"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 (Sumpah di atas Altar palsu)
Satu bulan berlalu dengan persiapan yang tergesa-gesa namun tertutup rapat. Sesuai dengan permintaan Mike yang diamini dengan penuh rasa syukur oleh Kakek Surya, tidak ada pesta resepsi megah di hotel bintang lima yang diliput oleh media. Pernikahan itu digelar di sebuah kapel pribadi milik keluarga Raharja di pinggiran kota Bogor, dikelilingi oleh taman pinus yang berkabut. Hanya ada keluarga inti, Sarah—ibu Alisha, serta tiga sahabat karib Mike yang hadir sebagai saksi.
Alisha berdiri di depan cermin besar ruang rias kapel. Gaun pengantinnya putih bersih, berbahan brokat brokat klasik tanpa ekor panjang yang berlebihan, sangat pas di tubuhnya yang ramping. Di balik riasan wajahnya yang anggun, Alisha bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang.
Pintu kamar rias terbuka, menampilkan Sarah yang berjalan masuk dengan mata yang berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu memeluk pundak putrinya dari belakang, menatap refleksi mereka di cermin.
"Alisha... Ibu masih merasa seperti bermimpi," bisik Sarah, suaranya bergetar menahan tangis. "Kamu benar-benar yakin dengan keputusan ini, Nak? Pak Mike adalah pria yang luar biasa, tapi... hidup tanpa anak di keluarga sekaya itu..."
Alisha berbalik, menggenggam kedua tangan ibunya dengan erat untuk menyalurkan kemantapan hati. "Ibu, kita sudah membahas ini berkali-kali. Pak Mike sudah mengorbankan sepuluh tahun hidupnya untuk memastikan kita aman setelah Kak Aryo tiada. Sekarang, saat dia berada di titik terendahnya, giliran Alisha yang menjadi tamengnya. Alisha tidak peduli tentang anak atau omongan orang luar. Alisha hanya ingin membalas budi."
Sarah mengangguk pasrah, mengusap air mata di sudut matanya. Di mata Sarah dan Alisha, pernikahan ini adalah sebuah pengorbanan suci yang didasari oleh rasa kemanusiaan dan utang budi yang teramat besar. Mereka sama sekali tidak mendengar suara tawa kemenangan yang menggema di dalam kepala Mike Raharja sejak sebulan yang lalu.
Altar kapel tampak syahdu dengan hiasan bunga lili putih. Mike Raharja berdiri tegak di sana, mengenakan setelan tuksedo hitam terbaiknya. Rambutnya ditata rapi, menampilkan dahi dan rahangnya yang tegas. Di barisan kursi terdepan, Kakek Surya duduk di kursi rodanya dengan saputangan yang tak lepas dari genggaman, bersiap untuk menangis haru lagi.
Di barisan belakang, Kevin menyenggol lengan Marvel dengan siku. "Lihat wajah si iblis itu. Dia bahkan tidak bisa menyembunyikan binar matanya yang haus."
"Diamlah, Kev. Skenario ini sudah sampai di babak akhir. Jangan sampai Kakek Surya mendengar kita," bisik Marvel sembari menahan tawa. Di samping mereka, Alvin dan Anita duduk bersisian, saling menggenggam tangan, ikut menyaksikan akhir dari bidak catur yang dilepaskan Mike empat tahun lalu.
Pintu kapel terbuka lebar. Alenia musik klasik *Canon in D* mulai mengalun lembut. Alisha melangkah masuk, berjalan perlahan di atas karpet merah ditemani oleh seorang paman dari pihak ibunya.
Mata Mike langsung mengunci sosok Alisha. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun penantian dalam sunyi, Mike membiarkan tatapan posesif dan obsesifnya keluar tanpa ditahan. Gadis kecil yang dulu menangis di pemakaman kakaknya, gadis yang selama empat tahun ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan agar tidak dihancurkan oleh Kakek Surya, kini berjalan ke arahnya. Memakai gaun pengantin. Untuk dirinya.
