NovelToon NovelToon
Janda Tampil Menarik

Janda Tampil Menarik

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Menjadi janda di usia muda bukanlah pilihan yang pernah diinginkan Maya. Setelah kehilangan suami tercinta karena sakit, ia harus menjalani kehidupan baru sebagai ibu tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri. Di tengah keterbatasan ekonomi dan pandangan sinis masyarakat, Maya berusaha bangkit dari keterpurukan yang hampir menghancurkan semangat hidupnya.

Berawal dari keputusan sederhana untuk kembali mencintai dirinya sendiri, Maya mulai merawat penampilan, membangun kepercayaan diri, dan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Namun perubahan itu justru mengundang berbagai gosip dan prasangka. Banyak orang menganggap seorang janda tidak pantas tampil menarik dan percaya diri.

Tidak ingin menyerah pada penilaian orang lain, Maya membuktikan kemampuannya melalui dunia kerja. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia berhasil meraih kesempatan yang mengubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 – Undangan Penting

Hari Senin di Aruna Kreasi selalu dimulai dengan ritme yang cepat dan menuntut fokus tinggi. Namun bagi Maya, setelah melewati akhir pekan yang emosional, ia merasa memiliki cadangan energi baru yang jauh lebih tenang. Dorongan semangat dari Dika malam itu menjadi jangkar yang kokoh. Ia melangkah menyusuri koridor kantor dengan dagu terangkat, mengabaikan beberapa pasang mata yang masih kerap berbisik sinis saat ia lewat.

Setelah menyerahkan draf laporan audit internal ke meja sekretaris Pak Arga, Maya kembali ke kubikelnya untuk memeriksa surel masuk. Berkas-berkas digital menumpuk, tetapi perhatiannya langsung tersita oleh sebuah surel dengan penanda *High Priority* berwarna merah yang dikirimkan langsung oleh Divisi Hubungan Masyarakat dan Korporat.

Ketika Maya mengklik surel tersebut, sebuah desain undangan digital yang mewah dan elegan terbuka di layarnya.

> **UNDANGAN RESMI: ARUNA KREASI ANNUAL GALA & PARTNERSHIP NIGHT 2026**

> *Mengharap kehadiran Ibu Maya Amalia – Senior Auditor Internal.*

> *Dress Code: Formal/Elegant Attire.*

> *Tempat: Grand Ballroom, The Ritz-Carlton Jakarta.*

>

Maya tertegun sejenak, membaca baris demi baris teks tersebut. *Annual Gala & Partnership Night* adalah agenda tahunan paling prestisius di Aruna Kreasi. Acara ini bukan sekadar perayaan internal, melainkan ajang diplomasi bisnis berskala besar. Semua jajaran direksi, komisaris, investor utama, hingga klien-klien konglomerat dari berbagai sektor industri akan berkumpul di sana.

Selama ini, staf dari divisi pendukung seperti Audit Internal jarang sekali mendapatkan undangan VIP, kecuali mereka yang menduduki posisi manajerial puncak. Kehadiran Maya yang secara spesifik diminta dalam daftar undangan tentu mengundang tanda tanya besar di kepalanya.

"Wah, May, kamu dapat undangan Gala Night juga?"

Sebuah suara membuyarkan lamunan Maya. Siska, rekan kerja dari divisi keuangan yang duduk di kubikel sebelah, sudah melongokkan kepalanya dengan mata melebar.

"Iya, Sis. Baru saja masuk ke surelku. Kamu dapat juga?" tanya Maya, berusaha menjaga suaranya tetap datar.

"Dapat, tapi kami yang di keuangan cuma perwakilan kepala divisi saja yang datang. Kok kamu yang masih senior auditor bisa diundang personal begini? Hebat banget!" Siska berkomentar, nadanya antara kagum dan penasaran. "Dengar-dengar, tahun ini Pak Arga mau mengenalkan tim inti yang menangani proyek-proyek strategis ke para investor luar negeri. Sepertinya kinerja auditmu di proyek kemarin benar-benar menarik perhatian atas atasannya Pak Arga."

Maya hanya tersenyum tipis sebagai respons. Di satu sisi, ada rasa bangga yang menyeruak di dadanya karena kerja kerasnya diakui hingga ke level korporat tertinggi. Namun di sisi lain, alarm kewaspadaannya langsung berdering keras. Menghadiri acara besar seperti ini berarti ia akan berdiri di bawah sorot lampu yang sama dengan Pak Arga. Di tengah badai gosip yang diembuskan oleh Bu Ratna dan kelompoknya, menghadiri acara ini bisa menjadi pedang bermata dua. Jika ia salah melangkah, gunjingannya bisa semakin liar.

