NovelToon NovelToon
Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

"Leo, astaga! Kamu sedang apa dengan laptop Tante? Kok layarnya berubah jadi hitam dan banyak tulisan hijau berjalan begitu?!"

Dira memekik panik, hampir saja menjatuhkan cangkir kopi yang baru ia seduh di dapur suite Hotel Grand Inna.

Ia bergegas melangkah mendekati meja makan, menatap horor ke arah keponakan kecilnya yang sedang duduk tegak di atas kursi dengan bantal tambahan agar tingginya sejajar dengan meja.

Bocah berusia lima tahun itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar. Jemari mungilnya bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik, menciptakan bunyi ketukan yang ritmis dan konstan.

"Tante Dira berisik, ah. Leo lagi sibuk ini," sahut Leo tanpa dosa, matanya yang bulat berbinar penuh konsentrasi saat baris demi baris kode siber tereksekusi dengan sempurna.

"Sibuk apa? Itu laptop kantor Tante, Leo! Kalau sampai datanya hilang atau kena virus, kita berdua bisa digantung sama Alana!" Dira mencoba meraih laptopnya, namun Leo dengan cekatan menepis tangan tantenya sembari menekan tombol Enter dengan mantap.

"Aman, Tante Dira. Ini bukan virus. Leo cuma lagi bikin jembatan rahasia untuk masuk ke dalam rumah robot besar yang semalam kita datangi," jelas Leo, menunjuk sebuah logo huruf A emas yang kini muncul di sudut kiri atas layarnya setelah sistem pertahanan utama berhasil ia lewati.

Dira melotot, jantungnya bagai copot seketika saat mengenali logo tersebut.

"R-rumah robot besar? Maksud kamu... Adhitama Group?! Leo Kirana, kamu meretas sistem perusahaan raksasa itu?!"

"Iya. Om yang matanya seram di bandara semalam itu kan bosnya di sana," jawab Leo santai, ia menyandarkan punggungnya sembari melipat kedua tangan di depan dada, meniru gaya berpikir ibunya.

"Mommy tadi pergi ke sana untuk wawancara kerjaan, tapi sudah jam segini belum pulang juga. Telepon Mommy juga tidak aktif. Leo khawatir Om seram itu macam-macam sama Mommy, makanya Leo mau lihat jadwal kerja Mommy di dalam komputernya."

"Ya Tuhan, anak ini..." Dira memijat pelipisnya yang mendadak pening luar biasa.

"Leo, kecerdasanmu ini benar-benar turunan monster. Tapi ini ilegal, Sayang! Kalau mereka tahu, kita semua bisa ditangkap polisi!"

"Tidak akan tahu, Tante Dira. Leo pakai alamat IP palsu yang berputar-putar lewat kutub utara baru masuk ke sini. Sistem mereka itu jadul sekali, seperti mainan bayi," cibir Leo dengan nada meremehkan yang sangat persis dengan pembawaan Devran Adhitama.

"Jadul kamu bilang? Itu sistem keamanan korporasi multinasional, Leo!" Dira menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa tak berdaya menghadapi kejeniusan keponakannya.

"Lalu, apa yang kamu temukan? Di mana Mommy sekarang?"

Leo kembali mencondongkan tubuhnya ke depan, mengetuk beberapa tombol untuk membuka modul log aktivitas harian Lantai 45 Adhitama Tower.

"Nah, ini dia. Jadwal wawancara Mommy harusnya sudah selesai satu jam yang lalu. Tapi..." Alis tebal Leo mendadak berkerut rapat.

"Kenapa status pintu ruang pertemuan utama tertutup rapat dan dikunci secara digital atas perintah petinggi perusahaan? Om seram itu mengurung Mommy di dalam?!"

"Apa?! Dikunci?!" Dira langsung ikut panik, menatap layar laptop yang kini menampilkan skema denah digital gedung Adhitama.

"Alana terjebak di sana bersama Devran? Waduh, gawat! Jangan-jangan Devran sudah tahu tentang.."

"Tahu tentang apa, Tante Dira?" potong Leo cepat, matanya menyipit penuh selidik menatap wajah tantenya yang mendadak pucat.

"Semalam Om seram itu juga tanya nama panjang Leo, terus dia tanya nama Mommy. Kenapa dia tahu nama Mommy? Tante Dira merahasiakan sesuatu dari Leo, ya?"

Dira tergagap, buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain. "E-eh? Rahasia apa? Tidak ada! Tante tidak tahu apa-apa! Kamu jangan sok tahu ya, anak kecil!"

