Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Pagi itu, langit di atas SMA Garuda Bangsa yang tadinya cerah mendadak bergetar oleh konvoi getaran dari udara dan darat.
Sebuah helikopter super-mewah terbang rendah di atas area sekolah.
"Ada helikopter! Woy, lihat ke atas! Ada helikopter mendarat di lapangan!" jerit seorang murid dari lantai tiga.
Ratusan murid berhamburan ke balkon koridor, sementara sebagian lainnya berlarian menuju tepi lapangan sepak bola.
Tak hanya itu saja, Tiga puluh unit SUV Black Edition berjejer rapi, menerobos masuk ke area dalam sekolah setelah puluhan pria berjas hitam turun dan mengamankan seluruh akses keluar-masuk.
Pagar sekolah dibarikade secara ketat.
"Ada apa ini?! Siapa mereka?! Kenapa ada pasukan berjas hitam masuk ke sekolah kita?!" pekik salah satu guru senior dengan wajah pucat pasi.
Kepala Sekolah beserta para wakilnya berlari terengah-engah menuju lapangan.
Mereka tahu betul, armada dan pengawalan tingkat tinggi seperti ini bukanlah milik pejabat biasa. Ini adalah armada dari penguasa tertinggi.
Helikopter hitam itu akhirnya mendarat mulus di tengah lapangan rumput. Begitu mesin baling-baling mulai melambat, pintu helikopter terbuka.
Pria-pria berbadan tegap dengan radio komunikasi di telinga segera membuat barikade.
Reno melangkah turun terlebih dahulu. Ia memegang sebuah radio komunikasi dan mengedarkan pandangan tajamnya ke sekeliling lapangan.
"Area steril. Jalur aman untuk Bos Ardio," bisik Reno pada mik tersembunyi di kerahnya.
Dari dalam helikopter. Ardio, sang King Mafia legendaris, turun di lapangan.
Kepala Sekolah yang berdiri lima puluh meter di depannya langsung mengenali wajah tersebut. Tubuh kepala sekolah gemetaran hebat, lututnya lemas hingga harus ditopang oleh wakilnya.
"P-Pimpinan Pusat... Pak Ardio...? Sang Penguasa Dunia Bawah...?" bisik Kepala Sekolah dengan suara tercekat.
Ardio tidak memedulikan pandangan syok, ketakutan, dan desas-desus ribuan murid yang menatapnya dari balkon lantai dua dan tiga.
Ia menatap tajam langsung ke depan koridor kelas X-A.
Di sana, Adel berdiri mematung bersama Karin yang sudah kaku seperti patung batu.
Ardio melangkah pergi, semua siswa langsung memberi jalan.
Langkah itu akhirnya terhenti tepat di hadapan Adel.
Ardio melepaskan kacamata hitamnya dengan gerakan perlahan. Senyum paling hangat, lembut, dan penuh kasih sayang mengembang kepada Adelia.
"Selamat pagi, Princess Adelia," sapa Ardio lembut.
Adel membelalakkan mata cantiknya. Ia malu melihat kedatangan ayahnya yang sangat dramatis dan mencolok.
"P-Papa?! Kenapa... kenapa Papa datang naik helikopter dan bawa mobil sebanyak ini ke sekolah?! Ini kan sekolah, Papa!" pekik Adel dengan suara tertahan.
Ardio terkekeh pelan, Ardio berlutut dengan satu kaki di atas lantai di hadapan Adel, menyejajarkan tingginya dengan sang putri.
"Papa cuma mau mengantarkan kotak bekal makan siangmu yang ketinggalan di meja makan, Sayang," ujar Ardio santai.
"Bi Inah bilang kamu terburu-buru tadi pagi. Papa tidak mau putri Papa kelaparan saat belajar," ucapnya sambil menyodorkan kotak bekal mewah tersebut.
"Cuma... cuma karena bekal makan siang?!" Adel menepuk jidatnya sendiri, merasa ingin menghilang dari bumi detik itu juga.
"Papa ini berlebihan banget! Kan bisa disuruh antar Pak Doni biasa!" cerita Adel.
"Tidak ada kata berlebihan kalau itu menyangkut dirimu, Adel," sahut Ardio hangat.
Ardio merapikan kerah seragam putih abu-abu Adel yang sedikit terlipat.
"Dan selain membawakan bekal... Papa datang ke sini untuk memastikan satu hal," ucap Ardio pelan.
"Memastikan apa, Pa?" tanya Adel polos.
Ardio memutar tubuhnya perlahan, menatap satu per satu murid, guru, hingga Kepala Sekolah yang berdiri ketakutan.
"Papa datang untuk memastikan... bahwa tidak akan ada lagi lalat, sampah, atau pembully yang berani menyentuh selembar bulu di tubuh putriku. Tidak akan ada lagi yang berani membuat putriku meneteskan air mata di tempat ini!" ucapnya penuh kekuatan dan kekuasaan.
Di ujung koridor, Sheila dan Vanya berdiri dengan tubuh gemetaran hebat. Wajah mereka berubah menjadi pucat, napas mereka memburu karena panik yang luar biasa.
"P-Putri Papa? Adelia... Adelia yang kemarin kita tahan di toilet... dia anak kandung dari Ardio?!" bisik Sheila terbata-bata.
"Matilah kita, Sheila... matilah kita!" tangis Vanya pelan dengan air mata yang mulai menetes karena ketakutan membayangkan nasib mereka.
Di sudut lain, Devan berdiri mematung di dekat tangga. Kotak minuman di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
Ternyata menjadi anak kepala rumah sakit nggak ada apa-apanya.
Devan menelan ludahnya, ia dulu yang sempat berpikir bisa mempermainkan Adelia yang ternyata, adalah anak raja mafia king.
Ardio berdiri kembali hingga tubuh jangkung
Sementara itu, Sisca jatuh terduduk di atas lantai. Sisca menangis histeris tanpa suara, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Ia benar-benar menyesal, karena membully Adel, ia merasa bodoh yang membuat keluarganya hancur karena hanya cemburu.