Mati tertabrak mobil.
Tiba-tiba bangun di rumah mewah dan memili anak tiri,yang kelak menjadi penjahat besar.
Dan suami psikopat yang belum bisa move on dari cinta lama nya.
Di bantu oleh sistem untuk meluluhkan hati kedua nya.
mampu kah Kaira meluluhkan hati, kedua orang yang sangat membenci nya itu.
"Kau bukan ibu ku, berhenti berlagak seolah kau perduli! Jangan mengatur ku!"( Kaiden Alfaro Lucifer)
"Tugas mu hanya untuk mendidik Kaiden, kau tak perlu ikut campur urusan ku dengan Dorothea, sampai kapan pun yang kucintai hanya lah Dia. kau hanya istri pajangan!" (Albert Gavriel Lucifer).
Siapa yang perduli dengan urusan percintaan mereka, yang terpenting aku jadi orang kaya, akan kubawa Kaiden bersama ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekolah baru untuk Kaiden
"Kaiden kau sudah siap?" tanya Aylin pada Kaiden yang sudah rapi.
"Sudah mami.? jawab Kaiden dengan senyum manis yang terpatri di wajah tampannya. Hari ini Aylin berjanji pada nya untuk memindahkan sekolah Kaiden ke sekolah yang baru.
Aylin menyetir mobil sendiri.tanpa membawa satu bodyguard pun. Dengan santai ia melaju kan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kaiden di samping nya tersenyum senang. Untuk pertama kali dia berangkat sekolah di antar orang tuanya.
Aylin sampai di sebuah sekolah yang juga terbilang lumayan bagus, meski tak se mewah sekolah Kaiden sebelum nya. Alasan Aylin memindahkan Kaiden, bukan hanya lantaran Kaiden yang sering mendapatkan perlakuan buruk dari teman-teman sekelasnya, tetapi juga keberadaan Arabella di sekolah itu.
Aylin telah menyadari, banyak yang berubah dari alur novel aslinya, semenjak dia dan penulis gila itu memasuki dunia pararel ini. Jadi untuk berjaga-jaga sebaiknya dia menjauhkan Kaiden dari Arabella dari saat ini. Sebelum semuanya terlambat. Dan berjalan sesuai dengan alur cerita aslinya.
Aylin berjalan dengan menggandeng tangan Kaiden menuju ruang kepala sekolah.
Tok..
Tok..
Tok..
Ailyn mengetuk pelan pintu ruang kepala sekolah. " Ya, masuk !!" Seru seseorang yang berada di dalam ruangan tersebut.
Aylin dan Kaiden melangkah memasuki ruangan sang kepala sekolah tersebut. Seorang pria lumayan gemuk dengan kacamata bulat di hidung nya langsung meletakkan kertas yang baru saja ia pegang.
"Silahkan duduk nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang kepala sekolah pada Aylin.
"Ya, saya ingin memasukkan putra saya Kesekolahan ini?" Katanya sambil menyerahkan lampiran berkas-berkas data diri Kaiden.
*
*
Setelah pendaftaran selesai. Hari itu juga Kaiden di antar ke kelas baru nya. Kaiden dengan wajah datar dan dingin nya itu memperkenalkan diri nya pada teman-teman baru nya. Sedangkan Aylin sudah pulang terlebih dahulu.
Kaiden duduk di samping seorang anak laki-laki yang lumayan tampan. Yang unik adalah mata anak laki-laki tersebut yang berwarna hazel dengan rambut coklat yang sedikit tipis. Kulit nya putih pucat. Terlihat tidak seperti anak yang berasal dari turki.
"Hai Aku Edward, siapa nama mu?" Sapa anak laki-laki yang duduk di samping Kaiden. Kaiden hanya melirik sekilas uluran tangan anak tersebut.
" Bukan kah baru saja aku memperkenalkan diri ku di depan!" jawab Kaiden datar. Kaiden adalah devinisi Albert kecil. Aura dan wajah dingin nya itu jelas di turunkan oleh Albert.
"Oh benar juga, tapi lebih asik kalau aku menanyakan nya langsung pada mu." Kata Edward dengan senyum polos nya.
Pelajaran pun di mulai. Dan guru menjelaskan materi lalu memberikan tugas untuk di kerjakan bersama. Saat itu Kaiden di tunjuk untuk mengerjakan soal di papan tulis. Dan Kaiden dapat mengerjakan nya dengan sangat baik. Membuat guru nya sangat senang dan tepuk tangan ke kaguman dari teman-teman nya.
