seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PILAR KEDELAPAN
Proyeksi hologram berwarna merah darah itu berputar lambat di tengah meja bundar, memancarkan pendaran cahaya yang membuat wajah ketiga puluh ketua faksi di Aula Utama tampak seolah sedang dijemput oleh ajal. Simbol tengkorak bertanduk enam melayang di atas peta Gurun Kematian, berkedip seirama dengan detak jantung yang memompa keputusasaan murni ke seluruh ruangan.
Bencana Skala 1.
Sebuah klasifikasi yang tidak pernah terdengar lagi sejak kematian sang Kaisar Kilat belasan tahun silam. Skala 3 berarti ancaman kota. Skala 2 berarti ancaman benua. Namun Skala 1 adalah lonceng peringatan bahwa fondasi eksistensi umat manusia sedang dipertaruhkan. Jika gerbang itu gagal ditutup, planet ini tidak akan sekadar dijajah; bumi akan diubah menjadi padang pembantaian kosmik.
Goliath, yang lehernya masih menyisakan garis merah tipis akibat tebasan Andre beberapa menit yang lalu, merosot di kursinya dengan tubuh bergetar hebat. Arogansi raksasa baja itu telah menguap tanpa sisa. "Astaroth... Pilar Kedelapan? Itu mustahil. Hukum dimensi melarang entitas sekelas Raja Iblis untuk menyeberang selama energi penyeimbang planet ini masih ada! Segelnya belum hancur!"
"Segelnya memang belum hancur, namun sedang diretas dari luar," sahut Marcus dengan suara serak yang memendam kelelahan luar biasa. Ia menyandarkan tubuhnya ke singgasana. "Yang kalian lihat di hologram itu bukan gerbang utama, melainkan sebuah Jangkar Spasial. Pasukan pelopor iblis menggunakan ritual darah bersekala masif di Gurun Kematian untuk menciptakan pilar tulang raksasa yang berfungsi sebagai suar pemanggil. Jika pilar itu menyerap cukup banyak mana dari bumi dalam waktu tujuh puluh dua jam, Astaroth akan memiliki pijakan untuk merobek segel dimensi sepenuhnya. Dan saat dia melangkah masuk... tidak ada satu pun dari kalian yang akan selamat untuk menceritakan kisahnya."
Kepanikan meledak dalam bisikan-bisikan histeris di sekitar meja. Silas berkali-kali menyeka keringat dinginnya, sementara Seraphina memegangi pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Mereka semua tahu bahwa menghadapi pasukan elit yang ditugaskan menjaga ritual Jangkar Spasial adalah sebuah misi bunuh diri. Pasukan pelopor seorang Pilar Iblis bukanlah monster kasta bawah atau jenderal rendahan; mereka adalah legiun keabadian yang dirancang untuk membumihanguskan sebuah negara.
"Asosiasi harus meminta bantuan dari benua lain!" jerit salah satu ketua guild tingkat menengah dari ujung meja. "Kita tidak memiliki cukup kekuatan militer di Sektor Pusat untuk menembus formasi penjagaan Raja Iblis!"
"Tidak ada waktu untuk menunggu bantuan antarbenua," potong Marcus tegas. "Kita harus mengirimkan seluruh pasukan Third Job malam ini juga. Titan, Phoenix, Shadowhand—aku membutuhkan seratus persen dari kesatria garis depan dan penyihir elemen kalian. Kita akan membentuk pasukan koalisi darurat."
Aula itu mendadak sunyi senyap. Ketiga pemimpin faksi raksasa itu saling berpandangan, lalu membuang muka.
"Gurun Kematian menyerap mana elemen api. Penyihirku tidak akan bisa bertarung maksimal di sana," dalih Seraphina pelan, suaranya bergetar.
"Pasukan penjaga kota harus bersiaga. Jika kita mengirim seluruh kesatria elit ke gurun dan gagal, Sektor Pusat akan terbuka lebar dari serangan monster lokal," tambah Silas, mencoba terdengar rasional meski matanya memancarkan kepengecutan murni.
Marcus memukul meja dengan tongkat emasnya hingga retak. "Pengecut! Kalian menimbun kekayaan dan kekuasaan di balik tembok ini selama sepuluh tahun, dan saat umat manusia memanggil kalian untuk membayar harga perlindungan itu, kalian bersembunyi di balik alasan birokrasi?!"
