Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Mobil yang dikendarai Pak Adam berhenti tepat di depan gerbang TK Kenzo. Setelah Pak Adam berpamitan untuk kembali ke rumah, Nadia menuntun Kenzo turun.
Sebelum melepas Kenzo masuk ke halaman sekolah, Nadia berlutut di hadapan anak itu. Jemari tangannya bergerak telaten membetulkan tatanan rambut Kenzo yang sedikit berantakan, lalu merapikan kerah seragam TK yang dikenakannya.
"Di sekolah yang pintar ya, sayang. Jangan nakal, dengarkan kata Bu Guru, dan mainnya hati-hati," pesan Nadia lembut sambil tersenyum manis.
Kenzo mengangguk antusias. "Siap, Bunda! Kenzo bakal jadi anak pintar!"
Nadia mengusap pipi halus anak itu, lalu menunjuk ke arah bangunan toko kue miliknya. "Oya, toko kue Bunda kan persis di seberang sekolah Kenzo ini. Nanti kalau jam pulang sekolah Kenzo sudah selesai tapi Pak Adam belum jemput, Kenzo langsung nyebrang aja ke toko Bunda, ya. Tunggu di sana sambil jajan kue."
"Wah, beneran, Bunda?!" mata bulat Kenzo berbinar gembira. "Mau! Kenzo mau tunggu di toko Bunda!"
"Pintar," puji Nadia gemas. "Nah, sekarang cium pipi Bunda dulu baru boleh masuk."
Kenzo menyunggingkan senyum lebar, lalu menyodorkan wajahnya dan mendaratkan kecupan hangat di pipi Nadia. "Muach! Daaa Bunda!"
Saat Nadia hendak berdiri, seorang wanita bermuka ramah berbalas pakaian dinas guru melangkah menghampiri mereka dari arah gerbang.
"Selamat pagi, Kenzo!" sapa Bu Guru ramah.
Guru tersebut kemudian menatap Nadia dengan senyuman sopan. "Selamat pagi, Mbak. Pengasuh barunya Kenzo, ya? Wah, Kenzo kelihatannya sudah dekat banget sama Mbaknya."
Belum sempat Nadia merespons atau menjelaskan, Kenzo sudah lebih dulu membusungkan dadanya dan menyela dengan suara nyaring yang penuh kebanggaan.
"Bukan Pengasuh, Bu Guru! Ini Bunda Kenzo!"
Bu Guru tersentak pelan, kaget mendengar jawaban tegas dari muridnya. Ia menatap Nadia dengan raut serba salah.
"Astaga, maaf sekali, Bu," ucap Bu Guru canggung. "Saya tidak tahu kalau Pak Arvin sudah menikah lagi. Soalnya selama ini Kenzo seringnya cuma diantar Pak Adam."
Nadia tersenyum ramah. "Tidak apa-apa, Bu. Pernikahan kami memang privat. Mulai sekarang saya yang akan sering mengantar Kenzo."
"Syukurlah kalau begitu," balas Bu Guru lega. "Ayo Kenzo, masuk kelas. Sebentar lagi bel."
Kenzo melambaikan tangan ke arah Nadia. "Bunda, Kenzo masuk dulu ya! Nanti Kenzo ke toko Bunda!"
"Iya, sayang. Belajar yang rajin," jawab Nadia sambil membalas lambaian tangannya.
Setelah Kenzo masuk, Nadia menyeberang jalan menuju toko kuenya. Ia membuka kunci pintu kaca dan membalik papan petunjuk di depan menjadi OPEN.
Baru saja Nadia selesai menyalakan mesin kasir dan merapikan rak display kue, ponsel di dalam tasnya bergetar. Layar menunjukkan nama Arvin.
Nadia menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Mas?"
"Kenzo sudah sampai sekolah?" suara Arvin terdengar datar dan dingin dari balik telepon.
"Sudah. Tadi langsung diantar sampai gerbang dan sudah masuk kelas sama Bu Guru," jawab Nadia seadanya, singkat dan tanpa basa-basi.
Hening sejenak sebelum Arvin kembali bersuara. "Bagus. Saya cuma mau mengingatkan, saya belum sepenuhnya percaya sama kamu untuk melepaskan Kenzo begitu saja."
Nadia menghela napas panjang, memutar bola matanya malas mendengarkan prasangka dingin pria itu yang tak pernah habis.
"Terserah Mas Arvin mau percaya atau tidak," sahut Nadia santai namun pedas. "Saya capek ngomong sama kakek-kakek seperti Mas. Tua bangkotan tapi pikiran curigaan terus!"
Tanpa menunggu balasan atau omelan dari Arvin, Nadia langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak dan melempar ponselnya ke atas meja kasir dengan hembusan napas lega.
Di seberang telepon, Arvin tertegun membatu dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Bip-bip-bip suara sambungan terputus berbunyi nyaring.
Ia memandangi layar ponselnya dengan alis bertaut erat dan napas sedikit tertahan.
