Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2: Melahap Kegelapan di Hutan Terlarang
Malam itu, Puncak Azure tidak pernah terasa sesunyi ini bagi Li Chen. Di dalam gubuk kecilnya yang bocor, ia duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin. Di depannya, terdapat tumpukan kecil perkakas logam tua—sabit patah, kuali bocor, dan beberapa keping tembaga rendah yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun bekerja sebagai pelayan.
Bagi orang lain, ini adalah sampah. Bagi Li Chen yang sekarang, ini adalah "sumber daya kultivasi".
Ia memejamkan mata, memanggil pusaran hitam di dalam Dantiannya. Segera setelah ia mulai bernapas sesuai dengan ritme Seni Penelan Bintang, udara di sekitarnya seolah tersedot. Rasa lapar yang luar biasa muncul dari sumsum tulangnya, sebuah rasa haus yang tidak bisa dipuaskan oleh makanan atau air.
Li Chen meletakkan tangannya di atas sabit berkarat.
"Telan..." bisiknya.
Gumpalan asap hitam keluar dari pori-pori kulitnya, membungkus logam itu. Dalam hitungan detik, sabit itu mulai bergetar hebat. Molekul-molekul logamnya dipaksa hancur, esensi materialnya ditarik keluar dalam bentuk partikel cahaya kelabu yang redup. Li Chen merasakan sensasi dingin yang tajam mengalir melalui lengannya, langsung menuju pusaran hitam di perutnya.
Krak!
Sabit itu hancur menjadi debu putih halus. Tak ada lagi logam yang tersisa.
Li Chen merasakan ledakan energi. Berbeda dengan Qi alami yang terasa hangat dan lembut, energi yang ia serap dari logam ini terasa berat, tajam, dan liar. Energi itu menghantam dinding meridiannya yang tersumbat. Namun, bukannya mencoba mengalir melaluinya seperti air, energi ini bertindak seperti palu godam.
"Ugh!" Li Chen menggertak gigi hingga berdarah. Tubuhnya gemetar hebat saat energi logam itu mulai merobek paksa sumbatan di meridian utamanya.
Di dunia kultivasi normal, seseorang harus mengikis sumbatan meridian secara perlahan selama bertahun-tahun. Tapi Seni Penelan Bintang tidak mengenal kata perlahan. Ia menghancurkan untuk membangun kembali. Setiap kali meridian Li Chen robek, pusaran hitam itu mengeluarkan kabut tipis yang langsung menjahit kembali jaringan tersebut, membuatnya lebih kuat, lebih lebar, dan lebih tahan lama dari sebelumnya.
Setelah menyerap seluruh tumpukan logam di depannya, Li Chen membuka mata. Keringat hitam berbau busuk—kotoran dari dalam tubuhnya—menutupi kulitnya.
"Satu malam... dan aku sudah berada di puncak Tahap Pertama Pengumpulan Qi," gumamnya tak percaya.
Namun, ia tahu ia butuh lebih. Logam biasa hanya memberikan energi yang dangkal. Untuk benar-benar membalas dendam pada Wang Hu dan bertahan hidup, ia membutuhkan energi yang lebih murni. Matanya beralih ke jendela, menatap ke arah selatan di mana pepohonan raksasa menyentuh awan.
Hutan Azure Terlarang.
Tempat itu adalah rumah bagi binatang buas dan tanaman obat langka, namun juga tempat di mana murid-murid sekte sering membuang senjata mereka yang rusak setelah pertempuran. Bagi Li Chen, itu adalah prasmanan yang tak terbatas.
Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, Li Chen menyelinap keluar. Dengan gerakan yang jauh lebih ringan dari biasanya, ia melewati pos penjaga murid luar yang sedang tertidur lelap. Begitu kakinya menyentuh tanah hutan, indranya menajam. Berkat teknik barunya, ia bisa "merasakan" keberadaan energi di sekitarnya—bukan melalui penglihatan, tapi melalui rasa lapar di Dantiannya.
Ia berjalan melewati semak berduri, mengabaikan goresan di kulitnya. Setelah berjalan selama satu jam, ia sampai di sebuah lereng curam yang dikenal sebagai Lembah Pedang Patah. Ini adalah tempat pembuangan tradisional bagi senjata-senjata yang kehilangan spiritualitasnya.
"Begitu banyak..." Li Chen ternganga.
Di depannya, ribuan bilah pedang, tombak, dan pelindung dada tertumpuk seperti gunung sampah logam. Meskipun sebagian besar sudah berkarat dan kehilangan keajaibannya, bagi Li Chen, ini adalah harta karun dewa.
Ia segera duduk di tengah tumpukan itu dan merentangkan kedua tangannya.
"Seni Penelan Bintang: Pusaran Tanpa Batas!"
