Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Kau keterlaluan, Noah!"
Suara Adrian meninggi. Rahangnya mengeras. Urat-urat di lehernya bahkan menonjol jelas.
"Aku? Keterlaluan? Oh, ya?" sahut Noah dengan santainya.
"Apa maksudmu dengan berkata seperti itu?" tanya Adrian.
"Bukankah, maksudku sudah jelas? Masa' orang seperti Daddy tidak bisa mengerti?"
Marina, Ibu tiri Noah mendengkus kesal. Tapi, dia tak berani protes terang-terangan. Noah bukan lawan yang sepadan untuknya.
"Kau..."
"SUDAH!" hardik Jake marah. Keluarganya tak pernah bisa akur. Padahal, yang Jake miliki hanya Adrian dan Noah saja.
"Ini tidak bisa dibiarkan, Ayah. Noah tak bisa seenaknya menikahi perempuan sembarangan. Bagaimana jika perempuan itu hanya akan merusak nama baik keluarga Wiliam?" protes Adrian.
"Tuan Adrian tenang saja! Nama belakangku adalah Alexander. Otomatis, istriku juga akan menyandang nama keluarga yang sama di belakang namanya. Jadi, kalaupun dia melakukan tindakan yang memalukan, keluarga Wiliam tidak akan terusik sedikit pun. Aku jamin."
"Noah!!!" Mata Adrian menampakkan kekecewaan. Sampai detik ini, Noah masih menolak menyematkan nama Wiliam dibelakang namanya.
"Istriku memang bukan perempuan yang berpendidikan tinggi. Dia hanya tamatan sekolah menengah atas. Dia juga perempuan yang sudah pernah menikah dan keluarganya biasa-biasa saja. Tapi..." Noah berkata dengan penuh penekanan.
"... Dia jauh lebih terhormat, terpelajar, dan tahu etika dibanding beberapa putri orang kaya yang hanya mampu menggunakan kekuasaan orangtuanya untuk menindas orang lain."
Jenny membuang muka ke arah lain. Entah kenapa, dia merasa jika Noah sedang membicarakan dirinya.
Tapi, mana mungkin? Jejak kehidupan pribadinya di masa lampau sudah dihapus bersih oleh sang Ayah sejak usulan perjodohan ini disepakati oleh kedua keluarga.
"NOAH!" hardik Adrian marah. Dia berdiri dari kursinya. "Perempuan apa yang sedang kau pilih, hah? Bagaimana mungkin, kau mau menikah dengan perempuan yang sudah pernah menikah dan tidak berpendidikan tinggi!? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?"
Noah ikut berdiri. Kedua pria yang tingginya nyaris sama itu saling menatap penuh amarah.
"Aku masih waras," jawab Noah sambil menyeringai sinis. "Justru, aku memilihnya karena saat ini otakku sedang berpikir sangat jernih. Dia perempuan yang baik. Dan, itu sudah lebih dari cukup untukku."
"Apa kau tidak mempertimbangkan nama baik keluarga sebelum memilih perempuan rendahan seperti itu?"
"Perempuan rendahan?" Noah tertawa. "Apa Daddy tidak berkaca, hah?"
"Maksudmu?"
"Justru, orang yang lebih dulu memilih perempuan rendahan adalah Daddy! Bukan aku."
Tangan Adrian terangkat tinggi. Dia hendak menampar putra satu-satunya.
Akan tetapi, Noah menahan tangannya lalu menyentaknya kasar hingga Adrian kehilangan keseimbangan dan nyaris jatuh.
Beruntung, dia masih bisa berpegangan pada kursi dibelakangnya.
"Anak durhaka!" geram Adrian.
"Kau yang Ayah durhaka!"
"Arggh!!"
Napas Adrian mendadak sesak. Dadanya nyeri. Dia akhirnya memilih untuk duduk kembali. Disampingnya, Levi sang anak tiri terlihat sangat khawatir dan menanyakan apa yang dibutuhkan oleh Adrian.
Sayangnya, Adrian hanya menggeleng. Dia tak butuh apa-apa.
"Pokoknya, Ayah tidak mau tahu. Calon istrimu hanya boleh Jenny!"
"Tidak mau. Calon istriku hanya Seraphina."
Adrian mengusap wajahnya kasar. Anak kandung satu-satunya yang dia miliki sungguh seorang pembangkang besar.
"Jangan membuat Daddy malu pada Ayah Jenny, Noah!"
"Kalau Daddy tidak mau malu, nikahkan saja dia dengan anak kesayangan Daddy!"
Noah menatap sinis ke arah Levi.
"Levi bukan anak kandung Daddy. Mana mungkin Daddy memberikan perjodohan ini kepadanya."
Levi dan sang Ibu kompak saling tatap. Jelas keduanya sedang menahan amarah. Sampai detik ini, keberadaannya juga masih belum diakui oleh Adrian.
"Kalau begitu, Daddy saja yang menikahi LC karaoke itu. Beres, kan?"
Ah!
Kali ini, tengkuk Adrian mulai terasa kaku dan berat. Omongan Noah bagai bambu runcing yang menusuknya berkali-kali.
"Noah, jangan gila!" pekik sang Ibu tiri. "Mommy tidak akan pernah rela jika Daddy menduakan Mommy!"
"Pelakor takut pelakor? Wah, ini benar-benar menarik," sahut Noah sambil geleng-geleng kepala.
Marina mendengkus. Dia memalingkan wajah ke arah lain karena malu. Noah menguliti masa lalunya secara terang-terangan.
"Pokoknya, Ayah lebih setuju jika kau menikah dengan Jenny dibanding perempuan bekas itu."
