"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam.
Ziva tahu rahasia besar yang disembunyikan Keysha, dan dia siap mengubah Rian yang polos menjadi pangeran berdarah dingin untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08. Ancaman Kejam Ziva, (Revisi)
Bunyi peluit Pak Bambang berdenging menyakitkan di telinga, tapi tak mampu meredam suara 'krek' yang terus berputar di kepala Keysha. Kakinya yang sempat lemas mendadak dipaksa bergerak oleh kepanikan.
Melupakan gengsi, melupakan ratusan pasang mata yang menonton di pinggir lapangan, Keysha berlari menghambur ke arah Rian.
"Rian! Rian, lo gapapa?!" Suara Keysha bergetar. Dia berlutut di dekat Rian, tangannya yang gemetar terulur ingin menyentuh pergelangan kaki cowok itu yang sudah mulai membiru dan membengkak tak wajar.
Namun, sebelum jemari Keysha menyentuh kulit Rian, sebuah sentakan kasar mendarat di bahunya. Tubuh Keysha terdorong ke belakang hingga dia hampir terjungkal di atas aspal lapangan.
"Menjauh dari dia, Keysha."
Suara itu dingin, datar, tapi sarat akan penekanan yang mutlak. Keysha mendongak dan menemukan Ziva sudah berdiri di antara dirinya dan Rian. Tatapan mata Ziva begitu tajam, menembus langsung ke manik mata Keysha seolah perempuan itu adalah virus yang harus dijauhkan dari Rian.
"Ziv, gue cuma mau bantu—"
"Gak usah sok peduli bego!" potong Ziva cepat, tanpa menoleh sedikit pun pada Keysha. "Rian kayak gini karena permainan ego cowok lo yang brengsek itu. Dan lo? Lo cuma bakal bikin situasi makin drama. Mundur."
Keysha tertegun, bibirnya kelu. Di depannya, Ziva langsung berlutut di samping Rian dengan gerakan yang jauh lebih sigap dan tenang, kontras dengan emosi yang terpancar dari matanya tadi.
"Rian, bisa dengar gue?" Suara Ziva melunak, hanya khusus untuk cowok yang kini sedang menggigit bibir bawahnya menahan sakit.
Ziva tidak langsung menyentuh kaki Rian yang cedera. Dia tahu betul pertolongan pertama pada fraktur atau dislokasi tidak boleh sembarangan. Ziva melepas jaket varsity miliknya, melipatnya dengan cepat, lalu menyelipkannya dengan sangat hati-hati di bawah kepala Rian sebagai bantalan.
Rian membuka matanya yang berair karena menahan nyeri yang luar biasa. Keringat dingin membasahi pelipisnya. "Ziv... sakit banget," bisiknya, nyaris tak terdengar di tengah keributan lapangan. Suaranya yang biasa terdengar tegar kini terdengar begitu rapuh, memicu gelombang amarah yang lebih besar di dada Ziva.
"Gue tahu. Tahan sebentar. Ambulans sekolah lagi jalan ke sini," ucap Ziva, jemarinya menggenggam tangan Rian yang dingin dan gemetar. Cengkeraman Rian begitu kuat, menyalurkan rasa sakit fisik yang sedang dia rasakan. Ziva menerima rasa sakit di tangannya itu tanpa berkedip.
Di sisi lain lapangan, ketegangan belum mereda. Kevin masih mencengkeram kerah kaus Marvel. "Lo bilang gak sengaja?! Semua orang di sini punya mata, Vel! Lo sengaja ngejegal dia pas di udara!" bentak Kevin, urat-urat di lehernya menegang.
Marvel menepis tangan Kevin dengan kasar, merapikan kaus basketnya yang kusut dengan gestur santai yang memuakkan. "Gak usah cari kambing hitam atas ketidakmampuan fisik temen lo itu, Vin. Dalam basket, kontak fisik itu biasa. Dia aja yang fisiknya kerupuk," sahut Marvel dengan nada meremehkan yang amat kentara.
Pak Bambang berusaha menengahinya. "Sudah! Cukup! Marvel, ikut Bapak ke ruang tatib setelah ini! Kevin, bantu bawa tandu dari UKS sekarang!"
Marvel hanya memutar bola matanya malas. Dia tahu betul siapa dirinya di sekolah ini. Ayahnya adalah donatur terbesar pembangunan gedung olahraga baru yang sedang ditempati mereka sekarang. Ruang tatib hanyalah formalitas membosankan yang paling ujung-ujungnya berakhir dengan teguran tertulis yang akan dirobek ayahnya di rumah.
Marvel melangkah mundur, berniat meninggalkan lapangan dengan senyum kemenangan yang masih menghiasi wajahnya. Dia puas. Rian si anak pembantu itu akhirnya tahu tempatnya.
Namun, langkah kaki Marvel terhenti.
