NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 28

Angin senja bertiup lebih kencang, membawa aroma tanah basah dan amis darah dari bangkai gagak yang tergeletak di antara mereka.

Nama **The Nightshade** yang baru saja diucapkan Ilwa seolah menghentikan aliran waktu bagi Lina.

Di balik kedoknya sebagai pelayan, ia adalah seorang pembunuh yang dilatih untuk tidak memiliki rasa takut

namun mendengar nama organisasinya disebut dengan nada menghina oleh seorang bocah delapan tahun, ia merasakan getaran aneh di sumsum tulangnya.

The Nightshade bukanlah sekadar perkumpulan pembunuh bayaran biasa. Mereka adalah bayangan yang menyebar di seluruh benua.

memiliki jaringan informan di setiap sudut kota, dan eksekutor yang terdiri dari pembunuh berantai paling haus darah.

Di masa kini, mereka adalah legenda yang ditakuti.

Namun, bagi Ilwa—atau lebih tepatnya, bagi jiwa Albus yang bersemayam di dalamnya—The Nightshade hanyalah sebuah noda kecil dalam sejarah panjangnya.

Dalam kehidupan sebelumnya, organisasi ini pernah menerima kontrak gila untuk menghabisinya.

Selama dua tahun penuh, mereka mengirimkan ribuan anggota, mulai dari ksatria bayaran hingga *assassin* kelas mistis.

Hasilnya? Ribuan mayat anggota Nightshade menumpuk di bawah kaki Albus, memaksa organisasi tersebut untuk menarik diri sepenuhnya dari peredaran dan bersumpah tidak akan pernah mengusik albus lagi.

Dan kini, takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang ironis.

"Kau terlalu banyak bicara, Bocah!" Lina berteriak, matanya berkilat penuh amarah yang bercampur dengan kegugupan.

Ia mencabut belati ganda yang tersembunyi di balik roknya.

Dengan satu gerakan yang terlatih, ia melesat maju. Tubuhnya merendah, menyapu permukaan rumput seperti ular yang menyerang mangsa.

*Clang!*

Suara benturan logam bergema keras di tepi danau. Ilwa tidak bergeming dari posisinya.

Ia hanya mengangkat belati hitamnya dengan gerakan malas, menangkis serangan Lina tepat sebelum mata pisau itu menyentuh lehernya.

Lina terbelalak.

Ia segera memutar tubuhnya, melancarkan serangkaian tebasan beruntun yang mengincar titik-titik vital: jantung, tenggorokan, dan arteri paha.

Namun, setiap serangan itu menemui jalan buntu.

Ilwa bergerak dengan efisiensi yang mengerikan.

Ia tidak melakukan gerakan tambahan yang sia-sia; hanya pergeseran kaki yang minimal dan tangkisan-tangkisan kecil yang membuat senjata Lina terpental.

"Apa-apaan ini?! Kenapa dia bisa membaca setiap arah seranganku?!" batin Lina berteriak.

Ia meningkatkan kecepatannya hingga bayangannya tampak kabur, namun Ilwa tetap terlihat santai, seolah-olah ia sedang menari dengan seorang amatir.

Berkat ritual mandi obat dan penyerapan empat inti sihir tempo hari, fisik Ilwa kini mampu menopang insting tempur Albus yang legendaris.

Mana biru yang stabil mengalir di sirkuitnya, memberikan daya ledak pada setiap refleksnya.

"Aneh sekali..." ucap Ilwa di sela-sela dentingan logam. Wajahnya tetap datar, tanpa setetes keringat pun.

"Kenapa setiap gerakanmu terasa sangat lambat dan mudah dibaca? Apakah standar organisasi kalian sudah merosot sejauh ini?"

Lina tidak menjawab, napasnya mulai memburu.

Ia melancarkan tendangan memutar yang cepat, namun Ilwa merunduk dengan mudah dan kembali menangkis belatinya.

"Katakan padaku," Ilwa melanjutkan pertanyaannya dengan nada penasaran yang menghina.

"Berapa peringkatmu di Nightshade? Apakah kau pemegang Peringkat Emas?"

Lina tetap diam, gigi-giginya bergemertak saat ia mencoba menekan Ilwa dengan kekuatan penuh.

"Bukan Emas? Kalau begitu... Peringkat Perak?" tanya Ilwa lagi, matanya menyipit memperhatikan pola serangan Lina yang mulai tidak beraturan karena emosi.

Lina masih membisu, ia melompat mundur dan melemparkan salah satu belatinya sebagai pengecoh sebelum menerjang kembali dengan sisa senjatanya.

