Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: PAGI YANG BERAT
Ardi tidak ingat kapan tepatnya dia tertidur.
Yang dia ingat adalah ruang keluarga yang gelap, sofa yang terlalu pendek untuk tubuhnya, dan rasa dingin yang merayap dari lantai marmer ke tulang belakangnya. Ketika dia membuka mata, langit di luar jendela sudah berwarna biru pucat, dan ponselnya bergetar di atas meja kopi.
Pukul setengah tujuh.
Dua pesan belum dibaca. Satu dari Bram: Ardi, rapat jam 8. Aku tunggu. Satu dari Maya: Kamu tidur di sofa?
Ardi duduk, lehernya terasa kaku. Selimut yang tidak dia ingat ada di pundaknya—Mungkin Maya yang membawikan. Atau Yuni. Dia meraih ponsel, membaca pesan Maya, lalu menatap ke arah tangga. Kamar Maya di lantai dua, pintunya tertutup.
Dia tidak membalas.
Ardi berdiri, membawa selimut itu ke sofa, melipatnya tanpa berpikir. Di dapur, Yuni sudah mulai menyiapkan sarapan. Bau kopi dan roti bakar memenuhi ruangan, tapi perutnya terasa mual.
“Selamat pagi, Mas Ardi,” sapa Yuni tanpa menoleh. “Mau kopi?”
“Hitam.”
“Mbak Maya sudah sarapan? Beliau belum turun.”
Ardi menatap langit-langit. “Nggak tahu.”
Yuni diam sebentar, lalu menuang kopi ke cangkir. Tangannya terampil, gerakannya biasa saja, seperti tidak ada yang aneh. Tapi Ardi merasa semua orang tahu. Yuni, Pak Rustam di pos satpam, tetangga di seberang jalan—semua orang tahu kalau dia adalah anak yang tidur dengan ibu tirinya.
Dia meminum kopinya cepat, panas membakar lidah. Di atas meja, ponselnya bergetar lagi.
Maya: Rapat jam 8, kan? Kamu harus mandi.
Maya: Aku nggak mau ikut campur, tapi wajahmu kelihatan seperti orang habis menangis.
Ardi menatap layar, jari-jarinya menggantung di atas keyboard. Di ruang keluarga tadi malam, dia menangis. Diam-diam, tanpa suara, dengan air mata yang jatuh di tangannya sendiri. Dia pikir tidak ada yang melihat.
Dia mengetik: Aku baik-baik saja.
Maya membalas cepat: Kamu pembohong.
Ardi tidak membalas. Dia minum kopinya sampai habis, lalu naik ke lantai dua. Di lorong, dia berhenti di depan kamar Maya. Pintunya tertutup, tidak ada suara dari dalam. Dia ingin mengetuk, ingin membuka pintu itu, duduk di samping Maya, dan bilang bahwa semuanya terasa berat. Bahwa dia tidak tahu apakah yang mereka lakukan benar. Bahwa dia takut.
Tapi dia tidak mengetuk.
Dia masuk ke kamarnya sendiri, mandi air dingin, berdiri di bawah pancuran lebih lama dari yang diperlukan. Air dingin membasahi wajahnya, membuat matanya perih, dan untuk sesaat dia ingin kembali ke sana. Kembali ke air, ke dingin, ke tempat di mana dia tidak perlu berpikir.
Tapi ponselnya berdering di wastafel.
Bram: Kamu di mana?
Ardi mematikan air, mengeringkan tubuh, berpakaian dengan cepat. Kemeja putih, dasi biru tua, jas hitam. Wajahnya di cermin pucat, matanya sembab, ada garis-garis halus di sekitar mulutnya yang tidak dia ingat sebelumnya.
Dia menekan kedua telapak tangan ke wastafel, menatap bayangannya sendiri.
“Kau bisa,” bisiknya. “Kau hanya perlu bicara. Laporan. Angka. Bukan Maya. Bukan Sari. Hanya angka.”
Tapi suaranya sendiri terdengar asing.
Di ruang keluarga, Yuni baru saja selesai membereskan meja makan ketika Ardi turun.
“Mau sarapan dulu, Mas?” tanyanya.
“Nggak. Nanti di kantor.”
Dia meraih kunci mobil dari rak di dekat pintu, membuka pintu—dan berhenti.
Maya berdiri di ambang pintu dapur. Rambutnya masih basah, wajahnya tanpa riasan, hanya krim malam yang belum sempat dibersihkan. Dia mengenakan daster rumah lusuh yang membuatnya terlihat lebih muda, lebih rapuh, lebih mungkin dicintai.
Mereka saling menatap.
“Kamu pergi?” tanya Maya.
“Rapat.”
