NovelToon NovelToon
STORY/ The Wandering Witch Serena

STORY/ The Wandering Witch Serena

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: Rizz the writter

Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.

——Di dunia bernama Cardinal.

Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.

Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.

Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 18—

Seiring berjalannya pertarungan Guy dan Allwin, kini tatapan keduanya berubah. Bukan senang, tapi serius. Tidak ada candaan di wajah keduanya.

Dan untuk saat ini, tujuan mereka hanya satu, yaitu mengakhiri duel dengan kematian salah satu dari mereka.

CLANK!

Excalibur yang sebelumnya bercahaya putih, yang melambangkan kesucian, kini telah berubah menjadi merah. Selama pertarungan, kekuatan eskalasi Allwin juga semakin kuat.

Setiap tebasan, pukulan, tendangan, dan tembakan skill yang dilayangkan Guy membuat Allwin terus beradaptasi dan menaikkan eskalasi kekuatannya.

DUAR!

Gate terus dimanifestasikan, namun tidak lebih dari lima, karena batas maksimalnya. Walaupun begitu, kelima Gate tersebut terus muncul dan menghilang untuk berpindah posisi dan mencari celah untuk menyerang Guy dengan sihir tingkat surgawi.

Debu, darah, dan goresan sudah terlihat jelas di tubuh mereka.

Pertarungan yang berlangsung begitu cepat ini mulai mencapai batasnya.

Guy mulai terlihat kelelahan karena skill yang digunakannya sangat boros Magi.

Sedangkan Allwin terus dipaksa beradaptasi mengikuti otoritas eskalasinya. Hal itu mengakibatkan tangan kanannya kini mulai berubah.

Anatominya masih terlihat seperti tangan manusia, namun sekarang tangan tersebut seperti dilapisi armor dan kulit naga yang keras.

Warnanya hitam dengan corak garis merah yang menyala.

Di kepalan tangannya terdapat sebuah logo monster berbentuk pedang dan perisai yang juga menyala terang.

Allwin menghentakkan Excalibur lebih keras, membuat Guy sedikit terdorong mundur. Memanfaatkan kesempatan itu, Allwin mengumpulkan tenaga di Excalibur-nya.

"Dynamite Blade!" Allwin menebas lurus ke arah Guy. BOOM! Guy menangkisnya dengan Chronos.

Ledakan skill Allwin tadi menciptakan jarak beberapa meter di antara keduanya, dan setelahnya mereka tidak kembali bertarung.

Allwin hanya mempererat genggamannya pada Excalibur di tangan kanannya.

Guy menatap perubahan tersebut dengan tatapan serius.

"Ada apa? Kau terlihat terengah-engah, tuh? Sudah mau menyerah?"

Guy mengangkat Chronos ke bahunya sambil menarik napas pendek.

"Nggak juga, stamina gw nggak selemah itu buat capek."

Allwin memaksakan senyumnya, sementara tatapan matanya masih serius dengan pertarungan mereka.

"Kau tahu?" kata Allwin menjelaskan, "tubuh seorang pria itu bagaikan pedang, semakin ia dipukul dan ditempa, maka akan semakin kuat pula dia." Allwin mengangkat tubuhnya yang sebelumnya sedikit menunduk.

"Aku setuju dengan perumpamaan itu, tapi... Siapa juga yang akan peduli pada sebuah kata-kata yang disampaikan pada orang yang sedang mencoba membunuhnya," kata Guy sambil menodongkan Chronos ke arah Allwin.

"Nggak salah... Tapi nggak benar juga. Tidak penting siapa yang menyampaikannya, karena yang penting adalah apa yang disampaikannya," jawab Allwin sambil mengangkat Excalibur ke arah Guy.

"Kita akhiri duel ini sekarang. Gw udah nggak punya niat buat memperpanjang duel ini."

Guy terdiam. Ia kembali mengangkat Chronos ke bahunya.

"Baiklah, aku konfirmasi saranmu, tapi... Jangan berharap hasilnya sesuai dengan yang kau harapkan."

Guy mendongak, namun matanya tetap terpaku tajam pada Allwin.

KABOOM!

Pertarungan kilat mereka dimulai kembali, namun duel mereka terus naik hingga ke langit.

Seketika, langit yang sebelumnya cerah kini perlahan gelap. Awan-awan yang sebelumnya bergerak tenang sekarang mulai kacau.