Ilwa hanya memiringkan kepalanya, membiarkan belati itu lewat, lalu menepis serangan jarak dekat Lina dengan punggung senjatanya.

"Jangan bilang kau hanya Peringkat Perunggu?" tanya Ilwa, kali ini dengan nada kecewa yang sangat nyata.

Lina tersentak.

Konsentrasinya pecah sesaat mendengar klasifikasi peringkat terendah itu disebut.

Di saat itulah, Ilwa melihat celah yang menganga lebar.

"Terlalu lambat," bisik Ilwa.

Sebelum Lina bisa menarik kembali senjatanya, Ilwa bergerak secepat kilat.

Ia tidak menggunakan senjata, melainkan melayangkan tendangan rendah yang sangat kuat tepat ke arah pergelangan kaki Lina.

*Brak!*

Keseimbangan Lina hancur seketika. Tubuhnya terpelanting ke udara, membuatnya berada dalam posisi terbalik yang sangat rentan.

Belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, Ilwa melompat kecil dan melayangkan tendangan lurus tepat ke arah wajah Lina.

*DUAK!*

Suara hantaman keras itu diiringi dengan tubuh Lina yang tersungkur hebat ke tanah, menyeret debu dan rumput hingga beberapa meter.

Gadis itu tergeletak lemas, wajahnya memar dan kesadarannya nyaris hilang.

Ilwa berdiri tegak, membersihkan debu khayal di bahu bajunya sambil menghela napas panjang.

Ia menatap sosok Lina yang tak berdaya dengan tatapan yang sangat dingin dan penuh kekecewaan.

"Ayolah... the nightshade," gumam Ilwa sambil memasukkan kembali belati hitamnya ke sarungnya.

"Kenapa malahan peringkat Perunggu yang datang untuk mengawasiku? Ini benar-benar membosankan."

Ilwa menatap danau yang tenang di hadapannya, menyadari bahwa permainan kucing-kucingan ini telah berakhir lebih cepat dari yang ia harapkan.

tengah keheningan hutan, menyadari bahwa perjalanan untuk membersihkan serangga-serangga ini masih sangat panjang.

------

Lina terkapar di atas tanah yang lembap, napasnya tersengal-sengal di sela ringisan rasa sakit yang menjalar dari wajah hingga ke ujung kakinya.

Dunia di matanya seolah berputar.

Ia, seorang eksekutor yang telah melewati berbagai simulasi pembunuhan berdarah di markas **The Nightshade**,

baru saja dipecundangi oleh seorang bocah yang bahkan tingginya belum mencapai bahunya.

Rasa malu dan tidak percaya bercampur aduk, menciptakan gejolak emosi yang lebih menyakitkan daripada luka fisiknya.

Dengan sisa tenaga yang ada, Lina mencoba bertumpu pada lengannya yang gemetar.

Ia berusaha bangkit, namun setiap kali ia mencoba berdiri, sendi-sendinya seolah menolak untuk patuh.

Ilwa berdiri hanya beberapa langkah darinya, menatap dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca—bukan tatapan penuh kebencian, melainkan tatapan bosan yang diselingi sedikit rasa iba.

"Begini saja," suara Ilwa terdengar tenang, namun otoritas di dalamnya tak terbantahkan.

"Beri tahu aku siapa klien yang menyewamu. Jika kau mengatakannya sekarang, aku akan menganggap pertemuan berdarah di tepi danau ini tidak pernah terjadi. Kau bisa pulang, dan aku bisa kembali bermeditasi dengan tenang. Bagaimana?"

Lina mendongak, wajahnya yang penuh debu menyeringai sinis meskipun darah mengalir dari sudut bibirnya.

"Kau pikir... kau bisa membeli kesetiaanku dengan nyawa? Aturan Nightshade sudah jelas. Membocorkan nama klien adalah pengkhianatan tertinggi. Lebih baik aku mati daripada menjadi sampah yang merusak reputasi organisasi."

Ilwa hanya menghela napas panjang, bahunya merosot sedikit.

Ia tahu persis dogma keras yang ditanamkan pada anggota peringkat perunggu. Mereka adalah pion yang diprogram untuk mati demi kerahasiaan.

"Doktrin itu... tetap saja membosankan dari dulu sampai sekarang."

Melihat Ilwa yang tampak lengah, Lina mengerahkan seluruh sisa mananya ke otot kakinya.

Dalam satu ledakan kecepatan yang nekat, ia melesat maju.

