Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Drama Ngidam Sang Istri dan Suami Siaga Sejagat Raya
Kabar kehamilan tiga kembar itu mengubah seluruh suasana di kediaman megah Argantha. Segala sesuatu kini harus berputar mengelilingi Grey, sang ibu muda yang kini menjadi sosok paling mulia, paling dijaga, dan paling berharga di seluruh dunia bagi Davian. Namun, kebahagiaan itu tak lepas dari tantangan unik yang membuat seluruh penghuni rumah, mulai dari para pelayan, koki, hingga sang tuan besar sendiri, harus bekerja ekstra keras dan sering kali dibuat bingung bercampur panik.
Semakin besar kandungannya, semakin unik dan tak terduga keinginan Grey. Hormatnya, drama ngidam yang luar biasa hebohnya pun dimulai.
Pagi itu, matahari baru saja terbit, namun Davian sudah terjaga sejak lama, duduk di sisi tempat tidur sambil mengusap lembut perut buncit istrinya yang kini mulai terlihat jelas membesar karena menampung tiga nyawa di dalamnya. Davian menatap perut itu dengan tatapan takjub, seolah setiap detik dia tidak percaya bahwa keajaiban sebesar itu tumbuh dari cinta mereka.
Tiba-tiba, Grey mengerutkan kening, bibirnya mengerucut ke depan, matanya berkaca-kaca seolah akan menangis sebentar lagi. Dia memegangi perutnya, lalu menatap suaminya dengan pandangan memelas yang sulit ditolak oleh siapa pun, apalagi oleh Davian yang rela berikan nyawanya saja.
"Davian…" panggilnya lirih, suaranya manja dan penuh tuntutan.
Dian langsung membungkuk cemas, tangannya mengusap pipi istrinya dengan panik. "Ada apa, Sayang? Sakit di mana? Apakah mereka menendangmu terlalu keras? Bilang saja, aku akan hukum mereka berhenti menendang ibunya."
Grey menggeleng pelan, lalu bibirnya semakin manyun, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku ingin makan… mangga muda… tapi yang benar-benar muda, yang rasanya sangat asam sampai membuat gigi ngilu… tapi harus dicocol sama sambal terasi yang pedas sekali… dan… dan harus dibawa dari pasar pinggir jalan di kota tua itu… yang cuma ada jam 3 pagi…"
Davian terdiam sejenak, menghitung lokasi dan waktu dalam kepalanya. Kota tua berjarak hampir satu jam perjalanan, dan untuk mendapatkan mangga muda terbaik di sana harus berdesak-desakan di pasar yang kotor dan ramai. Tapi melihat air mata yang mulai jatuh dari mata indah itu, melihat wajah istrinya yang terlihat sangat menderita jika keinginan itu tidak terpenuhi, Davian tidak berpikir dua kali.
Dia langsung mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang, lalu berdiri tegap, wajahnya berubah menjadi wajah serius sang komandan perang yang siap berangkat tugas.
"Siap, Nyonya. Tunggu di sini, jangan kemana-mana. Aku akan ambilkan sekarang juga. Kalau perlu aku beli satu truk penuh biar kau puas makan seharian."
Davian bergegas keluar kamar, berteriak memanggil para pengawal dan sopirnya. "Siapkan mobil! Sekarang juga! Ke pasar kota tua, cari mangga muda paling asam dan sambal terasi paling pedas! Kalau tidak dapat, kalian tidak perlu pulang!"
Para pelayan yang mendengarnya hanya bisa saling pandang sambil menahan tawa. Tuan Argantha yang biasa ditakuti seluruh dunia, yang bisa membuat pengusaha besar gemetar hanya dengan satu tatapan, kini harus berlarian ke pasar tradisional demi sepiring mangga muda.
Satu setengah jam kemudian, Davian kembali masuk ke kamar dengan wajah sedikit berkeringat, baju jas mahalnya sedikit kusut, tapi tangannya memegang dua kantong plastik rapi berisi apa yang diinginkan istrinya. Wajahnya bersinar bangga seolah dia baru saja memenangkan pertempuran terbesar dalam hidupnya.
"Ini dia, Sayang! Lihat, aku dapat yang paling muda. Aku sudah cicip sedikit, rasanya sangat asam sampai mataku hampir keluar. Pas sekali kan?" Davian menyuapkan sepotong mangga yang sudah dikupas bersih ke mulut Grey.
Grey yang tadinya wajahnya sedih dan merengut, seketika berubah cerah seolah ada pelangi muncul di wajahnya. Dia mengunyah dengan nikmat, matanya terpejam penuh kepuasan. Tapi kebahagiaan itu hanya berlangsung sepuluh detik. Begitu habis mengunyah potongan pertama, wajah Grey kembali berubah masam, dia membuang muka dan mendorong tangan Davian menjauh.
