Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Untuk Alya
Dewa berlari menerobos hujan sambil menggendong Alya angin malam bertiup kencang menggerakkan daun-daun pepohonan di sekitar halaman kost, pundak Dewa basah terkena air hujan tapi baginya tak mengapa, sementara Alya sedikit menutup matanya sambil memeluk lengan baju Dewa.
"Al jangan tutup mata sebentar lagi kita sampai," ucapnya padahal ia baru saja sampai di di depan mobil lalu mulai membawa tubuh Alya masuk ke dalamnya.
Mobil melaju kencang membela jalanan yang sudah digenangi air hujan, selama di perjalanan tatapan Dewa lebih fokus ke kursi penumpang. Tangan kirinya sesekali memegang pipi Alya hanya untuk memastikan wanita di sampingnya itu baik-baik saja.
"Bertahan ya Al," pinta Dewa, baru kali ini ia merasa cemas yang begitu berlebihan.
"Mas perutku sakit," ujar Alya sambil meringis menahan rasa sakitnya itu.
"Iya sebentar lagi nyampek," ucap Dewa.
Mobil terus melaju hingga pada akhirnya sampai di sebuah rumah sakit yang pernah Alya datangi bersama Emil beberapa hari yang lalu.
Begitu mobil berhenti Dewa langsung turun dan menggendong Alya kembali, hujan masih rintik-rintik namun pria itu tetap membawa tubuh Alya di bawah guyuran hujan.
"Dokter .... Suster ....!" teriak Dewa.
Tidak lama kemudian terdengar langkah cepat beberapa perawat menghampiri keduanya lalu disusul perawat berikutnya yang mendorong brankar.
"Pasien darurat," ucap salah satu perawat lalu perawat yang lain dengan sigap membantu dewa membaringkan tubuh Alya diatas brankar.
Dewa masih terus menggenggam tangan Alya saat tubuh wanita itu di dorong dan masuk ke ruang IGD. Bahkan saat dokter mulai memeriksa tubuh Alya pria itu tak sejengkal pun meninggalkannya.
Ia sadar betul jika dirinya bukan siapa-siapa bagi wanita itu, namun entah kenapa hatinya sulit untuk meninggalkan.
Sementara itu dokter sudah selesai memeriksa Alya entah penanganan apa yang dilakukan dokter itu sehingga membuat Alya sedikit tenang dari sebelumnya dan hal itu membuat Dewa sedikit merasa lega meskipun tidak sepenuhnya.
"Dokter gimana keadaan Alya dan kandungannya?" tanya Dewa cemas.
Dokter sedikit menghempaskan napas pelan. "Syukurlah tidak terjadi apa-apa pada kandungannya. Ibu Alya mengalami keram di bagian perut bawahnya dan kondisi seperti ini harus benar-benar diperhatikan, jika tidak ingin kejadian hal yang tidak diinginkan," ujar dokter wanita itu.
"Terus langkah berikutnya?" tanya Dewa kembali.
"Ibu Alya harus istirahat total, tidak boleh mengerjakan sesuatu meskipun itu pekerjaan kecil," jelasnya.
Dewa mengangguk paham, apa yang diucap dokter tadi memang benar adanya karena Alya masih aktif melakukan aktivitas di tengah-tengah kandungannya yang rawan akan keguguran.
Namun dibalik itu semua ada rasa takut yang menyeruak di dalam hatinya. Untuk pertama kalinya ia takut kehilangan, bukan hanya pada janinnya saja tapi pada Alya juga.
Beberapa menit kemudian. Setelah pemeriksaan itu kondisi Alya sudah membaik, sebenarnya dokter menyarankan untuk rawat inap akan tetapi Alya menolaknya karena merasa sudah mendengan terlebih lagi biaya yang tinggi membuatnya sungkan apalagi harus menerima bantuan terus menerus dari seseorang.
"Bu, saya sarankan jaga kandungannya baik-baik, ya minimal di trimester awal seperti ini Ibu harus bed rest dulu," ucap dokter itu ramah.
Alya tertegun, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, sakit yang barusan dialaminya sudah cukup membuatnya sadar jika keselamatan janinnya kali ini harus dipikirkan matang-matang, namun di sisi lain ia juga butuh biaya untuk kehidupan sehari-hari.
'Ya Allah jika aku harus istirahat total, dari mana aku bisa mendapatkan penghasilan,' gumamnya dalam hati.
"Iya Dok," sahutnya Alya sedikit ragu.
Sementara Dewa yang duduk di samping Alya merasakan betul bagaimana kekhawatiran Alya tentang biaya hidup yang mungkin saat ini tengah membebani hatinya.
Dokter pun mulai menulis resep obat yang harus ditebus. Kemudian menyodorkan itu dihadapan Alya, namun dengan cepat tangan Dewa menanggapinya.
"Biar saya saja Dok," sela Dewa.