"Leo bukan anak kecil biasa, Tante. Leo bisa melihat detak jantung Tante lewat kamera laptop ini yang mendeteksi pergerakan nadi di leher Tante. Tante lagi bohong, kan?" tembak Leo telak, membuat Dira langsung menutup lehernya dengan telapak tangan, merasa ngeri dengan kemampuan analisis keponakannya yang tidak masuk akal untuk ukuran anak TK.

"Sudah, jangan bahas itu! Sekarang fokus saja, bagaimana cara kita tahu keadaan Mommymu!" Dira mencoba mengalihkan pembicaraan, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

"Leo akan buka akses ke kamera pengawas koridor Lantai 45," ujar Leo, jemarinya kembali menari di atas papan ketik.

"Tunggu sebentar... Leo harus mematikan alarm lokal mereka dulu supaya kedatangan Leo tidak memicu lampu merah di ruang kendali mereka."

"Bisa?" tanya Dira panik namun penuh harap.

"Tentu saja bisa. Tinggal potong kabel digitalnya di bagian sini, lalu... and... done!" Leo tersenyum bangga saat sebuah jendela baru terbuka di layarnya, menampilkan siaran langsung dari koridor mewah Lantai 45.

Di dalam layar, tampak Alana baru saja melangkah keluar dari ruang pertemuan dengan wajah yang sangat tegang, disusul oleh kemunculan Siska Lorenza yang langsung menghadangnya.

"Wah, ada Tante baju merah yang mukanya seperti penyihir di film kartun," celutuk Leo, menunjuk sosok Siska di layar.

"Dia marahi Mommy, Tante! Lihat, dia rebut berkas Mommy!"

"Astaga, itu Siska! Lampu merah! Si lampir itu kembali lagi mengusik Alana!" Dira mengepalkan tangannya kesal, ikut menonton dengan geregetan.

"Ayo Leo, besarkan suaranya! Tante mau dengar mereka bicara apa!"

"Sebentar, Leo hubungkan ke mikrofon terdekat di langit-langit koridor," sahut Leo cepat, tangannya bergerak lincah menyusup ke dalam protokol audio gedung.

Namun, tepat saat Leo berhasil memunculkan audio samar-samar yang memperlihatkan momen Devran keluar dan memecat staf bernama Maya, sebuah garis peringatan berwarna merah terang mendadak berkedip-kedip di bagian bawah layar laptop Dira.

WARNING: INTRUSION DETECTED AT PROTOCOL 7. COUNTER-MEASURE ACTIVATED.

"Eh? Apa ini?" Leo bergumam, matanya menyipit menatap kode pertahanan baru yang tiba-tiba muncul dan mencoba mengisolasi jembatan rahasia yang ia buat.

"Ada apa, Leo? Kenapa layarnya berkedip merah begitu?!" Dira kembali panik, perasaan buruknya mulai bekerja.

"Sistem mereka tiba-tiba berubah, Tante. Ini bukan sistem jadul yang tadi," ujar Leo, suaranya mendadak serius dan dalam.

"Ada perisai siber tingkat tinggi yang tiba-tiba aktif dari dalam ruangan Om seram itu. Perisai ini pintar sekali, dia bisa membaca jalur penyamaran kutub utara milik Leo!"

Sementara itu, di Lantai 45 Adhitama Tower, tepat di dalam ruang kerja pribadinya yang megah, Devran Adhitama sedang berdiri menatap jendela kaca besar. Di tangannya, gawai pintar militer miliknya mendadak bergetar hebat disertai dengan bunyi alarm berfrekuensi rendah yang sangat spesifik.

BEEP... BEEP... BEEP...

Devran mengernyitkan dahi. Ia menarik gawai tersebut dan melihat sebuah notifikasi berlambang perisai hitam yang menyala-nyala.

"Infiltrasi siber di server inti?" gumam Devran, matanya berkilat tajam.

Pintu ruang kerjanya terbuka dengan tergesa-gesa. Reno masuk dengan wajah panik yang jarang sekali ia tunjukkan.

"Tuan Besar! Sistem keamanan siber utama kita baru saja mendeteksi adanya peretasan paksa yang mencoba mengakses log audio dan kamera pengawas koridor Lantai 45 yang baru saja Anda lewati!"

Devran membalikkan tubuhnya perlahan, melangkah menuju meja kerjanya dengan ketenangan seorang penguasa. "Siapa yang berani? Apakah sisa-siga pengikut lama atau mata-mata dari Lorenza Group?"

"Bukan, Tuan Besar. Ini yang membuat tim IT kita kebingungan," jawab Reno, menyodorkan sebuah tablet digital yang menampilkan grafik pelacakan lokasi.

