"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.31 Badai cemburu di rumah sakit
Daren mengendarai mobilnya sendiri dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Mobil mewah Daren melaju dengan kencang seirama dengan amarahnya yang sedang membuncah di dadanya.
Foto-foto yang menunjukkan adegan mesra Nadia dan Dokter Adrian yang dikirimkan oleh orang yang tak di kenal itu sangat mengguncang pikirannya sehingga Dia tidak bisa berpikir dengan jernih lagi.
Daren memegang kemudi mobilnya dengan sangat kencang seolah Dia akan meremukkan kemudi itu menjadi berkeping-keping karena amarahnya yang di dasari rasa cemburu yang sudah tidak bisa terbendung lagi, Matanya tajam menatap lurus ke arah jalanan yang di penuhi lalu lalang kendaraan itu.
"Brengsek kamu Adrian, Kamu sengaja memanfaatkan waktu kontrol Nadia untuk bisa bermesraan dengannya, dan kamu juga Nadia, Kenapa kamu setega itu bermain di belakang ku," Daren mendengus kesal dan memukul kemudi mobilnya dengan kasar karena marah.
Mobil mewah milik Daren sudah memasuki pelataran rumah sakit Medika, Daren keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil itu dengan kasar.
Kemudian Daren melangkah masuk menyusuri koridor VIP dengan langkah lebar dan aura membunuh yang sangat pekat. Para suster yang berpapasan dengannya langsung menunduk ketakutan.
Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Daren mendobrak masuk ke dalam ruang praktik Dokter Adrian. Suara hantaman pintu membuat Dokter Adrian dan Nadia yang sedang duduk membicarakan resep obat langsung terlonjak kaget.
Nadia dan Dokter Adrian secara bersamaan menoleh ke arah pintu dan menatap pada Daren yang tiba-tiba langsung masuk dengan kasar.
Daren langsung berjalan mendekat, mencengkeram lengan Nadia untuk berdiri, lalu melemparkan ponselnya ke atas meja dokter. Layarnya masih menampilkan foto kedekatan Nadia dan Adrian yang dikirim Elsa.
"Bagus sekali! Jadi ini alasan kamu menolakku semalam, Nadia?! Karena kamu sudah menemukan pria lain yang lebih perhatian di tempat ini?!" bentak Daren dengan suara baritonnya yang menggelegar, napasnya memburu menahan murka. Dia juga menatap Adrian dengan kilat mata yang ingin meremukkan pria itu hidup-hidup.
"Anda juga Dokter Adrian, Anda sengaja memanfaatkan waktu kontrol istri saya untuk bisa bertemu dan bermesraan dengannya iya?!" bentak Daren pada Dokter Adrian yang tidak bergeming dari tempat duduknya yang membuat Daren tambah emosi dan ingin melahapnya mentah-mentah, Masih dengan nada penuh amarah Daren melanjutkan kata-katanya yang di tujukan pada Dokter Adrian.
"Di mana etika anda sebagai seorang Dokter yang sudah di ajari untuk menaati kode etik Dokter, Anda sengaja merayu dan mendekati istri saya bukan!?" mata Daren menatap Dokter Adrian penuh kebencian yang mendalam.
Dokter Adrian melihat foto di ponsel Daren, lalu mengembuskan napas tenang tanpa rasa takut sedikit pun. Dia berdiri dari kursinya dengan wibawa seorang profesional.
"Tuan Daren, harap rendahkan suara Anda, ini rumah sakit. Dan foto ini... ini adalah manipulasi murah. Saat itu Nona Nadia kehilangan keseimbangan saat menguji kekuatan kakinya, dan sebagai dokternya, kewajiban saya adalah menahannya agar dia tidak jatuh dan memperparah cideranya. Jika Anda lebih memercayai foto amatir daripada kondisi medis istri Anda sendiri, Anda bukan suami yang bijak," ucap Adrian dengan nada tenang namun menohok ego Daren.
Nadia perlahan melepaskan cengkeraman tangan Daren dari lengannya secara kasar. Tatapan mata Nadia tidak memancarkan kemarahan, melainkan kekecewaan yang sangat dalam dan dingin. Dinding es di hatinya yang sempat agak mencair karena bubur buatan Daren tadi pagi, kini membeku kembali bahkan jauh lebih keras.