“Sarapan dulu.”
“Nggak lapar.”
Maya mendekat, berdiri di depan Ardi, cukup dekat untuk mencium bau sabun di kulitnya. “Kamu belum tidur semalaman.”
“Aku tidur.”
“Di sofa.” Maya mengangkat tangan, menyentuh kemeja Ardi di bagian dada, merapikan kerah yang sudah rapi. “Mata kamu merah.”
Ardi menangkap tangannya, menggenggam pelan. Di dapur, Yuni membalikkan badan, pura-pura tidak melihat.
“Aku nggak apa-apa,” kata Ardi.
“Kamu pembohong.”
Dia mengucapkan kata yang sama seperti di pesan, tapi kali ini suaranya pelan, hampir berbisik. Ardi menatap Maya, dan untuk sesaat dia ingin mengatakan semuanya. Bahwa dia takut. Bahwa tadi malam, ketika dia menangis di ruang keluarga, dia membayangkan wajah Bram yang akan menatapnya dengan kecewa, membayangkan Sari yang menangis di apartemen, membayangkan Maya yang pergi suatu hari nanti karena dia tidak cukup kuat.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, “Aku janji akan bicara sama Bram. Tentang perusahaan.”
Maya mengangguk, melepaskan tangannya. “Pulang cepat.”
Ardi membuka pintu, melangkah keluar. Di garasi, dia menyalakan mesin mobil, membuka jendela, menghirup udara pagi yang masih dingin. Di dalam rumah, Maya berdiri di balik kaca, menatapnya dengan mata yang tidak bisa dia baca.
Mobil keluar dari gerbang, dan di spion, Ardi melihat Maya masih berdiri di sana, semakin kecil, sampai akhirnya hilang di tikungan.
Perjalanan ke kantor terasa lebih panjang dari biasanya.
Ardi menyetir pelan, tidak seperti kemarin malam yang hampir mencelakakan dirinya. Di setiap lampu merah, dia menatap ponsel yang diletakkannya di dashboard. Maya tidak mengirim pesan lagi. Sari juga tidak. Hanya Bram yang mengirim satu pesan singkat: Aku di ruang rapat.
Dia membayangkan ayahnya duduk di ujung meja panjang, dengan dokumen-dokumen yang sudah dia siapkan. Laporan keuangan, proyeksi tahun depan, proposal kerja sama dengan investor asing—semua angka-angka yang selama ini dia kuasai. Tapi hari ini, angka-angka itu terasa asing, seperti bahasa yang tidak pernah dia pelajari.
Lampu hijau. Ardi melaju, memotong satu mobil di depannya, lalu berhenti lagi di lampu merah berikutnya.
Ponselnya bergetar.
Bukan Maya. Bukan Sari.
Pesan dari nomor tidak dikenal:
Mas Ardi, saya punya sesuatu yang mungkin bapak ingin lihat. Rekaman dari Yuni. Hubungi saya kalau tertarik.
Ardi menatap layar, jantungnya berdetak lebih cepat. Yuni. ART baru yang merekam mereka. Dia membayangkan rekaman itu beredar, sampai ke Bram, sampai ke media, sampai ke semua orang.
Jari-jarinya gemetar saat menekan tombol balas.
Siapa ini?
Tiga titik di layar. Mengetik. Berhenti. Mengetik lagi.
Teman. Yang penting, rekaman ini belum sampai ke Pak Bram. Tapi kalau Mas Ardi tidak kooperatif, saya tidak bisa jamin.
Lampu hijau. Klakson dari belakang membuyarkan lamunannya. Ardi menginjak gas, mobilnya melaju tidak stabil, masuk ke jalur kanan, memotong dua mobil sekaligus. Klakson panjang membahana, tapi dia tidak peduli.
Dia menepi di bahu jalan, mematikan mesin, membaca pesan itu sekali lagi.
Siapa kamu? tulisnya lagi.
Nggak penting. Yang penting, Mas Ardi harus tahu: ada orang yang merekam Mas Ardi dan Mbak Maya. Di rumah. Lebih dari satu kali. Saya punya salinannya.
Ardi menutup mata, mencoba mengatur napas. Rekaman. Lebih dari satu kali. Yuni. Dia ingat wajah Yuni yang selalu diam, yang tidak pernah bertanya, yang hanya mengerjakan tugasnya dengan tenang. Dia pikir Yuni tidak peduli. Ternyata Yuni hanya pintar menyimpan.
Mau apa? tanya Ardi.
Balasan datang cepat: Belum tahu. Saya akan hubungi lagi. Tapi ingat, Mas Ardi. Kalau Mas Ardi coba cari tahu siapa saya, rekaman ini akan sampai ke Pak Bram sebelum matahari terbenam.
