NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Lentera

Gadis Pembawa Lentera

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Cintamanis / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:389
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Time travel seorang gadis yang terpeleset di acara festival lampion kampus.
Karya Fantasi kedua setelah Petualangan Mayanza, semoga berkenan di baca tiap episode nya... 🤍😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merepotkan

Aku benar-benar sulit melangkah berjalan.

"Benar-benar merepotkan" kata Pangeran Fang.

Dia menarikku dari tangan Dayang May.

Mengangkatku keatas kuda.

"Aku akan mengantarnya" kata Pangeran Fang pada Dayang.

Setiba di Kediaman Mentri Keuangan, Dayang menyusul berjalan kaki juga sudah tiba.

"Terima Kasih" kataku pada Pangeran Fang.

Dayang memapahku masuk.

"Putriku, apa yang terjadi..." kata Ibu Xiu Ren.

"Xiu Ren kau nakal sekali, beruntung ayahmu sedang tidak ada dirumah, apa yang kau lakukan" kata Ibu Xiu Ren lagi.

"Aku hanya ingin jalan-jalan keluar bu..." kataku.

"May, apa yang kau lakukan kau tidak mengahalangi Xiu Ren" Kata Ibu Xiu Ren marah pada Dayang May.

"Bu...sudahlah...Dayang May tidak bersalah, aku yang memaksanya" kataku.

"Siapa pemuda yang mengantarmu tadi?" kata Ibu Xiu Ren curiga.

"Pangeran Fang.." kataku.

"Apa? Pangeran Fang? Istana tau kau diantar Pangeran Fang...keinginanmu jadi Permaisuri pasti gagal Xiu Ren" Ibu Xiu Ren menepuk-nepuk dadanya sendiri.

"Tidak apa-apa kalau aku gagal, memang nasibku jadi selir terendah" kataku menunduk melihat kakikiu yang bengkak di usap air hangat oleh Dayang May.

"Putriku jangan sedih...tidak boleh patah semangat, kau harus membuat Pangeran Fang suka padamu dengan begitu pelanggaran tidak akan di perhitungkan" kata Ibu Xiu Ren semangat lagi dengan mata berbinar berharap aku patuh.

"Aku tidak tau caranya menggoda pangeran bu..." jawabku asal-asalan.

Ibu Xiu Ren terkejut dengan jawabanku, matanya berkedip-kedip melihat majahku mendekat.

"Kau tidak perlu menggodanya hanya membuat dia Jatuh Cinta" kata Ibu Xiu Ren.

Kenapa menjadi Xiu Ren sangat berat sekali, dengan latar belakang yang seperti ini mana mungkin Pangeran Fang akan jatuh cinta apalagi di kelilingi wanita cantik.

"Masuklah kekamar, ibu menghukummu tidak boleh keluar seminggu ini. Dayang May, kau bertugas merawatnya sampai sembuh, sekali lagi kalian berbuat ulah akan kulaporkan ke Tuan" kata Ibu Xiu Ren dengan mata melotot.

Dayang May memapahku ke kamar, minggu depan acara menari di Istana karena Ulang Tahun Raja, aku belum latihan apapun gerakannya, aku sudah lupa karena gerakan spontan.

**

"Dayang, karena kau bisa keluar tolong lah aku..." kataku

"Nona, kita sedang di hukum...bagaimanapun aku tidak bisa" kata Dayang May.

Dayang May menolak, kakiku sudah lumayan bisa di gerakan.

Aku memintanya pergi memata-matai Pangeran, apa yang dilakukannya di Taman.

Akhirnya perekerjaanku hanya makan tidur.

**

"Nona, aku dapat kabar dari pengawal, Pangeran Fang ikut berperang, kakinya terluka parah" kata Dayang May.

Aku ingat di dalam cerita Pangeran Fang memang terluka, namun pura-pura lumpuh agar wanita yang di sekelilingnya gagal jadi Permaisuri.

Baiklah...aku bertekad membantu Xiu Ren, pasti kalau Xiu Ren berhasil aku pasti kembali ke duniaku.

Semangat!!!

**

Kakiku sudah lumayan sembuh, jamuan istana sangat meriah.

aku sudah menampilkan sebisaku Tarian Angsa Terbang di perayaan Ulang Tahun Raja.

tepuk tangan meriah, Ang dan Nay tidak bersemangat, Pangeran Fang tidak terlihat di acara, katanya kakinya benar-benar sakit kena panah dan terinjak kuda.

Sungguh sial nasib Pangeran yang tampan, gagah perkasa harus terluka, kisah sedih itu dibicarakan saat jamuan makan.

