NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di dinding es

Fajar akhirnya menyingsing di ufuk timur, menembus celah gorden beledu ruang kerja Axel yang tebal. Cahaya abu-abu yang redup perlahan menggantikan temaram lampu meja kuningan. Bunyi ketukan tuas mesin ketikku perlahan melambat, hingga akhirnya benar-benar berhenti pada lembar laporan ketujuh belas.

Seluruh tubuhku terasa kaku dan mati rasa. Jari-jariku bergetar hebat setelah menekan tombol-tombol logam keras itu selama berjam-jam tanpa henti, dan pergelangan tangan kananku kembali berdenyut linu. Namun, semua rasa lelah itu mendadak menguap tergantikan oleh ketegangan saat mendengar suara derit kursi kerja di belakangku.

Axel bangkit berdiri. Langkah kakinya yang konstan mendekat ke arah sudut meja ketikku.

Aku menundukkan kepala, menatap lembar kertas terakhir yang masih terpasang di mesin ketik, bersiap menerima penilaian akhir dari sang pemilik mansion atas hasil pendisiplinan semalam. Axel mengulurkan tangannya yang besar, menarik lembar-lembar kertas hasil ketikanku dari atas meja dengan gerakan lambat.

Dia membalik halaman demi halaman di bawah temaram cahaya fajar. Suara gesekan kertas terasa begitu menyiksa di keheningan pagi yang sunyi.

"Formatnya rapi. Analisis datanya tidak bercelah," ucap Axel datar setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian. Dia meletakkan kembali tumpukan kertas itu di samping mesin ketik. "Kau membuktikan bahwa kau bisa fokus jika berada di bawah pengawasan yang tepat, Aira."

"Terima kasih, Tuan Axel," kataku, suara serak karena tidak meminum seteguk air pun sejak semalam.

Axel tidak langsung kembali ke mejanya. Dia berdiri tepat di samping kursiku, menatapku yang masih terduduk lemas dengan kepala tertunduk.

Pandangannya turun, memperhatikan pergelangan tangan kananku yang kini tampak memerah dan sedikit bengkak akibat dipaksa bekerja semalaman.

Sebuah ekspresi samar, riak tipis yang sangat jarang terjadi, melintas di balik mata hitamnya yang biasanya mati dan kosong.

Axel menghela napas pendek, hampir tak terdengar. Dia merogoh saku celana bahan hitamnya, mengeluarkan sebungkus salep kecil yang sama dengan yang diberikan Pak Bara kemarin lusa salep khusus dari formula pribadinya.

Prak.

Dia menjatuhkan bungkus salep itu tepat di atas tumpukan kertas ketikanku.

"Pakai itu sebelum kau membersihkan diri," perintahnya, suaranya kembali ke nada datar penuh otoritas, seolah ingin menghapus riak tipis yang sempat muncul tadi. "Aku tidak ingin tim administrasi distrik melihat aset milikku berjalan dengan tangan gemetar di kampus nanti siang."

Aku menatap botol salep itu dengan perasaan yang semakin campur aduk. "Baik, Tuan Axel. Saya mengerti."

"Kembalilah ke kamarmu. Pak Bara akan menyiapkan sarapanmu di atas," ucapnya seraya membalikkan tubuh, berjalan kembali menuju meja marmer besarnya tanpa menoleh lagi.

Aku berdiri dengan kaki yang terasa lemas, mengambil salep itu dan mendekapnya bersama lembar laporan yang tersisa. Saat aku melangkah keluar dari ruang kerja yang dingin itu, aku menyadari satu hal di balik kabut pagi di dalam dinding es yang dibangun Axel Reynard untuk mengurungku, perlahan-lahan mulai muncul retakan-retakan kecil yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. Dan retakan itulah yang membuat sangkar emas ini terasa semakin membingungkan bagiku.

Aku melangkah keluar dari ruang kerja Axel dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki. Koridor mansion yang panjang dan sepi menyambutku dengan keheningan yang dingin. Setiap langkah kaki di atas lantai marmer terasa begitu berat, sementara pergelangan tangan kananku terus berdenyut, memprotes kerja paksa yang baru saja kulalui semalaman penuh.