Pesan itu diakhiri dengan emotikon tersenyum.
Ardi membuang ponsel ke kursi penumpang, membenturkan kepalanya ke setir. Bodoh. Dia pikir dia pintar. Dia pikir semua orang di rumahnya bisa dibeli, bisa diatur, bisa dipercaya. Ternyata dia hanya anak manja yang terlalu nyaman dengan uang ayahnya.
Ponsel berdering. Bram.
Ardi mengangkat dengan tangan gemetar. “Ya, Pak.”
“Kamu di mana? Rapat sudah mulai.”
“Di jalan. Macet.”
Bram diam sebentar. “Ardi, aku sudah dapat laporan dari bagian HRD. Ada yang bocor tentang skandal keluarga. Aku perlu kamu di sini sekarang.”
Jantung Ardi berhenti sejenak. “Skandal apa?”
“Aku nggak tahu detailnya. Tapi katanya ada rekaman yang beredar di internal. Aku sudah perintahkan tim IT untuk melacak.” Bram menarik napas panjang. “Apa yang kamu lakukan, Ardi?”
Ardi tidak bisa menjawab. Mulutnya terasa kering, otaknya kosong, tidak ada satu kata pun yang bisa keluar.
“Ardi?”
“Aku—aku datang sekarang.”
Dia mematikan telepon, menyalakan mesin, dan melaju lebih cepat dari yang seharusnya.
Di kantor, suasana berbeda dari biasanya.
Resepsionis yang biasa tersenyum sekarang menunduk ketika Ardi lewat. Beberapa karyawan berbisik di lorong, berhenti ketika melihatnya, lalu melanjutkan bisikan dengan suara lebih pelan. Di lift, seorang manajer muda berdiri di sudut, tidak berani menatap Ardi.
Lift berhenti di lantai 20. Ardi keluar, berjalan menyusuri koridor panjang menuju ruang rapat. Di depannya, asisten pribadi Bram berdiri dengan wajah tegang.
“Pak Bram menunggu,” katanya.
Ardi mengangguk, membuka pintu ruang rapat.
Bram duduk di ujung meja panjang, sendirian. Di hadapannya ada laptop terbuka, beberapa dokumen berserakan, dan sebuah amplop coklat yang belum dibuka.
“Tutup pintunya,” kata Bram tanpa menatap Ardi.
Ardi menutup pintu, berdiri di depan meja, tidak duduk.
Bram mengangkat wajah, menatap Ardi dengan mata yang sulit dibaca. Bukan marah. Bukan kecewa. Tapi sesuatu yang lebih rumit—campuran antara lelah, sakit, dan kekosongan.
“Kemarin malam, setelah kamu pergi, Sari telepon aku,” kata Bram pelan.
Ardi terdiam.
“Dia cerita banyak hal. Tentang kamu. Tentang Maya. Tentang—” Bram berhenti, menekan kedua telapak tangan ke meja, mencoba menenangkan diri. “Aku nggak percaya. Aku pikir Sari cemburu, Sari marah karena kamu putus, Sari mau balas dendam.”
“Pak—”
“Tapi pagi ini, bagian HRD lapor ada rekaman yang beredar di internal. Rekaman dari rumah kita. Rekaman kamu dan Maya.”
Ardi merasakan kakinya lemas. Dia bersandar ke dinding, tangannya mencari pegangan.
Bram membuka amplop coklat itu, mengeluarkan beberapa lembar foto. Foto Ardi dan Maya di dapur, di ruang keluarga, di lorong. Foto-foto yang diambil dari sudut tersembunyi, dengan waktu yang berbeda-beda.
“Yuni,” bisik Ardi.
“Yuni sudah nggak ada di rumah. Sejak subuh, dia pergi. Nggak pamit, nggak minta pesangon. Langsung menghilang.”
Bram meletakkan foto-foto itu di atas meja, menyusunnya rapi seperti kartu remi yang sedang dimainkan. “Aku sudah minta tim IT menelusuri siapa yang menyebarkan. Tapi yang lebih penting—” Bram menatap Ardi, “—apa ini benar?”
Ardi tidak bisa menjawab. Matanya tertuju ke foto-foto itu, ke wajahnya sendiri yang tersenyum di dapur, ke tangan Maya yang menggenggam lengannya di lorong. Dia ingat momen-momen itu. Dia ingat bagaimana rasanya bahagia, bagaimana rasanya dicintai, bagaimana rasanya melupakan bahwa semua ini salah.
“Jawab, Ardi.” Suara Bram naik sedikit, tapi masih tertahan. “Apa ini benar?”
“Aku—” Ardi menelan ludah, “aku minta maaf.”