"Eh… kok rasanya aneh? Tidak enak! Bukan ini yang aku mau! Aku jadi mual lagi…" seru Grey sambil memeluk bantal, kembali bersiap menangis.
Davian tertegun, menatap potongan mangga di tangannya dengan bingung dan sedih. Dia sudah susah payah pergi jauh, berdesak-desakan, dan ini hasilnya? Namun dia tidak marah sedikit pun. Dia langsung duduk kembali di tepi kasur, memeluk bahu istrinya dengan panik dan rasa bersalah.
"Maafkan aku, Sayang… maafkan aku… aku salah pilih ya? Maaf ya… jangan menangis… nanti bayinya ikut sedih. Kalau bukan ini, kamu mau apa? Bilang saja, apa pun akan aku ambilkan lagi. Mau ke ujung dunia pun aku pergi."
Grey mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata, menatap suaminya dengan pandangan polos namun menuntut.
"Aku mau… es krim rasa durian campur cokelat, ditaburi acar timun, dan harusnya dibeli di toko kecil dekat pelabuhan itu… yang cuma buka kalau ada kapal masuk…"
Davian menghela napas panjang, lalu tersenyum pasrah namun penuh cinta. Dia mencium kening istrinya lagi. "Siap, Nyonya Perintah. Sekali lagi aku berangkat. Tunggu sebentar ya, aku pastikan yang kali ini benar-benar pas selera Ratu hatiku."
Dan begitulah drama itu berulang setiap hari, bahkan setiap jam. Kadang Grey tiba-tiba ingin makan bubur ayam yang harus diaduk duluan oleh Davian tepat 10 kali putaran ke kanan, tidak boleh kurang tidak boleh lebih. Kadang dia ingin minum air kelapa muda yang airnya harus tepat 300 mililiter, tidak boleh lebih sedikit pun. Ada juga saat-saat di tengah malam buta, jam dua pagi, Grey tiba-tiba menendang kaki suaminya yang sedang tidur nyenyak.
"Davian… bangun… Davian… aku mau makan bakso yang kuahnya harus sangat panas, tapi dagingnya harus dingin… dan kuahnya harus berwarna merah tapi rasanya manis…"
Tanpa protes sedikit pun, Davian langsung bangkit dari tidurnya, matanya masih berat tapi wajahnya penuh kesiapan mutlak. Dia tidak pernah sekalipun mengeluh, tidak pernah merasa berat hati. Baginya, melihat istrinya tersenyum dan makan dengan lahap adalah hadiah terindah yang melebihi apa pun.
Para koki di rumah itu sampai bingung setengah mati. Resep-resep aneh Grey membuat mereka harus berkonsultasi dengan koki-koki terbaik dari luar negeri demi memenuhi keinginan nyonya muda. Ada kalanya Grey ingin nasi goreng yang rasanya harus seperti rujak buah, atau roti bakar yang harus terasa seperti ikan asin.
Suatu sore, keinginan Grey mencapai puncaknya yang paling sulit dan konyol. Saat itu Grey sedang duduk santai di kursi goyang di taman, ditemani Davian yang sibuk mengipasi istrinya dan mengusap kakinya yang sedikit bengkak. Tiba-tiba Grey menunjuk ke langit-langit, ke arah burung-burung kecil yang terbang melintas.
"Davian… aku ingin daging burung pipit itu… yang terbang di sana… aku ingin dimasak sup bening, tapi rasanya harus manis asam pedas… dan dagingnya harus empuk sekali sampai lumer di mulut…"
Para pelayan yang mendengar di belakang hampir tersedak ludah sendiri. Burung pipit itu kecil, terbang cepat, dan jumlahnya sedikit. Tapi Davian, dengan wajah paling serius dan tekad baja, langsung menoleh ke arah kepala pengawal.
"Dengar perintah Nyonya? Tangkap burung pipit itu. Cari sebanyak yang dibutuhkan. Siapkan koki terbaik untuk masak sesuai selera beliau. Kalau perlu cari ahli menangkap burung dari luar negeri sekarang juga. Kejar sampai dapat!"
Grey yang melihat keseriusan suaminya itu akhirnya tertawa terbahak-bahak. Tawa renungnya menggema di taman. Dia langsung menarik tangan suaminya agar duduk kembali di sampingnya, lalu memeluk lengan kekar itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Aduh, suamiku yang polos… aku cuma bercanda, Davian. Mana mungkin aku makan burung pipit kasihan sekali. Aku cuma mau lihat kamu panik saja. Kamu serius sekali ya?"
