NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.

Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.

Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.

Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.

Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.

Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.

Aiko dihadapkan pada pilihan.

bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 12

"Nona Aiko Kurogawa... atau haruskah aku memanggilmu Nona Besar Tachibana sekarang?" pria itu berbisik dengan nada mengejek, melangkah maju hingga membuat Aiko terpaksa mundur satu langkah.

Jantung Aiko berdegup kencang. Instingnya langsung berteriak bahwa pria di hadapannya ini bukan mahasiswa biasa. Walau auranya bersih dari energi gaib, namun Aiko bisa merasakan niat jahat dan aroma mesiu dari tubuhnya.

"Siapa kau?" tanya Aiko dengan suara setenang mungkin, meskipun tangannya secara refleks meraba ke dalam saku sweater nya mencari keberadaan tusuk konde untuk memenangkannya.

Pria itu terkekeh pelan, melirik ke sekeliling koridor yang sepi sebelum kembali menatap Aiko. "Siapa aku itu tidak penting. Yang penting adalah, pemimpin baru Tachibana-gumi ternyata cukup bodoh untuk membiarkan mainan barunya berkeliaran di tempat umum seperti ini. Apa dia pikir dua mobil sedan hitam di seberang jalan itu cukup untuk melindungimu dari kami?"

Pria itu maju satu langkah lagi, tangan kirinya bergerak cepat mencengkeram lengan Aiko dengan kuat, sementara tangan kanannya meraba ke balik jaketnya, memperlihatkan sekilas ujung senapan pendek yang tersembunyi di sana.

"Ikut aku dengan tenang jika kau tidak ingin sahabatmu yang berisik di kantin itu terluka, Nona," ancam pria itu dengan nada rendah.

Aiko tertegun, matanya melebar saat mendengar ancaman yang melibatkan Hana. Pengawal Ren yang berada di luar gerbang kampus tidak menyadari situasi di koridor lantai dua yang sepi ini.

Cengkeraman tangan pria itu terasa sangat kuat di lengan Aiko. Ditambah dengan ancaman ujung senapan yang mengintip dari balik hodie pria itu, membuat Aiko cukup ngeri.

Aiko tahu satu gerakan ceroboh saja darinya, ia bisa membuat koridor kampus ini berubah menjadi lantai penuh darah. Dan hal yang paling menganggu pikirannya adalah nama Hana yang baru saja pria itu ucapkan dengan nada mengancam.

"Jangan mencoba berteriak, " bisik pria itu lagi, di tengah kesunyian koridor lantai dua. "Melangkah bersamaku menuju tangga darurat di ujung sana. Santai saja, anggap kita hanya sepasang kekasih yang sedang berjalan bersama."

Aiko menarik napas pendek, mencoba menekan rasa pening yang kian hebat menyerang kepalanya. Tubuhnya yang lemas akibat menyerap energi hitam Ren semalam membuat setiap langkahnya terasa luar biasa berat. Namun, matanya tetap menatap lurus ke depan dengan ketenangan yang ia paksakan.

Di dalam saku sweater nya, jemari Aiko yang bergetar akhirnya berhasil menggenggam permukaan dingin dari tusuk konde peninggalan ibunya. Benda itu bukan sekadar perhiasan tajam. Saat jemari Aiko meremas ukiran bunga sakura di ujungnya, ia merapalkan sebaris doa perlindungan yang pernah diajarkan ibunya dulu.

Seketika, ia merasakan kilatan hawa dingin yang memancar dari tusuk konde tersebut, merambat naik melalui lengan Aiko dan menjalar menjadi gelombang energi tak kasat mata yang menghantam udara di sekeliling mereka. Pria ber-hoodie itu tidak bisa melihat energinya, namun ia sempat tersentak karena mendadak merasakan bulu kuduknya berdiri dan suasana di sekitar mereka bergeser menjadi lebih hangat. sebuah getaran energi yang ia tahu akan memicu benturan keras dengan sisa aura kematian milik Ren yang masih menempel di lehernya.

**

Di saat yang sama, beberapa kilometer dari area kampus, sedan hitam yang membawa Ren sedang berhenti di lampu merah persimpangan kota.

Ren duduk bersandar dengan mata terpejam, namun jemarinya tidak berhenti mengetuk lututnya sendiri dengan suara yang tidak teratur. Perasaan tidak tenang yang menderanya sejak pagi tadi tidak kunjung hilang, justru semakin lama semakin pekat dan menyesakkan dada.

Mendadak, Ren membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya berdegup dengan sentakan yang sangat keras, disusul oleh rasa dingin yang menjalar instan di sepanjang tengkuknya.

"Daichi, putar balik mobil sekarang," perintah Ren, suaranya terdengar sangat rendah dan tegas.

Daichi yang sedang memegang kemudi langsung tersentak. "Eh? Tapi Bos, pertemuan dengan tetua klan utara di restoran..."

"Batalkan," potong Ren tanpa memedulikan etika bisnis dunia bawah. "Putar balik ke kampus Aiko. Sekarang juga!"

Melihat kilatan kemarahan dan kecemasan yang jarang di mata bosnya, Daichi tidak berani bertanya lebih banyak lagi. Ia langsung membanting setir ke kanan, memanfaatkan celah jalan untuk berputar arah secara ekstrem, membiarkan bunyi derit ban mobil mereka bergesekan keras dengan aspal jalanan Kyoto.

