NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Ketegangan seketika menyelimuti ruang transit yang tadinya penuh haru. Senyum di wajah Nathan memudar, berganti dengan sorot mata tajam yang protektif. Ia menggenggam jemari Zira, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada lagi helai rambut pun yang boleh terluka dari istrinya.

"Rahasia apa lagi, Ra?" gumam Nathan berat. "Bukankah semua bukti sudah mengarah jelas pada obsesi Clara?"

Zira terdiam, memorinya berputar pada surat provokasi yang ia terima kemarin. Jika Clara berani mengirim surat seberani itu, artinya dia merasa memiliki 'kartu as' yang belum terbuka.

*Pertemuan di Balik Jeruji Besi*

Dua hari kemudian, meski Nathan sempat melarang karena mengkhawatirkan kondisi kehamilan Zira yang masih muda, Zira tetap bersikeras. Ia ingin memutus rantai kebencian ini sebelum sang buah hati lahir.

Di ruang kunjungan lapas yang dingin, Clara duduk dengan pakaian tahanan. Wajahnya yang dulu selalu dipoles kosmetik mahal kini pucat dan kuyu. Namun, matanya masih menyimpan sisa-sisa api yang sulit padam.

"Selamat atas kehamilanmu, 'Ustazah' Nana," sindir Clara ketus saat Zira dan Nathan duduk di hadapannya.

"Terima kasih, Clara. Aku datang bukan untuk mendengar sindiranmu," jawab Zira tenang. "Maura bilang kamu punya sesuatu untuk disampaikan. Tentang siapa yang menghasutmu."

Clara tertawa hambar, suara tawanya kering dan menyakitkan telinga. "Kalian pikir aku sebodoh itu? Menghancurkan hidupku sendiri demi pria yang bahkan tidak melirikku? Ya, aku memang iri padamu, Zira. Tapi ide untuk menabrak Aryan... itu bukan datang dariku."

Nathan menggebrak meja pelan. "Lalu siapa? Katakan!"

Clara memajukan tubuhnya, berbisik lirih namun tajam. "Ingat sepupu jauh keluargamu, Nathan? Seseorang yang merasa warisan kakekmu seharusnya jatuh ke tangannya jika kamu tidak memiliki keturunan? Dia yang memberiku akses jadwal perjalanan Aryan. Dia yang meyakinkanku bahwa jika Aryan tiada, mental Zira akan hancur dan kalian akan bercerai karena duka."

*Musuh dalam Selimut*

Wajah Nathan memucat. Ia teringat sosok Hendra, sepupunya yang selama ini terlihat sangat mendukung pernikahannya dengan Zira, bahkan yang paling rajin menjenguk Aryan di rumah sakit.

"Hendra..." desis Nathan. "Tidak mungkin."

"Dia ingin kamu hancur tanpa menyentuh tanganmu sendiri," lanjut Clara dengan seringai tipis. "Dia menjanjikanku pengacara terbaik jika aku tertangkap, tapi lihat? Dia menghilang begitu aku masuk ke sini. Aku tidak mau membusuk sendirian sementara dia menikmati jamuan makan malam di rumahmu."

Zira merasakan mual, bukan karena kehamilannya, tapi karena kenyataan betapa gelapnya hati manusia demi harta. Ia mengusap perutnya, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kencang.

*Strategi yang Tak Terduga*

Keluar dari lapas, Nathan langsung mengambil ponselnya, namun Zira menahan tangan suaminya.

"Jangan gegabah, Mas. Hendra adalah orang yang licin. Jika kita menyerangnya sekarang tanpa bukti fisik, dia akan memutarbalikkan fakta dan menganggap kita memfitnah keluarga sendiri," ujar Zira dengan pemikiran yang jernih.

"Lalu apa rencanamu?" tanya Nathan frustrasi.

Zira menatap gedung penjara di belakangnya, lalu beralih ke suaminya dengan tatapan yang kini penuh siasat namun tetap anggun. "Kita gunakan cara 'Nana'. Kita akan mengadakan syukuran kehamilan di rumah besar. Undang seluruh keluarga, termasuk Hendra. Kita akan memancingnya keluar dari persembunyiannya dengan kabar yang paling dia takuti: bahwa ahli waris utama perusahaanmu akan segera lahir."

Rencana Zira mulai disusun dengan ketelitian seorang penulis skenario. Ia tahu bahwa Hendra bukan lawan yang bisa dihadapi dengan emosi meluap-luap. Hendra adalah tipe "pemain belakang" yang rapi, yang akan selalu tersenyum di depan sementara tangannya memegang belati di belakang.

Persiapan Perjamuan "Umpan"

Satu minggu kemudian, rumah besar keluarga Nathan dihias dengan bunga-bunga putih dan aroma melati yang menenangkan. Acara syukuran empat bulanan (meski kandungan Zira baru memasuki minggu-minggu awal, mereka menggunakan momentum ini sebagai syukuran kehamilan sekaligus kesembuhan Aryan) dihadiri oleh seluruh relasi bisnis dan keluarga besar.