Petir menyambar.

Udara bergetar.

DUAR!!

Hantaman terakhir mereka membuat jarak beberapa puluh meter di antara keduanya.

Keduanya berhenti di udara, saling menatap beberapa detik tanpa ekspresi.

"Sepertinya sudah saatnya," Guy menghela napas.

"Kita selesaikan pertarungan ini!" ucap keduanya.

CRACK!

Tiga Gate mengitari Allwin, di kanan, kiri, dan tengah.

Allwin mengangkat tinggi Excaliburnya.

"Alnitak..."

Gate sebelah kanan menembakkan cahaya biru pada Excalibur yang semakin memerah.

"Mintaka..."

Gate tengah mengikuti dengan cahaya merah terang.

"Alnilam..."

Begitu juga dengan yang di sebelah kiri. Gate itu menyemburkan petir merah gelap.

ZZZZTTTT!

Cahaya dan aura yang mengitari Excalibur berputar cepat layaknya cahaya sonar yang menembak ke langit.

Merah, crimson, dan biru.

Cahaya itu mengelilingi Excalibur yang suci, namun secara visual saat ini, pedang tersebut terlihat selayaknya pedang yang telah terkorupsi oleh kejahatan dan kehancuran.

—

Sementara Guy.

Ia mengangkat tinggi Chronos, lalu kapak itu berubah menjadi cahaya emas yang terang.

Di balik cahaya tersebut, Guy sudah memegang dua buah senjata seperti tombak, namun bentuknya lebih mirip kedua jarum jam raksasa.

"Wahai sang primordial waktu... Berikanlah aku kekuatan atas jarum ini, dan putarlah waktu entitas itu kembali pada cahaya yang benar."

Guy membentuk sebuah anak panah beserta busur dengan kedua tombak itu.

BLARR!

Cahaya yang berkobar begitu terang dan dahsyat, seolah itu adalah hukuman untuk para pendosa yang menggunakan waktu untuk berbuat kejahatan.

"ORION BIRTH!"

"DAMNATIO TEMPORIS!"

BOOOM!

Tebasan Orion yang lurus menabrak anak panah waktu.

CRACK!

Setelahnya...

Ledakan dahsyat terjadi.

Ruang terpecah kacau, tanah rata, awan menghilang, atmosfer bergelombang, dan bulan terasa sedikit menjauh.

Duel telah selesai. Mereka sekarang berada di bawah, tepat di mana mereka memulai pertarungan.

Allwin berdiri dengan pakaiannya yang sedikit robek, sementara tangan kanannya masih dalam bentuk armor naga dengan coraknya.

"Ini akhirnya..." Allwin menatap kosong ke langit. Membiarkan Guy yang setengah badannya kini sudah hancur dan hanya perlu menunggu retakan di tubuhnya menyebar dan menghancurkannya sendiri.

"K... Kurasa... Ini adalah bayaran yang sepadan untuk Wrath Devil."

Guy menatap kosong ke arah Allwin dengan senyum yang entah kenapa terasa hampa di mata Allwin.

Allwin menatap datar Guy, "Gw... Gw akui lu adalah lawan paling setara dalam sejarah gw selama ini, lu mati dengan hormat di sini. Berbanggalah." Allwin memanifestasikan dua Gate, Gate di sebelahnya untuk menyimpan kembali Excalibur sementara satu yang berada di atas Guy ditujukan untuk eksekusi terakhir.

"Selamat tinggal..."

Allwin memalingkan wajahnya dan melangkah menjauh, sementara Gate di belakangnya menembakkan Chaotic Magic berwarna merah yang seketika menghilangkan sosok Guy dari dunia ini.

....

Tap... Allwin berhenti tidak jauh, lalu ia membalikkan badan ke arah Guy yang sudah menghilang.

Allwin mengangkat tinggi tangan kanannya, "kau... Wahai Guy..." Allwin menurunkan tangan kanannya ke arah dadanya. "Dirimu tidak akan kulupakan, sebagai lawan yang—tidak, sebagai rival yang hampir melebihiku."

Sinar cahaya matahari mulai menembus debu dan asap bekas pertempuran. Seolah ikut merayakan kemenangan Allwin, atau mungkin bisa saja matahari itu merayakan selesainya duel yang begitu merepotkan ini.