Davian menghela napas lega sambil menggeleng-gelengkan kepala, lalu dia mencubit hidung mancung istrinya pelan namun penuh kasih sayang. "Kamu ini ya… bisa membuatku hampir menyuruh pasukan menembak langit. Kamu tahu kan, kalau kamu minta bintang di langit pun, aku akan siapkan tangga untuk memanjatnya? Bagiku, keinginanmu adalah hukum yang paling mutlak."
Grey tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, memegang perut besarnya dengan lembut. "Aku tahu, Makasih ya… kamu suami terbaik sedunia. Padahal aku suka rewel, suka aneh-aneh, dan kalau tidak dituruti aku nangis-nangis. Kamu tidak pernah marah sedikit pun ya?"
Davian mencium puncak kepala istrinya, matanya menatap penuh cinta dan kagum pada perut yang membesar itu. Dia mengusap perut itu lembut, merasakan gerakan-gerakan kecil dari ketiga anak mereka di dalam sana.
"Marah? Kenapa aku harus marah, Sayang? Kamu sedang berjuang hebat di sini. Kamu menanggung beban tiga nyawa sekaligus demi kita. Kamu yang berhak merasa lelah, kamu yang berhak merasa susah, kamu yang berhak menuntut apa saja. Ngidammu itu bukan sekadar keinginanmu, itu adalah keinginan anak-anak kita juga. Setiap kali aku memenuhi keinginanmu, rasanya aku merasa sudah ikut berjuang sedikit saja bersamamu. Aku senang bisa membuatmu tersenyum, Grey. Tidak ada hal yang lebih indah di dunia ini selain melihatmu bahagia dan sehat."
Grey menatap suaminya dengan mata berbinar-binar penuh cinta. "Kamu tahu tidak? Teman-temanku dulu bilang kalau hamil itu berat, suami banyak yang tidak sabaran. Tapi aku… aku rasanya jadi ratu dunia. Kamu menuruti semua kemauanku, bahkan yang paling aneh sekalipun. Kamu lari ke sana ke sini demi makanan yang kadang cuma aku makan satu suap lalu buang lagi."
Davian tertawa pelan, suara beratnya terdengar hangat dan menenangkan. "Satu suap pun cukup. Asal itu membuatmu senang, asal itu membuat anak-anak kita bahagia, aku akan lari keliling dunia lagi dan lagi. Dan jujur saja… aku suka melihat kamu manja begini. Aku suka merasa dibutuhkan olehmu. Dulu aku berpikir hidupku hanya untuk berkuasa dan balas dendam. Tapi sekarang? Hidupku hanya untuk memenuhi setiap keinginan kecilmu dan menjaga kebahagiaanmu."
Dia memegang perut istrinya dengan kedua tangannya yang besar dan hangat, membungkus perut itu sepenuhnya seolah melindungi mereka berempat sekaligus.
"Dan jangan khawatir, Sayang. Mau seberapa aneh pun keinginanmu ke depannya, mau seberapa rewel pun kamu nanti, aku akan tetap sama. Aku akan tetap jadi suami siaga 24 jam, koki pribadi, pengawal setia, pelayan utama, dan ayah paling gila. Aku sudah berjanji pada diri sendiri: apa pun yang membuatmu senang, akan aku usahakan. Apa pun yang membuatmu sedih, akan aku hilangkan. Kamu dan anak-anak adalah segalanya bagiku."
Sore itu, di taman yang indah itu, Grey merasa dirinya adalah wanita paling bahagia yang pernah ada. Meski tubuhnya berat, meski sering merasa mual dan tidak nyaman, tapi kehadiran Davian yang begitu sabar, begitu perhatian, dan begitu rela berkorban membuat segala rasa sakit itu hilang tak berbekas.
Dan Davian? Dia justru merasa bersyukur dengan drama ngidam istrinya. Baginya, setiap kali dia berlari mencari makanan, setiap kali dia menuruti keinginan aneh Grey, itu adalah momen berharga yang mengingatkannya betapa besar keajaiban yang sedang terjadi dalam hidup mereka. Masa lalu yang pahit dan kelam itu benar-benar sudah hilang, digantikan oleh kebahagiaan sederhana namun begitu besar: mengurus istri hamil yang rewel tapi dicintai seumur hidup.
Drama ngidam itu terus berlanjut sampai hari-hari menjelang persalinan, dan Davian tetap menjadi juara nomor satu dalam meladeni segala keinginan sang istri tercinta, dengan senyum lebar dan hati yang penuh bangga. Karena baginya, setiap tetes keringat yang jatuh demi Grey adalah tanda bukti cinta abadi yang tak terhingga nilainya.
(Lanjut ke Bab 19)