Mereka meragukan nasib Pangeran Fang menjadi Putra Mahkota.

Sementara Pangeran Hong dari Barat juga hadir tidak kalah tampan,

Kabarnya Pangeran Hong putra Selir kesayangan Raja akan merebut posisi Pangeran Fang sebagai Putra Mahkota.

Sementara tamu undangan sibuk, aku dan dayang melakasanakan rencana yang sudah kami susun bersama Ayah dan Ibu dari Rumah.

"Nona, apa anda yakin melakukan ini?" tanya Dayang May ragu-ragu sambil mengikuti dari belakang.

"Harus yakin...tinggalkan saja aku disini" kataku.

Aku berjalan melangkah mendekati kediaman Pangeran Fang.

Tidak ada seorangpun.

Aku memegang gagang pintu.

Ada sebilah pedang menodongku dari samping, aku gemetaran.

"A...aku tersesat..." kataku, mengangkat tangan berbalik.

Pangeran Fang dengan pedang dan tongkat di tangannya.

"Gadis pembawa lentera, kau lagi!" katanya membentakku.

"Aku tadi berjalan tapi...aku tidak tau arahku kemana" kataku menunduk.

Pangeran Fang tersenyum, menoleh ke Pengawal, pengawal membukakan pintu kediamannya.

Aku melangkah mengikuti.

"Siapa menyuruhmu masuk!" kata Pangeran Fang berbalik melihatku baru melangkahkan satu kaki ke dalam ruangan.

Aku mundur mengeluarkan kaki dari pintu masuk.

Pengawal Pangeran Fang bingung.

"Pergi sana" kata Pangeran Fang lalu meminta menutup pintu dari dalam.

Aku mengeluarkan tinjuku marah, tiba-tiba pintu di buka kembali.

Mendadak aku terkejut, Pangeran Fang duduk di kursi menatapku tajam.

Aku kesal berbalik badan, tapi kakiku juga masih sakit karena dipaksa menari tadi.

Berjalan sambil menyeret kaki melangkah.

Langkah keluar di halangi pengawal.

Aku bingung pergi kemana, mau masuk dilarang di luar malah dihalangi.

"Nona, masuklah Pangeran memanggil nona" kata Pengawal

Aku masuk ke kediaman Pangeran yang sangat hening, pedangnya masih berada di tangan kanannya belum dimasukan ke sarung.

Seolah-olah itu tongkatnya sekarang.

Aku melakukan ini demi menjadi Xiu Ren malah bertingkah konyol mirip seperti Xiu Ren.

"Sebegitu besar usahamu sampai tersesat kemari?" tanya Pangeran menatapku tajam.

"Aku benar-benar tersesat" kataku.

"Hanya orang bodoh tersesat sampai jauh kemari dari keramaian di lapangan istana" kata Pangeran.

Aku cemberut kesal, rencanaku sepertinya sudah di ketahui dengan jelas.

"kenapa kau tidak bilang kalau mau bertamu, melihatku?" tanya Pangeran Fang.

Dalam hati, aku tidak berniat bertamu hanya terpaksa tuntutan kehidupan.

Aku hanya diam.

"Duduk"' perintah Pangeran Fang.

Aku berjalan menuju kursi.

"Siapa yang menyuruhmu duduk di kursi" kata Pangeran Fang

"Hah? dilantai ini?" kataku menunjuk lantai.

Pangeran Fang mengangkat dagu, pikirnya aku konyol penurut seperti Xiu Ren, kalau Xiu Ren pasti dia mau-mau saja direndahkan.

Bagus, sebaiknya Xiu Ren memang jadi selir pikirku.

Aku marah, wajahku terasa kencang perlahan kedua tanganku mengepal.

Aku menatapnya, Pangeran Fang dari tadi juga menatapku dingin.

"Dengar baik-baik, kau akan Jatuh Cinta padaku" kataku lantang menunjuk wajahnya dengan kedua jariku.

Berbalik tidak menoleh lagi percaya diri.

**

Di kediaman Mentri Keuangan.

Berkumpul Aku, Dayang dan Ibu Xiu Ren.

"Nona...kenapa jadi begini" kata Dayang May

Aku baru saja selesai bercerita, Ibu Xiu Ren menepuk-nepuk dadanya sendiri sambil menyentuh saputangan putih nya meletakan di kepala.