Sementara di sisi lain, saat terjadi ledakan akibat duel kedua monster merah ini,

Hampir atau bahkan seluruh prajurit serentak jatuh ke tanah karena guncangan yang sangat dahsyat, beberapa rumah rubuh, dinding pertahanan hancur,

Tanah Asteria bagian timur hingga El Hyuma muncul retakan besar yang menjalar seperti parit.

Beberapa iklim yang sedang terjadi seketika berubah, tidak sepenuhnya, namun hanya sementara,

Karena awan yang sedang menurunkan hujan terhempas oleh gelombang ledakan, menyebabkan beberapa hujan terhenti, sementara di area bersalju seperti El Hyuma terjadi badai salju mendadak akibat dorongan yang dahsyat.

◆◆◆

Kondisi telah berubah, pasukan Gracia runtuh satu per satu, bahkan pasukan elite mereka juga telah tumbang.

Vorax keracunan, Shindou hancur, Guy dikalahkan, Rouge dikalahkan juga, dan kini pasukan Asteria sudah mengambil alih seluruh kota yang sebelumnya direbut, dan sekarang Ingracia adalah titik terakhir perang. Sekitar 890.000 pasukan sudah mencapai jantung Gracia, sedangkan Morphegor yang sudah merasakan kebuntuan mencoba melarikan diri... Sayangnya.

"Kau mau ke mana, anjing kecil? Tempat ini sudah kusiapkan khusus sebagai kuburanmu."

Kael berdiri santai di belakang Morphegor yang mencoba berteleportasi kabur.

"B-bajingan!"

Morphegor terbelalak panik, pasukannya dihabisi, wilayahnya direbut kembali, dan kini nyawanya juga akan direbut oleh lawannya.

Di belakang Kael, Serena, Lylian, Celia, Michael, dan Veronica sudah sampai di sana.

"Orang itu..." kata Serena menyipitkan matanya, berusaha meyakinkan dirinya apakah orang itu Kael atau bukan. "Kalian mengenalnya?"

"I-itu... KAEL!" Lylian berseru gembira.

Setelahnya, Lylian langsung menggunakan Magi pengeras suara dan memberikan kabar, "KAEL MASIH HIDUP DAN DIA SUDAH KEMBALI!!"

"Ha... Kael kembali?"

"Yang benar saja?"

"Apa dia tidak mabuk?"

Seluruh prajurit bergumam tidak percaya dengan informasi itu.

Kael mundur mendekati rekannya. "Yo! Lama nggak ketemu, ya!" Senyum hangat Kael kembali terlihat oleh mereka.

Teman, rekan, dan muridnya Kael tersenyum bahagia, bahkan Lylian sampai memeluknya dengan erat.

"Duh, kau ini bikin khawatir aja. Minimal kalo masih hidup kabar dong kayak Allwin lagi aja." Veronica menyilangkan tangan dengan senyum kecil di wajahnya.

"Sudah dulu, kita masih punya 1 musuh terakhir di sini." Kael menatap lurus pada Morphegor.

"Sepertinya, ini memang sudah waktunya..."

Morphegor mengangkat tangan kanannya,

"Maju! Keluarlah kalian, wahai makhluk Magi!"

BRAK! BRUKK!

Seketika tanah meledak, bukan sihir atau apa pun, tapi... Beberapa ekor hewan keluar dari dalam tanah, ada yang seperti naga (Dharani), ada yang seperti paus namun berkaki 4 (Behemoth), dan di belakang Morphegor terdapat monster naga berkepala 3, sepertinya itu bukan spesies yang ada di dunia ini.

"Behemoth, Dharani dan ciptaanku." Morphegor mengangkat kedua tangannya, membuat tubuhnya membentuk seperti huruf T. "Agni! Ratakan mereka semua yang ada di sini! Tanpa tersisa sedikit pun."

GRAHHH,

Gemuruh ketiga monster raksasa itu membuat tanah berguncang seperti sedang gempa, burung terbang menjauh, langit bergetar, dan beberapa prajurit terjatuh karena intimidasi ketiga monster tersebut.

Kael menatap tajam Behemoth. Ia merasakan ada yang tidak beres dengan monster itu setelah beberapa tahun yang lalu ia mengetahui bahwa Behemoth bukanlah monster biasa, melainkan Monster tingkat Mythic. Yang jelas, monster seperti itu tidak bisa di-summon semudah itu.

