NovelToon NovelToon
Datanglah Padaku

Datanglah Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: vennyrosmalia

Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.

Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.

Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 9

Bram menjemput Nathan di apartemennya karena semalam mobil Nathan dibawa pulang olehnya. Bram juga membawa sarapan yang sengaja di belinya karena memang Nathan tidak pernah menyimpan stok makanan di apartemen.

Begitu masuk ke apartemen, suasana masih tampak temaram sepi. Bram meletakan sarapan yang dibelinya di meja makan, kemudian melangkah menuju kamar Nathan.

Diketuknya pintu sebelum masuk ke dalam kamar. Bram melihat kasur Nathan yang masih berantakan tapi sang pemilik kamar sudah tidak ada disana.

Suara gemericik air di kamar mandi meyakini Bram jika Nathan sedang mandi. Bram merapikan kasur Nathan karena memang dia sudah terbiasa melakukan hal itu.

Ceklek.

Pintu kamar mandi terbuka, Nathan melihat Bram yang sibuk merapikan kasurnya.

"Kau sudah datang?" tanya Nathan.

"Ya Bos. Astaga, sampai kapan aku harus berperan seperti istrimu begini." celetuk Bram.

"Jangan mulai Bram." jawab Nathan.

Memang pagi hari Bram selalu menyindirnya dengan kata-kata seperti itu. Padahal dia tidak pernah menyuruh Bram untuk merapikan tempat tidurnya.

Tapi Nathan juga selalu melarang ART yang bertugas membersihkan apartemen untuk masuk ke kamar pribadinya.

Untuk itu hanya Bram yang selalu berinisiatif merapikan kamar Nathan.

"Makanya Bos, cepet cari istri biar ada yang mengurus keperluan pribadi Bos." tutur Bram.

"Cih istri, kau saja yang cari sana!" titah Nathan.

Bram menggelengkan kepala melihat Nathan yang bersiap sendiri, mulai dari memilih baju mengeringkan rambut sampai memakai dasi.

"Kalau aku cari istri, Bos akan lebih merana karena tidak ada yang memperhatikan." jawab Bram.

Nathan yang akan memakai pakaiannya diam menatap Bram dengan tajam. Asistennya ini pagi-pagi sudah banyak sekali bicara.

"Kau mau melihatku berganti pakaian?" tanya Nathan saat Bram sudah selesai merapikan kasurnya tapi masih betah diam di kamarnya terus.

"Ya tidak Bos, cepatlah Bos, aku juga sudah bawa sarapan." ucap Bram sebelum keluar dari kamar Nathan.

"Ck, disini sebenarnya siapa Bosnya." gerutu Nathan saat mendengar perintah Bram.

.

.

"Bagaimana dengan data istri pria itu?" tanya Nathan saat dalam perjalanan menuju perusahaan.

Nathan teringat jika Bram belum membahas hal itu sedari mereka di apartemen. Nathan tahu betul cara kerja Bram yang selalu cepat dalam melakukan perintahnya.

Bram menatap Bos nya melalui kaca kecil di depan mobil. Benar saja Nathan juga sedang melihat ke arahnya.

"Sebenarnya." jawaban Bram menggantung antara ingin menjelaskan atau tidak perlu sama sekali.

Tapi Nathan bukan orang yang mau menerima jika penjelasannya tidak masuk di akalnya.

"Mencari informasi seseorang bukan hal yang sulit Bram." kesal Nathan.

Kecuali.

Nathan segera meminta Bram untuk menghentikan mobil mereka di bahu jalan. Bram tentu langsung menuruti permintaan Nathan.

"Apa Daddy juga turun tangan menyembunyikan indentitas keluarga pria itu?" tebak Nathan.

Bram menghela nafas kasar sebelum menganggukan kepalanya. Tebakan Nathan tepat sekali, karena hanya kekuasaan Daddy nya yang bisa membuat langkah Nathan sedikit sulit dalam hal apapun.

"Lebih baik Bos tanya sendiri pada Tuan besar atau kalian bisa berbicara dengan kepala dingin." usul Bram.

