Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 20
Mobil SUV hitam yang dikendarai Arsyad perlahan menggeser kerikil pekarangan rumah keluarganya. Di garasi, SUV baru dan motor matic besar yang sempat dibahas Zemima kemarin berdiri gagah, memantulkan pendar lampu jalanan sore yang mulai temaram.
Dari luar gorden jendela depan yang agak terbuka, terlihat suasana ruang tengah sangat riuh. Suara gelak tawa, denting piring, dan aroma gurih hidangan laut dari restoran ternama menguar hingga ke teras. Tampak Bu Rahmi, Mas Hendra, Mbak Rika, Siska, dan Dina, wanita muda yang hamil tua itu sedang duduk mengelilingi meja makan yang dipenuhi wadah makanan seafood berkelas.
Arsyad buru-buru mematikan mesin. Wajahnya kembali diliputi kepanikan. Ia belum sempat mengirim pesan singkat kepada ibunya untuk memberi tahu kedatangan mereka.
"Yuk, Mas. Nanti keburu malam," ajak Zemima halus.
Ia merapikan gaun emerald green-nya, menyampirkan tas Hermès Birkin krem seharga ratusan juta di lengannya, dan menggenggam paper bag kue berlapis emas.
Arsyad menelan ludah dengan susah payah, mengikuti langkah Zemima yang begitu tenang namun mantap menuju pintu depan.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamu’alaikum..." sapa Zemima dengan suara merdu yang mengalun jernih, memotong keheningan saat ia mendorong pintu depan yang ternyata tidak dikunci.
Suara tawa di ruang tengah seketika terhenti total.
Mas Hendra yang sedang mengunyah udang bakar hampir tersedak, Mbak Rika yang memegang piring kristal mendadak membeku, sementara Siska yang sedang tertawa menyemburkan sedikit minumannya. Bu Rahmi buru-buru menyapu bibirnya dengan tisu, matanya melotot kaku. Dan Dina, wanita bergaun daster longgar di ujung meja, refleks berusaha berdiri dan bersembunyi di balik tubuh Bu Rahmi dengan wajah pucat pasi.
Namun, bukan hanya kehadiran Zemima dan Arsyad yang membuat napas mereka semua tercekat. Penampilan Zemima sore itu benar-benar menghantam kesadaran mereka.
Zemima berdiri anggun di ambang pintu bagaikan seorang bangsawan. Gaun sutra mewahnya memeluk tubuh secara sempurna, jam tangan Patek Philippe berlian di pergelangan tangannya memancarkan kilau menyilaukan di bawah lampu gantung, dan tas di lengannya bukan lagi tas kain sederhana yang biasa ia bawa.
"Ya Tuhan... Zemima?!" pekik Bu Rahmi gagap, matanya menyapu dari ujung rambut hingga sepatu hak tinggi milik menantunya. Cangkir teh di tangannya bergetar hebat.
"Kamu... kok tiba-tiba datang lagi? Sama Arsyad pula?"
"Iya, Ibu," sahut Zemima dengan senyum paling manis yang ia miliki. Ia melangkah masuk, derap langkah sepatunya terdengar tegas di atas lantai keramik.
"Maaf ya kalau Zemima mengganggu acara makan malam mewahnya. Wah... baunya harum sekali, dari Restoran Telaga Raya ya? Yang satu porsinya ratusan ribu itu?"
Siska mendadak salah tingkah, buru-buru menggeser wadah makanan di meja ke belakang tumpukan tisu.
"Eeeh... ini... ini Mas Hendra yang beli, Mbak! Tadi Mas Hendra baru dapat bonus!" dusta Siska panik, matanya tak lepas dari tas Hermès di lengan Zemima. Itu kan tas yang sering dipakai artis di TV? Kok Mbak Mima punya? KW super kali ya? batin Siska mencoba menghibur diri.
Mas Hendra terbatuk-batuk canggung. "I... iya, Mima... Kebetulan ada rezeki sedikit..."
"Wah, hebat sekali Mas Hendra," puji Zemima dengan raut kagum yang amat sempurna. Ia melirik lembut ke arah Dina yang menyempil ketakutan di sudut meja.
"Dina juga diikutkan makan enak, ya? Bagus dong, kasihan ibu hamil kalau cuma makan makanan ala kadarnya. Harus banyak gizi supaya bayinya sehat."
Dina makin merapat ke dinding, jemarinya meremas tepi dasternya dengan keringat dingin membasahi dahi.