"Aneh, ini sangat aneh. Dia tidak menggunakan mantra apa pun untuk mengeluarkan Behemoth?" Dalam pikiran Kael beberapa kemungkinan muncul di benaknya. Ia berpikir, mungkin saja ia sudah memanggil Behemoth sebelumnya, dan menjinakkannya atau melemahkannya? Namun pemikiran itu tidak disetujui oleh pengetahuannya.

——

Serena terbelalak ketika melihat ketiga monster itu dengan skill analisisnya.

𝘛𝘦𝘳𝘬𝘰𝘯𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪, 𝘉𝘦𝘩𝘦𝘮𝘰𝘵𝘩: 𝘶𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯 326 𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳, 𝘱𝘰𝘵𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘣𝘶𝘴 𝘴𝘪𝘩𝘪𝘳 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢𝘸𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘳𝘢𝘣𝘪𝘭𝘪𝘵𝘢𝘴... 𝘑𝘢𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩𝘪 𝘱𝘰𝘵𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢... 𝘈𝘨𝘯𝘪𝘴: 𝘶𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢𝘳 140 𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘦𝘭𝘦𝘮𝘦𝘯 𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘷𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯𝘪𝘬, 𝘱𝘰𝘵𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘉𝘦𝘩𝘦𝘮𝘰𝘵𝘩?? 𝘋𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘳𝘢𝘣𝘪𝘭𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘦𝘩𝘦𝘮𝘰𝘵𝘩... 𝘒𝘶𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘦𝘩𝘦𝘮𝘰𝘵𝘩 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯... 𝘋𝘩𝘢𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘶𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘨𝘯𝘪 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘪𝘱𝘶𝘭𝘢𝘴𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘱𝘢𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘪𝘵 𝘭𝘢𝘪𝘯... Serena mengernyit, sementara tubuhnya mulai bersiaga. "Kalo kek gini... Yang ada malah jadi pembantaian."

Penyihir di garis belakang segera menembakkan sihir tingkat tinggi pada monster itu. BOOM! BOOM! Suara ledakan yang dibarengi oleh auman monster yang menggema membuat situasi semakin mencekam, seolah dunia baru saja mau kiamat.

BRAK!

Tanah retak, pagar tajam dan batu terangkat ke langit membentuk sebuah meteor raksasa.

Di saat yang bersamaan, Agni langsung membakar batu tersebut dengan semburan api dari ketiga kepalanya.

WHOOMMM!

Atmosfer seketika memanas. Beberapa prajurit terjatuh karena panas yang ekstrem.

Pedang, perisai, armor, dan perlengkapan kuda mulai meleleh, para penunggang kuda terjatuh, melepaskan kudanya yang berlari tanpa arah karena kepanasan.

Bahkan Serena dan teman-temannya sibuk membuat barrier es yang berfungsi untuk menstabilkan suhu tubuh mereka, walaupun es tersebut mencair secara terus-menerus.

"Sial, kalau begini terus kita akan mati terbakar!"

Serena memperkuat es miliknya, namun ia segera berhenti setelah menyadari bahwa medan perang akan hangus terbakar oleh serangan kedua monster di hadapannya.

"APOLYTI AMYNA!"

SRRR...

Satu batalyon, tidak, tapi seluruh pasukan kini sudah tertutup oleh barrier ungu yang berlapis-lapis.

DRUG! Proyektil yang terbakar di atmosfer tadi sekarang sudah berubah menjadi asteroid berwarna merah dengan api hitam sedikit ungu di sekitarnya.

WHOOSHHH! BOOM!

Ledakan dahsyat menyebar luas, suhu udara naik brutal, pohon tergantikan oleh tanah yang tertutup abu vulkanik. CRACK! Lapisan barrier hancur satu per satu.

Beberapa orang di dalam barrier mulai pasrah, berdoa memohon keselamatan, sementara teman-teman Serena terus mengalirkan Magi pada Serena, namun... Di sana tidak ada Kael.

Dari luar barrier terdengar suara gemuruh monster dan ledakan serangan lain.

Dan di saat itu juga, serangan yang menekan barrier menghilang.