*“Fokus pada kapabilitas, Maya. Jangan kurang, jangan lebih,”* bisik Maya pada dirinya sendiri, mengulang kalimat prinsip yang ia ucapkan di hadapan Tante Linda kemarin lusa.

### Persiapan di Balik Kesederhanaan

Tantangan terbesar bagi Maya menjelang acara tersebut bukanlah mempersiapkan materi presentasi atau argumen audit, melainkan penampilannya. Sebagai seorang ibu tunggal yang memprioritaskan setiap rupiahnya untuk tabungan pendidikan Dika dan kebutuhan rumah tangga, ia tidak memiliki anggaran berlebih untuk membeli gaun-gaun desainer ternama atau perhiasan mewah.

Pada malam hari sebelum acara, Maya berdiri di depan lemari pakaiannya yang minimalis. Ia memandangi beberapa potong pakaian formal miliknya. Jarinya terhenti pada sebuah tunik modern berpotongan asimetris dengan bahan satin premium berwarna abu-abu gelap (*charcoal*) yang dipadukan dengan kain batik tulis bermotif kontemporer. Pakaian itu adalah hadiah dari mendiang Andra pada ulang tahun pernikahan mereka yang terakhir.

"Bunda mau pakai baju itu?" Dika yang sedang duduk di tempat tidur sambil memeluk boneka beruangnya bertanya penasaran.

Maya menoleh dan tersenyum. "Iya, Sayang. Besok malam Bunda harus menghadiri acara kantor yang penting sekali. Menurut Dika, baju ini bagus tidak?"

Dika mengangguk mantap. "Bagus banget! Bunda kelihatan kayak putri kalau pakai baju itu. Nanti Dika temani Bunda sampai depan gerbang ya sebelum Mbak Lastri datang jaga Dika."

Maya mendekati Dika, mengusap pipi gembilnya dengan penuh kasih. "Bunda mungkin pulang agak malam besok. Tapi Bunda janji, begitu acara selesai, Bunda langsung pulang. Dika tidur duluan saja sama Mbak Lastri, ya?"

"Siap, Bunda. Dika nggak akan nakal. Bunda harus semangat kerjanya!" jawab Dika dengan kedewasaan yang selalu berhasil menghangatkan hati Maya.

Keesokan harinya, sebelum berangkat menuju lokasi acara, Maya menyempatkan diri merias wajahnya sendiri dengan riasan yang minimalis namun tajam. Ia mengaplikasikan lipstik dengan warna sedikit lebih berani dari biasanya—sentuhan plum lembut—yang memberikan kesan tegas namun tetap anggun. Jilbabnya ditata dengan gaya bersih dan modern, tanpa aksesori yang berlebihan. Ketika ia melihat pantulan dirinya di cermin, ia tidak melihat seorang janda yang rapuh, melainkan seorang profesional yang siap mempertahankan ruangnya di dunia kerja.

### Di Bawah Sorot Lampu Ballroom

*Grand Ballroom* The Ritz-Carlton malam itu tampak begitu megah. Lampu gantung kristal berukuran raksasa memancarkan cahaya keemasan yang memantul di atas lantai marmer yang mengilap. Alunan musik jazz lembut dari sebuah orkestra mini di sudut ruangan menyambut para tamu yang hadir dengan pakaian terbaik mereka.

Maya menarik napas dalam-dalam sebelum menyerahkan kartu undangan digitalnya di meja registrasi. Begitu melangkah masuk, ia langsung merasakan atmosfer kekuasaan dan pengaruh yang pekat. Di setiap sudut, tampak kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari para pria berjas perlente dan wanita-wanita dengan gaun malam yang berkilauan. Mereka adalah orang-orang yang menggerakkan roda perekonomian kota ini.

Maya memilih untuk berjalan perlahan menuju area meja prasmanan di pinggir ruangan, berusaha membaur dengan latar belakang dan tidak menarik perhatian berlebih. Namun, takdir tampaknya memiliki rencana lain.

"Ah, ini dia salah satu aset terbaik kita dari divisi audit. Maya Amalia."

Suara bariton yang sangat familier itu membuat Maya refleks menoleh. Beberapa meter di dekatnya, Pak Arga sedang berdiri bersama tiga orang pria paruh baya yang penampilannya sangat berwibawa—salah satunya adalah Komisaris Utama Aruna Kreasi, dan dua lainnya tampaknya adalah investor asing.