Asap hitam meledak dari tubuhnya, menyebar seperti jaring laba-laba ke segala arah, menyentuh ratusan senjata rusak sekaligus. Hutan itu tiba-tiba dipenuhi suara dengungan logam yang aneh. Cahaya abu-abu, biru, dan merah mulai mengalir dari tumpukan pedang menuju pusat di mana Li Chen duduk.
Tubuhnya mulai bersinar dengan cahaya hitam yang pekat. Di dalam pikirannya, ia kembali melihat sosok raksasa berbaju perang kuno itu. Kali ini, sosok itu memegang sebuah pedang ilusi dan melakukan satu gerakan tebasan sederhana.
"Langkah Pertama: Pedang Pemakan Bayangan."
Li Chen mengikuti gerakan itu dalam pikirannya. Energi yang ia serap mulai membentuk pola di otot dan sarafnya. Namun, di tengah proses penyerapan, sebuah raungan keras menggetarkan lembah.
ROAARRR!
Sesosok makhluk muncul dari balik pepohonan. Itu adalah Serigala Taring Besi, binatang buas tingkat satu yang setara dengan kultivator Tahap Ketiga Pengumpulan Qi. Bulunya keras seperti kawat baja, dan taringnya berkilau dengan pantulan logam. Makhluk itu tertarik oleh fluktuasi energi yang diciptakan Li Chen.
Li Chen membuka matanya. Jantungnya berdegup kencang. Jika ini adalah dirinya yang kemarin, ia akan mati dalam satu terkaman. Tapi sekarang? Rasa lapar di Dantiannya justru semakin menggila saat melihat serigala itu.
Garis keturunan binatang buas... energi yang lebih murni dari logam karatan, pikir Li Chen dengan tatapan dingin yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
Serigala itu melompat, cakarnya yang tajam mengincar leher Li Chen.
Li Chen tidak menghindar. Ia justru maju selangkah, menyamping dengan kecepatan yang mengejutkan, dan menangkap salah satu taring serigala itu dengan tangan kosong.
Cisss!
"Telan!"
Begitu kulitnya bersentuhan dengan taring makhluk itu, kabut hitam langsung menjalar. Serigala itu melengking kesakitan yang mengerikan. Matanya yang merah penuh amarah berubah menjadi ketakutan saat ia merasakan kekuatan hidupnya, darahnya, dan intisari tulangnya disedot keluar secara paksa.
Hanya dalam waktu sepuluh tarikan napas, serigala raksasa itu menyusut. Dagingnya mengering, bulunya rontok, hingga akhirnya hanya tersisa kerangka kering yang hancur menjadi abu saat Li Chen melepaskannya.
Li Chen berdiri tegak. Sebuah sensasi hangat mengalir di punggungnya. Tulang belakangnya berderak, dan aura di sekitarnya meledak secara tiba-tiba, menyapu salju dan debu di sekitarnya.
Tahap Ketiga Pengumpulan Qi.
Dalam satu pagi, ia telah melompati tingkatan yang biasanya membutuhkan waktu satu tahun bagi murid jenius. Namun, harga yang harus dibayar adalah matanya kini memiliki semburat merah yang samar, dan emosinya terasa lebih tajam, lebih liar.
"Senjata, binatang buas, bahkan manusia... semuanya hanyalah energi bagiku," bisik Li Chen. Ia melihat ke arah tangannya yang kini terlihat lebih bersih dan kuat.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki dan percakapan dari arah pintu masuk lembah.
"Aku bersumpah, aku melihat cahaya aneh di sini, Kakak Senior Wang. Pasti ada artefak kuno yang baru muncul ke permukaan!"
Li Chen membeku. Suara itu... itu adalah salah satu antek Wang Hu.
"Jika benar ada harta karun, aku akan memastikan Tetua memberikan hadiah besar padaku. Dengan begitu, posisiku di ujian seleksi akan aman," suara Wang Hu terdengar, penuh dengan keserakahan.
Li Chen menyipitkan matanya. Ia melirik ke sekeliling; lembah itu kini penuh dengan debu senjata yang sudah ia hisap energinya. Jika Wang Hu melihat ini, rahasianya akan terbongkar. Namun, alih-alih melarikan diri, Li Chen justru mengambil sebuah gagang pedang patah yang belum sepenuhnya hancur.
Ia bersembunyi di balik tumpukan perisai besar, menunggu.
Wang Hu... kau ingin mencari harta karun? pikir Li Chen, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang menyeramkan. Aku akan memberimu 'harta' yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu.
Saat bayangan Wang Hu muncul di mulut lembah, Li Chen merasakan getaran pada liontin hitam di dadanya. Seolah-olah liontin itu juga tidak sabar untuk mencicipi darah seorang kultivator. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup. Ini adalah awal dari perburuan.