"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PETI MATI UNTUK TAMU TAK DIUNDANG
Gerbang utama Sekte Pedang Langit hari ini tampak seperti medan perang yang menunggu percikan api. Ratusan murid luar berdesakan, sementara beberapa murid inti yang baru saja kembali dari meditasi—termasuk Long Chen yang terkenal dengan aura pedang apinya—berdiri di barisan depan dengan tangan terlipat. Di hadapan mereka, rombongan Keluarga Li berdiri dengan angkuh. Sebuah peti mati kayu hitam tergeletak di tanah, menjadi simbol tuntutan darah yang tak bisa ditawar.
"Tetua Mo! Kesabaranku ada batasnya!" Li Cang, kepala pengawal Keluarga Li, menggeram. Auranya di Ranah Pondasi Dasar menekan udara hingga membuat murid-murid di sekitarnya sulit bernapas. "Serahkan pelayan bernama Han Feng itu sekarang, atau peti ini akan diisi oleh sepuluh pelayan sekte kalian sebagai gantinya!"
Tetua Mo berkeringat dingin. Di satu sisi, menyerahkan pelayan adalah hal mudah, namun di sisi lain, kejadian di panggung turnamen kemarin membuat Han Feng menjadi perhatian banyak orang.
"Aku di sini. Tidak perlu berteriak seperti anjing kelaparan."
Suara itu tenang, hampir malas. Han Feng berjalan keluar dari kerumunan murid. Ia masih mengenakan jubah abu-abu pelayannya yang kusam, tangan kirinya memegang sisa buah persik, sementara tangan kanannya santai di saku. Penampilannya yang sangat biasa membuat Li Cang merasa terhina.
"Kau... sampah kecil ini yang melukai tuan muda kami?" Li Cang menunjuk dengan jari yang gemetar karena amarah.
Han Feng menghentikan langkahnya tepat lima meter di depan peti mati itu. Ia menggigit potongan terakhir persiknya, lalu membuang bijinya tepat ke dalam peti mati yang terbuka sedikit. "Peti ini untukku? Maaf, ukurannya terlalu kecil. Tapi sepertinya pas untukmu jika kau menekuk kakimu sedikit."
"MATI KAU!"
Li Cang meledak. Ia melesat maju, telapak tangannya memancarkan cahaya abu-abu kecokelatan. Teknik "Telapak Penghancur Karang". Serangan ini mampu menghancurkan dinding batu setebal satu meter dalam sekali pukul. Udara di sekitar kepalan tangannya bergetar hebat.
Han Feng menatap serangan itu tanpa berkedip. Di matanya, aliran Qi Li Cang sangat berantakan dan penuh dengan celah. Namun, Han Feng tidak berniat membunuh. Ia telah memutuskan sesuatu. Baginya, Sekte Pedang Langit sudah tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan lagi. Tempat ini adalah penjara bagi potensinya, dan ia butuh alasan yang "masuk akal" untuk pergi tanpa dikejar sebagai pengkhianat.
Saat telapak tangan Li Cang hampir mengenai dadanya, Han Feng menggunakan Langkah Kosong Ilahi. Tubuhnya bergeser seperti hantu, namun ia sengaja membiarkan sisa energi Li Cang menyerempet bahunya.
BUM!
Han Feng sengaja mengalirkan energinya sendiri ke arah berlawanan, menciptakan ledakan internal buatan yang membuat jubah bahunya robek dan ia terpental beberapa langkah hingga memuntahkan sedikit darah.
"Han Feng!" Su Yan, yang menonton dari kejauhan, tanpa sadar berteriak kecil. Jantungnya berdenyut kencang melihat Han Feng terluka.
Namun, di tengah "luka" itu, Han Feng melakukan serangan balik yang sangat efisien. Saat ia tersungkur melewati Li Cang, dua jarinya mematuk titik syaraf di lengan kanan pria itu.
Crak!
Tekanan Qi emas yang sangat padat disalurkan Han Feng ke dalam nadi Li Cang. Detik berikutnya, lengan Li Cang meledak dari dalam, pembuluh darahnya pecah seketika. Li Cang melolong kesakitan dan terjatuh tepat di samping peti matinya.
Keheningan mengerikan menyelimuti gerbang. Seorang pelayan baru saja melumpuhkan seorang ahli Pondasi Dasar dalam sekali kontak.
..........