Pak Arga malam itu tampil sangat karismatik dengan setelan tuksedo hitam yang pas di tubuh tegapnya. Tatapannya saat melihat Maya sempat tertahan selama satu detik penuh—sebuah kilatan apresiasi yang tipis namun tertangkap jelas oleh Maya—sebelum ia kembali menampilkan ekspresi profesionalnya yang dingin dan tegas.

"Kemari, Maya," panggil Arga dengan isyarat tangan yang sopan.

Maya mengatur ritme jantungnya, melangkah mendekat dengan senyum formal yang anggun. "Selamat malam, Pak Arga, Pak Komisaris," sapa Maya takzim, menganggukkan kepalanya dengan sopan tanpa menunjukkan kegugupan sedikit pun.

"Gentlemen, ini Maya Amalia," Arga memperkenalkan Maya kepada rekan-rekan bisnisnya dalam bahasa Inggris yang fasih. "Dia adalah auditor yang memimpin restrukturisasi laporan risiko untuk proyek ekspansi kita di koridor barat. Berkat ketelitiannya, kita berhasil memangkas potensi kebocoran anggaran hingga lima belas persen sebelum draf akhir diajukan ke dewan direksi."

Mendengar pujian yang begitu spesifik dari mulut Arga, Komisaris Utama, Pak Surya, tampak mengangguk-angguk puas. "Oh, jadi ini srikandi di balik efisiensi proyek barat? Luar biasa. Masih muda, tapi insting auditnya tajam. Aruna Kreasi butuh lebih banyak orang seperti Anda yang memiliki integritas tinggi di garis depan keuangan."

"Terima kasih atas apresiasinya, Pak Surya, Pak Arga," jawab Maya tenang, suaranya terdengar stabil dan percaya diri. "Saya hanya menjalankan tugas sesuai dengan standar operasional yang berlaku, dan keberhasilan ini juga berkat arahan taktis dari Pak Arga serta kerja sama seluruh tim audit."

Jawaban Maya yang taktis—tidak meninggikan diri sendiri namun tetap menunjukkan kapabilitas, sekaligus memberikan kredit yang proporsional kepada atasannya—membuat para pria berpengaruh itu terkesan. Salah satu investor asing bahkan mengajukan beberapa pertanyaan teknis mengenai regulasi kepatuhan pajak lokal, yang dijawab oleh Maya dengan sangat lancar dan berbasis data yang akurat.

### Ujian Di Balik Tirai Kemewahan

Percakapan profesional itu berlangsung selama lima belas menit yang intens. Setelah para petinggi tersebut berpamitan untuk menemui tamu penting lainnya, Maya mengembuskan napas lega. Ia merasa telah menyelesaikan tugas utamanya malam itu dengan baik.

Namun, saat ia hendak berbalik menuju area yang lebih sepi, ia menangkap sosok Bu Ratna yang berdiri tidak jauh dari pilar ballroom. Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna merah menyala dengan perhiasan berlian yang mencolok. Matanya menatap Maya dengan tatapan yang dipenuhi kombinasi antara rasa tidak suka dan kecemburuan yang mendalam.

Bu Ratna melangkah mendekat, memegang gelas minumannya dengan jari-jari yang kaku. "Luar biasa ya, Maya. Baru beberapa bulan di Aruna Kreasi, prestasimu sudah sampai ke telinga Pak Komisaris. Pintar sekali kamu mengambil panggung di depan Pak Arga."

Maya menghentikan langkahnya. Ia menatap Bu Ratna lurus-lurus, mempertahankan ketenangannya yang elegan. "Selamat malam, Bu Ratna. Saya rasa ini bukan soal mengambil panggung, melainkan soal hasil kerja yang kebetulan relevan dengan agenda ekspansi perusahaan saat ini."

Bu Ratna tersenyum sinis, merendahkan suaranya agar tidak terdengar oleh tamu lain. "Jangan naif, Maya. Di acara seperti ini, semua orang tahu cara bermainnya. Tapi ingat, sorot lampu yang terlalu terang bisa membakar dirimu sendiri. Statusmu, latar belakangmu... orang-orang di level atas sini sangat sensitif dengan rumor. Jaga langkahmu, jangan sampai kamu tersandung karena terlalu berambisi memanfaatkan kedekatan dengan atasan."

Kalimat Bu Ratna mengandung ancaman terselubung yang jelas, mencoba memicu rasa bersalah dan ketakutan yang sama dengan yang diledakkan oleh Tante Linda di arisan keluarga kemarin. Namun, Maya yang berdiri di ballroom malam ini bukan lagi Maya yang bisa digoyahkan dengan mudah.

Maya maju setengah langkah, jaraknya cukup dekat untuk membuat Bu Ratna menyadari ketegasan di matanya. "Terima kasih atas pengingatnya, Bu Ratna," bisik Maya, suaranya sangat tenang namun berbobot.