"Eh?" Serena tetap mempertahankan barrier, namun ia memberikan instruksi kepada beberapa temannya, termasuk Veronica, untuk keluar dan mengecek keadaan di luar, sementara Celia tetap berada di dalam barrier karena dia dianggap bukan spesialis tempur.

Setelah beberapa orang keluar, Serena dan yang lainnya melihat Kael, Allwin, dan seorang pria yang masih terlihat asing oleh Serena. "Mereka sudah menanganinya? Dan siapa itu?" Serena mendongak ke langit sambil menyipitkan matanya. Serena juga menyadari ada hal yang berbeda dari Allwin, yaitu lengan kanannya.

"Tunggu?? Apa yang terjadi dengan tangan kanan Allwin?" Pandangan Michael tertuju pada tangan kanan Allwin.

"Itu nggak penting, coba lu lihat posisi Allwin," Lylian menunjuk pohon yang menjadi medium tempat Allwin berdiri. "Bagaimana bisa pohon itu tetap ada? Padahal wilayah di sekitar kita sudah hancur karena api," lanjut Lylian.

"Jangan goblok juga, Lin. Si Morphegor pasti ngebikin barrier juga, buktinya istana Gracia masih utuh, tuh?" jelas Serena sambil menatap datar Lylian.

"Masuk akal," Lylian mengangguk cepat, "lalu, apa yang perlu kita lakukan? Sepertinya mereka bertiga terlihat seperti sedang mendominasi perang." Lylian mengalihkan pandangannya dari pertarungan ke arah Serena.

"Jelas bantuin, lah. Pake nanya." Serena dengan sigap membidik tongkatnya yang disusul beberapa lingkaran sihir ungu di hadapannya.

WHOOSHHH!

Serangan Serena menghantam Behemoth, hanya asap yang terlihat, namun dari balik asap itu tidak terlihat sedikit pun goresan atau lecet pada kulit Behemoth.

Dan di sisi Allwin, ia segera mengganti serangannya dari rudal menjadi: "Chaotic Magi: 𝘈𝘶𝘧𝘴𝘦𝘩𝘦𝘯." Sebuah cahaya merah berlapis petir yang seperti ekor, serangan itu di-spam oleh Allwin dari kelima Gate-nya sekaligus.

BOOM! Ledakan dahsyat mengenai ketiga monster itu, namun hanya Behemoth yang tidak terluka sedikit pun, bahkan hanya sekadar goresan pun tidak ada.

Sementara Kael sibuk bertarung dengan Morphegor yang terus menggunakan Agni untuk menjauhkan Kael dengannya. Tentu saja, Morphegor tidak hanya lari dan mengandalkan Agni.

Dia terus menyerang Kael membabi buta dengan Slash Execution, tebasan angin yang begitu tajam dan tidak hanya satu atau dua kali, tapi berkali-kali menebas tanpa henti. Walaupun Kael memiliki manipulasi ruang sehingga serangan tersebut selalu berhenti atau menghilang sebelum mencapai tubuhnya, namun tetap saja hal itu menghambat pergerakannya untuk membunuh Morphegor.

BOOM!

Dengan cepat, Allwin menembak mata Behemoth, namun... hal itu justru memperburuk keadaan. Behemoth yang kesakitan seketika mengaum, lalu memukul tanah dengan membabi buta sehingga Allwin harus mengambil jarak yang lebih jauh dari jangkauan Behemoth.

BRAK!

Perisai Magi yang diciptakan Serena pecah ketika lengan raksasa menghantam keras. Pasukan yang berada di area pukulan Behemoth hancur tak tersisa. Pasukan medis, kuda, petarung, dan lainnya hanya menyisakan darah segar yang mengalir berantakan di tanah.

"M-MUSTAHIL!" Celia segera menoleh ke arah lengan Behemoth. Tatapannya dipenuhi rasa takut, karena hawa intimidasi, auman, dan getaran setiap langkah Behemoth membuat Celia membeku di tempat.

"Waduh... Gawat nih..." Allwin mengernyit sementara Gate-nya masih terus menyerang Behemoth tiada henti. "Excalibur lagi cooldown, sekarang gw tanya, harus pake apa gw buat nembus durabilitas yang sekeras tembok realitas?" gumam Allwin pada dirinya sendiri, sementara ekspresinya tidak terlihat serius sedikit pun, seolah ia hanya sedang mengerjakan soal saat sedang di kelas.

