NovelToon NovelToon
Putri Tersembunyi Sang Kaisar

Putri Tersembunyi Sang Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:55.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.

Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.

Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemalangan Keluarga Li

Keluarga Li terus berjalan kaki meninggalkan kawasan kediaman bangsawan. Jalan yang mereka lalui cukup panjang, menghubungkan kediaman mereka dengan pusat ibu kota Kekaisaran Pedang Langit. Biasanya perjalanan itu ditempuh dengan kereta kuda, tetapi kini mereka tak memiliki apa pun.

Langkah mereka terasa berat, pakaian yang dikenakan mulai kotor oleh debu jalanan. Wajah-wajah yang dulu angkuh kini dipenuhi kelelahan dan kekesalan. Tidak ada lagi pelayan, tidak ada lagi kenyamanan.

Li Anna menggerutu sambil berjalan. ”Seumur hidupku, aku tidak pernah berjalan sejauh ini,” keluhnya kesal. ”Ini semua benar-benar keterlaluan!”

Karina yang berjalan di sampingnya mengangguk cepat. ”Benar, Bu. Kakiku sudah sakit semua,” katanya dengan wajah cemberut. ”Kalau saja kita masih di kediaman, aku pasti sedang duduk santai sekarang.”

Lusi yang membantu Andra berjalan tampak kesulitan. ”Pelan sedikit,” katanya dengan napas terengah. ”Andra masih belum sembuh, kita tidak bisa berjalan terlalu cepat.”

Andra meringis menahan rasa sakit di lengannya. ”Aku baik-baik saja,” ucapnya memaksakan diri, meski wajahnya pucat. ”Lebih baik kita cepat mencari tempat untuk beristirahat.”

Lilith berjalan di belakang, wajahnya muram dan penuh tekanan. Ia tak menyangka hidupnya berubah secepat ini. ”Semua ini benar-benar di luar dugaan,” gumamnya pelan.

Belum lama mereka berjalan, langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah gelap. Angin bertiup kencang, membawa hawa dingin yang menusuk.

Andra mengangkat wajahnya, keningnya berkerut. ”Sepertinya hujan akan turun,” katanya singkat.

Dan benar saja.

Tak lama kemudian, hujan deras langsung mengguyur tanpa ampun. Air jatuh begitu lebat, membasahi mereka hanya dalam hitungan detik.

”Ahh!” teriak Karina panik. ”Kenapa tiba-tiba hujan deras seperti ini?!”

Li Anna menutupi kepalanya dengan tangan, wajahnya berubah kesal. ”Cepat cari tempat berteduh!” perintahnya dengan nada tinggi.

Mereka langsung berlarian kecil, mencoba menemukan tempat untuk berlindung. Jalanan menjadi licin, pakaian mereka semakin basah dan berat.

”Di sana!” teriak Lusi sambil menunjuk sebuah bangunan tua di pinggir jalan.

Mereka segera menuju ke sana, berhimpit di bawah atap sederhana yang hanya mampu menahan sebagian air hujan.

Napas mereka memburu, tubuh menggigil kedinginan.

Li Anna menghembuskan napas kasar. ”Kenapa hidup kita jadi seperti ini?” gumamnya dengan suara penuh keluhan.

Karina menyeka wajahnya yang basah, ekspresinya penuh amarah. ”Ini semua gara-gara Natalia!” katanya tajam. ”Kalau bukan karena dia, kita tidak akan berakhir seperti ini!”

”Benar!” sahut Lusi dengan nada kesal. ”Dia sengaja menghancurkan kita semua! Andriam juga, kenapa dia tidak bilang dari awal kediaman itu Natalia yang membelinya.”

Lilith mengepalkan tangannya, matanya dipenuhi kebencian. ”Dia pasti sudah merencanakan semuanya sejak awal,” ucapnya dingin. ”Perempuan itu tidak akan aku biarkan hidup tenang. Kita harus merebutnya kembali.”

Andra hanya diam, menahan rasa sakit sambil bersandar pada dinding. Namun sorot matanya juga tidak kalah gelap.

Di tengah suara hujan yang mengguyur deras, Andra berdiri sedikit terpisah. Wajahnya serius, pikirannya kacau. Ia mengepalkan tangannya perlahan. ”Natalia,” gumamnya pelan.

Dalam hati, mereka masih mengutuk Natalia. Bukannya sadar diri, justru menyelahkam orang yang selalu mereka tindas dan rendahkan.

Hujan yang semula hanya deras kini berubah menjadi badai. Angin bertiup kencang, membawa suara gemuruh yang menakutkan, lalu tiba-tiba petir menggelegar membelah langit. Kilatan cahaya menyambar begitu dekat hingga membuat tanah bergetar.

”Aaa!” teriak Karina panik, refleks menutup telinganya. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar melihat kilatan petir yang menyambar tak jauh dari mereka.

Tak lama kemudian terdengar suara keras.

Brakkk!

Sebuah pohon besar di pinggir jalan tumbang, rantingnya berserakan dan hampir menimpa jalur yang mereka lewati. Semua orang terdiam sesaat, napas mereka tercekat.

Li Anna langsung memegangi dada, wajahnya ketakutan. ”Ini … ini berbahaya! Kita tidak bisa terus di sini!” suaranya bergetar jelas.

Lusi menelan ludah, matanya masih menatap pohon tumbang itu. ”Kalau kita tetap berteduh di sini, bisa saja bangunan ini ikut roboh.”

