NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: MISTERI DIBALIK TRAUMA

Kamar rawat VVIP itu mendadak diselimuti keheningan yang mencekam. Tangan Dafa masih menggantung di udara, membeku menatap pemandangan di hadapannya. Di atas ranjang, Nazya masih meringkuk dengan posisi tangan menyilang di depan wajah, tubuhnya bergetar hebat bagai dedaunan yang dihantam angin kencang. Kalimat “Jangan pukul saya...” yang keluar dari bibir pucat istrinya terus terngiang, memukul telinga Dafa dengan telak.

Dafa perlahan menurunkan tangannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan gejolak amarah dan kebingungan yang berkecamuk di dalam dadanya. Sebagai seorang pria yang terbiasa membaca taktik lawan di dunia bisnis, Dafa tahu ada sesuatu yang sangat kelam di masa lalu wanita ini. Gerakan defensif itu bukan sekadar ketakutan biasa pada orang asing; itu adalah refleks otomatis dari seseorang yang sudah terbiasa menerima kekerasan fisik secara konstan.

"Nazya... buka matamu. Aku tidak akan memukulmu," ucap Dafa. Suaranya ditekan serendah dan selembut mungkin, seolah sedang berbicara dengan seekor rusa kecil yang terluka dan ketakutan di tengah hutan.

Mendengar suara bariton yang tenang itu, Nazya perlahan menurunkan kedua tangannya. Ia membuka mata dengan sangat hati-hati. Napasnya masih memburu, dan sepasang mata jernih yang kini basah oleh air mata itu menatap Dafa dengan sisa-sisa kengerian. Ketika melihat Dafa justru melangkah mundur satu langkah untuk memberikan ruang aman, Nazya perlahan menurunkan ketegangannya, meski jemarinya tetap meremas selimut dengan erat.

Dafa menatap istrinya dalam-dalam sebelum akhirnya berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia melangkah keluar dari kamar rawat, menutup pintu kayu ek itu dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara bising. Begitu berada di koridor sepi rumah sakit, wajah lembut Dafa lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi dingin dan rahang yang mengeras sempurna. Sifat dominan dan posesifnya sebagai seorang CEO kini menuntut jawaban mutlak.

Ia merogoh ponsel dari saku celananya, lalu mendial sebuah nomor. Hanya dalam dua kali nada sambung, suara asisten pribadinya, mikael, terdengar di seberang telepon.

"Ya, Pak Dafa? Ada yang bisa saya bantu?"

"Mikael, cari tahu semua hal tentang masa lalu Nazya Humaira," perintah Dafa, suaranya terdengar sedingin es di kutub utara. "Aku tahu dia seorang janda. Aku ingin semua detail tentang mantan suaminya. Siapa namanya, apa pekerjaannya, di mana dia sekarang, dan bagaimana memperlakukan Nazya selama pernikahan mereka. Jangan lewatkan satu detail pun. Aku ingin laporannya ada di mejaku besok pagi."

"Baik, Pak. Segera saya urus melalui jaringan informasi kita," jawab Mikael sigap sebelum menutup sambungan telepon.

Dafa memasukkan kembali ponselnya, lalu bersandar pada dinding koridor yang dingin. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan yang tajam. Ada amarah yang membara di dalam dirinya. Siapa pun laki-laki bajingan yang telah merusak mental dan fisik wanita seindah Nazya, Dafa bersumpah di dalam hatinya bahwa pria itu tidak akan pernah bisa hidup tenang lagi jika berani menampakkan diri di hadapannya.

Dua hari berlalu dengan cepat di rumah sakit. Selama waktu itu, interaksi antara Dafa dan Nazya berjalan sangat minim dan canggung. Dafa sengaja tidak terlalu banyak mendekat agar Nazya tidak merasa tertekan, namun ia memastikan semua fasilitas terbaik, makanan bergizi, dan perawat pribadi melayani Nazya dengan sempurna. Ibu Dafa, Kinanti, juga beberapa kali datang membawakan buah-buahan dan pakaian baru untuk menantunya, memperlakukan Nazya dengan sangat manis hingga membuat Nazya bingung.

Siang itu, cuaca Jakarta cukup cerah. Hari ini adalah hari di mana pihak rumah sakit akhirnya mengizinkan Nazya untuk pulang. Di dalam kamar rawat, Pak Handoko tampak sibuk merapikan pakaian mereka ke dalam tas jinjing sederhana. Sementara itu, Nazya sudah duduk di atas kursi roda barunya, mengenakan gamis longgar berwarna hijau toska pemberian Kinanti. Kaki kanannya yang masih dibalut gips tebal ditopang lurus ke depan oleh sandaran khusus kursi roda tersebut.

Pintu kamar terbuka, dan sosok Dafa melangkah masuk dengan setelan jas formalnya yang selalu tampak sempurna. Kehadirannya seketika mengubah atmosfer ruangan menjadi terasa lebih sempit dan mendominasi.