"Ternyata Anda tidak pernah berubah, Tuan Daren. Anda tetap pria egois yang hanya mementingkan harga diri Anda sendiri. Anda menuduh saya berselingkuh hanya karena jebakan murahan seperti ini?" ucap Nadia lirih namun menusuk. Nadia lalu mengambil tongkatnya dan berjalan keluar ruangan sendirian tanpa memedulikan Daren lagi.
Daren yang mematung di tengah ruangan. Amarahnya seketika sirna, digantikan oleh rasa panik yang luar biasa saat menyadari bahwa kecemburuannya yang salah alamat kali ini telah menghancurkan sedikit demi sedikit kepercayaan yang baru saja dia bangun susah payah dari Nadia.
"Kalau sudah tidak ada yang mau di bicarakan lagi, silahkan Tuan Daren keluar dari ruangan ini karena masih ada pasien selanjutnya yang mau masuk, Dan ingat pesan saya Tuan Daren yang terhormat, Jadilah suami yang lebih bijak yang bisa membuat istri anda bangga pada anda," ucap Dokter Adrian sambil mengulurkan tangan kanannya menyuruh Daren keluar dari ruang periksanya.
Daren menatap Dokter Adrian dengan tatapan sinis sebelum Dia beranjak keluar dari ruangan Dokter Adrian.
Daren baru tersadar kalau Nadia tadi marah padanya, lalu dengan mengambil langkah seribu Daren menyusul Nadia yang sedang berjalan dengan tongkatnya menyusuri koridor rumah sakit.
"Nadia!" panggil Daren saat melihat Nadia yang masih berjalan di koridor.
Nadia terus saja berjalan, Dia tidak mengindahkan panggilan Daren padanya.
"Nad! Nadia...!" Daren terus berlari mengejar Nadia yang tidak menggubris panggilannya.
"Nadia, tolong dengarkan aku," Daren meraih lengan Nadia dengan napas yang ngos-ngosan setelah berlari-lari mengejar Nadia tadi. Nadia menghentikan langkahnya.
"Nadia tolong dengarkan aku, Aku tidak bermaksud menuduh kamu berselingkuh dengan Adrian, A_aku hanya khawatir kalau si Adrian itu akan merayumu dan a-aku juga khawatir kalau kamu nantinya akan menyukai Adrian dan... berpaling dariku," tanpa tedeng aling-aling dan dengan suara tergagap Daren spontan mengeluarkan isi hatinya di hadapan Nadia.
Nadia tersenyum dingin menatap Daren sambil mengibaskan tangan Daren yang sedang memegangi lengannya " Saya sudah pernah katakan Tuan, kalau saya ini hanya istri kontrak Tuan dan jika masanya sudah habis saya akan tetap pergi meninggalkan Tuan, Jadi Tuan juga tidak berhak melarang saya untuk bergaul dengan siapa saja tapi asal Tuan Daren tahu, Saya masih memegang teguh kehormatan saya sebagai wanita yang punya harga diri," Nadia masuk ke dalam mobil yang mengantarkannya tadi ke rumah sakit.
"Jalan pak," perintah Nadia pada sopir itu.
"Tunggu!" teriak Daren yang kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Nadia.
Nadia menoleh pada Daren masih dengan wajah yang kesal melihat tingkah Daren yang sangat menyebalkan menurutnya "Tuan Daren saya tidak butuh di temani, saya mau pulang sendiri. Silahkan Tuan Daren turun," ucap Nadia pelan tapi penuh penekanan membuat Daren tidak bisa berkutik lagi.
"Oke, Aku keluar tapi tolong dengarkan sebentar penjelasan aku Nadia," ucap Daren pada Nadia.
"Sudahlah Tuan, saat ini saya tidak mau mendengar apapun dari Tuan Daren, Biarkan saya sendiri," Nadia mengulurkan tangannya ke arah pintu mobil menyuruh Daren segera keluar.
"Aku tidak akan keluar dari mobil ini sebelum kamu mendengarkan aku Nadia."
"Saya tidak mau mendengarkan apapun dari Tuan dan saya mau Tuan keluar dari mobil ini," ucap Nadia dengan nada kesal karena sikap Daren yang makin menyebalkan.
"Oke.Oke aku akan keluar tapi aku yang akan menyetir mobil ini karena pak Jono sudah pulang membawa mobilku, Nadia mendengus kesal mendengar penuturan Daren.
🤦
be smart don't be stupid alias i d i o t🤭
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang