NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Daripada penasaran, yuk mampir ><

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Sisi Lembut Sang 'Lemon'

Malam itu, London tertutup kabut tipis yang menambah kesan misterius pada sebuah gedung tua di kawasan Shoreditch. Emilia, dengan gaun vintage sutra berwarna merah marun, menarik tangan Gaby masuk ke dalam pameran seni "Underground" yang hanya bisa diakses dengan undangan khusus.

"Tenang saja, Gaby! Ini pameran seni kontemporer terbaik bulan ini. Kau akan menyukainya!" seru Emilia dengan binar mata yang antusias.

Gaby, yang mengenakan mini dress hitam simpel namun elegan, hanya bisa mengikuti langkah cepat gadis Rusia itu. Namun, di belakang mereka, langkah kaki yang berat dan berwibawa mengikuti dengan setia. Emrys, mengenakan turtleneck hitam dan mantel panjang senada, tampak sangat tidak senang berada di tempat yang penuh dengan seniman nyentrik dan musik abstrak tersebut.

"Lima belas menit, Emilia. Setelah itu kami harus pulang," gumam Emrys dingin sembari mengedarkan pandangan waspada ke sekeliling ruangan yang remang-remang.

Emilia hanya tertawa kecil, suara tawanya yang merdu memecah ketegangan. "Jangan kaku begitu, Emrys! Lihat, itu orang tuaku!"

Gaby menoleh dan melihat sepasang suami istri yang tampak sangat berkelas berdiri di dekat sebuah instalasi patung kaca. Sang pria memiliki garis wajah tegas seperti Keytlon namun lebih matang, sementara sang wanita memiliki kecantikan abadi khas bangsawan Rusia.

Vadim Roslavlev dan Seraphina Gardermoen-Roslavleva.

"Papa! Mama!" Emilia berlari kecil memeluk mereka.

Vadim, dengan aksen Rusia yang kental namun sangat berwibawa, menyambut putrinya sebelum matanya tertuju pada Emrys dan Gaby. "Ah, Emrys. Senang melihatmu masih sempat menjaga putriku yang liar ini."

Emrys mengangguk hormat, menjabat tangan Vadim dengan tegas. "Hanya memastikan dia tidak membawa Gaby ke tempat yang aneh-aneh, Paman Vadim."

Seraphina kemudian mendekat ke arah Gaby, matanya yang lembut menatap wajah Gaby dengan penuh perhatian. "Dan ini pasti Gabriella? Emilia tidak berhenti membicarakanmu sejak siang tadi di Harrods. Dia bilang dia akhirnya menemukan 'kembaran jiwa' di London."

Gaby tersenyum sopan, sedikit merasa malu namun juga hangat menyambut keramahan keluarga Roslavlev. "Senang bertemu dengan Anda, Auntie Seraphina."

"Panggil aku Mama Seraphina saja, sayang. Karena Emilia akan menjagamu di Oxford, maka kami juga akan menganggapmu seperti putri sendiri," ujar Seraphina sembari mengelus pipi Gaby lembut.

Di sudut ruangan, Emrys hanya terdiam memperhatikan interaksi itu. Ada rasa lega melihat Gaby diterima dengan begitu baik oleh keluarga Roslavlev, namun di sisi lain, ia tahu bahwa dengan adanya Emilia, hidupnya di London tidak akan pernah tenang lagi.

"Jadi, Emrys," Vadim menepuk bahu Emrys cukup keras, "Bagaimana kalau kita bicara soal investasi di galeri ini sambil membiarkan gadis-gadis ini menikmati seninya?"

Emrys melirik Gaby yang kini sedang asyik mendengarkan penjelasan Emilia tentang sebuah lukisan abstrak. Ia menghela napas pasrah. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang.

.

.

.

Di tengah keriuhan pameran seni yang eksentrik itu, seorang wanita melangkah mendekat ke arah Emrys dengan kepercayaan diri yang mutlak. Kulitnya yang gelap eksotis berkilau di bawah lampu galeri, serasi dengan rambutnya yang dikepang kecil-kecil (braids) dengan gradasi warna tembaga yang artistik.

Ia adalah Zolaide Mbeki. Model papan atas yang wajahnya sudah menghiasi sampul Vogue berkali-kali.

Zola berbicara cukup lama dengan Emrys, gesturnya sangat ekspresif sementara Emrys hanya menanggapi dengan anggukan-anggukan formal. Gaby, yang merasa penasaran (dan sedikit tidak ingin ditinggalkan), akhirnya memberanikan diri menghampiri mereka.

Begitu Gaby berdiri di samping Emrys, Zola mendadak berhenti bicara. Matanya yang berwarna cokelat madu melebar, menatap Gaby seolah-olah ia baru saja menemukan berlian mentah di tengah tumpukan batu kali.

"Oh my... Emrys, who is this vision?" suara Zola terdengar serak-serak basah yang elegan. Ia mengitari Gaby, mengamati struktur wajah dan proporsi tubuh gadis itu dengan binar pemangsa seni. "She’s a masterpiece. The bone structure, the innocent gaze... she’s exactly what I’ve been looking for."

( Ya ampun... Emrys, penampakan siapakah ini?Dia adalah sebuah mahakarya. Struktur tulangnya, tatapan polosnya... dia persis seperti apa yang selama ini kucari.)

