"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Setelah hampir setengah jam terkurung di dalam kamar mandi, Kara akhirnya kehilangan sisa kesabarannya. Dengan nafas yang memburu ia mengepalkan tangannya erat, lalu menggebrak pintu itu kembali.
Dug! Dug! Dug!
"Erlangga! Gue udah selesai. Cepat buka pintunya!" teriaknya.
Erlangga yang sedang duduk santai di tepi ranjang sambil memainkan tabletnya itu perlahan mendongak, lalu ia segera menaruh tablet nya itu ke atas meja, dan melangkah santai mendekati pintu.
Ceklek!
Pintu langsung terbuka lebar. Namun, begitu pandangan mereka bertemu, Erlangga langsung menghentikan langkahnya, ia menautkan kedua alisnya heran sambil menatap penampilan Kara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wanita di depannya ini tampak tenggelam dalam balutan kimono handuk berwarna abu-abu gelap miliknya.
Menyadari dirinya sedang ditatap lekat-lekat, Kara langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mencengkeram erat kerah kimono yang hampir melorot itu, lalu mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
"Gue pinjam handuk lo!" ucap Kara dengan nada ketus. "Lagian nggak mungkin, kan, gue pakai baju yang semalam? Bau alkoholnya bikin gue mual."
Erlangga tidak menjawab. Ia hanya menghela nafas pendek, lalu memutar tubuhnya menuju lemari pakaian yang berada di sudut ruangan. Setelah menggeser pintu lemari, jemarinya memilah beberapa pasang pakaian sebelum akhirnya ia menarik sebuah kemeja putih polos berukuran oversize. Lalu Erlangga berbalik, dan menyodorkan kemeja itu tepat di depan wajah Kara.
"Mau pakai ini?" tanya Erlangga pelan.
Kara menatap kemeja putih itu, lalu beralih menatap wajah Erlangga.
"Makasih!" ucap Kara ketus sambil merebut kemeja itu secara kasar dari tangan Erlangga. Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung memutar tubuhnya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Kara keluar dengan penampilan baru. Kemeja putih oversize milik Erlangga itu jatuh longgar hingga ke bawah lututnya, dengan bagian lengan yang digulung asal-asalan sampai ke siku.
Erlangga yang masih berdiri di posisi yang semula sempat tertegun sejenak, memperhatikan bagaimana pakaiannya tampak begitu besar di tubuh mungil wanita itu. Namun, ia dengan cepat menguasai dirinya kembali.
"Gue antar lo pulang sekarang," ucap Erlangga datar. Ia langsung memutar tubuhnya dan melangkah menuju pintu.
Kara yang tidak mau ketinggalan itu langsung bergerak cepat mengekor di belakangnya.
Begitu sampai di depan mobil, Erlangga langsung membuka pintu kemudi dan melenggang masuk ke dalam. Begitu pun dengan Kara yang ikut membuka pintu penumpang dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi.
"Erlangga! Pas lo bawa gue semalam, lo tahu Anya di mana?" tanya Kara sambil membenarkan posisi duduknya yang tidak nyaman.
Erlangga melirik sekilas, lalu kembali menghadap depan. "Dia sama teman gue. Ke hotel," jawabnya tenang sambil memutar kunci dan menghidupkan mesin mobilnya.
Mata Kara langsung membelalak lebar. Lalu memutar tubuh sepenuhnya menghadap Erlangga. "Ngapain mereka ke hotel?! Kenapa nggak lo cegah sih!"
"Katanya dia nggak mungkin bawa sahabat lo yang teler itu ke rumahnya," sahut Erlangga santai, dan ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Ya tapi kan lo bisa bawa Anya ke apartemen lo bareng gue!"
"Apartemen gue bukan tempat penginapan," jawab Erlangga.
"Kalau apartemen lo bukan tempat penginapan, ngapain lo bawa gue ke sini? Lo bisa, kan, bawa gue ke hotel sekalian bareng sama Anya?" balas Kara.
"Gue nggak punya uang buat bawa lo ke hotel," jawab Erlangga tenang tanpa menoleh sedikit pun.
Mendengar alasan itu, Kara langsung bungkam. Ia memutar tubuhnya kembali menghadap depan, lalu memalingkan wajahnya ke samping, menatap kosong ke luar jendela dengan dahi yang berkerut dalam.
"Semiskin apa sih Erlangga sampai bawa gue ke hotel aja nggak bisa?" batin Kara yang merasa heran.
Rasa penasaran yang membuncah membuat Kara menoleh lagi. Ia menatap Erlangga secara terang-terangan dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan jam tangan dan setelan yang melekat di tubuh pria itu.
"Tapi kenapa penampilannya kayak bos? Aura berkelasnya juga dapet banget. Atau jangan-jangan... dia ini gembel yang menyamar jadi orang kaya?"
Erlangga yang menyadari dirinya sedang di tatap itu langsung menoleh sekilas. "Ngapain lo lihatin gue kayak gitu?" tanyanya dengan nada yang curiga.
Kara langsung menarik nafasnya dalam-dalam. "Lo beneran mau nikahin gue besok?"
"Ya," jawab Erlangga singkat.
"Tapi lo belum ngasih tahu gue," Kara memajukan tubuhnya sedikit, matanya menyipit menuntut kejujuran dari pria itu. "Kenapa lo ngebet banget mau nikahin gue?"