Namun hal tersebut tidak mempengaruhi Kaiden sama sekali. ia tetap kembali ke bangkunya dengan tatapan datar dan dingin. Seolah-olah tidak ada yang terjadi. "Wah.. Kau sangat hebat. Aku saja kesulitan mengerjakan soal-soal itu, tapi kamu dengan cepat bisa menyelesaikan nya!! Seru Edward sangat antusias.
Kaiden tetap berwajah dingin, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Edward yang memandang nya penuh kekaguman. " Karena kau bodoh. Jawab nya singkat.
Edward langsung membuang muka kearah lain. Bibir tipisnya langsung manyun. Karena di katai bodoh oleh Kaiden. "Aku bukan bodoh ! Rapi lebih lambat sedikit untuk paham!" katanya, dengan nada Kesal.
Sedangkan Kaiden mengabaikan sikap Edward yang menurutnya sangat kekanakan. Dia tidak sadar bahwa mereka memang lah masih anak-anak.
Jam istirahat pun tiba semua anak berhamburan Pergi ke kantin. Kaiden memilih duduk di kursi paling ujung, dia tidak terbiasa dengan keramaian. Jadi dia tidak ingin di ganggu siapa pun. Tetapi anak laki-laki yang sangat menyebalkan itu, kembali datang menemui untuk mengganggu nya.
Edward duduk di depan Kaiden tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Kaiden. Kaiden memandang Edward tak suka. " Apa yang sebenarnya kau lakukan disini? Masih banyak meja kosong. jangan mengganggu ku!"
Edward hanya mendengus kasar. " Kau anak yang sombong, ini bukan meja milik mu pribadi. Bahkan jika aku mau Daddy ku bisa membeli bangku ini untuk ku!" Kata Edward dengan nada sombong. Dan memandang penuh permusuhan pada Kaiden.
Kaiden mengabaikan sikap menyebalkan Edward. Dan kembali makan dengan tidak terlalu berselera. Sedangkan Edward makan dengan lahap, bahkan pipinya mengembung seperti balon, karena saking penuhnya.
Seorang gadis kecil menghampiri meja Kaiden dan Edward. Dia bertingkah malu-malu sambil membawa sebuah kotak permen kecil. Gadis tersebut mengulurkan kotak tersebut pada Kaiden. " Kaiden, kau sangat keren dan pintar. Mau kah kamu menjadi teman ku?" tanya gadis kecil itu dengan nada malu-malu.
"Hai, kemarin kamu bilang ingin menjadi teman ku karena aku tampan, lalu kenapa sekarang kau malah berganti meminta nya untuk menjadi teman mu!!" Protes Edward pada gadis kecil itu
Gadis kecil itu mendengus kasar. "Tidak jadi, mommy bilang Tampan tidak ada gunanya jika bodoh. Dan mommy ku juga bilang jangan berteman dengan anak yang bodoh. Atau kamu akan tertular kebodohan nya!" Seru gadis kecil itu, dengan sangat lancar menghina Edward.
"Kau sama bodoh nya dengan ku, bukan kah kita adalah pasangan dengan nilai raport terburuk?" Katanya tak terima.
"Tapi kau peringkat paling akhir. Aku masih berada di aras mu!" Teriak gadis itu tak terima. Akhirnya kedua anak itu ribut sendiri. Sedangkan Kaiden menutup Kedu telinga nya dengan Kedu tangan mungilnya.
"Bisa kah kalian diam? Kalian sama-sama bodohnya jadi jangan berdebat di sin!' Teriak Kaiden menghentikan pertengkaran Kedu anak menyebalkan itu.
Gadis kecil itu kembali tersenyum pada Kaiden lalu menyerahkan kotak permen nya. "Karena kau pintar. Aku akan memilih mu menjadi teman ku. Nanti ketika kita dewasa kau harus menikah dengan ku." Katanya dengan senyum malu-malu yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Kaiden mengambil kotak permen yang di berikan gadis tersebut. " Terimakasih." ucap nya. Lalu menyerahkan kotak permen tersebut pada Edward. " Ini untuk mu. Kau saja yang nanti menjadi suaminya kelak ketika dewasa." kata Kaiden, lalu beranjak meninggalkan tempat tersebut.
Gadis kecil itu langsung manyun. Melihat kotak permen nya di berikan pada Edward. Dan berusaha meminta nya kembali dari Edward. " Kembalikan Edward, itu bukan untuk mu. Aku tidak ingin jadi pasangan menikah mu ketika dewasa!" Teriak nya, sambil berusaha merebut permen tersebut dari tangan Edward.
Sedangkan Edward tersenyum sumringah. " Tidak bisa Ilayda, permen ini sekarang menjadi milik ku." kata nya, dengan tertawa riang dan berlari menghindari kejaran Ilaida.
kata kata untukmu:
"semangat dan sehat selalu dan jalani harimu dengan kisah yang indah 💪"