Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Detik-Detik Terakhir
Bab 20 — Detik-Detik Terakhir
Botol kecil itu miring di tangan Mukti, cairan gelapnya nyaris menetes ke arah Rania yang masih terpojok di dinding.
Rania bertindak cepat, mengayunkan sisir kayunya sekuat tenaga ke arah tangan Mukti.
"AKH!"
Botol itu terpental, pecah berkeping-keping di lantai kayu, cairan gelapnya tumpah membentuk genangan kecil yang mengeluarkan aroma tajam dan aneh.
Mukti mengaduh, memegangi tangannya yang memerah akibat pukulan, namun amarah di matanya justru semakin menyala.
"Kau"
Rania tidak menunggu kalimatnya selesai. Ia mendorong tubuh Mukti sekuat tenaga, memanfaatkan momen kagetnya untuk berlari menuju pintu.
Namun Mukti lebih cepat pulih dari yang ia duga. Tangannya menangkap pergelangan Rania erat, menariknya kembali ke dalam kamar.
"Jangan buat ini lebih sulit, Wening," desisnya, kini tidak ada lagi sisa kelembutan di suaranya.
"Lepasin!" Rania berontak sekuat tenaga, namun cengkeraman Mukti terlalu kuat.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan dorongan keras, membentur dinding dengan suara nyaring.
"LEPASKAN DIA."
Suara itu dingin, tegas, dan sangat familiar.
Aryasatya berdiri di ambang pintu, pedang pendek sudah tergenggam di tangannya, matanya menyala dengan amarah yang jarang sekali Rania lihat dari sosoknya yang biasanya setenang air.
Di belakangnya, Sari berdiri dengan napas terengah, dan beberapa pengawal Arkapura bergegas masuk mengikuti.
Mukti menoleh cepat, wajahnya berubah pucat sesaat sebelum kembali mengeras.
"Aryasatya," katanya, mencoba mempertahankan ketenangan yang mulai retak. "Ini bukan urusanmu."
"Ini jadi urusanku," Aryasatya melangkah masuk perlahan, pedangnya terarah stabil, "sejak kau membunuh sepupuku demi menutupi kejahatanmu sendiri."
Mukti masih menahan pergelangan tangan Rania, menariknya lebih dekat sebagai tameng. "Mundur, atau dia yang akan menanggung akibatnya."
"Kau nggak akan lolos, Mukti," Rania berkata, suaranya bergetar namun penuh tekad, mencoba meronta lagi dari cengkeramannya. "Semua orang udah tahu kebenarannya sekarang."
"Belum semua," Mukti balas berbisik tajam di telinganya. "Dan selama aku masih pegang kau, mereka tidak akan berani bertindak gegabah."
Aryasatya berhenti melangkah, matanya menatap tajam ke arah Mukti, menilai situasi dengan cepat. "Lepaskan dia, Mukti. Kau sudah kalah."
"Belum tentu," Mukti mulai melangkah mundur perlahan, menyeret Rania bersamanya menuju jendela kamar yang terbuka lebar, tirai lilac berkibar pelan ditiup angin malam. "Masih ada jalan keluar untukku."
Rania merasakan punggungnya mendekati ambang jendela, jantungnya berdegup panik. Di bawah sana, ia tahu ada taman kecil jatuh dari ketinggian ini bisa sangat berbahaya, namun bagi Mukti yang sudah terdesak, risiko seperti itu mungkin terasa lebih kecil dibanding tertangkap.
"Mukti," Aryasatya berkata, suaranya kini lebih tenang, mencoba bernegosiasi, "kalau kau lepaskan dia sekarang, masih ada kemungkinan pengadilan mempertimbangkan keadaanmu. Tapi kalau kau menyakitinya, tidak akan ada ampun untukmu."
Untuk sesaat, keraguan kembali muncul di mata Mukti. Rania bisa merasakan cengkeramannya sedikit melonggar.
Inilah kesempatannya.
Dengan sisa tenaga yang ada, Rania menghentakkan sikunya keras ke perut Mukti, membuatnya terbatuk kesakitan dan melepaskan cengkeramannya sepenuhnya.
Rania langsung berlari menjauh ke arah Aryasatya, yang segera menariknya ke belakang punggungnya sendiri, melindunginya dengan tubuh dan pedang yang kini terarah penuh ke Mukti.
Mukti berdiri terhuyung di dekat jendela, wajahnya penuh kekalahan dan amarah yang bercampur aduk.
"Kau pikir ini akan selesai semudah ini?" katanya, suaranya pecah antara marah dan putus asa. "Keluargaku, reputasiku, semuanya akan hancur."