Kakek-kakek? Tua bangkotan?
Seumur hidupnya, belum pernah ada satu orang pun, baik karyawan, kolega bisnis, maupun anak-anaknya, yang berani memanggil seorang Arvin Elio Ganendra dengan sebutan semacam itu.
Ia baru berusia tiga puluh sembilan tahun, berada di puncak karier, dan selalu menjaga kebugaran tubuhnya. Bagaimana bisa wanita tiga puluh tahun yang baru dinikahinya itu dengan santai menyebutnya kakek-kakek tua bangkotan?
Arvin menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, mengetukkan jemari di atas meja mahoni, lalu menggelengkan kepala pelan. Sudut bibirnya tertarik tipis membentuk senyuman samar yang tak pernah terlihat sebelumnya.
"Bisa-bisanya dia mematikan telepon duluan..." gumam Arvin pelan.
......................
Aroma manis mentega dan adonan roti yang dipanggang mulai memenuhi seluruh sudut toko. Di dapur belakang, Nadia sibuk mengadon bersama Wulan, salah satu karyawannya. Sementara itu, Rara bertugas di meja kasir depan untuk menyambut pelanggan. Nadia memang membebaskan Wulan dan Rara untuk bergantian tugas kasir dan baking agar tidak bosan.
Saat Nadia sedang merapikan loyang roti yang baru matang, Rara muncul di balik pintu dapur.
"Mbak Nadia... Di depan ada ibu sama adiknya Mbak," panggil Rara.
Nadia melangkah keluar dari area dapur seraya mengusap tangannya yang sedikit bertepung dengan celemek.
"Ibu? Vanya?" panggil Nadia.
"Ada apa tiba-tiba ke sini? Kok nggak ngabari dulu?"
Mayang menoleh, menatap Nadia dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan tidak mengerti.
"Yaa ampun, Nadia... Kamu ini gimana, sih?" ujar Mayang menggeleng-gelengkan kepala. "Sudah jadi istri pengusaha kaya raya kok masih mau repot-repot jualan kue."
Vanya ikut mendongak dari layar ponselnya dan terkekeh sinis. "Iya nih, Mbak Nadia. Harusnya Mbak tuh tinggal duduk manis di rumah mewah, belanja, atau jalan-jalan. Ngapain masih capek-capek kerja jadi tukang kue?"
Nadia menatap ibu dan adiknya dengan ekspresi tenang. "Toko ini aku bangun sendiri dari nol sebelum nikah, Bu, Vanya. Aku tidak akan pernah menutup toko ini cuma karena sudah menikah."
Nadia lalu mengamati keduanya bergantian. "Sebenarnya ada perlu apa Ibu sama Vanya datang ke sini?"
Mayang maju melangkah mendekati Nadia, mengukir senyum yang dipaksakan. "Begini, Nadia... Ibu mau kamu mintakan satu mobil sama Pak Arvin. Kasihan adikmu ini, tiap hari kerja ke rumah sakit harus kepanasan dan kehujanan naik motor."
Nadia tersentak. Matanya membelalak tak percaya. "Apa, Bu? Coba ulangi sekali lagi?"
Vanya mendesis kesal melihat reaksi kakaknya. "Iya, Kak! Vanya minta mobil! Tinggal minta sama suami Kak Nadia itu, apa susahnya sih? Dia kan kaya raya, mobil satu doang mah nggak bakal bikin dia bangkrut!"
Nadia menggelengkan kepala, terheran-heran dengan jalan pikiran mereka. "Kalian sadar nggak sih bicara apa? Aku baru menikah tiga hari sama Mas Arvin! Aku tidak mungkin dan tidak akan pernah minta hal seperti itu ke dia!"
"Yaa dicoba dulu, Nadia! Kamu kan istrinya. Masa cuma minta mobil satu saja tidak diberi? Kamu rayu-rayu sedikit, pasti dikasih."
"Iya, Kak," sahut Vanya. "Kak Nadia kan sudah mau nikah sama dia. Harusnya sekarang Kak Nadia manfaatin kekayaannya. Nanti kalau Vanya bawa mobil ke rumah sakit, Kak Nadia juga yang bangga."
Nadia menggeleng tegas. "Tidak bisa. Aku tetap menolak. Kalau Vanya mau mobil, kerja dan beli sendiri pakai uang gajinya."
"Nadia! Kamu kok tega sekali sama adikmu!" bentak Mayang kesal.
Nadia melirik ke arah pintu. Beberapa pelanggan mulai berdatangan dan masuk ke toko.
"Sudahlah. Sebaiknya kalian pergi sekarang," ucap Nadia menunjuk pintu keluar. "Pelanggan aku sudah datang. Jangan bikin keributan di sini."
"Awas kamu ya, Nadia! Dasar tidak tahu berterima kasih!" cetus Mayang tajam.
Mayang dan Vanya langsung berbalik melangkah keluar dengan wajah bersungut-sungut. Nadia menghela napas panjang, lalu kembali fokus menyapa pelanggannya.