Karina mengangguk cepat, suaranya panik. ”Lebih baik kita terobos saja hujannya! Aku tidak mau mati tertimpa pohon!”

Lilith menghela napas pendek, meski wajahnya tetap tegang. ”Benar kita tidak punya pilihan lain. Kita harus segera mencari tempat yang lebih aman.”

Li Bao akhirnya mengangguk tegas. ”Kita jalan sekarang. Hati-hati, jangan terpencar,” perintahnya.

Tanpa menunggu lebih lama, mereka kembali berlari menembus hujan deras. Air mengguyur tanpa ampun, pakaian mereka semakin berat dan tubuh semakin menggigil, tetapi ketakutan memaksa mereka untuk terus bergerak.

Langkah mereka terpeleset beberapa kali di jalan yang licin, napas tersengal-sengal.

Akhirnya, setelah berjalan cukup lama di tengah hujan yang tak kunjung reda, keluarga Li tiba di sebuah penginapan saat sore hari. Bangunan itu terlihat megah dengan ukiran kayu halus dan lampion merah yang tergantung rapi di depan pintu. Tanpa ragu, mereka memilih penginapan paling mewah yang mereka temui, seolah masih enggan menerima kenyataan.

Tubuh mereka basah kuyup, pakaian menempel di kulit dan terasa dingin menusuk tulang.

Li Anna bahkan mulai menggigil hebat, kedua tangannya saling menggosok untuk menghangatkan diri. ”Cepat, aku tidak tahan lagi dengan dingin ini,” keluhnya dengan suara gemetar.

Karina segera mendorong pintu masuk dengan tergesa. ”Pelayan! Cepat siapkan kamar terbaik untuk kami!” serunya tanpa menahan nada angkuhnya. Air dari pakaiannya menetes ke lantai, meninggalkan jejak basah di mana mereka berdiri.

Seorang pelayan datang menghampiri, namun langkahnya sedikit terhenti saat melihat kondisi mereka. ”T–tuan, nyonya … apakah Anda sudah memesan sebelumnya? Tempat ini harus dipesan lebih dulu?” tanyanya hati-hati, menatap pakaian mereka yang kusut dan basah.

Wajah Karina langsung berubah kesal. ”Dipesan?” ulangnya tajam. ”Kami keluarga Li! Apa kau tidak mengenali kami?”

Lusi mendengus pelan, mencoba tetap terlihat anggun meski keadaannya sama buruknya. ”Cepat siapkan kamar terbaik. Dan kirimkan air hangat serta pakaian ganti,” perintahnya dingin.

Pelayan itu tampak ragu sejenak sebelum menunduk hormat. ”Baik, mohon tunggu sebentar.”

Li Anna terbatuk kecil, tubuhnya masih gemetar. ”Pastikan kamarnya hangat aku tidak ingin jatuh sakit,” katanya lemah namun tetap terdengar menuntut.

Andra yang bersandar pada Lusi hanya bisa meringis. ”Cepat aku juga tidak kuat berdiri lama,” ucapnya pelan, napasnya berat.

Lilith berdiri diam, wajahnya masih terlihat tegang. Meski berada di tempat mewah, perasaan tidak nyaman itu belum juga hilang dari dalam dirinya. ”Kita harus segera mengeringkan diri,” katanya singkat.

Li Bao yang berdiri di belakang mereka hanya menghela napas pelan. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, seolah memastikan tidak ada yang mengenali mereka dalam keadaan seperti ini.

Tak lama, pelayan kembali datang. ”Kamar sudah disiapkan, Tuan, Nyonya. Silakan mengikuti saya.”

Tanpa membuang waktu, mereka segera mengikuti pelayan itu menuju kamar. Langkah mereka cepat, didorong oleh rasa dingin dan lelah yang menumpuk sejak siang.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya, matrehat sehat sllu thor 😄
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Korona ini
Maria Lina
makasih thor ud treeple up. y n bsk gimi lgi ya thor
☠️⃝🖌️M⃤y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
sudah kere pun masih tak berpikir
itu siapa punya hak

hadeh dasar ya kko manusia serakah
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Dih ga sadar2 ni manusia
vj'z tri
gak yakin makan hanya sedikit /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
☠️⃝🖌️M⃤y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ya jelas beda dong kan yaaa
vj'z tri
/Chuckle//Chuckle//Chuckle/ gpp kok horang ganteng juga manusia bisa lapar juga /Facepalm/
vj'z tri
pepet teros kang jangan kasih kendor /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Tambah laper juga itu /Facepalm/
Osie
wu reno g usah kepo..org kepo cpt matii🤣🤣🤣
Osie
jiiiaahh sampah merasa tuan muda
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Wu Reno bnyk nanya dah th keadaan darurat 😏😤
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
tenang Adrian stlh kamu ketemu sama Natalia kamu akan di beri surat cerai yg nanti akan bikin duniamu runtuh karna tanpa Natalia kamu dan keluarga Li akan nyungseb 😏😤
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
doyan apa lapar Zhang Tian 😅😅
Osie
doyan apa rakus nih zhang tian🤣🤣🤣🤣
mama_im
tongkol nya pake sambal gak kak yul?? 🤣🤣🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: Astaga typo kak gara-gara nulis dalam kondisi lapar 🤣🤣🤣
total 1 replies
sambua
kacang lupa kulitnya anda
Arbaati
menarik, selalu di tunggu kelanjutannya
SENJA
lu berisik aja dari tadi elaaah😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!