Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Awal Sebuah Kehidupan Baru
Ruang rapat utama di lantai 30 Dirgantara Tower dipenuhi oleh para eksekutif senior dan anggota tim desain. Di depan layar proyektor raksasa, Maya sedang memaparkan simulasi tahap dua pembangunan Grand Dirgantara Tower.
Dania duduk di sebelah kiri Arvin di ujung meja rapat oval. Ia mengenakan setelan blazer warna abu-abu pastel yang anggun. Namun, sejak tiga puluh menit lalu, Dania merasa fokusnya terganggu oleh rasa pusing yang merayap pelan di pelipisnya. Aroma kopi hitam pekat yang disajikan di meja rapat mendadak membuatnya merasa mual yang luar biasa.
Dania mencoba menahan rasa tidak nyaman itu dengan menyesap sedikit air putih. Ia menarik napas panjang seraya memegang dahinya yang terasa agak dingin.
Arvin yang duduk di sampingnya langsung menyadari perubahan sikap Dania. Meski tatapan Arvin tampak tertuju pada layar proyektor, perhatian utamanya sepenuhnya tertuju pada wanita di sampingnya. Arvin menurunkan tangannya di bawah meja, meraih telapak tangan Dania yang terasa mendingin.
"Dania, kamu sakit?" bisik Arvin sangat pelan dengan suara baritonnya yang rendah.
Dania menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang agak pucat. "Cuma agak pusing dan mual sedikit, Arvin. Mungkin karena terlambat makan siang."
Arvin menyipitkan matanya tajam. Tanpa ragu sedikit pun, Arvin mengetuk meja rapat dengan pulpen mewahnya. Tuk!
Suasana rapat yang tadinya riuh seketika mendadak hening total. Seluruh direktur senior menahan napas menatap sang CEO.
"Rapat kita tunda sampai besok pagi jam sembilan," tegas Arvin dengan nada suara dingin dan tak bantah. "Rian, rapikan semua berkas."
Seluruh peserta rapat saling berpandangan bingung, namun tak ada satu pun yang berani membantah instruksi mutlak sang pimpinan. Mereka membungkuk hormat dan bergegas merapikan dokumen sebelum keluar ruangan satu per satu.
"Arvin... kenapa rapatnya ditunda?" bisik Dania tidak enak hati pada timnya. "Aku tidak apa-apa."
"Kesehatannmu jauh lebih penting dari rapat mana pun di gedung ini, Dania," sahut Arvin tegas. Pria tegap itu berdiri, membantu Dania berdiri dan merangkul pinggang istrinya dengan erat seraya menuntunnya keluar menuju elevator privat.
Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil medis privat dari Rumah Sakit Medika Utama terparkir di depan elevator privat penthouse lantai 45.
Dokter Spesialis Kandungan, dr. Kusuma, selesai memeriksa kondisi Dania di dalam kamar utama. Di samping tempat tidur, Arvin berdiri tegak dengan wajah kaku dan tegang, kedua tangannya terlipat di dada. Raut wajah sang CEO memancarkan rasa cemas yang belum pernah diperlihatkannya sebelumnya.
"Bagaimana kondisinya, Dokter?" tanya Arvin cepat, suaranya sarat akan rasa khawatir yang tak bisa ditutupi. "Apakah dia kelelahan karena pekerjaan di studio?"
Dokter Kusuma tersenyum ramah, melepaskan stetoskop dari telinganya lalu menatap Arvin dan Dania bergantian.
"Selamat, Tuan Arvin, Nyonya Dania," ujar Dokter Kusuma hangat. "Gejala pusing dan mual yang dialami Nyonya Dania bukan karena kelelahan kerja biasa, melainkan karena perubahan hormon awal kehamilan."
Suasana di dalam kamar utama seketika membeku.
Dania membelalakkan matanya tipis, menyentuh perut ratanya yang masih hangat dengan jemari bergetar halus. "Kehamilan...?"