Di tengah perdebatan yang memuakkan itu, sebuah tawa pelan dan dingin memotong udara.
Semua orang menoleh. Andre sedang bersandar santai di kursinya, matanya yang sehitam jurang kegelapan menatap proyeksi hologram Astaroth dengan senyum mematikan yang membuat bulu kuduk berdiri. Tangan kanannya dengan lembut membelai gagang Nocturne. Pedang hitam legam itu mendengung pelan, beresonansi sempurna dengan niat membunuh purba yang perlahan bocor dari tubuh sang master.
Tidak ada yang tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiran pemuda itu. Di masa lalu, ketika ia masih menyandang gelar Kaisar Kilat dan berjuang mempertahankan napas terakhirnya di bawah langit yang terkoyak, Astaroth adalah salah satu bajingan yang menahannya. Pilar Kedelapan yang terkenal dengan sihir pembusukan jiwa itu adalah sosok yang merantai kakinya dengan kutukan rawa, memastikan ia tidak bisa menghindar saat tombak para Calamity menembus jantungnya.
Bagi orang-orang di ruangan ini, Astaroth adalah kiamat. Bagi Andre, ini adalah reuni yang sangat ditunggu-tunggu.
"Kalian simpan saja nyawa murah kalian," ucap Andre, suaranya mengalun pelan namun memotong kepanikan di ruangan itu layaknya pisau bedah. Ia berdiri, membiarkan jubah hitamnya berkibar pelan. "Orang-orang yang bertarung karena dipaksa hanya akan menjadi beban dan mayat penghalang jalan di medan pertempuran."
Andre menatap Marcus secara langsung, mengabaikan eksistensi tiga puluh ketua guild lainnya. "Siapkan satu kapal udara militer tercepat milik Asosiasi dan suplai ramuan mana tingkat tinggi. Rishing Guild akan memotong Jangkar Spasial itu malam ini."
"Hanya kalian berdua?!" seru Marcus, matanya membelalak tak percaya. "Andre, aku tahu kau memiliki kekuatan yang tidak masuk akal, tapi ritual itu dijaga oleh setidaknya puluhan ribu pasukan elit neraka, lengkap dengan para High Demon! Kau tidak bisa menerobos legiun itu sendirian!"
"Kami tidak berdua," Bastian ikut berdiri, memukul pelindung dadanya dengan seringai arogan yang menutupi jantungnya yang berdebar kencang. Sang pewaris Valerius tahu ini adalah kegilaan absolut, namun darahnya mendidih oleh adrenalin murni. "Kami bertiga."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Marcus atau para elit pengecut itu untuk mendebat lebih lanjut, Andre berbalik dan berjalan keluar dari Aula Utama, diikuti oleh Bastian. Ruangan itu ditinggalkan dalam keheningan yang mencekik, dipenuhi oleh rasa malu yang menampar wajah setiap ketua guild raksasa yang memilih bersembunyi di balik alasan mereka.
Satu jam kemudian, di dalam ruang simulasi penthouse Valerius.
Udara di dalam ruangan luas itu berwarna ungu pekat dan berbau seperti logam berkarat yang direndam dalam asam mematikan. Lantai titanium simulasi itu meleleh di beberapa bagian. Di tengah ruangan, Marvin duduk bersila, matanya terpejam erat, keringat membasahi seluruh wajahnya. Ia sedang mengatur napas, menekan aura Plague Domain yang terus-menerus berusaha meronta keluar dari kendalinya. Di level 35, kapasitas mana remaja itu telah melonjak drastis, memungkinkannya menyerap esensi dari buku Epic tersebut dalam rekor waktu yang tidak masuk akal.
Pintu kedap suara bergeser terbuka. Andre dan Bastian melangkah masuk, membiarkan medan energi pelindung dari pakaian mereka menangkal sisa-sisa racun di udara.
Marvin membuka matanya dan segera bangkit berdiri. "Kakak? Kenapa cepat sekali pulangnya? Apa pertemuannya batal?"
"Pertemuannya selesai lebih cepat dari jadwal," jawab Andre, berjalan mendekati adiknya. Matanya meneliti perubahan tekanan aura di sekitar tubuh Marvin. Kombinasi murni antara elemen penyembuhan zamrud dan racun ungu pekat itu kini telah mulai menemukan titik keseimbangan di dalam jiwa adiknya. "Kemasi perlengkapan tempurmu, Marvin. Bawa semua ramuan pemulihan stamina yang kita miliki."