"Peretas ini awalnya menggunakan belasan proxy berlapis dari Eropa dan wilayah Arktik untuk mengelabui dinding api kita. Namun, begitu Anda mengaktifkan perisai siber khusus petinggi perusahaan tadi, sistem kecerdasan buatan kita berhasil membalikkan serangan dan mengunci titik asal sinyal murninya."

"Di mana lokasinya?" tanya Devran dingin, suaranya sarat akan ancaman mematikan bagi siapa pun yang berani mengusik wilayahnya.

"Sinyal itu berasal dari jaringan lokal Hotel Grand Inna, Lantai 9, Kamar 902, Tuan," ujar Reno dengan suara yang sedikit bergetar.

"Tempat... tempat Ibu Alana Kirana dan putranya menginap."

Mendengar lokasi tersebut, gerakan Devran yang hendak mengambil cangkir kopinya langsung terhenti total. Ia terpaku sejenak, sebelum akhirnya sebuah tawa rendah, berat, dan penuh rasa takjub yang mendalam lolos dari bibir tegasnya.

"Leo..." Devran menggumamkan nama itu dengan binar mata yang menyala-nyala oleh rasa bangga yang luar biasa.

"M-maksud Anda, Tuan Besar? Yang meretas kita adalah... bocah berusia lima tahun itu?!" Reno melotot syok, tidak mampu menyembunyikan rasa tidak percayanya.

"Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa menembus dinding api Adhitama Group yang dijaga oleh puluhan ahli IT profesional?!"

"Jangan meremehkan darah dagingku, Reno," sahut Devran, ia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja dengan ritme yang penuh kemenangan.

"Anak itu tidak sedang mencoba merusak perusahaan kita. Dia hanya sedang mengawasi ibunya. Dia mematikan alarm lokal, menyusup ke kamera pengawas, bahkan mencoba membuka akses audio untuk memastikan Alana baik-baik saja setelah konfrontasi denganku tadi."

"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Tuan? Apakah kita harus memutus jaringannya secara paksa?" tanya Reno sigap.

"Tidak. Jangan diputus," potong Devran cepat, senyum dominannya terkembang sempurna.

"Biarkan dia tetap mengintip. Tapi, kirimkan sebuah pesan balik langsung ke layar monitor yang sedang dia gunakan sekarang. Aku ingin menyapanya secara pribadi."

Kembali ke kamar 902 Hotel Grand Inna, Leo sedang berjuang keras menahan serangan balik dari perisai siber Devran. Keringat kecil mulai tampak di dahi bocah itu.

"Tante Dira, bantu Leo pegang tetikus ini! Cepat!" seru Leo penuh ketegangan.

"Pegang bagaimana?! Tante tidak paham kode-kode ini, Leo!" Dira berteriak panik, tangannya gemetar saat memegang tetikus sesuai perintah keponakannya.

"Klik tombol biru di sudut kanan kalau dia berubah jadi merah! Cepat, eh?"

Kalimat Leo terhenti seketika.

Seluruh baris kode hijau di layar laptop Dira mendadak lenyap, digantikan oleh layar hitam pekat yang statis.

Sedetik kemudian, sebuah jendela percakapan holografik digital terbuka otomatis di tengah layar, memunculkan sebuah teks tebal berwarna emas yang tertulis dengan sangat jelas:

"Kemampuan yang impresif untuk anak seusiamu, Leo Kirana. Tapi, mengintip urusan orang dewasa adalah tindakan yang tidak sopan. Matikan laptopmu sekarang, atau Ayah yang akan datang ke sana dan menyita mainanmu ini dalam waktu sepuluh menit."

Dira membaca teks itu dan langsung menjerit tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan. "A...Ayah?! Dia menyebut dirinya Ayah?!"

"Leo, Devran sudah tahu! Dia tahu kamu meretasnya, dan dia tahu kamu anaknya!"

Leo tidak menangis atau ketakutan seperti tantenya. Ia justru menatap teks emas itu dengan tatapan mata yang mengeras, memancarkan kilat kecerdasan dan keberanian yang luar biasa besar untuk ukuran anak seusianya.

"Om seram itu pintar juga ya, bisa kirim surat ke sini," gumam Leo, jemari mungilnya langsung mengetik balasan singkat di bawah teks emas tersebut sebelum akhirnya

mematikan daya laptop Dira secara paksa.

KLIK.

Layar laptop mati total, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam kamar hotel, tepat beberapa saat sebelum suara kunci pintu kamar mereka mendadak berbunyi dari arah luar, menandakan Alana telah kembali dengan sejuta ketegangan baru yang siap meledak di antara mereka semua.

1
Rosa Santika
makasih kk
Icha Kolin
sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!