"Benar, Nyonya," jawab Dokter Kusuma seraya menyerahkan hasil tes darah dan pemeriksaan cepat. "Usia kandungan Anda saat ini sudah memasuki minggu kelima. Janin dalam kondisi sangat sehat, namun di trimester pertama ini Anda harus mengurangi aktivitas berat dan banyak beristirahat."
Arvin mematung di tempatnya berdiri. Pria yang biasanya sangat sigap mengambil keputusan bisnis triliunan rupiah itu mendadak tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Manik matanya yang pekat meredup halus, menatap Dania dengan tatapan yang bercampur antara tidak percaya, haru, dan kebahagiaan yang teramat dahsyat.
Setelah Dokter Kusuma dan tim medis pamit keluar didampingi Rian, pintu kamar utama kembali tertutup rapat.
Arvin melangkah perlahan mendekati tepi tempat tidur. Pria tegap itu menduduki pinggir kasur, lalu berlutut di samping Dania. Tangannya yang kokoh dan hangat terulur gemetar, menyentuh pelan perut rata Dania, sebelum akhirnya mendongak menatap mata bening istrinya.
Air mata keharuan yang sangat langka menggenang di sudut mata pekat sang CEO.
"Dania..." bisik Arvin, suaranya parau dan bergetar hebat oleh rasa bahagia yang meluap-luap. "Di dalam sini... ada anak kita?"
Dania tersenyum dengan air mata bahagia yang menetes membasahi pipinya. Ia mengangguk pelan, menggenggam erat tangan Arvin yang berada di atas perutnya.
"Ya, Arvin," bisik Dania penuh kehangatan. "Ada calon buah hati kita di sini."
Arvin menundukkan kepalanya, menempelkan dahinya pada tangan Dania yang digenggamnya, mengecup jemari istrinya berulang kali dengan rasa syukur yang mendalam pada Tuhan. Pria yang dulu merasa hidupnya hampa dan dikelilingi kecurigaan kini mendapatkan anugerah terindah berupa keluarga sejati.
Arvin berdiri perlahan, merangkul tubuh Dania dan menariknya ke dalam dekapan yang teramat lembut dan protektif—seolah Dania adalah permata paling rapuh dan berharga di dunia yang harus dilindunginya dengan segenap jiwa dan raga.
"Terima kasih, Dania... Terima kasih banyak, sayang," bisik Arvin rendah di samping telinga Dania, mengecup rambut dan pelipis istrinya tanpa henti.
Dania melingkarkan lengannya di leher Arvin, menyandarkan kepalanya di dada tegap suaminya, mendengarkan detak jantung Arvin yang bergemuruh kencang oleh kebahagiaan.
"Mulai hari ini," kata Arvin tegas seraya melepaskan pelukannya sedikit dan menatap mata Dania dengan gurat super-protektif yang tegas. "Kamu tidak boleh lagi turun ke lokasi proyek konstruksi. Semua jadwal survei lapangan akan kuabaikan. Pekerjaan desainmu hanya boleh dilakukan dari studio rumah atau kantor lantai tiga puluh."
Dania terkekeh halus melihat gurat protektif Arvin yang mendadak meningkat seribu persen. "Arvin... aku cuma hamil, bukan sakit parah."
"Itu tidak bisa ditawar, Nyonya Dirgantara," potong Arvin kaku, namun matanya memancarkan kehangatan cinta yang membara. "Calon pewaris utama Dirgantara Group dan ibunya adalah prioritas nomor satu hidupku sekarang."
Arvin menunduk, menautkan bibirnya dengan bibir Dania dalam sebuah ciuman yang lambat, manis, dan sarat akan janji perlindungan abadi. Di dalam kamar utama lantai 45 yang hangat itu, sebuah babak baru kehidupan mereka resmi dimulai—sebuah awal yang makin mengikat cinta mereka dalam ikatan keluarga yang tak terpisahkan.