Belati di tangannya berkilauan, mengincar jantung Ilwa. "Mati kau, Bocah Sombong!"

Namun, mata Ilwa berkilat tajam. "**Haste: Overdrive**," bisiknya.

Seketika, realita di mata Ilwa melambat. Ia tidak hanya bergerak cepat; ia seolah-olah berpindah tempat sebelum cahaya sempat memantul di matanya.

Saat jarak mereka hanya tersisa satu jengkal, Ilwa melakukan gerakan rotasi yang sangat halus.

Bilah hitamnya menebas udara dengan presisi mikroskopis.

*Sret!*

Sebuah goresan tipis muncul di leher Lina. Tidak dalam, namun cukup untuk memutus aliran syaraf sensoriknya sesaat.

Lina terbelalak, ia jatuh berlutut, tangannya secara insting langsung memegangi lehernya, mencoba menahan darah yang mulai merembes keluar.

"Aku benar-benar tidak suka membully peringkat perunggu seperti ini," ucap Ilwa sambil berdiri tepat di depan Lina yang tersungkur.

"Rasanya seperti menendang anak anjing yang sedang menggonggong. Sangat tidak terhormat bagi seleraku."

Lina mencoba bergerak, namun ia menyadari sesuatu yang mengerikan.

Kedua tangannya yang sedang memegangi leher mendadak terasa kaku.

Saat ia mencoba menarik tangannya, ia merasakan tarikan yang sangat kuat, seolah-olah ada rantai tak terlihat yang mengikat pergelangan tangannya ke tanah.

Ilwa bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, ia mendaratkan lututnya tepat di atas luka leher Lina, bukan untuk menindihnya hingga mati.

melainkan untuk memberikan tekanan agar pendarahannya berhenti. Lina terengah-engah, matanya melirik ke arah pergelangan tangannya sendiri dengan penuh ketakutan.

Di sana, di bawah cahaya sore yang temaram, ia melihat untaian cahaya biru yang sangat tipis—hampir transparan—melilit tangannya dan memancung ke akar pepohonan di sekitarnya.

"Apa... apa ini?" batin Lina menjerit. *Benang Mana?*

Benang Mana (Mana Thread) adalah salah satu teknik manipulasi energi paling rumit dan dianggap sebagai langka di kalangan penyihir pengendali.

Teknik ini mengharuskan penggunanya untuk memadatkan mana menjadi serat mikroskopis yang memiliki kekuatan tarikan lebih kuat daripada baja.

Benang-benang ini tidak hanya berfungsi untuk mengikat, tetapi juga bisa digunakan untuk mengendalikan saraf lawan atau memotong benda keras jika dialiri energi yang cukup tajam.

Bagi seorang penyihir untuk bisa memanifestasikan benang sekecil itu, dibutuhkan kontrol mana yang hampir mencapai tingkat dewa.

Lina tidak menyangka bahwa Ilwa, yang sirkuit mananya dianggap hancur, mampu menciptakan jaringan Benang Mana di sela-sela pertarungan tadi tanpa ia sadari sedikit pun.

Ternyata, setiap langkah mundur Ilwa tadi bukanlah karena terdesak, melainkan untuk memasang "jaring laba-laba" yang kini telah menguncinya sepenuhnya.

Ilwa mencondongkan wajahnya, menatap langsung ke dalam mata Lina yang dipenuhi teror.

Aura dingin yang memancar dari tubuh bocah itu membuat bulu kuduk Lina berdiri.

"Sekarang, bisahkah kita bicara baik-baik?" tanya Ilwa dengan nada yang sangat ramah, namun senyumnya tidak mencapai matanya.

"Jaring manaku sudah tersambung ke setiap titik fatal di tubuhmu. Satu sentakan kecil dariku, dan kau akan terurai menjadi potongan daging. Jadi, katakan padaku... apakah harga diri organisasimu benar-benar lebih berharga daripada kesempatan untuk tetap bernapas?"

Keheningan menyelimuti tepi danau. Lina kini sadar sepenuhnya

; ia tidak sedang berhadapan dengan seorang tuan muda klan Eldersheath.

Ia sedang berhadapan dengan kematian itu sendiri yang mengambil rupa seorang anak kecil.

Di bawah tekanan lutut Ilwa dan jeratan benang mana yang mematikan, Lina hanya bisa menatap nanar, menanti keputusan akhir dari sang penguasa bayangan yang baru saja bangkit.

"Pilihan ada di tanganmu, Lina. Bicara, atau menjadi pupuk untuk hutan ini."

Bersambung....

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!