Seketika Alya terkejut, ini untuk yang kesekian kalinya pria itu menolongnya. "Jangan Mas biar aku saja," pintanya.
Dewa menggelengkan kepalanya cepat. "Sudah nurut saja, uangmu simpan saja," tegas Dewa.
Karena tidak mau terjadi keributan di hadapan dokter kandungan tersebut, akhirnya Alya memilih untuk diam, sementara itu dokter yang menyaksikan kejadian ini hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Dewa keluar dari ruangan IGD, sambil mendorong Alya yang duduk di kursi roda. Wanita itu sedikit mendengus karena sebenarnya sungkan terlalu menerima banyak bantuan dari pria itu.
Apalagi saat di loket pembayaran tadi ia tahu betul berapa biaya sekali periksa di rumah sakit ini. Dan pria itu tanpa paksaan dari siapin mau membiayai dirinya.
"Mas, kenapa kamu lakukan ini?" tanya Alya saat melewati lorong rumah sakit.
Dewa tidak menjawab ia masih saja mendorong tubuh Alya, namun saat mereka berhenti di pintu rumah sakit suara Dewa memecah kesunyian. "Aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Jadi tolong jangan pernah tanyakan kenapa atau mengapa."
"Tapi aku butuh alasan Mas," sahut Alya.
Dewa akhirnya terdiam. Malam ini hujan mulai reda, ia pun mulai mengangkat tubuh Alya dasi kursi roda membawanya ke parkiran. Wanita itu sempet memberontak tapi tidak ia hiraukan, ia terus menggendongnya hingga sampai ke dalam mobil.
"Sudah jangan banyak protes mulai sekarang kau nurut saja apa yang diucapkan dokter," ucapnya lalu menutup pintu mobil.
Mobil kembali melaju ke arah pulang, di tengah perjalanan Alya hanya terdiam sesekali menatap wajah pria dingin dihadapannya itu. Ada rasa kesal namun di sisi lain ia merasa senang.
Refleks Alya mengelus perutnya. "Malam ini Om Jutek nolongin kita lagi Nak."
Beberapa menit kemudian mobil terus melaju membela jalanan kota yang sepi, namun kali ini Alya sedikit tercengang karena arah yang diambil pria itu bukanlah arah pulang.
"Mas kita mau kemana?" tanya Alya sedikit khawatir.
"Sudah diam saja, aku gak bakal ngapa-ngapain," sahut Dewa datar.
Seketika mobil mengarah masuk ke sebuah perumahan Elit di kota ini. Alya tersentak kaget entah apa yang akan dilakukan pria ini nanti.
"Mas ini rumah siapa?" tanya Alya saat mobil sudah berhenti di depan rumah megah itu.
"Turun dulu!" perintah Dewa.
Alya pun turun saat pria itu mulai membukakan pintu mobilnya, bahkan sampai detik ini Dewa tidak mengijinkannya untuk berjalan kaki.
Pria itu menggendongnya tanpa permisi, tidak lama kemudian seorang pria paruh baya membukan pintu dengan senyum yang ramah.
"Monggo Tuan," ujarnya.
Sementara Dewa hanya menganggu dan masuk, sedangkan Alya masih merasa bingung.
"Mas kenapa aku di bawa kesini kenapa tidak di kost," protesnya.
"Mulai malam ini, tempatmu dan calon anakmu ada di sini?"
"Tapi ..."
"Sudah Diam!"
Begitu sampai di dalam rumah seorang wanita paruh baya mendorong kursi roda lalu berhenti di depan Dewa. Barulah pria itu mendudukkan tubuh Alya diatas kursi roda.
"Mas aku masih bisa berjalan," tolak Alya.
"Aku tahu, tapi kata dokter tadi kamu harus istirahat total, dan aku gak mau kejadian tadi terulang lagi," tegas Dewa, dibalik tatapan tajam itu entah kenapa Alya merasakan ada kekhawatiran di dalamnya.
Seketika Alya menarik lengan Dewa saat pria itu hendak pergi. Sementara Dewa langsung berbalik badan dan menatap wajah sendu itu.
"Makasih sudah menolong aku dan anakku," ucap Alya.
Dewa hanya terdiam namun beberapa detik kemudian tangannya terangkat mengelus pipi Alya sebentar, ya hanya sebentar.
"Sudah malam istirahat dulu," ucapnya lalu melirik ke arah wanita paruh baya itu.
Wanita itu mengangguk patuh lalu mendorong tubuh Alya masuk ke dalam kamar.
Sementara Dewa masih berdiri dan menatap punggung wanita paruh baya itu membawa tubuh Alya masuk ke dalam kamarnya. Sudut bibirnya terangkat tipis. Ternyata setelah sekian tahun pintu hatinya mulai terketuk kembali oleh seorang wanita yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
"Mulai malam ini, aku tidak akan membiarkan dia menghadapi semuanya sendirian lagi," gumamnya pelan.
Bersambung .....