"Putriku, apa yang ada dipikiranmu, kau lantang menantang Pangeran Fang....kupikir kau bisa menolong mengobati luka, kenapa malah kau yang bilang dia yang akan jatuh cinta padamu" kata Ibu Xiu Ren,

"Bu, rencana kita tidak berjalan...jangankan mendekat aku malah di todong pedang, bagaimana kalau tadi aku mati. Bukankah dengan begitu yang kita mau, biarkan dia yang menyukaiku, setidaknya dia akan penasaran padaku" kataku sambil menyentuh tangan Ibu.

Ibu Xiu Ren mulai stress, "Anakku Pangeran Fang di kelilingi wanita cantik, pesonamu tidak lebih baik dari mereka" katanya menggengam kedua tanganku.

Benar-benar tidak ada dukungan, mereka meragukanku.

Aku lemas.

**

Hari ini ujian di Istana, ujian menulis...

Putri Ang yang berpendidikan maju ke depan menulis satu huruf pada kertas, tulisannya bagus dan rapi kuakui dia sangat hebat.

Kedua Putri Nay, tulisannya tidak terlalu rapi, tintanya meleber.

Aku yang terakhir, tulisanku tidak buruk tintanya sempurna, dan berakhir menjadi juara kedua.

"Selamat, kemampuanmu semakin meningkat" Kata Putri Nay di sebelahku.

Aku hanya mengangguk.

Pangeran Fang duduk di kursi rodanya memandangku, mungkin dia mengingat lagi perkataanku malam itu, tapi aku buang muka tidak perduli.

Saatnya nanti pasti aku yang kalah.

Dia pasti memilih Putri Ang.

Aku menikmati saja kompetisi ini sekalian belajar budaya, walaupun di tempat ini aku tidak populer malah yang paling di tertawakan.

Xiu Ren kenapa nasibmu seperti ini, kenapa aku tidak datang setidaknya sebagai Putri Nay, kataku melihat puncak pohon yang dihinggapi burung.

Aku menghela nafas panjang, duduk sendirian.

Menunggu waktu kompetisi melukis yang memang bukan bakatku.

Aku menggunakan baju berwarna merah jambu dengan pita renda di ujung rok panjangku.

"Nona, makan dulu..." kata Dayang May, menyerahkan nasi kepal berisi daging kepadaku untuk makan siang.

Putri yang lain makan bekal di sisi taman.

"Nona, apa nona yakin hanya makan ini, apakah aku perlu mengambilkan bekal lagi dari tandu" kata Dayang May.

"Tidak perlu makan begini saja aku sudah kenyang" kataku yang penting pikiranku kalut menggambar apa objeknya apa di taman aku tidak bisa menggambarnya dengan baik.

Aku menggeleng kepala, mulutku penuh, Pangeran Fang duduk di kursi Roda menatapku makan seperti orang kelaparan, padahal aku makan karena emosi.

Aku membersihkan wajah lanjut ke Kompetisi Melukis.

Wajah penuh harap Dayang May.

Kedua sainganku juga mampu melakukannya dengan baik, Putri Ang berbulan-bulan berlatih melukis, sementara Putri Nay juga berbakat melukis.

Aku mengambil tinta warna yang sudah di siapkan, Dayang May sebagai Assisten menuangkan cat warna.

Kami menggambar bebas,

"Ambilkan warna biru", kataku  ku oleskan warna biru sebagai dasar warna pada kertas gambar

Tinta warna hijau muda, aku ambil warna coklat dan hitam.

Aku hanya menggambar satu batang pohon bercabang tanpa daun,

Aku menambahkan coklat muda di bawah pohon seolah itu daun-daun layu yang berguguran, tidak ada ide apapun.

Kupandangi lukiasan Nay pemandangan Pangeran dan Putrii berdiri di jembatan Istana.

Putri Ang menggambar sepasang angsa di danau.

"Nona, kenapa nona menggambar ini?" tanya Dayang May keheranan melihat gambaranku yang belum kering.

Aku hanya diam, dengan wajah dan pakaian yang kotor terciprat noda tinta warna.

Pemenangnya tentu saja Nay di urutan pertama dan Ang di urutan kedua, lukisanku di hargai peringkat ketiga membuat juri terpana karena sangat aneh dan sederhana.

Seharian ujian yang melelahkan, akhirnya bisa pulang, skorku kami bertiga akhirnya berimbang.

Aku sudah masuk ke tandu, ketukan di luar tandu.

"Nona, anda dipanggil ke kediaman Pangeran Fang" kata Pengawal yang mengetuk pintu berbisik pelan.

Aku keluar dari tandu, menatap Dayang May, memintanya menunggu.

Putri Ang yang baru saja mau masuk ke tandu keheranan melihatku pergi di kawal kembali masuk ke Istana.

