Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Tembok Berlapis Emas
Pagi itu, suasana di koridor Universitas Airrawan mendadak riuh, bukan karena jadwal ujian yang mencekam, melainkan karena selembar surat edaran resmi yang tertempel di papan pengumuman utama. Dekan kampus baru saja mengumumkan bahwa seluruh kegiatan perkuliahan akan diliburkan dalam jangka waktu yang cukup panjang.
Gedung-gedung tua fakultas, termasuk ruang teater dan ruang sastra yang menjadi saksi bisu benturan emosi dua anak manusia itu, akan dikosongkan total untuk proyek rehabilitasi dan renovasi besar-besaran.
Bagi sebagian besar mahasiswa, ini adalah kabar gembira. Namun bagi Melanie, libur panjang ini terasa seperti penangguhan takdir yang mencekam. Ia memutuskan untuk langsung mengepak barang-barangnya. Kali ini, ia tidak akan menghabiskan masa liburnya di kamar kosan yang sempit. Melanie memilih untuk pulang ke rumah utama orang tuanya, sebuah rumah gedong yang berdiri megah di kawasan elite, tersembunyi di balik pagar besi tempa yang menjulang tinggi.
Rumah itu adalah lambang mutlak dari kemewahan yang bergelimang harta. Lantai marmernya berkilat sempurna, pilar-pilar betonnya kokoh berlapis cat emas, dan deretan pelayan siap sedia memenuhi segala kebutuhannya. Namun, berjalan di dalam rumah ini justru membuat dada Melanie kian sesak. Kalimat Glen di selasar perpustakaan kemarin seolah bergema di setiap sudut ruangan: Uang yang dipakai untuk membayar biaya kuliahmu, gaun-gaun indahmu... semuanya dibeli dengan darah dan air mata keluargaku.
Benar kata Glen. Kedua orang tua Melanie adalah sosok borjuis yang sukses besar, namun mereka tetap mempertahankan akar budaya mereka. Mereka asli orang Jawa, dan dalam kesehariannya, tutur bahasa yang mereka gunakan sangat kental dengan bahasa Jawa halus maupun logat Jawa yang medok. Di balik kesuksesan finansial yang kasat mata itu, Melanie baru menyadari satu kenyataan pahit setelah menatap kemegahan rumahnya sendiri: kekayaan yang dimiliki kedua orang tuanya saat ini, barangkali memang setara dengan separuh harta yang pernah direnggut dari keluarga Glen dua belas tahun yang lalu.
Sore harinya, aroma wewangian teh melati dan jajan pasar memenuhi paviliun belakang rumah. Sang ayah, seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan guratan wajah yang tegas namun selalu melembut jika menatap putri tunggalnya, sedang duduk santai sembari membaca koran sore. Di sebelahnya, sang ibu yang anggun dengan konde kecilnya sedang sibuk menyulam.
"Nduk, Melanie... kene pinarak kene," panggil ayahnya dengan suara berat yang khas, melambaikan tangan begitu melihat Melanie berjalan ragu di tepi kolam renang. (Nduk, Melanie... sini duduk sini).
Melanie memaksakan senyumnya, lalu melangkah mendekat dan duduk di kursi rotan tepat di hadapan ayahnya. Ia memandangi wajah pria yang selama ini menjadi pahlawan dalam hidupnya. Pria yang memanjakannya dengan harta, namun kini dituduh sebagai dalang di balik hancurnya sebuah keluarga.
"Bapak, Ibu... wonten sing bade Melanie tanyakan," ujar Melanie, suaranya agak bergetar halus. Ia sengaja menggunakan bahasa yang sopan untuk membuka percakapan yang ia tahu akan berjalan sangat berat. (Bapak, Ibu... ada yang ingin Melanie tanyakan).
Ibunya meletakkan jarum sulamnya, menatap Melanie dengan dahi berkerut halus. "Ono opo toh, Nduk? Kok jarene serius banget ketoke. Sopo sing nggawe kowe bingung?" (Ada apa toh, Nduk? Kok sepertinya serius banget tampaknya. Siapa yang membuatmu bingung?)
Melanie mengepalkan jemarinya di atas pangkuan, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke dalam sepasang mata ayahnya yang mulai menua.
"Pak... niki babagan kedadean kalih welas tahun ingkang kapengker," kata Melanie terbata-bata, namun tatapannya tak beralih. "Nopo leres... rumiyin Bapak nate nindakake perkawis ingkang mboten sae dumateng perusahaan tekstil niko? Perusahaanipun... kulowarganipun Glen?" (Pak... ini tentang kejadian dua belas tahun yang lalu. Apa benar... dulu Bapak pernah melakukan hal yang tidak baik kepada perusahaan tekstil itu? Perusahaannya... keluarganya Glen?)
Mendengar nama perusahaan tekstil dan nama Glen disebut, koran sore yang sedang dipegang oleh ayah Melanie mendadak terlipat dengan kasar. Senyum ramah yang tadinya menghiasi wajah pria tua itu lenyap dalam sekejap, digantikan oleh ekspresi tegang yang luar biasa. Suasana di paviliun belakang yang tadinya hangat, mendadak berubah menjadi sedingin es.
Ibunya pun tersentak, tangannya yang memegang kain sulaman tampak gemetar kecil. "Melanie! Kowe ki ngomong opo toh, Nduk? Sopo sing ngajari kowe takon perkoro sing wis suwe ilang koyo ngono?" bisik ibunya dengan nada suara yang meninggi, sarat akan kepanikan yang berusaha diredam. (Melanie! Kamu ini bicara apa toh, Nduk? Siapa yang mengajarimu bertanya perkara yang sudah lama hilang seperti itu?)
Sang ayah mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar istrinya diam. Pria paruh baya itu bersandar pada kursi rotannya, menatap Melanie dengan pandangan mata yang mendadak dipenuhi oleh rasa bersalah yang amat pekat, sebuah konfirmasi tanpa kata yang langsung membuat jantung Melanie serasa dihantam godam besar.
"Sopo... sopo sing jenenge Glen kuwi, Nduk? Opo dheweke kancamu neng kampus?" tanya ayahnya dengan suara yang mendadak serak, logat Jawanya terdengar semakin berat di parau tenggorokannya. (Siapa... siapa yang namanya Glen itu, Nduk? Apa dia temanmu di kampus?)
"Dia mahasiswa Sastra, Pak. Dan dia... dia tahu segalanya tentang apa yang terjadi dua belas tahun lalu," jawab Melanie, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Tolong jawab Melanie, Pak. Leres mboten perkawis niku? Nopo bondo sing kito gadhah sakmeniko... pancen asil saking penderitaanipun kulowargane Glen?" (Tolong jawab Melanie, Pak. Benar tidak perkara itu? Apa harta yang kita punya sekarang... memang hasil dari penderitaan keluarganya Glen?)
Ayah Melanie memalingkan wajahnya ke arah air kolam yang tenang, menghela napas panjang yang terdengar begitu sarat akan beban masa lalu yang selama belasan tahun ini ia kubur di bawah lantai marmer rumah mewah mereka. Kamar buntu sejarah itu kini telah dipaksa terbuka, dan Melanie tahu, liburan panjangnya kali ini tidak akan pernah berjalan dengan tenang.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...