Di dalam pelukanku, botol salep kecil pemberian Axel terasa agak hangat, kontras dengan udara pagi yang menusuk kulit. Aku terus berjalan menaiki tangga melingkar, menuju kamarku di koridor Barat. Begitu pintu kamar tertutup dan terkunci di belakangku, aku membiarkan tubuhku bersandar pada daun pintu, lalu perlahan merosot hingga terduduk di atas lantai yang dingin.

Aku memejamkan mata rapat-rapat. Rasa lelah yang teramat sangat mulai mengambil alih kesadaranku, namun isi kepalaku justru menolak untuk beristirahat. Otakku terus memutar ulang kejadian beberapa menit yang lalu di dalam ruang kerja pria itu.

Axel Reynard benar-benar sebuah teka-teki yang berbahaya. Dia bisa menghancurkan pekerjaanku, membakar barang pemberian sahabatku tanpa ragu, dan menghukumku dengan tekanan psikologis yang menguras emosi. Namun, di saat yang sama, dia adalah orang yang melempar salep penyembuh ke hadapanku, memastikan bahwa aku tidak benar-benar hancur di bawah kendalinya.

"Apakah semua ini benar-benar hanya karena dia menganggapku sebagai aset yang berharga untuk urusan administrasinya, atau ada motif lain yang tidak mampu kubaca dari balik mata hitamnya?"

Aku menghela napas panjang, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang mulai mengaburkan batasan di antara kami. Aku tidak boleh lengah. Pria itu adalah seorang pemimpin sindikat yang kejam, dan aku hanyalah seorang tawanan yang terikat kontrak mutlak selama enam bulan ke depan. Rasa iba atau rasa ingin tahu yang berlebihan hanya akan menjadi bumerang yang menghancurkanku.

Dengan sisa kekuatan yang ada, aku bangkit berdiri dan melangkah menuju meja rias. Aku meletakkan botol salep itu di samping cermin, lalu membuka penutupnya perlahan.

Aroma obat yang khas dan menenangkan langsung menguar, memenuhi sudut-sudut kamar yang sepi. Aku mengoleskan krim dingin itu ke pergelangan tangan dan buku-buku jariku yang memerah. Sensasi dingin yang menjalar perlahan mulai meredakan rasa linu yang menyiksa sejak semalam.

Klek.

Suara ketukan halus di pintu kamar membuatku refleks menoleh.

"Nona Aira, ini saya," suara paruh baya yang familier terdengar dari luar. "Saya mengantarkan sarapan dan teh hangat untuk Anda."

Aku berjalan mendekat dan membuka pintu sedikit. Pak Bara berdiri di sana dengan nampan perak di tangannya, menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi rasa segan sekaligus empati yang disembunyikan dengan rapi.

"Terima kasih, Pak Bara. Tolong letakkan di meja kecil saja," ucapku lirih.

"Tuan Muda Axel meminta saya menyampaikan bahwa jadwal keberangkatan Anda ke kampus hari ini diundur menjadi pukul dua siang, Nona. Beliau ingin Anda menggunakan waktu pagi ini untuk beristirahat total," ujar Pak Bara seraya meletakkan nampan tersebut di atas meja dekat jendela.

Aku tertegun sejenak mendengar penuturan pria paruh baya itu. "Diundur...?"

"Benar, Nona. Tuan Muda memiliki agenda mendadak di luar distrik pagi ini," jawab Pak Bara dengan anggukan formal sebelum melangkah mundur menuju pintu. "Selamat menikmati sarapan Anda, Nona Aira."

Pintu kembali tertutup, meninggalkan aku dalam kesendirian yang penuh tanda tanya. Pengunduran jadwal itu jelas merupakan sebuah kelonggaran yang tidak biasa dari seorang Axel Reynard yang terkenal sangat disiplin dan ketat dengan waktu.

Aku berjalan menuju jendela, menatap sedan hitam yang perlahan bergerak meninggalkan gerbang mansion menuju jalanan utama yang berkabut. Di balik kaca yang berembun, aku menyadari bahwa setiap aturan, hukuman, dan perhatian kecil yang diberikan Axel perlahan-lahan mulai membangun sebuah dinamika baru di antara kami sebuah ikatan yang rumit dan penuh dengan ancaman terselubung.

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!