Erlangga langsung melirik ke arah Kara dengan sudut bibir yang terangkat sedikit.
"Karena perjaka gue udah lo ambil."
Wajah Kara langsung memanas, antara syok dan malu mendengar jawaban itu. Lalu ia kembali menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kasar. "Sialan!"
Erlangga hanya tersenyum tipis saat melihat wanita di sebelahnya ini bersungut-sungut marah.
Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang dikemudikan Erlangga akhirnya berhenti tepat di halaman rumah Kara.
Tanpa mengucap sepatah katapun Kara langsung membuka pintu mobil dengan gerakan kasar. Lalu ia keluar sambil menutup pintu itu kembali. Erlangga yang melihat Kara masih kesal padanya itu buru-buru mematikan mesin mobil, lalu membuka pintunya, dan berjalan tenang mengekor di belakang wanita itu.
Merasa ada langkah kaki lain yang mengikutinya, Kara langsung menghentikan langkahnya. Ia segera berbalik dengan gerakan cepat, lalu berkacak pinggang menatap tajam pria di depannya itu.
"Ngapain lo ngikutin gue?! Pulang sana!" seru Kara sambil melotot tajam.
Erlangga menghentikan langkahnya tepat satu meter di depan Kara. "Cuma mastiin calon istri gue selamat."
"Idih, lebay tahu nggak! Udah, pulang sana!" usir Kara sambil melangkah maju, lalu ia mendorong tubuh kekar itu dengan sekuat tenaga agar kembali ke arah mobil.
Sementara Erlangga hanya membiarkan tubuhnya terdorong pasrah tanpa memberikan perlawanan sedikit pun, matanya masih menatap geli pada tingkah Kara.
Setelah memastikan pria menyebalkan itu benar-benar masuk kembali ke dalam mobil, Kara langsung berbalik dan segera berlari sekencang mungkin menuju pintu rumahnya tanpa menoleh lagi.
Erlangga yang memperhatikan dari dalam mobil hanya tersenyum tipis. Ia kemudian menghidupkan mesin, memutar kemudi, lalu melajukan mobilnya menuju gedung pencakar langit milik Maheswara Group.
Sesampainya di gedung utama, langkah tegas Erlangga langsung menggema di sepanjang koridor menuju ruang VIP.
Begitu sampai di depan ruangannya, Erlangga langsung mendorong pintu itu perlahan, dan seperti biasanya, di dalam ruangan bernuansa modern itu sudah ada Rafael. Pria itu sedang duduk angkuh di atas kursi kebesaran milik Erlangga sambil memutar-mutar pena di antara jemarinya.
"Minggir," ucap Erlangga dingin sambil menatap tajam ke arah Rafael.
Rafael langsung menghela nafas panjang. Sambil memutar bola matanya jengah, ia bangkit dari kursi itu dan berdiri tegak tepat di depan Erlangga.
"Bisa-bisanya ya, lo mau nikah besok dan nggak ngasih tahu gue apa pun," protes Rafael dengan nada kesal. Ia mengangkat selembar kertas tebal berdesain elegan, kertas itu bertuliskan undangan pernikahan milik Erlangga dan Kara, lalu ia menyodorkannya tepat di depan dada Erlangga.
Erlangga tak sedikit pun menggerakkan tangan untuk menerima undangan itu. "Hmm," ia hanya bergumam malas. Dengan gerakan cepat, Erlangga langsung menggeser bahu Rafael agar menyingkir, lalu menjatuhkan diri di kursi kebesarannya.
"Kalau gue nggak dikasih undangan ini sama Om Ridwan, mana tahu gue kalau lo mau nikah besok!" lanjut Rafael, suaranya meninggi satu oktaf sambil melempar undangan itu ke atas meja.
"Sekarang lo udah tahu, kan?!" potong Erlangga cepat. "Lo boleh pergi dari ruangan gue."
"Lo ngusir gue? Kurang ajar banget," Rafael langsung mendengus kasar. "Ingat ya Erlangga, kedatangan gue kemari itu salah satunya untuk menagih biaya hotel sahabat cewek lo yang semalam..."
Sebelum Rafael menyelesaikan kalimatnya, Erlangga dengan gerakan cepat langsung membuka dompetnya, lalu menarik sebuah kartu hitam, dan menyodorkannya tepat di depan wajah Rafael.
Mata Rafael langsung berbinar. Tanpa aba-aba ia langsung menyambar kartu itu dengan senyuman lebar. "Nah, gini dong! Ini baru saudara gue. Ngomong-ngomong, tenang aja, gue udah pulangin cewek itu dengan selamat hari ini."
"Hmm." Erlangga hanya menyahut pendek tanpa mendongak sedikitpun.
"Kalau lo butuh apa-apa jangan sungkan-sungkan untuk hubungi gue. Kalau gitu gue cabut duluan," ucap Rafael sambil melambaikan tangan dengan riang, lalu melangkah pergi dari ruangan itu.
Setelah kepergian Rafael, Erlangga langsung menghela nafasnya pelan. "Dasar mata duitan," gumamnya sambil menarik sudut bibirnya ke atas sebelum akhirnya ia kembali fokus menandatangani berkas di atas meja.