Gaby mengerjapkan mata, sedikit bingung. "Halo? Saya Gaby."

Zola memegang pundak Gaby dengan lembut namun mantap. "Listen, Gaby. I’m opening my own flagship boutique on Bond Street next month, and I need a fresh face for the debut. Not a typical model. Someone who looks like a porcelain doll with a soul. You are it. I want you on my stage."

( Dengar, Gaby. Aku membuka butik utama sendiri di Bond Street bulan depan, dan aku butuh wajah baru untuk debutnya. Bukan model biasa. Seseorang yang terlihat seperti boneka porselen dengan jiwa. Kamu orangnya. Aku ingin kamu di panggungku.)

Gaby merasakan jantungnya berdegup kencang. Menjadi model untuk butik Zola Mbeki di London? Itu terdengar seperti mimpi yang sangat liar. "Benarkah? Aku... aku tidak pernah melakukannya sebelumnya, tapi itu terdengar seru."

Namun, sebelum Gaby sempat bertanya lebih lanjut, sebuah tangan besar mendarat di bahunya, menariknya sedikit ke belakang. Aura di sekitar Emrys mendadak menjadi sangat dingin.

"No," ucap Emrys pendek, tegas, dan tanpa ruang untuk negosiasi.

"Come on, Emrys! Don't be such a gatekeeper," protes Zola sembari tertawa kecil. "The world needs to see her."

( Ayolah, Emrys! Jangan jadi penjaga gerbang begitu. Dunia perlu melihatnya.)

"She’s here to study at Oxford, Zola. Not to be under your spotlights," balas Emrys dengan tatapan tajam yang membuat Zola sedikit mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Gaby. We’re leaving in five minutes."

( Dia di sini untuk belajar di Oxford, Zola. Bukan untuk berada di bawah sorotanmu. Gaby. Kita berangkat dalam lima menit.)

Gaby merengut, melirik Zola yang memberikannya kedipan rahasia seolah berkata, "We'll talk later." Meskipun Emrys sudah menolak mentah-mentah, binar ketertarikan di mata Gaby tidak bisa disembunyikan. Dunia fashion London yang glamor baru saja mengetuk pintunya, dan Emrys Aetherion Kaito baru saja membanting pintu itu tepat di depan wajahnya.

.

.

.

Malam semakin larut saat mobil Bentley hitam milik Emrys akhirnya berhenti dengan halus di area parkir privat penthouse. Keheningan menyelimuti kabin mobil yang mewah itu. Emrys baru saja akan membangunkan Gaby, namun gerakannya terhenti saat melihat kepala sepupunya itu terkulai nyaman di pangkuannya.

Gaby tertidur pulas, napasnya teratur, dengan sisa binar kelelahan dari pesta pameran seni tadi masih membekas di wajahnya. Emrys menatapnya sejenak, menghilangkan ekspresi dingin yang selalu ia pasang di depan rekan bisnisnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut memecahkan porselen berharga, Emrys menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Gaby.

Ia menggendong gadis itu masuk ke dalam lift, melintasi ruang tengah penthouse yang temaram, hingga sampai di kamar Gaby yang bernuansa soft cream.

Emrys merebahkan Gaby di atas kasur yang empuk. Hal pertama yang ia perhatikan adalah high heels bertali yang masih melingkar di pergelangan kaki Gaby. Saat ia melepaskannya perlahan, Emrys mengernyit. Kulit putih Gaby tampak memerah, sedikit lecet karena tidak terbiasa memakai sepatu setinggi itu selama berjam-jam.

"You really went all out for a party you didn't even want to attend, didn't you?" bisik Emrys pelan.

( Kau benar-benar berusaha keras untuk pesta yang bahkan tidak ingin kau hadiri, bukan?)

Tanpa memanggil pelayan, Emrys melangkah ke kamar mandi pribadi Gaby. Ia mengambil beberapa kapas dan cairan pembersih wajah (micellar water) yang tertata rapi di meja rias. Dengan ketelatenan yang tidak disangka-sangka dimiliki oleh seorang pria sepertinya, ia mengusap sisa makeup di wajah Gaby dari kelopak matanya hingga bibirnya yang mungil.

Setelah wajah Gaby bersih, Emrys mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air hangat, dan kembali duduk di tepi tempat tidur. Ia mengangkat kaki Gaby perlahan, mengusap bagian yang memerah dengan handuk hangat untuk meredakan rasa sakitnya. Sensasi hangat itu membuat Gaby sedikit melenguh dalam tidurnya, namun ia tidak terbangun.

Emrys menatap kaki kecil itu sejenak sebelum menyelimuti Gaby hingga sebatas dada. Ia berdiri di samping tempat tidur, memperhatikannya sekali lagi di bawah cahaya lampu tidur yang redup.

"Jangan pernah berpikir untuk menjadi model Zola, Gaby. Dunia itu akan menyakitimu lebih dari sekadar sepatu ini," gumam Emrys rendah.

Ia mematikan lampu, lalu keluar dari kamar dengan langkah tanpa suara, meninggalkan aroma sandalwood miliknya yang samar-samar tertinggal di ruangan itu.

1
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!