"Perempuan bekas?" Noah lagi-lagi tersenyum sinis. "Setidaknya, Seraphina hanya pernah disentuh oleh mantan suaminya. Tapi, LC yang Daddy bawa ini, apa Daddy sudah tahu berapa banyak laki-laki yang sudah menyentuhnya?"
Tangan Noah menunjuk lurus ke arah Jenny. Perempuan itu seketika jadi pucat pasi.
"Dia itu hanya piala bergilir di kalangan para pria, Daddy. Baik dari kalangan kaya dan menengah, semua pernah menjadi teman tidurnya. Dia perempuan yang tidak pilih-pilih pasangan. Asal laki-laki itu punya senjata, sudah cukup untuknya."
"Noah, jangan fitnah!" kata Jenny dengan suara gemetar.
Tapi, Noah tak peduli sama sekali. Dia tetap melanjutkan perkataannya.
"Apa Daddy tahu, siapa salah satu pria yang pernah tidur dengannya?"
Tatapan Noah kini tertuju pada Levi. Putra Ibu tirinya itu langsung gemetar di tempat. Ya, dia memang sepengecut itu tapi punya keserakahan yang sangat besar.
"Dia adalah putra kesayangan Daddy. Levi."
Reflek, semua tatapan kini tertuju pada Levi. Pria itu berusaha mengelak dengan cara menggelengkan kepalanya. Akan tetapi, semua sia-sia.
Kebohongan yang berusaha dia bangun, begitu mudah terbaca akibat kepanikannya.
"Levi, apa itu benar?" tanya Adrian penuh rasa kecewa.
"Daddy, aku bisa jelaskan. Aku..." Ucapan Levi tercekat di tenggorokan.
"Perlu aku keluarkan buktinya?" tantang Noah.
Dan, Levi maupun Jeni tak ada yang berani membantah lagi.
"Daddy, Daddy! Kenapa Daddy tidak pernah becus mencari wanita, sih?" tanya Noah dengan nada mengejek.
"Jadi, Kakek dan Daddy sudah tahu siapa sebenarnya Jenny, kan?"
Tak ada yang menjawab. Kakek dan Ayahnya sama-sama malu kepada Noah.
Bisa-bisanya merasa ingin menjodohkan cucu dan anak mereka dengan perempuan seperti Jenny.
"Hanya itu yang ingin aku sampaikan. Intinya, aku akan tetap menikah meski dengan atau tanpa restu dari kalian."
"Kakek pasti akan tetap merestui pernikahanmu, Nak!" ucap Jake lirih. Dia berusaha berdiri dengan bantuan tongkatnya.
Dipeluknya sang cucu sambil tersenyum hangat.
"Kakek percaya pada pilihanmu," bisik Jake ditelinga cucunya. "Kalau perempuan itu bisa membuatmu jatuh cinta, itu tandanya dia memang perempuan yang luar biasa."
Mata Noah memerah. Suaranya serak saat keluar. "Terimakasih, Kakek."
*******
Pada saat yang sama, Seraphina juga sedang menjalani pertempurannya sendiri. Gaun pengantin pilihan Arsenio sudah datang. Dan sekarang, Seraphina sedang mencobanya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Romi. Dia memperhatikan putrinya dari atas ke bawah.
Lumayan.
"Seperti yang aku bilang, gaun pengantin ini terlihat sangat ketinggalan zaman. Kainnya juga murahan. Kelihatan sekali jika harganya hanya beberapa ratus ribu saja."
"Sera, jangan bilang begitu. Hargai gaun pengantin pemberian calon suamimu," celetuk Kalani yang baru saja datang bersama Kaivan.
Dia langsung duduk disamping sang Ayah. Sementara, Kaivan duduk di sofa tunggal sambil diam-diam mengagumi Seraphina.
Walaupun gaun pengantin Seraphina sangat tidak menarik, tapi tetap saja aura Seraphina terpancar begitu kuat.
Tiba-tiba, dia ingat ketika dia menggandeng tangan wanita itu diatas altar empat tahun lalu. Kala itu, jantung Kaivan berdebar kencang. Meski berusaha meyakinkan diri bahwa dia menikahi Seraphina hanya demi menjaga kebahagiaan Kalani, namun Kaivan juga tak bisa mengelak jika dia sangat bersemangat pada saat itu.
"Ayah, Ibu! Lihat gaun pengantin ku! Cantik, tidak?"
Kalani dengan sengaja memamerkan gaun pengantinnya yang memang sangat indah. Baik dari segi model, bahan, dan harga, jelas lebih unggul dibanding gaun pengantin milik Seraphina.
"Lani, ini cantik sekali. Pasti harganya mahal," ujar Selly sambil menatap kagum.
Dia hendak menyentuh gaun pengantin itu namun dicegah oleh Kalani.
"Ibu, jangan disentuh! Nanti, rusak. Ini harganya mahal sekali, tahu!" Bibir Kalani mengerucut sebal.
"Maaf. Ibu cuma ingin lihat saja."
Seraphina menggeleng pelan. Gaun pengantin seharga 150 juta itu dijaga dengan sangat hati-hati oleh Kalani.
Dia pun reflek tertawa kecil saat membayangkan bagaimana reaksi Kalani nanti jika tahu seberapa indah dan mahalnya gaun pengantin milik dirinya yang sebenarnya.
"Sera, apa yang sedang kamu tertawakan?" tanya sang Ayah. " Apa kau sedang mengejek kakakmu?"
menyusun rencana merebut lagi
noah & sera kalian keren sekali 🤭🤭🤭🤭