Zira tampil anggun dengan gamis berwarna sage green yang lembut. Di sisinya, Nathan tampak gagah namun matanya tak lepas mengawasi setiap tamu yang datang, terutama satu orang: Hendra.

"Selamat, Nathan! Zira!" Hendra datang dengan tawa renyahnya yang khas. Ia memeluk Nathan dengan akrab, seolah tidak ada dosa yang ia sembunyikan. "Aku sungguh tidak menyangka, setelah cobaan bertubi-tubi, Allah memberikan kado seindah ini. Calon pewaris utama, ya?"

Nathan memaksakan senyum, tangannya mengepal di balik saku celana. "Terima kasih, Mas Hendra. Kehadiran anak ini memang mengubah segalanya. Termasuk rencana pembagian saham perusahaan yang sempat tertunda karena kecelakaan Aryan."

Zira memperhatikan perubahan kecil di sudut mata Hendra. Ada kilatan kecemasan yang tertutup rapat oleh masker keramahan.

Jebakan yang Terbuka

Di tengah acara, Zira naik ke podium kecil untuk memberikan sepatah kata sebagai "Nana". Suasana mendadak hening.

"Terima kasih atas kehadiran keluarga besar," ujar Zira lembut. "Kehamilan ini adalah mukjizat. Namun, ada satu hal yang ingin saya bagikan. Kemarin, saya bertemu Clara di penjara. Ia menitipkan sebuah rekaman suara yang tertinggal di ponsel lamanya yang sempat disita polisi sebagai barang bukti tambahan."

Zira melirik ke arah Maura yang berdiri di dekat operator suara. Hendra mulai tampak gelisah, ia memegang gelas minumannya dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Rekaman itu berisi percakapan Clara dengan seseorang yang menjanjikannya 'kebebasan' jika ia berhasil melenyapkan penghalang di keluarga ini," lanjut Zira, matanya kini tertuju langsung pada Hendra.

Maura menekan tombol play. Suara statis terdengar, diikuti suara wanita yang jelas adalah Clara, dan suara pria yang sangat familiar bagi semua orang di ruangan itu.

"Jangan khawatir, Clara. Polisi tidak akan curiga padamu jika kamu melakukannya saat hujan deras di tikungan itu. Aku yang akan mengatur agar CCTV di sana 'mati' sementara. Setelah Aryan tiada, Nathan akan hancur, dan saham itu akan kembali ke tangan yang seharusnya. Kita akan bagi rata."

Suara pria itu adalah Hendra.

*Kehancuran Sang Pengkhianat*

Gelas di tangan Hendra jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai marmer. Seluruh keluarga besar menoleh ke arahnya dengan tatapan tidak percaya. Ibu Nathan hampir pingsan jika tidak ditangkap oleh Aryan yang sudah bisa berdiri tegak dengan bantuan tongkat.

"Itu... itu editan! Fitnah!" teriak Hendra panik, wajahnya memerah padam. "Zira, kamu menggunakan kemampuan menulismu untuk merekayasa cerita ini!"

Nathan melangkah maju, berdiri di depan istrinya yang sedang mengandung. "Ponsel itu sudah berada di tangan pihak kepolisian, Hendra. Rekaman yang asli sedang dianalisis forensik. Aku hanya ingin melihat reaksimu di depan keluarga besar sebelum polisi menjemputmu di gerbang depan."

Benar saja, dua petugas kepolisian berpakaian sipil muncul dari balik pintu utama. Hendra mencoba lari melalui pintu samping, namun langkahnya terhenti oleh para pengawal yang sudah disiagakan Nathan sejak awal.

Kedamaian yang Sesungguhnya

Setelah keributan mereda dan Hendra dibawa pergi, suasana rumah menjadi sangat emosional. Aryan mendekati kakaknya dan Zira.

"Mbak... Mas... terima kasih," bisik Aryan parau. "Sekarang aku benar-benar merasa aman."

Zira menghela napas panjang, beban berat yang selama ini menghimpit dadanya seolah terangkat. Ia menatap Nathan, yang kini memeluknya dari samping.

"Ternyata memaafkan memang butuh keadilan, Mas," bisik Zira. "Sekarang, tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi ancaman."

Nathan mencium kening Zira lama sekali. "Sekarang, fokus kita hanya satu: menjaga detak jantung kecil ini sampai ia melihat dunia yang sudah kita bersihkan dari duri."

Penutup: Cahaya Baru

Malam itu, di bawah langit bertabur bintang, Zira menuliskan satu kutipan terakhir di buku catatan "Nana"-nya:

"Seringkali, Allah membiarkan badai datang bukan untuk menenggelamkan kita, melainkan untuk membersihkan jalan dari orang-orang yang pura-pura mendayung bersama kita."

1
Kim Taehyung
lanjut lagi thor, aku menunggu mu... gak sabar dengan kelanjutan cerita ini
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!