**

Seperti yang kuduga Pangeran duduk di bawah pohon depan kediamannya.

Aku ditinggalkan berdua, Pangeran Fang duduk di kursi roda memegang gulungan kertas.

"Kau sudah berubah pikiran?" katanya.

"Maksudnya?" tanyaku

Pangeran Fang menggosokan jarinya ke bibirnya sambil tertawa, "Kau bercanda?" katanya.

Aku diam saja melihatnya.

"Semua orang tau kau pandai melukis, kenapa hanya melukis seperti ini" katanya melempar gulungan lukisan ke tubuhku, yang terbuka di tanah itu lukisan pohon keringku.

Aku membungkuk mengambil lukisan yang di sia-siakan itu.

"Lukisanku adalah karya seni" kataku membela diri.

Pangeran Fang menatapku,

"Hanya begitu senimu?" kata Pangeran Fang.

"Apa yang kau harapkan dengan karya seniku?" kataku.

"Sudah dapat di tebak, wanita seperti kalian hanya haus kekuasaan, kau yang pertama melihatku lumpuh malam itu, makanya kau mengalah, karena berfikir aku pasti bukan Putra Mahkota lagi" kata Pangeran Fang menuduhku yang tidak-tidak.

"Dengar yang mulia, hamba mohon ampun seharusnya gambaran itu ditujukan pada Paduka yang berarti paduka sedang terluka bagai pohon kering yang kekuarangan air, jiwa paduka perlu ditolong karena harus diberikan pupuk, dan pikiran paduka sedang kacau bercabang-cabang karena terlalu banyak wanita pilihan" Jawabku dengan lancar.

Pangeran Fang terdiam, ternyata ada Permaisuri Raja berdiri di belakang.

Aku terkejut berbalik memberi hormat, aku gemetar karena lancang.

"Jadi lukisan sederhanamu penuh makna" kata Permaisuri Raja mengambil lukisan sederhana dari tanganku.

Aku terdiam, semua orang melihatku lancang pada Pangeran Fang.

"Baiklah, aku suka lukisanmu" kata Permaisuri Raja, tersenyum padaku.

"Fang, jangan suka marah-marah Xiu Ren akan semakin takut padamu" kata Permaisuri Raja pada Pangeran Fang.

"Kalau tidak ada lagi yang dibicarakan, hamba pamit pulang untuk membersihkan diri" kataku, secara tidak langsung mengatakan kalau tubuhku kotor dan perlu memebrsihkan wajah yang masih kotor karena cat air.

"Pulanglah...hati-hati di perjalanan" kata Permaisuri Raja.

Aku membungkuk, Pangeran Fang menatapku.

Aku berbalik kembali ke arah Tandu yang sudah menunggu.

"Fang...kau lihat, beberapa hari ini Xiu Ren tampak seperti berbeda, dulu dia sangat pemalu" kata Permaisuri Raja pada Pangeran Fang yang sempat kudengar.

**

"Xiu Ren...bagaimana kau bisa kalah dengan bakat terbaikmu di negeri ini" kata Ayah Xiu Ren.

"Ayah...aku sudah berusaha.." kataku

"Ayah tidak percaya mendengar berita ini, hati ayah hancur" kata Ayah Xiu Ren menepuk dadanya.

'Bagaimana lagi, aku kalah...mereka memang tidak tau seni" Kataku.

"Sudahlah...kau istirahat saja dulu" kata Ayah Xiu Ren.

"Ayah jangan khawatir, seorang Permasuri tidak perlu pintar melukis dia hanya perlu pintar mengurus Rumah Tangga" Kataku.

"Apa kau bilang Putriku?" kata Ayah Xiu Ren dengan ekspresi terkejut.

"Seorang Permasuri tidak perlu pintar melukis dia hanya perlu pintar mengurus Rumah Tangga" Kataku lagi.

Ayah Xiu Ren berlari memelukku, "Anakku kau pintar sekali, ayah sampai gemetar mendengar perkataanmu ini" kata Ayah Xiu Ren terharu.

"Benar bukan, apa aku bilang Xiu Ren sudah menjadi anak yang pintar" kata Ibu Xiu Ren.

"Cepat istirahat saja apapun hasilnya nanti kau sudah mencoba" kata Ayah Xiu Ren yang tidak berharap lagi aku menjadi pemenang.

Aku tau pasti  gadis lain pun berusaha mengalah karena rumor di istana, Pangeran Fang akan lumpuh total.

***

Bersambung...

1
Novita Tory
Sampai saat ini berharap happy ending
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!