Ziva berdiri dari posisinya di samping Rian. Genggaman tangannya pada Rian terlepas, digantikan oleh aura dingin yang seketika membuat atmosfer di sekitar mereka turun beberapa derajat.
Ziva berjalan lurus ke arah Marvel. Langkah kakinya konstan, tegas, dan penuh intimidasi yang aneh untuk ukuran seorang siswi SMA.
Anak-anak yang mengerumuni Marvel otomatis memberikan jalan, seolah tahu ada badai yang siap menerjang.
"Mau ke mana lo, Marvel?" tanya Ziva. Suaranya tidak meledak-ledak seperti Kevin, tapi justru keheningan dalam suaranya yang membuat bulu kuduk orang yang mendengarnya meremang.
Marvel menghentikan langkahnya, berbalik menatap Ziva dengan senyum meremehkan yang belum pudar. "Ke ruang tatib, sesuai perintah Pak Bambang. Kenapa? Lo mau jadi pahlawan kesiangan buat pembantu lo itu?"
Ziva berhenti tepat dua langkah di depan Marvel. Dia sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka, namun sorot matanya justru membuat Marvel merasa seolah dialah yang sedang diinjak.
"Ruang tatib terlalu mewah buat lo," kata Ziva, datar tanpa ekspresi.
Marvel tertawa remeh, melirik ke sekelilingnya yang kini mendadak sepi menantikan kelanjutan konfrontasi mereka. "Terus lo mau ngapain? Ngadu ke kepsek? Paling lo cuma bisa nangis di pojokan UKS sambil ngompres kaki cowok cacat itu."
Keysha yang melihat dari kejauhan mulai merasa tidak enak. Dia tahu tabiat Marvel yang arogan, tapi dia juga tahu Ziva bukan tipe perempuan yang bisa ditekan. "Marvel, udah, stop!" teriak Keysha mencoba menengahi, tapi tak ada satu pun dari keduanya yang menoleh.
Ziva tidak membalas makian Marvel dengan makian lain. Dia justru merogoh saku rok sekolahnya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar, lalu menyalakan layarnya. Ziva memutar sebuah video pendek.
Mata Marvel seketika melebar. Warna wajahnya yang tadinya kemerahan karena puas, mendadak luntur menjadi pucat.
Video itu merekam dengan sangat jelas—dari sudut elevasi yang sempurna karena Ziva duduk di tribun atas bagian sudut—bagaimana mata Marvel memerah, bagaimana Marvel sengaja tidak melihat ke arah bola melainkan mengunci target pada tubuh Rian, dan bagaimana kaki kanan Marvel bergerak secara sadar dan sengaja untuk menjegal pergelangan kaki Rian saat mendarat.
Dari video berkualitas 4K itu, niat jahat Marvel terpampang nyata tanpa celah untuk mengelak.
"Lo pikir ini cuma sekadar pelanggaran dalam permainan, Vel?" Ziva menurunkan ponselnya, menatap Marvel dengan senyum tipis yang amat dingin. "Di dalam lapangan, ini mungkin pelanggaran taktis. Tapi di mata hukum, ini namanya penganiayaan berat berencana."
Marvel menelan ludah, tenggorokannya mendadak kering. "Lo... lo gak punya hak hukum apa-apa soal ini. Ini urusan internal sekolah!" suaranya mulai naik satu oktav, ada nada panik yang terselip di sana meski dia berusaha keras menutupinya dengan bentakan.
Ziva maju satu langkah lagi, memotong jarak di antara mereka hingga Marvel bisa melihat dengan jelas kilat kegelapan di mata cewek itu.
"Sekolah mungkin bisa lo beli pakai duit bokap lo, Marvel. Tapi hukum pidana gak serendah itu," bisik Ziva, namun cukup keras untuk didengar oleh Pak Bambang dan anak-anak tim basket yang mengelilingi mereka.
Ziva mengangkat kembali ponselnya, jemarinya berada tepat di atas tombol share.
"Satu klik dari gue, dan video ini langsung masuk ke surel pengaduan Polres. Pasal 351 ayat 2 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan luka berat. Ancaman hukumannya lima tahun penjara, Marvel. Gue mastiin lo gak cuma bakal dikeluarkan dari sekolah ini, tapi lo bakal ngerasain gimana dinginnya lantai sel tahanan sebelum sempat lulus SMA."
Suasana lapangan basket mendadak mati. Tidak ada suara helaan napas, tidak ada bisik-bisik. Ancaman Ziva bukanlah gertakan kosong seorang remaja yang sedang emosi; cara dia menyebut pasal dan instansi hukum terdengar begitu presisi, dingin, dan mematikan.
Marvel mematung, tangannya yang tersembunyi di balik celana basket mulai gemetar hebat.
......................
...****************...
Tbc,