"Saya berada di ruangan ini karena undangan resmi dari perusahaan atas dasar kinerja profesional saya. Saya tidak membawa status pribadi saya ke dalam pekerjaan, dan saya percaya, di Aruna Kreasi, reputasi seseorang dibangun di atas kertas kerja dan angka-angka objektif, bukan di atas rumor koridor. Permisi, Bu."

Tanpa menunggu reaksi dari Bu Ratna yang tampak terkejut dengan keberaniannya, Maya berbalik dengan anggun dan berjalan menjauh. Dadanya berdesir, bukan karena takut, melainkan karena rasa puas yang luar biasa. Bentengnya telah teruji lagi, dan kali ini berhasil bertahan dengan kokoh.

### Garis Batas yang Jelas

Menjelang pukul sepuluh malam, acara mulai memasuki sesi penutup. Maya memutuskan untuk pamit lebih awal. Ia berjalan keluar menuju lobi hotel yang megah untuk memesan taksi daring. Angin malam Jakarta yang sejuk menerpa wajahnya, perlahan meluruhkan ketegangan yang sempat ia rasakan di dalam ballroom.

Saat ia sedang menunggu di dekat pilar lobi, sebuah mobil sedan mewah hitam berhenti tepat di depannya. Kaca jendela belakang perlahan turun, menampilkan wajah Pak Arga.

"Maya," panggil Arga. "Belum dapat taksi? Masuklah, searah dengan rute pulang saya. Saya bisa mengantar Anda."

Tawaran itu sangat tulus, dan di bawah aturan kesopanan biasa, menolak tawaran dari CEO perusahaan bisa dianggap tidak sopan. Namun, di dalam benak Maya, kilasan kalimat Tante Linda tentang "menjaga nama baik" dan peringatan sinis Bu Ratna tentang "rumor" mendadak berputar kembali. Di atas segalanya, ada wajah polos Dika yang sedang menunggunya di rumah.

Maya tersenyum dengan rasa hormat yang mendalam, lalu membungkuk sedikit di samping jendela mobil. "Terima kasih banyak atas tawarannya, Pak Arga. Saya sangat menghargainya. Namun, taksi daring saya sudah hampir sampai di gerbang depan. Kebetulan saya juga harus mampir sebentar untuk membeli sesuatu untuk anak saya."

Arga menatap Maya selama beberapa saat. Sebagai pria yang cerdas, ia langsung menangkap alasan tersirat di balik penolakan tersebut—sebuah garis batas profesionalisme ketat yang sengaja ditarik oleh Maya untuk melindungi diri mereka berdua dari spekulasi publik. Ada kilat kekaguman yang kembali muncul di mata Arga atas ketegasan sikap karyawannya itu.

"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan, Maya. Dan sekali lagi, kerja bagus untuk malam ini," ucap Arga dengan anggukan kepala yang penuh rasa hormat.

"Terima kasih, Pak. Selamat malam," jawab Maya.

Mobil mewah itu berlalu, meninggalkan koridor lobi hotel. Tak lama kemudian, taksi pesanan Maya tiba. Ia masuk ke dalam kabin mobil yang sederhana, menyandarkan punggungnya yang lelah pada jok kursi.

Di dalam kegelapan taksi yang melaju membelah jalanan Jakarta, Maya menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Malam ini, ia telah membuktikan bahwa seorang wanita dengan statusnya tidak perlu bersembunyi atau merasa inferior di hadapan orang-orang berpengaruh. Ia bisa berdiri tegak, berbicara dengan bahasa kompetensi, dan di saat yang sama tetap menjaga kehormatan serta prinsip hidupnya dengan sempurna.

Ia meraba tasnya, mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan singkat kepada pengasuh di rumah: *“Mbak Lastri, saya sudah di jalan pulang. Dika sudah tidur?”*

Sebuah balasan masuk beberapa detik kemudian: *“Sudah, Mbak Maya. Dika tidur pulas setelah berdoa buat Bundanya tadi.”*

Senyum manis terkembang di bibir Maya. Biarlah dunia luar penuh dengan panggung sandiwara, persaingan, dan prasangka. Di dalam taksi yang membawanya pulang ke pelukan anaknya, Maya tahu ia telah memenangkan pertempuran penting malam ini—sebagai seorang auditor profesional yang disegani, dan sebagai seorang ibu yang tetap suci menjaga amanah masa lalunya.

1
Rian Moontero
mampiiirr😍
Aurora23: makasih supportnya😍
total 1 replies
Aurora23
yukk di baca guyss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!