Saat tangan Alisha diserahkan ke dalam genggaman Mike, pria itu meremas jemari Alisha dengan sangat erat—sebuah cengkeraman yang begitu posesif hingga membuat Alisha sedikit terkejut. Alisha mendongak, menatap mata Mike, dan entah mengapa, rasa dingin yang aneh tiba-tiba merayap di tengkuknya saat melihat senyuman tipis di bibir pria itu.
Prosesi pemberkatan berjalan dengan khidmat. Di hadapan pemuka agama, Mike mengucapkan sumpahnya dengan suara bariton yang mantap dan mutlak.
"Aku, Mike Raharja, menerima engkau, Alisha, sebagai istriku yang sah. Untuk memilikimu dan menjagamu, dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, seumur hidupku."
*Seumur hidupmu, Alisha. Kamu tidak akan pernah bisa lepas lagi,* batin Mike saat menyematkan cincin berlian sederhana namun bernilai fantastis di jari manis Alisha.
Ketika giliran Alisha mengucapkan sumpahnya, suaranya terdengar jernih walau sedikit bergetar oleh haru. Bagi Alisha, sumpah ini adalah janjinya untuk menjadi pelindung bagi Mike yang 'malang'.
"Kedua mempelai dipersilakan bertepuk tangan, pernikahan kalian sah," ucap pemuka agama.
Kakek Surya langsung terisak haru di barisan depan, menggumamkan doa syukur karena ada wanita yang mau menerima cucunya yang 'cacat'. Mike membalikkan tubuhnya menghadap Alisha, memegang kedua sisi wajah Alisha dengan lembut, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi gadis itu untuk waktu yang lama.
"Terima kasih, Alisha. Mulai hari ini, kamu adalah Nyonya Raharja yang sesungguhnya," bisik Mike di telinga Alisha, membuat bulu kuduk gadis itu meremang oleh intonasi suara Mike yang terdengar begitu... penuh kemenangan.
Malam harinya, sebuah mobil mewah membawa pasangan pengantin baru itu menuju sebuah vila privat milik Mike di kawasan perbukitan Sentul. Vila itu sengaja dipilih Mike sebagai rumah baru mereka, jauh dari hiruk-pikuk pelayan kediaman utama, agar ia bisa menikmati "kemenangannya" dengan leluasa.
Alisha duduk di tepi ranjang besar berseprai sutra putih di kamar utama. Kamar itu didekorasi dengan sangat indah, penuh dengan bunga-bunga segar. Alisha masih mengenakan gaun pengantinnya, merasa sangat canggung dan gugup. Ini adalah malam pertamanya sebagai seorang istri. Meskipun ia mengira Mike mandul dan pernikahan ini didasarkan pada rasa kasihan, Alisha tahu betul bahwa Mike tetaplah seorang pria dewasa yang normal secara biologis.
Pintu kamar mandi terbuka. Mike melangkah keluar hanya dengan mengenakan jubah mandi satin hitam yang longgar, menampilkan sebagian dada bidangnya yang tegap dan rambutnya yang masih basah. Aura intimidasi dan dominasi yang terpancar dari tubuh pria itu seketika memenuhi ruangan, membuat Alisha menelan ludah dengan susah payah.
Mike berjalan perlahan mendekati ranjang, lalu duduk di samping Alisha. Jarak mereka begitu dekat hingga Alisha bisa mencium aroma sabun maskulin bercampur aroma mask yang pekat dari tubuh Mike.
"Kamu tegang sekali, Alisha," ucap Mike, suaranya terdengar lebih rendah dan serak di keheningan malam.
"M-Mike... saya hanya berpikir... tentang bagaimana kita akan menjalani pernikahan ini setelah ini," Alisha mencoba mengalihkan kegugupannya dengan pembicaraan serius. "Saya akan tetap memasak untuk Anda, dan saya akan membantu Anda menghadapi keluarga besar Anda jika mereka mulai menekan Anda lagi tentang posisi CEO."
