NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pukulan di Tengah Tugas

Malam sudah semakin larut. Jalanan di sekitar gedung bank itu mulai sepi. Lampu-lampu jalan menyala pucat, menerangi halaman parkir yang hampir kosong.

Di pos kecil dekat gerbang, ayah Naya duduk sambil sesekali melihat ke arah pintu utama bank. Seragam satpamnya masih rapi, meski wajahnya terlihat lelah.

Ayah Naya berdiri, mengelilingi area tempat kerja untuk memastikan semuanya aman.

"Astaga..." ucapnya lirih, tubuhnya nyaris terjatuh.

Ini adalah malam pertamanya kembali bekerja setelah beberapa waktu cuti karena sakit.

Ayah Naya melirik jam di pergelangan tangannya, hampir tengah malam.

"Pak Robihot, duduk saja." ajak salah satu rekan kerjanya juga.

Ayah Naya melangkah mendekati area pos, tiba-tiba mobil berhenti tidak jauh dari gerbang.

Ayah Naya mengerutkan kening. Mobil itu terlihat berhenti terlalu lama tanpa ada yang turun.

Ayah Naya menghentikan langkahnya, berbalik arah, mendekat beberapa langkah mendekat untuk memastikan apa yang baru saja dilihatnya.

Pintu mobil itu terbuka dengan cepat. Tiga orang pria turun dengan gerakan tergesa. Wajah mereka yang tertutup masker dan topi.

Ayah Naya langsung menyadari sesuatu tidak beres, mencurigakan.

"Hei! Mau apa kalian?" suaranya tegas, mencoba menghentikan mereka.

Salah satu pria itu justru berlari mendekat, "Awas! Singkir!"

Dorongan keras membuat tubuh ayah Naya terhuyung beberapa langkah ke belakang.

Teman ayah Naya berlari cepat, menolongnya, "Pak Robihot...."

Mereka berusaha menahan mereka.

"Mau apa kalian? Kalian tak boleh ,,,, "

Belum selesai kalimatnya, sebuah pukulan keras menghantam pelipisnya.

Ayah Naya dan temannya tersungkur ke lantai.

Pandangan mata ayah Naya berkunang-kunang. Sementara temannya jatuh, tak sadarkan diri.

Salah satu dari mereka menendang tongkat satpam yang jatuh dari tangannya.

"Cepat!" teriak pria lain.

Mereka bertiga berlari menuju pintu samping kantor.

Ayah Naya mencoba bangkit, dengan sisa tenaganya.

"Berhenti...!" Suaranya serak.

Salah satu pria kembali menghampirinya.

Tanpa ragu, pria itu memukulnya lagi. Kali ini lebih keras.

Tubuh ayah Naya jatuh kembali ke lantai. Kepalanya terbentur sisi meja kecil di pos jaga. Darah mulai mengalir di pelipisnya. Napasnya berat. Pandangan matanya perlahan mengabur sementara suara langkah kaki perampok itu semakin menjauh ke arah gedung.

"Ja- ja -ngan..." suaranya semakin melemah.

Di tengah malam yang sunyi itu, ayah Naya terbaring di lantai pos satpam. Tak sadarkan diri.

Malam di rumah Naya terasa sunyi. Lampu ruang tamu masih menyala redup. Ibu Naya belum masuk kamar, meskipun jam sudah menunjukkan cukup larut. Ia duduk di kursi sambil sesekali melihat ke arah pintu rumah.

Naya belum pulang.

Tangannya memegang ponsel, kadang melihat layar sebentar, meletakkannya lagi di meja. Wajahnya terlihat lelah, tetapi ia tetap menunggu.

Rasa khawatir seorang ibu dan seorang istri, itu yang sedang melingkupinya. Ibu Naya bersandar ke kursi, mencoba memejamkan matanya.

Ponselnya tiba-tiba berdering, membuatnya sedikit terkejut.

"Halo?" ucap ibu Naya.

Suara seorang wanita terdengar dari seberang.

"Selamat malam, apakah benar ini keluarga Bapak Robihot?"

Ibu Naya berdiri, terdiam, pikirannya langsung mengarah ke hari kemaren, persis seperti itu.

"Halo, Bu? Apakah ibu bisa mendengar kami?"

"Iya...iya, saya istrinya," jawab Ibu Naya pelan.

"Kami dari rumah sakit Trimeka Surya. Bapak Robihot saat ini berada di unit gawat darurat."

Kalimat itu membuat tubuh ibu Naya langsung menegang.

"Rumah sakit...?" suaranya bergetar.

"Beliau dibawa ke sini karena mengalami luka. Kami mendapat informasi terjadi perampokan di tempat beliau bertugas."