Marvin mengerutkan kening, menangkap nada urgensi absolut dari suara kakaknya. "Kita mau ke mana malam-malam begini, Kak?"
"Gurun Kematian," sambung Bastian, wajahnya jauh lebih serius dari biasanya. Sang Tanker mulai memeriksa kembali ikatan pelindung lengannya. "Sebuah Jangkar Spasial sedang dibangun untuk memanggil Raja Iblis Pilar Kedelapan. Kita punya waktu kurang dari tiga hari untuk meratakannya dengan tanah, atau kita semua akan mati."
Tangan Marvin bergetar pelan. Ia baru saja mencapai level 35, sebuah pencapaian yang gila untuk remaja seusianya, namun ia belum pernah berhadapan dengan pasukan militer sejati, apalagi legiun iblis yang dikomandoi langsung oleh jajaran elit neraka. Rasa takut secara alami menyergap relung hatinya, mengingatkannya pada hari-hari ketika ia dan kakaknya hidup sebagai warga kasta terbawah yang bersembunyi setiap kali sirine berbunyi.
Andre meletakkan kedua tangannya di bahu Marvin. Genggamannya kokoh dan hangat, menancapkan keberanian langsung ke dalam jiwa sang adik.
"Kau tidak perlu takut pada jumlah mereka, Vin," bisik Andre, matanya memancarkan keyakinan yang tak tergoyahkan. "Mereka hanyalah rumput liar, dan kau memiliki wabah yang bisa mematikan seluruh padang rumput. Tetaplah berada di belakang perisai Bastian, sebarkan racunmu ke seluruh medan perang, dan biarkan kakakmu ini yang memanen kepala mereka satu per satu. Kau siap?"
Marvin menatap mata hitam kakaknya. Rasa takut itu tidak sepenuhnya hilang, namun tergantikan oleh tekad yang membara. Jika kakaknya yang pernah mempertaruhkan nyawa sebagai kuli panggul demi menyuapinya makanan kini bersedia menantang neraka, maka ia akan mengikuti langkah itu hingga titik darah penghabisan.
"Aku siap, Kak," jawab Marvin mantap.
Armada udara militer merobek langit malam, bergerak dengan kecepatan supersonik meninggalkan gemerlap Sektor Pusat menuju wilayah terbuang di luar peta peradaban. Di luar jendela, pemandangan berubah menjadi lautan pasir hitam yang tak berujung. Langit tidak lagi berwarna gelap oleh malam, melainkan memancarkan pendaran merah darah yang tidak wajar, seolah angkasa itu sendiri sedang mengalami pendarahan hebat.
Saat kapal udara itu mulai menurunkan ketinggian, pemandangan di bawah sana membuat napas Bastian tertahan.
Di tengah Gurun Kematian, menjulang sebuah obelisk raksasa setinggi ratusan meter yang terbuat dari jalinan tulang belulang monster dan manusia. Obelisk itu berdenyut mengerikan, menembakkan pilar cahaya merah langsung ke awan, perlahan mengoyak tirai dimensi yang memisahkan Bumi dengan planet Iblis. Dan di sekeliling pilar tulang tersebut, barisan pasukan iblis berbaris rapi dalam formasi tempur yang membentang hingga ke cakrawala. Puluhan ribu makhluk neraka dengan mata merah menyala, bersenjatakan tombak berapi dan menunggangi binatang buas mutan.
Ini bukan sekadar monster dungeon. Ini adalah tentara perang.
Kapal udara itu berhenti mengambang sepuluh meter di atas bukit pasir hitam, berada tepat di ujung pandangan barisan terluar legiun iblis tersebut. Pintu kargo hidrolik perlahan terbuka, membiarkan angin gurun yang panas dan berbau darah menyapu wajah ketiga anggota Rishing Guild.
Andre berdiri di bibir pintu palka. Jubah hitamnya berkibar liar dihempas angin badai. Tangannya menggenggam Nocturne, pedang legendaris yang kini mendengung haus darah, merespons amarah purba tuannya.
"Bastian, hancurkan formasi depan mereka," perintah Andre dengan suara sedingin gletser. "Marvin, jangan biarkan satu pun dari mereka menikmati udara planet ini."
Tanpa ragu, sang Kaisar Kilat melompat turun ke tengah lautan kematian, menyambut takdir yang telah lama ia tunggu.