"Makasih, Mbak Mima..."
Arsyad yang berdiri kaku di belakang Zemima merasa jantungnya berdegup gila-gilaan. Ia memberi isyarat mata panik kepada ibunya dan Mas Hendra, seolah berteriak 'Tolong bantu aku!'.
"Maaf ya Bu, kalau kedatangan Zemima kemarin bikin Ibu kaget dan darah tingginya naik," ujar Zemima sangat lembut tanpa beban. Ia mendekati ibu mertuanya, mengulurkan tangan untuk bersalaman, lalu meletakkan dua hampers kue mewah di atas meja kayu.
"Zemima bawakan custom cake dan kue kering khusus dari toko langganan Zemima di Jakarta Selatan. Harganya memang sedikit mahal, satu kotaknya hampir empat juta rupiah, tapi bahannya impor semua, Bu. Khusus buat Ibu, supaya Ibu tahu Zemima sangat menghargai Ibu," lanjut Zemima manis.
Siska meneguk ludah, matanya tak bisa lepas dari kemasan kue yang harganya melebihi jatah uang jajan bulanan yang biasa ia minta. Sementara Rika menyiku lengan Siska dengan wajah pucat.
"Empat... empat juta cuma buat kue?" gumam Siska tanpa sadar.
"Iya, Siska. Harga tak masalah, yang penting ibu suka," potong Zemima santai seraya duduk di sofa tunggal dengan posisi kaki bersilang yang sangat anggun.
Ia lalu melirik lembut ke arah Dina yang tampak salah tingkah dan berusaha menghindari tatapan matanya.
"Bagaimana kandungannya, Din? Sudah enam bulan, ya? Makanan di rumah ini cocok, kan? Kalau butuh dokter spesialis kandungan terbaik di Jakarta, bilang sama Mbak ya. Mbak bisa atur semua fasilitas rumah sakit untuk kamu."
Dina makin menundukkan kepalanya, memegang perutnya yang buncit dengan jemari bergetar. "Makasih... Mbak..."
Arsyad yang berdiri di samping sofa Zemima merasa pelipisnya kembali dibanjiri keringat dingin. Ia menatap ibunya dengan isyarat mata panik, sementara sang ibu makin serba salah.
Ibu Arsyad berdehem canggung, mencoba menguasai keadaan. "Zemima... kamu kok bisa beli barang-barang sebagus ini? Katanya keuangan kamu dan Arsyad lagi diperketat?"
Zemima tertawa halus, suara tawa yang terdengar bagai sindiran paling berkelas di telinga mereka semua.
"Lho, Ibu lupa?" Zemima memiringkan kepalanya, menatap ibu mertuanya tepat di manik mata.
"Yang diperketat itu kan cuma aliran uang dan gaji Mas Arsyad, Bu."
"Zemima... kamu kok penampilannya beda sekali sore ini?" potong Mbak Rika dengan nada seloroh yang dipaksa ramah, berusaha memecahkan kekakuan.
"Pakai tas mahal, jam tangan berkilau gitu... Kamu menang undian ya, Mim? Atau pinjam punya teman kantor?"
Zemima terkekeh halus, suara kekehannya bagaikan bilah es yang mengiris udara. Ia mengibaskan tangannya santai seraya meletakkan dua hampers kue tebal berlogo emas tebal tepat di tengah meja makan, bersanding dengan sisa-sisa makanan laut mereka.
"Pinjam, Mbak Rika?" Zemima memiringkan kepalanya, menatap Rika dengan binar mata yang jernih.
"Untuk apa saya pinjam? Ini semua barang koleksi pribadi saya kok. Lagipula, sekali-kali tampil dengan identitas saya yang sebenarnya di depan keluarga suami kan tidak ada salahnya."
Bu Rahmi mengerutkan keningnya, merasa martabatnya tersentil. "Identitas sebenarnya bagaimana maksud kamu, Mima? Kamu kan cuma pegawai kantor biasa. Jangan berlebihan begitu, nanti dipikir pamer sama tetangga. Arsyad saja yang kerja keras banting tulang empat bulan di Surabaya penampilannya biasa saja!"
Arsyad makin memucat. "Ibuu... udah, Bu..." bisiknya menahan gejolak.
Zemima justru tersenyum kian menawan. Ia menarik satu kursi kayu, lalu duduk dengan posisi kaki bersilang yang teramat anggun, menatap satu per satu anggota keluarga di hadapannya.