Di atas langit, sebuah kereta terbang mewah dengan lambang Sekte Langit Abadi meluncur pelan. Seorang wanita tua dengan mata yang tajam seperti elang menatap ke bawah. Ia tidak melihat ke arah jenius seperti Long Chen, melainkan terpaku pada Han Feng yang sedang mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
"Efisiensi yang mengerikan... dia menyembunyikan kekuatannya," bisik sang Utusan.
Han Feng berdiri dengan tenang. Ia menatap Li Cang yang mengerang kesakitan, lalu menendang peti mati itu hingga tertutup rapat. "Sudah kubilang, peti ini pas untukmu."
Tetua Mo, yang merasa otoritasnya terancam dan takut akan balasan Keluarga Li yang lebih besar, tiba-tiba melangkah maju. "Han Feng! Kau telah bertindak terlalu jauh dan mencoreng nama sekte dengan kekerasan ini! Kau harus ditahan!"
Tetua Mo mengangkat tangannya, bersiap menyerang Han Feng dari belakang.
"Cukup."
Han Feng tidak menoleh, namun aura di sekelilingnya mendadak menjadi sangat berat. Tanah di bawah kaki Tetua Mo retak menjadi pola jaring laba-laba. Tetua Mo membeku, tangannya tertahan di udara oleh rasa takut yang murni.
"Tetua Mo, aku tidak punya dendam padamu atau sekte ini," ucap Han Feng dengan suara yang sangat tenang. "Dulu aku dihina dan disakiti karena aku lemah. Itu adalah hukum alam, dan aku menerimanya. Sekarang aku punya kemampuan, tapi aku tidak ingin memperpanjang masalah tak berguna ini."
Han Feng berbalik, menatap seluruh orang yang ada di sana dengan tatapan yang sangat asing—bukan tatapan seorang pelayan, tapi tatapan seorang penguasa yang bosan.
Ia melirik ke arah Su Yan. Wanita itu berdiri mematung, wajahnya pucat. Untuk pertama kalinya, Su Yan melihat Han Feng bukan sebagai "teka-teki", melainkan sebagai sosok yang benar-benar jauh di atas jangkauannya.
"Kakak Senior Su," Han Feng mengangguk tipis. "Terima kasih untuk koin peraknya. Setidaknya itu bisa kubelikan arak di luar sana."
"Kau... kau mau ke mana?" Su Yan bertanya, suaranya bergetar.
"Duniaku bukan di sini. Aku akan membereskan barang-barangkau yang sedikit itu, lalu aku pergi. Jangan cari aku, karena kalian tidak akan bisa menemukanku kecuali aku yang menginginkannya."
Han Feng berjalan pergi menuju barak pelayan dengan langkah santai, meninggalkan kerumunan yang masih terpaku.
Su Yan memperhatikan punggung Han Feng yang makin menjauh. Tiba-tiba, dadanya terasa sangat sesak, seolah-olah oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Ada rasa kehilangan yang aneh, rasa sakit yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
"Mengapa aku merasa seperti ini?" batin Su Yan. Tangannya meremas jubah putihnya tepat di bagian jantung.
Ia adalah Dewi Salju yang tak tersentuh, namun saat ini ia merasa seperti seorang gadis kecil yang tertinggal di stasiun kereta yang sepi. Kemarin ia menawarkan perlindungan, hari ini ia sadar bahwa dialah yang sebenarnya butuh perlindungan dari pandangan dunia yang sempit jika dibandingkan dengan Han Feng.
Beberapa jam kemudian, barak pelayan kosong. Kamar Han Feng bersih tanpa ada satu pun helai pakaian tertinggal. Hanya ada satu hal yang ia tinggalkan di atas meja kayu yang rapuh: koin perak dari Su Yan, diletakkan tepat di tengah meja.
Han Feng telah pergi. Tanpa dendam, tanpa amarah, hanya sebuah kebebasan murni. Di luar gerbang sekte, ia menatap langit yang luas.
"Sekte Langit Abadi... para jenius baru... dunia ini sangat luas," gumam Han Feng sambil berjalan menuju matahari terbenam. "Mari kita lihat seberapa jauh naga ini bisa terbang."
Wasit, Tetua, jenius, dan si Dewi Salju kini hanyalah debu di belakang langkahnya. Babak baru dalam hidup Han Feng baru saja dimulai, dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun berdiri di depannya.
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