Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.
Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Menuju Makam Abadi
Beberapa hari kemudian, hari yang dinantikan akhirnya tiba.
Matahari pagi yang pucat menyinari sebuah dataran tinggi yang sakral, di mana empat pilar batu kuno menjulang tinggi ke angkasa sebagai penanda kuno bahwa tempat itu adalah pintu masuk menuju dimensi lain yang istimewa.
Yun Zhu berdiri dengan tenang, jubahnya berkibar pelan tertiup angin pegunungan yang dingin.
Ia memperhatikan setiap pilar yang dipenuhi dengan ukiran simbol-simbol terlarang, sebelum pandangannya beralih pada Han Ping'er yang berdiri tepat di sampingnya.
Han Ping'er tampak sangat mempesona dengan pakaian tempur ringkasnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, tepat di bawah puncak kembarnya yang membusung indah di balik kain sutra ketat, memberikan kesan berwibawa sekaligus menantang.
"Itu adalah gerbang dimensi tempat kita akan masuk," ucap Han Ping'er tanpa menoleh, menyadari bahwa sedari tadi Yun Zhu sedang memperhatikannya.
Yun Zhu hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Ia kembali melemparkan pandangannya ke arah kerumunan yang mulai memadat.
Tak jauh dari posisi mereka berdiri, Tuan Muda Qin sudah menampakkan diri bersama rekan kekarnya.
Pria sombong itu sesekali melirik ke arah Yun Zhu, memberikan tatapan tajam yang penuh dengan permusuhan dan niat membunuh yang tidak disembunyikan. Namun, Yun Zhu menganggap tatapan itu seolah-olah hanya angin lalu.
Tak lama kemudian, Shi Yun juga tiba di lokasi.
Ia melangkah dengan keanggunan seorang dewi, mengenakan gaun sutra berwarna biru laut yang membalut tubuh rampingnya dengan sangat sempurna, memperlihatkan lekukan pinggangnya yang indah saat ia berjalan.
Rekan wanitanya yang misterius mengikuti di belakang dengan langkah yang tak bersuara.
Tiba-tiba, udara di atas mereka bergetar hebat. Tiga sosok tetua dari tiga keluarga besar muncul di langit melalui teknik teleportasi ringan.
Gerakan mereka sangat halus dan tidak berlebihan, namun tekanan aura yang mereka pancarkan cukup untuk membuat seluruh orang di bawah sana terdiam seketika, termasuk Yun Zhu.
Mereka adalah Tetua dari keluarga Han, keluarga Qin, dan keluarga Shi. Ketiganya merupakan kultivator yang telah mencapai alam Golden Core.
Meskipun aura mereka menekan, Yun Zhu yang memiliki pengalaman dan rahasia besar di dalam tubuhnya tidak merasakan bahaya yang berarti dari mereka.
'Tiga Golden Core untuk membuka gerbang, tidak terlalu berlebihan,' gumam Yun Zhu dalam hati sambil menyipitkan mata.
Ketiga tetua itu mulai mengambil posisi di udara, membentuk formasi segitiga yang sempurna di atas empat pilar pilar batu.
Mereka memulai ritual kuno untuk membuka segel dimensi. Secara serentak, mereka mengalirkan Qi murni dalam jumlah besar ke arah pilar-pilar tersebut.
Cahaya samar yang menyilaukan melonjak ke langit secara bersamaan, membuat simbol-simbol pada pilar kuno itu mulai bersinar terang satu per satu.
Udara di tengah-tengah pilar mulai berputar, membentuk pusaran energi yang semakin lama semakin stabil, menandakan bahwa jalan menuju Makam Abadi telah terbuka lebar bagi mereka yang berani memasukinya.
Di sisi lain, Tuan Muda Qin yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan mulai melangkah maju dengan angkuh.
Senyum penuh percaya diri terkembang di wajahnya saat ia mendekati Han Ping'er, mencoba mengabaikan keberadaan Yun Zhu yang berdiri tepat di samping gadis itu.
"Nona Han, jika kau mau kita bisa pergi bersama. Menghindari bahaya dan saling melindungi."
Ucapannya terdengar sangat meyakinkan, dibalut dengan nada sopan yang dibuat-buat. Namun bagi Han Ping'er, gaya bicara pria itu justru terasa memuakkan dan membuatnya ingin segera berpaling.
Pria berotot yang menjadi pendamping Tuan Muda Qin tidak mau kalah. Ia menyatukan kedua tangan besarnya hingga terdengar bunyi kepalan tulang yang keras, mencoba memamerkan kekuatan fisiknya di depan semua orang.
"Benar! Aku dan Tuan Qin tidak terkalahkan!"
Han Ping'er membuang muka sejenak, menunjukkan ekspresi bosan yang kentara. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat agar dilihat oleh semua orang, ia sedikit melangkah mundur dan merapatkan tubuhnya ke sisi Yun Zhu.
Tangan rampingnya kemudian meraih dan merangkul lengan kanan Yun Zhu dengan erat, membiarkan dadanya yang membusung sedikit tertekan pada lengan pemuda itu.
"Tidak perlu. Soal kekuatan, Xu Mu juga memilikinya," ucap Han Ping'er dengan nada manja yang sengaja ditinggikan, sementara matanya menatap Tuan Muda Qin dengan tatapan meremehkan.
Tindakan itu seketika menciptakan kerutan dalam di dahi Tuan Muda Qin. Wajahnya yang tadinya cerah kini berubah mendung, penuh dengan rasa iri yang meluap.
"Sampah, jangan dekat-dekat dengan Nona Han! Atas dasar apa kau berani!" bentak Tuan Muda Qin, jarinya menunjuk tepat ke wajah Yun Zhu dengan penuh penghinaan.
Yun Zhu hanya diam, menoleh sedikit untuk menatap Han Ping'er yang masih merangkul lengannya dengan posesif.
Han Ping'er membalas tatapan itu dengan kedipan sebelah mata yang genit, memberikan sinyal agar Yun Zhu segera memainkan perannya dalam sandiwara ini.
Yun Zhu kembali menatap Tuan Muda Qin. Tatapannya sangat tenang, seolah pria di depannya itu hanyalah seekor serangga kecil yang berisik.
"Karena Ping'er adalah milikku, lalu kenapa aku tidak boleh dekat dengannya?"
Ucapan Yun Zhu meluncur dengan santai, dingin, dan sangat datar. Namun, kalimat singkat itu bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam api.
Tuan Muda Qin seketika memanas, wajahnya memerah padam hingga ke leher, dan napasnya mulai memburu karena amarah yang memuncak.
Bukan hanya Tuan Muda Qin yang terkejut.
Shi Yun yang sedari tadi berdiri diam dengan anggun juga menolehkan kepalanya dengan cepat.
Kilat keterkejutan sempat melintas di mata jernihnya, meski wanita itu langsung berusaha menyembunyikan emosinya kembali di balik ekspresi dinginnya yang seperti es.
Atmosfer di depan gerbang dimensi itu kini benar-benar menjadi sangat tegang sebelum mereka bahkan sempat melangkah masuk.