Allwin mengusap dagunya. "Kalau dari novel atau manga yang gw baca, pasti di saat kayak gini si tokoh utama udah dapet power baru atau setidaknya petunjuk buat ngalahin lawannya..." Allwin menyipitkan mata. "Kalau diserang pake nuklir yang ada wilayahnya yang hancur, lagian nih orang ngeselin banget dah, kenapa nggak summon Godzilla aja gitu? Ini malah summon entitas yang kategorinya makhluk akhir zaman." Saat Allwin masih sibuk dengan pikirannya, tanpa ia sadari Behemoth sedang mengumpulkan energi di mulutnya. Cahaya biru tua, biru muda, dan putih menciptakan sebuah bola energi listrik. WHOOZZHH! Ledakan kekuatan dahsyat itu menghantam Allwin yang masih berdiri di udara. BOOM! Ledakan besar itu menelan sosok Allwin dari balik cahaya Magi.

Setelah asap dan cahaya di sekitarnya mereda, sebuah sosok masih terlihat baik-baik. Allwin ternyata sudah menciptakan barrier secara tepat waktu, walaupun kini barrier tersebut telah hancur.

"Yang bener aja? Dengan durabilitas gila kayak gitu nih monster bisa make sihir dan skill!? Chaotic Magi juga nggak ngaruh... Harus pake apa gw, BANGSAT!" Allwin bergumam, ia masih belum menyerang, tapi masih memilih skill yang akan ia gunakan sambil memutar kembali ingatan dari video kaset, konsol gim, dan barang lainnya yang pernah ia dapat dari Gate of Multifunction.

GRAAHHHH!

Behemoth semakin marah ketika Allwin hanya diam di hadapannya setelah menggagalkan serangan yang ia layangkan sebelumnya, dan saat ini mata kanan Behemoth terlihat sudah kembali normal. Allwin yang menyadari hal itu semakin pasrah lagi, "Durabilitas absurd, ditambah punya regenerasi..." Seketika Allwin terpikirkan suatu teori. "Bentar? Jangan bilang durabilitas absurd monster ini kebantu sama regenerasi?"

Seketika Allwin memanifestasikan kembali kelima Gate-nya, namun... Dug! Allwin merasakan hawa atau tekanan kuat dari dalam dirinya, seolah baru saja ada sebuah rantai yang menusuk tajam jantungnya.

Dalam bayangan Allwin, ia seperti sedang berada di tempat yang gelap dan dipenuhi rantai emas menyala yang panjangnya tidak diketahui.

"Perasaan... Apa ini?" Allwin terbelalak, namun matanya kosong. Setelah imajinasi itu menghilang, ia mendengar sebuah suara rantai yang bergerak, bukan dari dirinya atau sekitarnya... Tapi dari dalam Gate.

"Keluarlah... 『Rantai surgawi』" Allwin tanpa sadar mengucapkan kalimat itu. Dari portal terlihat sebuah siluet emas, bukan cahaya atau apa pun. Dalam sudut pandang Allwin, sebuah rantai emas dengan ujung seperti belati atau mata pedang dengan warna emas menyeluruh keluar dengan hawa yang begitu mencekam. Bahkan ruang seolah menunduk dan terdistorsi oleh keberadaannya. Rantai itu muncul dua dari dua Gate.

Behemoth hanya merasakan keadaan yang mengancam dan mengintimidasi, membuat instingnya seketika berkata, mundur. Walaupun ia tidak melihat apa pun dari Gate.

Sedangkan Allwin masih terpaku pada apa yang baru saja terjadi padanya, sebuah rantai yang menciptakan jalurnya sendiri dan menolak ruang yang seharusnya menjadi medium keberadaannya, justru hal itu membuatnya hanya bisa dilihat Allwin. Ruang tidak pecah atau hancur, tapi hilang.

CRACK!

Entah sejak kapan rantai itu bergerak, saat ini kedua rantai itu sudah mengikat Behemoth dengan ujung yang menusuk leher Behemoth.

Allwin terbelalak, ia bahkan belum memerintahkannya maju, namun rantai itu sudah melakukan tugasnya seolah rantai itu bukanlah benda mati.

"Bagaimana bisa?? Dan benda itu baru saja menembus durabilitasnya? Walaupun gitu... Behemoth masih belum mati sih..."

