangan dengan wajah tegang dan sesekali menyapu keringat dingin di dahinya.
"Stok kain chiffon seri B-12 bulan Mei, mana berkas verifikasi fisiknya?" tanya salah satu auditor berwajah datar dengan kacamata minus tebal.
"Ini, Pak. Sudah diverifikasi dengan stempel gudang dan catatan penyesuaian bahan," jawab Reyna dengan tenang dan menyodorkan map berlabel biru tepat waktu.
Auditor itu meneliti lembaran kertas tersebut dan mencocokkannya dengan data di layar laptopnya. Setelah beberapa menit yang terasa bagaikan jam bagi Bu Sandra, auditor itu mengangguk pelan.
"Penyusunan arsip manual kamu sangat rapi dan presisi, semua data fisik cocok dengan laporan sistem," puji sang auditor singkat.
Mendengar pujian itu, napas lega keluar dari mulut Mas Akbar yang memantau dari jauh, sementara Bu Sandra mengelus dadanya dan pura-pura tersenyum bangga seolah-olah itu adalah hasil bimbingannya.
Audit yang begitu melelahkan ini akhirnya berakhir ketika jarum jam menunjuk angka delapan malam, para auditor dari kantor pusat menyerahkan daftar berkas yang perlu disiapkan untuk verifikasi akhir besok.
Karena sabtu adalah hari terakhir dan menentukan, auditor menegaskan bahwa pemeriksaan besok akan jauh lebih ketat dan membedah sisa laporan keuangan serta mencocokkan fisik barang berharga tinggi di gudang utama secara presisi.
Setelah merapikan kembali tumpukan dokumen yang berhamburan di meja rapat, Reyna melangkah keluar kantor dengan tubuh yang luar biasa lelah, ia mengendarai motor matic tuanya menembus dinginnya angin malam kota.
Sesampainya di kontrakan petaknya yang sempit, Reyna merobohkan diri di atas kasur busa tanpa dipan. Merasa badannya lengket oleh keringat dan debu, ia memaksa diri untuk berganti pakaian. Sebelum mematikan lampu, jemarinya yang lelah merogoh ransel untuk mengambil ponsel retaknya.
Begitu aplikasi media sosial terbuka, unggahan terbaru Agnia langsung muncul di paling atas linimasa, Reyna menatap layar itu dengan mata berbinar. Di sana terpampang foto Agnia berbalut kebaya akad pernikahan berwarna putih yang sangat anggun dan bersanding dengan suaminya yang gagah mengenakan seragam dinas tentara, raut kebahagiaan terpancar begitu nyata dari senyum sahabatnya.
Reyna tersenyum haru, matanya berkaca-kaca menatap foto itu. Ia hendak menekan kolom komentar dan mengetikkan pesan ucapan selamat yang panjang untuk Agnia. Namun, rasa kantuk yang amat berat akibat kelelahan fisik dan tekanan mental seharian menyergapnya tanpa ampun.
Sebelum sempat menekan tombol kirim, kelopak mata Reyna tertutup rapat, ponselnya terlepas dari genggaman dan mendarat di samping bantal, lalu ia tertidur lelap dalam sekejap.
.
Sabtu pagi menyapa Kota Bandung dengan hembusan udara dingin yang merasuk hingga ke tulang. Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB ketika Reyna sudah berdiri di depan cermin retaknya. Wajahnya pucat, kantung mata menghitam di bawah kelopak matanya menandakan betapa tipis waktu istirahat yang ia dapatkan semalam. Namun, tak ada waktu untuk mengeluh, karena hari ini adalah hari penentuan, hari terakhir proses audit tahunan dari kantor pusat, sekaligus hari resepsi pernikahan Agnia.
Dengan terburu-buru, Reyna menyiapkan gaun pesta sederhana yang ia beli beberapa bulan lalu. Gaun itu satu-satunya pakaian paling layak yang ia miliki untuk menghadiri acara di hotel bintang lima malam nanti. Ia menggantungnya rapi di dalam tas jinjing kain dan meletakkannya di atas stang motor matic tuanya, lalu meluncur menembus jalanan kota yang masih berasap tipis.
Pukul 07.15 WIB, Reyna sudah tiba di kantor. Gedung berlantai tiga itu masih lengang, namun Reyna langsung menerobos ke ruangan administrasi, menyalakan komputer dan meneliti kembali barisan angka di spreadsheet. Firasatnya tak tenang, audit hari terakhir ini akan meneliti inventaris fisik kain berharga tinggi di gudang utama, pos barang yang paling rawan penyimpangan.
Tepat pukul 08.30 WIB, ketegangan yang ditakutkan akhirnya pecah. Tim auditor pusat memanggil Bu Sandra dan Reyna ke ruang rapat utama dengan raut wajah sangat dingin. Pria paruh baya berwajah datar, ketua tim audit dan menghempaskan sebundel lembar rekapitulasi ke atas meja.
"Bu Sandra, ada diskrepansi besar pada laporan stok kain sutra eksklusif seri S-900. Di laporan sistem tercatat ada sisa 150 gulung. Namun, di lembar verifikasi manual yang dilampirkan dari gudang utama, jumlahnya hanya tertulis 50 gulung. Mana 100 gulung sisanya? Ini nilainya mencapai ratusan juta rupiah!" tegas sang auditor dengan nada tanpa kompromi.
Bu Sandra seketika pucat pasi, tubuhnya bergoyang sedikit seolah hendak pingsan. Matanya melotot menatap Reyna dengan tatapan panik campur murka.
"Reyna! Kamu yang urus berkas fisik sutra itu minggu lalu! Kamu mau rampok perusahaan, hah? Atau kamu teledor?" bentak Bu Sandra, mencoba melempar kesalahan pada Reyna sebelum namanya terseret.
"Tenang, Bu. Biar saya periksa berkas penyeimbang manualnya," potong Reyna cepat namun tetap tenang.
Meski jantungnya berdegup kencang, Reyna menolak berlutut pada tuduhan. Ia langsung berlari menuju lemari arsip besi di sudut ruangan, Clarissa dan Mas Akbar yang melihat kepanikan itu segera menghampiri.
Dengan jemari gemetar namun sigap, Reyna membuka map klaster transaksi khusus dua bulan lalu. Ia ingat betul, ada penyesuaian kode akibat retur barang dari pabrik yang belum di-input ke sistem utama oleh pihak gudang karena masalah koneksi.
.
.
.
Bersambung.....
lanjut thor
lanjut thor