Ponsel di tangan ibu Naya hampir terlepas. Rasa sesak memenuhi dadanya, Ia terduduk lemah.

"Beliau mengalami benturan di kepala dan beberapa luka. Saat ini sedang ditangani dokter. Kami harap keluarga bisa segera datang."

Telepon berakhir.

Air mata langsung mengalir di wajah ibu Naya.

"Ya Tuhan....." bisiknya.

Tangannya gemetar, dadanya sesak.

"Bapak...." suaranya pecah.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya tak teratur, sesak.

Pada saat hampir bersamaan, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

"Terimakasih ya, Pak. Sudah mengantar saya pulang." ucap Naya menunduk sopan.

"Sama-sama," jawab CEO itu.

CEO tak langsung masuk kembali ke dalam mobil, ia memastikan Naya masuk ke dalam rumah.

Naya melangkah masuk, membuka pintu. Naya langsung berhenti.

"Ibu?" teriaknya kaget.

Ia melihat ibunya duduk, menangis dan napasnya tersengal-sengal.

Naya segera berlari mendekat.

CEO yang masih di depan rumahnya mendengarnya dengan jelas, ia segera melangkah cepat masuk ke dalam rumah.

"Ibu... Ibu kenapa?" tanya Naya.

Ibu Naya masih tak bisa menjawab, hanya menatap putrinya dengan mata merah. Napasnya tak bisa ia atur.

"Astaga...." Ucap CEO itu kaget. "Ibu kenapa, Nay?"

CEO melihat ibu Naya bernapas sesak dan terputus-putus. Dia menggenggam tangan ibu Naya.

"Bu, dengarkan saya. Ibu tenang,ya. Tarik napas.....lalu keluarkan. Ulangi lagi, Bu. Tarik napas... Keluarkan."

Ibu Naya mengikutinya, dan sekarang ia sedikit lebih tenang, bisa sedikit mengatur napasnya.

Ibunya kembali menangis, memeluk Naya.

"Ayahmu...." suaranya bergetar. "Ayah.... ayah di rumah sakit, Nay."

Jantung Naya langsung berdegup keras. Matanya membesar.

"Ayah.... Ayah kenapa, Bu?"

"Katanya, ada perampokan di tempat kerja Bapak. Bapak terluka, Nak."

Tangis ibu Naya kembali pecah, Naya juga tak sanggup menahannya lagi. Air matanya mengalir deras.

"Ayah....." tangis Naya.

"Rumah sakit mana, Bu?" tanya CEO itu dengan nada tenang.

Ibu Naya menyebutkan nama rumah sakit itu dengan suara gemetar.

CEO itu langsung mengangguk, "Mari saya antar,"

Naya tak merespon, ia menangis tersedu, menutup wajahnya dengan tangannya. Ia gemetar, sangat takut.

Adrian memperhatikannya.

"Naya.... tenangkan dirimu dulu, ya." ucapnya lembut sambil meraih tangan Naya yang menutupi wajahnya.

"Ayo, kita berangkat sekarang." lanjutnya.

Naya hanya menatap CEO itu, tak ada rasa canggung saat itu. Semuanya hanya rasa kekhawatiran.

Naya menggenggam tangan ibunya yang masih gemetar, "Bu, ayok kita pergi."

CEO itu berdiri terlebih dahulu. Naya dan ibunya mengikutinya keluar menuju mobil.

Naya lebih dulu membuka pintu, "Ibu.... Pelan-pelan," katanya lirih.

Ibu Naya turun dengan kaki yang masih terasa lemah. Tangisnya belum benar-benar berhenti sejak di rumah tadi.

CEO itu segera berjalan mengitari mobil. Tanpa banyak bicara, ia berdiri di sisi kiri ibu Naya, memegang lembut tangan kirinya, membantu menuntunnya berjalan.

Di sisi lain, Naya memegang tangan kanan ibunya dengan erat.

Mereka bertiga berjalan cepat menuju pintu rumah sakit.

Pintu otomatis terbuka, udara dingin langsung menyambut mereka. Beberapa perawat dan keluarga pasien terlihat berlalu lalang.

Begitu sampai di meja..., Adrian langsung maju satu langkah.

"Permisi, pasien atas nama Pak Robihot, dirawat di ruangan mana?".

Adrian berbicara dengan tenang, meskipun ekspresinya terlihat serius.

Naya dan ibunya berdiri di belakang, saling menggenggam erat, menunggu dengan jantung berdebar cemas.

1
kurniasih kurniasih
lanjut dong ceritanya bagus
Pasaribu: Ditunggu yaa
total 1 replies
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!