Allwin menatap santai Behemoth, namun ia merasakan hal janggal. Behemoth tidak mengaum kesakitan, tidak memberontak, hanya tatapan melasnya yang menjelaskan bahwa ia masih hidup.

"Binatang ini masih belum mati? Bahkan setelah lehernya terlihat seperti sate yang ditusuk dengan rantai?" Allwin mendekat sedikit, hanya sedikit. "Jadi... Harus apa untuk mengakhirinya?"

Allwin langsung terpikirkan sebuah ide cemerlang di benaknya. "Gw masih punya tiga Gate... Gimana kalo gw gabungin tiga serangan sekaligus dan gw tembak menggunakan lingkaran sihir sebagai larasnya?" Tanpa pikir panjang, Allwin langsung menembakkan tiga jenis sihir berbeda pada sebuah lingkaran Magi merah di atas Allwin.

TING... Lingkaran sihir itu berubah menjadi seperti riak air berwarna merah yang dilapisi oleh cahaya petir merah yang menyilaukan.

"Gw tau lu cuma dikendalikan, tapi... Perang tetaplah perang."

BOOM!

Ledakan keras menghantam kepala Behemoth, namun... jasadnya seketika menghilang, tidak ada mayat atau bekas apa pun. Cahaya itu seolah baru saja menelannya.

———

Tidak ada pasukan yang bisa maju saat ini. Setelah masalah Behemoth selesai, Shiro segera membawa seluruh pasukan yang terluka parah dan digantikan pasukan yang baru. Sekitar 488.000 pasukan Asteria terluka parah dan belasan ribu meninggal di tempat.

Serena, Lylian, dan Michael membantu orang asing tadi yang ternyata namanya adalah Eldrick. Pria berbaju hitam dengan kupluk itu ternyata adalah spesialis mage jarak dekat. Alih-alih menggunakan tongkat, beliau justru menggunakan pedang seperti seorang ksatria. Tatapan mata birunya begitu tajam bagaikan seorang pemburu, ya, nggak salah juga karena dia adalah Ksatria elite kerajaan Asteria.

BRAK!

Ratusan batu dengan bentuk mata bor yang berputar super cepat sehingga menciptakan apinya sendiri itu dihujani tanpa henti pada mereka.

Serena berlindung, Eldrick menangkis, Lylian menghindar dengan manipulasi sihir angin.

Sementara Michael bermain cukup jauh, bertujuan membekukan kaki monster dan menjatuhkannya.

BOOM! BOOM! BOOM!

Belasan serangan menghantam tubuh Dharani, namun tubuhnya yang terbuat dari batu itu membuatnya hanya tergores atau retak.

Serena sedikit menurunkan sapu sihirnya ke tanah.

"Bagaimana? Udah dapet solusi?" tanya Serena pada Michael.

Michael menggeleng. "Entahlah, aku punya satu solusi, tapi... Aku nggak punya cukup batu jiwa Magi."

"Batu jiwa Magi? Mau lu pake buat apa?"

"Golem es," jawab Michael singkat. Serena awalnya hanya menganggap itu sebuah candaan, namun melihat wajah Michael yang serius tanpa candaan sedikit pun membuatnya menelan ludah, "Gw ada sih..." jawab Serena ragu. "...tapi gw cuma punya yang kecil dan dayanya juga nggak besar, sedangkan untuk menciptakan Golem butuh jiwa Magi yang keras dan memiliki energi yang banyak."

"Yo! Ada masalah?" Sebuah suara langsung memotong percakapan Serena dan Michael. Keduanya segera menoleh ke sumber suara. Allwin, ia berdiri santai dengan tangan kiri di saku.

"Eh!? Kau sudah selesai?" Michael menatap Allwin heran. Di benaknya muncul pertanyaan seperti, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘸𝘪𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘦𝘩𝘦𝘮𝘰𝘵𝘩 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶? "Tentu saja, gw denger lu butuh batu jiwa Magi?"

Sebuah Gate termanifestasi di atas Michael, dari dalam Gate sebuah batu jiwa Magi sebesar kepalan tangan jatuh mengarah pada Michael. "Whop," dengan sigap Michael menangkapnya.

"Gw rasa segitu cukup, dah!" Allwin menghilang bersamaan dengan Gate-nya yang tertutup.