Bram menutup mata. Tangannya yang semula di atas meja perlahan mengepal, lalu terbuka lagi. Dia menarik napas panjang, menahannya sebentar, lalu menghembuskannya perlahan.
“Kenapa?” suaranya pelan. “Kenapa dengan Maya? Kenapa bukan perempuan lain? Kenapa harus istriku?”
Ardi menunduk. “Aku nggak tahu.”
“Kamu nggak tahu?” Bram berdiri, tangannya menekan meja, tubuhnya gemetar. “Aku selama ini bekerja keras untuk keluarga ini. Untuk kamu. Untuk Maya. Dan kamu balas dengan—dengan ini?”
“Aku tahu ini salah.”
“Salah?” Bram tertawa pahit, tertawa yang tidak lucu. “Ini bukan salah, Ardi. Ini—ini dosa. Ini penghianatan. Ini—” suaranya pecah, dia berbalik, berjalan ke jendela, membelakangi Ardi.
Ruang rapat sunyi. Ardi mendengar napas ayahnya yang berat, mendengar detak jantungnya sendiri yang terlalu cepat.
“Sekarang rekaman ini beredar,” kata Bram tanpa menoleh. “Dalam beberapa jam, semua orang akan tahu. Keluarga kita jadi bahan gosip. Perusahaan goyang. Investor kabur. Dan kamu—” Bram berbalik, matanya merah, “—kamu hancurkan semuanya.”
“Aku akan bertanggung jawab.”
“Tanggung jawab?” Bram mendekat, berdiri di depan Ardi, menatapnya dari jarak sangat dekat. “Kamu mau tanggung jawab bagaimana? Mundur dari perusahaan? Kabur ke luar negeri? Menikahi Maya?”
Ardi diam.
Bram menggeleng pelan. “Aku nggak tahu lagi. Aku nggak tahu harus percaya sama siapa lagi.”
Dia berjalan ke pintu, membukanya, berhenti di ambang. “Kamu pulang. Bawa Maya. Kita bicarakan ini di rumah. Sekarang.”
“Pak—”
“Jangan panggil aku Pak.” Bram menatap Ardi dengan mata yang tidak bisa dia baca. “Panggil aku ayah. Setidaknya sampai aku masih bisa mengaku sebagai ayahmu.”
Pintu ditutup, meninggalkan Ardi sendirian di ruang rapat yang besar dan sunyi.
Ardi duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Bram, merasakan kehangatan yang masih tersisa. Di atas meja, foto-foto itu masih tersusun rapi, seperti bukti di pengadilan.
Dia mengambil satu foto, foto di mana dia menggenggam tangan Maya di ruang keluarga. Wajah mereka terlihat bahagia. Bahagia dalam dosa.
Dia merobek foto itu menjadi dua, lalu empat, lalu delapan. Potongan-potongan kecil jatuh ke lantai, berserakan seperti daun kering di musim kemarau.
Ponselnya bergetar. Maya.
Rapat selesai?
Ardi menatap layar, tidak membalas. Dia berdiri, berjalan ke pintu, meninggalkan potongan foto di lantai.
Di lobi, beberapa karyawan menatapnya dengan tatapan aneh. Ardi tidak peduli. Dia berjalan cepat ke pintu keluar, meraih ponsel, menekan nomor Maya.
Maya menjawab cepat. “Ardi?”
“Aku pulang.”
“Rapatnya?”
“Bram tahu. Semuanya.”
Diam panjang di seberang sana.
“Maya?”
“Aku—” suara Maya tercekat. “Aku di sini. Di rumah. Yuni—Yuni pergi. Dan ada amplop di depan pintu. Isinya foto kita.”
Ardi menutup mata. “Aku tahu.”
“Kita—kita harus bagaimana?”
Ardi tidak menjawab. Dia membuka pintu mobil, duduk di kursi kemudi, menatap langit yang mulai kelabu. Di ufuk barat, awan hitam bergerak perlahan, membawa hujan yang akan turun kapan saja.
“Kita pulang,” katanya akhirnya. “Dan kita hadapi ini.”
“Ardi—”
“Aku sayang kamu.” Suaranya pelan, hampir berbisik. “Apapun yang terjadi, aku sayang kamu.”
Maya tidak menjawab. Tapi Ardi mendengar napasnya yang terputus, mendengar isak tangis yang tertahan, mendengar suara yang sama seperti malam pertama mereka, ketika Maya menangis di kamar mandi dan dia tidak berani mengetuk pintu.
“Aku tunggu,” kata Maya akhirnya. Suaranya serak.
Ardi mematikan telepon, menyalakan mesin, dan melaju menuju rumah yang terasa seperti medan perang.