"Semua administrasi dan obat-obatan untuk satu bulan ke depan sudah diselesaikan oleh asistenku," ucap Dafa sambil menatap Pak Handoko, lalu mengalihkan pandangan matanya pada Nazya yang langsung menundukkan kepala begitu tatapan mereka bertemu. "Mobil juga sudah siap di lobi bawah. Kita berangkat sekarang."

"Terima kasih banyak, Tuan Dafa. Kami benar-benar merepotkan," ujar Pak Handoko dengan rasa sungkan yang besar.

"Panggil saya Dafa saja, Pak. Sekarang kita sudah menjadi keluarga," balas Dafa dengan nada hormat yang tulus pada ayah mertuanya.

Dafa kemudian melangkah mendekati kursi roda Nazya. Merasa langkah kaki suaminya mendekat, tubuh Nazya otomatis menegang kembali. Kedua tangannya mencengkeram erat sandaran lengan kursi roda. Ia berpikir Dafa akan mendorong kursi rodanya dengan kasar seperti yang biasa dilakukan mantan suaminya jika sedang tidak sabaran.

Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Dafa berlutut di sebelah kursi roda Nazya, membuat tinggi badan mereka sejajar. Jarak yang dekat ini membuat Nazya bisa mencium aroma maskulin kayu cendana yang menenangkan dari tubuh Dafa.

"Nazya, jalanan menuju lobi sedikit tidak rata. Kalau kamu merasa pusing atau kakimu sakit saat aku mendorongnya nanti, langsung beri tahu aku, mengerti?" bisik Dafa lembut, menatap lurus ke dalam mata Nazya yang tampak terkejut.

Nazya hanya bisa mengangguk pelan sekali, tidak berani mengeluarkan suara.

Dafa berdiri, lalu memegang kendali setang kursi roda dengan sangat hati-hati. Ia mendorong kursi roda itu dengan gerakan yang luar biasa pelan dan halus, memastikan tidak ada guncangan berarti yang bisa menyakiti kaki kanan istrinya. Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit, melewati lobi utama, menuju sebuah mobil MVP mewah berukuran besar, Toyota Alphard hitam, yang sudah menunggu dengan pintu geser otomatis yang terbuka lebar.

Pak Handoko dibantu oleh Pak Joko untuk duduk di jok tengah, sementara Dafa bersiap untuk memindahkan Nazya ke dalam mobil. Dafa tahu, memindahkan orang dengan kondisi kaki patah ke atas jok mobil yang cukup tinggi membutuhkan tenaga yang besar dan kehati-hatian ekstra.

Dafa membungkukkan tubuhnya di depan kursi roda Nazya. "Aku akan mengangkatmu lagi ke dalam mobil. Pegang bahuku," instruksi Dafa tegas namun lembut.

Nazya menelan ludahnya yang terasa kelat. Dengan sangat terpaksa dan canggung, ia melingkarkan kedua tangan kurusnya pada bahu lebar Dafa. Detik berikutnya, Dafa menyusupkan kedua lengannya di bawah ketiak dan paha Nazya, lalu mengangkat tubuh ramping itu dengan satu sentakan halus yang bertenaga.

Wajah mereka menjadi sangat dekat, hanya berjarak beberapa sentimeter. Nazya bisa merasakan napas hangat Dafa yang menerpa pipinya. Di tengah kepasrahan dan ketakutannya, Nazya tidak bisa memungkiri ada rasa takjub yang menyelinap di hatinya; lengan pria ini begitu kokoh dan stabil, seolah-olah mampu menopang seluruh berat dunianya yang runtuh.

Namun, tepat saat Dafa baru saja memosisikan tubuh Nazya dengan nyaman di atas jok kulit mobil yang empuk, ponsel di dalam saku jas Dafa bergetar hebat. Dafa menarik dirinya kembali, lalu merogoh ponsel tersebut. Sebuah pesan teks dari Mikael masuk, berisi sebuah file PDF dengan judul: Laporan Investigasi Masa Lalu Nazya Humaira.

Dafa membuka file tersebut sekilas saat berdiri di samping pintu mobil yang masih terbuka. Sepasang mata elangnya membaca baris demi baris informasi yang tertera di sana. Dan ketika matanya membaca nama lengkap sang mantan suami beserta detail kekejaman yang pernah diterima Nazya, rahang Dafa mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol kemerahan. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat mengerikan dan penuh haus darah.

Nazya yang memperhatikan perubahan drastis wajah suaminya dari dalam mobil seketika mencengkeram selimutnya kembali, dihantam rasa takut yang luar biasa. Dia sudah berubah dingin... apakah dia sudah bosan berpura-pura baik dan sekarang giliran siksaannya yang akan dimulai? batin Nazya meratap panik.

Oke lanjut.

1
miilieaa
halo kak, baru awal baca udah seru nihh
miilieaa: baik kakak, saya lanjut baca dulu lagi yaa kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!