**

Kembali ke koridor gedung fakultas, pria ber-hoodie abu-abu itu berhasil menyeret Aiko melewati pintu besi tangga darurat yang sepi dengan cahaya yang redup. Langkah kaki mereka bergema kaku di atas anak tangga.

"Kau bergerak terlalu lambat, Nona," gerutu pria itu, menyentak lengan Aiko dengan kasar hingga punggung gadis itu membentur dinding beton yang keras. "Jika bukan karena perintah dari atasan untuk membawamu dalam keadaan hidup, aku sudah pasti akan melubangi kakimu agar kau tidak merepotkan seperti ini."

Aiko meringis pelan, memegang kepalanya yang semakin berdenyut parah. "Siapa... siapa atasanmu? klan utara? Atau orang-orang bentukan Kaito Tachibana?" tanya Aiko, mencoba memancing informasi selagi ia berusaha mempertahankan kesadarannya.

Pria itu terkekeh sinis, mengangkat senapan pendeknya dan mengarahkannya tepat ke dada Aiko. "Kau terlalu banyak tahu untuk ukuran seorang sandera politik. Pertanyaanmu itu bisa kau simpan sampai kita tiba di..."

Brak!!!

Suara hantaman keras memotong kalimat pria itu. Pintu besi tangga darurat di lantai dasar mendadak jeblok terbuka akibat tendangan yang cukukuat dari luar, hingga engsel besinya terlepas dan menimbulkan gema yang memekakkan telinga di dalam ruangan sempit tersebut.

Dari balik kepulan debu pintu yang hancur, sesosok pria bertubuh tinggi tegap melangkah masuk.

Ren Tachibana berdiri di sana.

Pakaian jas hitamnya masih tampak rapi, namun wajahnya tertutup oleh ekspresi yang luar biasa kejam. Di belakangnya, Daichi dan tiga orang pengawal berjas hitam langsung merangsek masuk dengan senjata api yang sudah siap di tangan mereka.

Pria ber-hoodie abu-abu itu terbelalak panik. Ia tidak menyangka bahwa pemimpin tertinggi Tachibana-gumi sendiri yang akan turun tangan, dan datang dalam waktu yang mustahil secepat ini. Dengan panik, ia mencoba menarik tubuh Aiko untuk dijadikan tameng hidup.

Namun, gerakan Ren jauh lebih cepat daripada kecepatan tangan pria itu.

Sebelum penyusup itu sempat menarik pelatuk senjatanya, Ren sudah melesat maju menaiki anak tangga. Dengan satu gerakan tangan yang terlatih, Ren mencengkeram pergelangan tangan pria itu, memutarnya ke arah berlawanan hingga terdengar suara krak yang mengerikan dari patahan tulang, membuat senapan pendek itu terjatuh dan menggelinding ke lantai.

"Aaaakh!" pria itu menjerit kesakitan.

Tanpa belas kasihan sedikit pun, Ren melayangkan satu tendangan keras ke arah rusuk pria itu, membuatnya tersungkur menghantam anak tangga hingga memuntahkan darah segar dari mulutnya. Belum sempat pria itu bangkit, moncong pistol milik Ren sudah menempel di keningnya.

"Siapa yang mengirimmu ke wilayahku?" tanya Ren, dengan suara tenangnya yang mengerikan.

1
PrettyDuck
bagusss ❤️❤️
penulisannya rapi, enak dibaca, gak bertele-tele.
alurnya juga jelas dan bikin penasaran.
btw aku naksir sama ren. dia tipikal male lead yang aku suka wkwk
good job author 👌🫶
PrettyDuck
isss, ini mah ren emang niat ngepublish hubungan mereka gak sih. terlalu mencolok ommm /Facepalm/
PrettyDuck
potoin. biar ren cemburu wkwk
PrettyDuck
wkwk lu ngekorin aiko mulu soalnyaaa.
hana kan gak tau aiko itu nyonyah
PrettyDuck
naksir beneran dong diaa /Facepalm/
jodoin aja, niar besok2 bisa double date bareng aiko-ren
PrettyDuck
kok sok ikrib gini dia? kayaknya biasanya kayak kanebo deh 🥴
PrettyDuck
ngerasa bersalah pasti aiko 🥲
Lenny Utami
iya aku jga penasaran
Lenny Utami
wahhh bagus nih nasehatnya
Lenny Utami
skip skip skip serem tor... aku GK mau baca lebih yang ini..😭
SANG
Maaf, hadiahnya ditunda dulu. Poinku tidak cukup ya Thor/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/😄😄🤣🤣🤣
Lenny Utami
Halah nanti juga ujungnya klepek² itu..
SANG
Lanjut thor💪👍💪👍
Lenny Utami
otak ku tolong jangan ngeres
Lenny Utami
pertanyaan Aiko lucu..
SANG
Kenapa begitu, justru aku yang tidak senang...
SANG
Kamu tanya saya...
SANG
Iklan untukmu thor👍💪👍
Lenny Utami
abot Iki semangat Aiko
SANG
Apakah benar seperti itu, kabar dari mana itu datangnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!