"Seharusnya kau pikirkan itu sebelum kau memutuskan meracuni sepupumu sendiri," balas Aryasatya tajam.
Pengawal Arkapura yang sejak tadi menunggu di belakang bergerak maju, mengepung Mukti dari berbagai arah. Tidak ada lagi jalan keluar baginya selain menyerah, atau nekat melompat dari jendela.
Mukti menatap sekelilingnya, menyadari situasi yang sudah benar-benar tidak bisa ia menangkan.
Perlahan, bahunya merosot, semua ketetapan hati yang tadi menyala di matanya kini padam digantikan kelelahan yang mendalam.
"Baik," katanya pelan, suaranya nyaris berbisik. "Aku menyerah."
Dua pengawal segera bergerak mengamankannya, mengikat kedua tangannya dengan tali kasar. Mukti tidak melawan lagi, tubuhnya lemas pasrah saat digiring keluar dari kamar.
Namun sebelum benar-benar keluar, ia menoleh sekali lagi ke arah Rania, matanya penuh emosi yang sulit diartikan penyesalan, kemarahan, dan sesuatu yang mungkin masih tersisa dari ketulusan yang pernah ia tunjukkan.
"Aku memang pernah berharap," katanya pelan, "bahwa kau bisa jadi sekutu sejatiku. Sayang sekali itu tidak pernah benar-benar mungkin."
Rania tidak menjawab, hanya menatapnya dengan campuran rasa sedih dan lega yang aneh, sampai sosok Mukti benar-benar menghilang di balik pintu, dibawa pergi oleh pengawal menuju entah tahanan sementara atau nasib yang jauh lebih berat menantinya.
Begitu pintu tertutup, Rania merasakan seluruh kekuatan yang menahannya tegak selama ini runtuh seketika. Kakinya melemas, dan ia nyaris jatuh jika saja Aryasatya tidak segera menangkapnya.
"Hei," suara Aryasatya melembut drastis, memapahnya duduk perlahan di tepi ranjang. "Kau aman sekarang."
Rania menatapnya, tangannya masih gemetar hebat, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mulai menetes tanpa bisa ia kendalikan.
"Aku kira aku bakal mati," bisiknya, suaranya pecah.
"Tapi kau tidak," Aryasatya berkata lembut, tangannya ragu sejenak sebelum akhirnya menggenggam tangan Rania yang gemetar, mencoba menyalurkan ketenangan. "Kau selamat. Semuanya sudah berakhir."
Sari yang sejak tadi berdiri di ambang pintu bergegas masuk, memeluk Rania erat, ikut menangis lega.
"Putri, syukurlah," isaknya. "Saya kira saya terlambat."
"Kamu nggak terlambat," Rania membalas pelukannya, suaranya masih bergetar. "Kamu datang tepat waktu. Kalian berdua."
Aryasatya berdiri dari sisi ranjang, memberi ruang bagi Sari dan Rania, namun matanya tidak sepenuhnya lepas dari sosok Rania yang masih terguncang.
"Aku akan memastikan pengawalan ekstra untukmu malam ini," katanya, suaranya kembali ke nada tenangnya yang biasa, meski ada kelembutan yang tidak pernah Rania dengar sebelumnya. "Besok, kita akan selesaikan semuanya secara resmi laporan ke Raja dan Permaisuri, proses hukum untuk Mukti, dan pembersihan nama Cilangkap seperti yang kau janjikan pada Ki Sura."
Rania mengangguk lemah, masih berusaha menata napasnya yang berantakan.
"Raden," panggilnya pelan, sebelum Aryasatya sempat melangkah keluar.
Ia berhenti, menoleh. "Ya?"
Rania menatapnya lama, berbagai emosi campur aduk di dadanya rasa syukur, kelegaan, dan sesuatu yang lebih dalam yang baru mulai ia sadari sejak beberapa hari terakhir.
"Makasih," katanya sederhana, "udah percaya sama aku. Dari awal."
Aryasatya menatapnya balik, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, senyum tulus bukan sekadar seringai tipis seperti biasanya muncul di wajahnya.
"Itu mudah," katanya pelan, "karena sejak awal, aku tahu kau bukan orang yang pantas dicurigai."
Ia berbalik dan melangkah keluar kamar, meninggalkan Rania yang masih duduk dalam pelukan Sari, namun kini dengan hati yang terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Di luar jendela, malam Wanunggalih mulai menunjukkan tanda-tanda fajar yang akan segera datang, cahaya pertama matahari perlahan menyentuh ufuk timur seolah menandakan babak baru yang akan dimulai, jauh dari bayang-bayang pengkhianatan dan kebohongan yang selama ini menyelimuti istana.