Mike menatap Alisha dengan tatapan yang dalam, mengusap untaian rambut Alisha yang menghalangi leher jenjangnya. "Kamu benar-benar mengkhawatirkan posisiku, hm?"
"Tentu saja. Saya tidak mau Anda kehilangan apa yang sudah Anda perjuangkan hanya karena... karena kekurangan Anda," ucap Alisha tulus, menatap Mike dengan binar mata yang penuh rasa iba dan pengabdian.
Mendengar kata 'kekurangan', Mike tidak bisa lagi menahan senyumannya. Sebuah tawa rendah yang dingin dan seksi lolos dari bibirnya, membuat Alisha mengerutkan kening bingung.
"Kenapa Anda tertawa, Mike? Apakah ada yang lucu?"
Mike memajukan tubuhnya, mengurung tubuh Alisha dengan kedua tangannya di atas ranjang, membuat Alisha terpaksa bersandar pada tumpukan bantal. Wajah Mike kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Alisha, napas hangatnya menerpa permukaan kulit gadis itu.
"Alisha... kamu adalah gadis paling pintar di kampusmu, tapi kamu adalah gadis paling polos yang pernah kutemui di dunia ini," bisik Mike, matanya berkilat oleh kepuasan yang pekat.
"Maksud Anda?" Jantung Alisha berdegup gila-gilaan, rasa cemas mulai merayap di dadanya saat melihat perubahan drastis pada tatapan mata Mike yang tidak lagi tampak merana seperti kemarin.
"Apakah kamu benar-benar berpikir seorang Mike Raharja akan membiarkan dirinya dicap mandul oleh seluruh dunia jika tidak ada hadiah yang sangat besar di akhir skenarionya?" Mike menaikkan sebelah alisnya, senyumannya tampak begitu licik dan berbahaya.
Alisha terbelalak, otaknya mendadak macet. "A-apa maksudnya... skenario?"
Mike mendekatkan bibirnya ke telinga Alisha, membisikkan sebuah kalimat yang seketika membuat seluruh dunia Alisha runtuh dan berputar balik dalam sekejap.
"Aku tidak mandul, Alisha. Anita tidak pernah membuangku karena aku tidak bisa memberikan anak. Pernikahan empat tahunku dengannya hanyalah kontrak untuk menunggumu legal," Mike menarik wajahnya kembali, menatap Alisha yang kini membeku dengan wajah pucat pasi. "Aku menyebarkan rumor itu hanya untuk membuat Kakek menyerah memaksaku, dan yang paling penting... untuk membuatmu datang menyerahkan dirimu sendiri ke dalam pelukanku karena rasa bersalahmu."
"M-Mike... Anda... Anda menipuku?" Air mata seketika merebak di pelupuk mata Alisha. Rasa bersalah yang selama ini ia pikul mendadak berubah menjadi rasa syok yang teramat sangat. Pria yang ia kasihani, pria yang ingin ia selamatkan, ternyata adalah dalang gila yang menjebaknya dengan sangat rapi.
"Aku tidak menipumu, aku hanya menggunakan strategi bisnis untuk mendapatkan apa yang kuinginkan," Mike mengulurkan tangannya, mengusap air mata yang menetes di pipi Alisha dengan ibu jarinya, lalu mengecup bibir gadis itu sekilas dengan penuh penekanan. "Dan sekarang, kamu sudah resmi menjadi istriku, Alisha. Tidak akan ada jalan keluar, tidak ada pembatalan pernikahan."
Mike merunduk, menatap Alisha dengan tatapan lapar seorang predator yang siap menyantap mangsanya setelah berpuasa selama empat tahun penuh.
"Malam ini, biarkan aku membuktikan padamu... apakah rumor tentang kemandulan suamimu ini benar atau tidak," bisik Mike sebelum akhirnya membungkam bibir Alisha dalam sebuah ciuman posesif yang mengunci seluruh takdir gadis itu seumur hidupnya.