"Kurasa ini memang cukup." Michael melempar batu itu ke langit tinggi-tinggi. "Bangunlah sang raksasa es!"

CRACKKK...

Belasan pilar es menjalar hingga menelan batu Magi, setelahnya es tersebut mulai membentuk sebuah sosok golem raksasa dengan ukuran hampir 100 meter, walaupun lebih kecil dari Dharani setidaknya makhluk ini bisa digunakan sebagai tank.

Mereka awalnya menganggap ide itu jenius, namun... Gesekan batu pengebor menciptakan energi panas yang menyebabkan setiap serangan Dharani membuat permukaan es golem mencair atau pecah.

Setelah beberapa detik kedua makhluk raksasa itu baku hantam, hasilnya sudah jelas, Dharani menang dengan begitu mudah dan Golem dihancurkan bersamaan dengan harga dirinya.

"Mustahil... Segampang itu?" Michael menjatuhkan lututnya ke tanah.

Serena membalas hal itu dengan senyum kecewa dan helaan napas pelan. "Setidaknya udah nyoba."

Eldrick segera turun mendekati keduanya. "Hebat, kurasa itu perlu apresiasi." Ia menepuk tangannya namun dengan ekspresi datar.

GRAAKHHHHH!

"EH!"

Auman Dharani seketika mengguncang tanah, beberapa retakan semakin besar.

BRAK!

Hantaman tangan Dharani langsung menyapu medan di sekitar Serena dan teman-temannya.

Beruntungnya mereka berhasil menghindar, namun solusi untuk mengalahkan naga itu masih belum ditemukan.

——

Di sisi Kael. Morphegor masih belum tergores, Kael terus disibukkan Agni.

Morphegor yang sudah kesal dan muak akhirnya dia melepaskan jas dan jubahnya, menyisakan sebuah baju hitam ketat dengan celana formal biasanya.

"Dasar, orang ini benar-benar selalu menjadi masalah di mana pun, ya." Aura biru menyelimuti Morphegor. Bersamaan dengan hal itu, udara berhembus tak beraturan, tanah retak, dan aliran Magi di wilayah sekitar seolah dihisap oleh Morphegor.

Agni juga tiba-tiba berhenti meladeni Kael. Tubuhnya dipenuhi cahaya oranye dan kemerahan sembari dilapisi oleh cahaya tersebut. Tubuh Agni perlahan mundur beberapa langkah dan semakin mengecil membentuk sosok humanoid.

WHOSSSHH

Hembusan angin kencang perlahan mereda dan membawa debu menjauh yang langsung memperlihatkan sosok pria berbaju hitam dengan jubah putih yang mencolok dengan sedikit corak hitam, dan di kedua lengannya terdapat sebuah sarung tangan berlapis armor biru yang menutup pergelangan hingga sikunya.

Di belakang pria itu terdapat sesosok monster humanoid dengan tubuh penuh armor merah yang tidak menyerupai baju zirah, hanya merah tua dan merah gelap di armor monster tersebut dan kepala berbentuk topeng naga yang seperti di film-film Barat atau anime, dan dilengkapi kepala naga merah di kedua bahunya.

Morphegor dan Agni, mereka berubah dan tentu perubahan terbesar ada pada Agni yang sebelumnya besar, berbentuk naga yang berkepala tiga, kini berubah menjadi monster zirah berukuran lebih dari lima meter.

FWOOSHH!

Kedua sayap naga terbentang lebar di punggung Agni.

Morphegor mengangkat lurus lengan kanannya, "Languor." JEDAR! Petir ungu menyambar dahsyat mengenai Kael.

"Kheuk—" tidak mengira bahwa serangan itu akan melukainya, Kael seketika tersungkur tersambar petir bertegangan tinggi itu.

BOOM! BOOM! BOOM!

Dari atas, tiga buah rudal ditembakkan dari Gate bersama dengan Allwin yang melayang di udara.

FWOOSHH

Kepakan sayap Agni meniup seluruh debu dan asap ledakan rudal dengan cepat.

Dan di situ, Morphegor dan Agni tidak lecet sedikit pun, tatapan keduanya terlihat kosong kepadanya.

"Eh... Kenapa, nih? Kok tatapannya gitu banget? Ada dendam, kah?" kata Allwin dengan nada menghina beserta senyum sarkasnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!