"Jangan bilang kau juga ingin aku menerima suami Irene di keluargaku?" tuduh Nathan saat Bram memberinya solusi seperti itu.

"Bukan begitu Bos, tapi Tuan Alex tidak akan membiarkan Irene memilih laki-laki yang menurut Tuan Alex tidak baik." jelas Bram.

Menurut pemikiran Bram, mungkin saja ada satu hal dalam diri Satria yang membuat Tuan Alex menerimanya untuk menjadi suami Irene.

Nathan diam setelah Bram mengutarakan pemikirannya. Namun tetap saja, Nathan tidak rela jika adik kesayangannya hanya dijadikan istri kedua oleh laki-laki manapun.

"Kalau kau tidak bisa mencari tahu, aku sendiri yang akan mencarinya." ucap Nathan dingin.

.

.

"Mas, aku mau izin pergi membeli keperluan sekolah Resa." ucap Vania saat mengantarkan Satria yang akan pergi bekerja.

"Perlu aku hubungi supir lagi?" tanya Satria.

"Tidak perlu Mas, sebenarnya aku akan pergi bersama temanku." cicit Vania pelan.

Satria mengerutkan kening saat Vania mengatakan pergi dengan temannya.

"Memang kamu punya teman disini?" tanya Satria.

Vania tersenyum dan menganggukan kepalanya dengan antusias. Dia pun menceritakan pertemuannya dengan Liliana di sekolah Resa dan mereka membuat janji untuk membeli keperluan sekolah anak mereka bersama-sama.

"Boleh kan Mas? Setidaknya aku tidak akan kesulitan kalau pergi dengan Lili." jelas Vania.

Satria pun memberikan izinnya untuk Vania pergi bersama temannya itu. Tidak lupa Satria memberikan satu kartu yang bisa digunakan Vania untuk membayar belanjaannya nanti.

"Makasih ya Mas."

Satria hanya mengangguk dan berlalu masuk ke dalam mobilnya. Vania mengerucutkan bibirnya saat tak ada ciuman di kening atau paling tidak elusan di kepalanya sebelum Satria pergi bekerja.

Tapi Vania tidak mempermasalahkan suaminya yang cuek itu, karena Satria sudah sangat bertanggung jawab memenuhi kebutuhannya dengan Resa.

"Sabar Vania, Mas Satria memang cuek begitu." ucap Vania menyemangati dirinya untuk lebih sabar dengan sikap dingin suaminya.

.

.

Tin tin

Suara klakson mobil membuat Vania segera membuka pintu pagar rumahnya. Resa yang juga melihat itu ikut mengekori Bundanya dari belakang.

"Hay Vania." sapa Liliana setelah turun dari mobilnya.

"Hay Lili." Vania dan Liliana saling berpelukan sebentar.

Liliana juga tidak lupa menyapa Resa yang ada di sisi Vania. Resa menyalimi tangan Liliana dan membuat kedua wanita itu tersenyum bangga melihat kesopanan Resa.

"Mom ayo cepat." teriak seorang anak perempuan cantik dengan kuncir dua di rambutnya.

Vania dan Resa saling pandang.

"Iya Selly sebentar ya." ucap Liliana.

Liliana pun segera mengajak Vania dan Resa untuk masuk ke dalam mobilnya.

Dalam perjalanan, banyak hal yang diceritakan Liliana pada Vania mengenai kota yang ditinggali mereka saat ini.

Tak lupa beberapa kebiasaan di kota mereka dan banyak lagi hal yang membuat Vania cukup tertarik. Sementara di kursi belakang anak-anak sedang saling mengakrabkan diri.

"Kamu Lesa?" tanya Selly cadel karena belum bisa mengucapkan huruf R.

"Resa bukan Lesa." jawab Resa sedikit kesal.

"Iya aku tahu Lesa." kuku Selly.

"Haah, terserah kau saja." meskipun kesal tapi Resa tetap selalu berusaha menjawab setiap pertanyaan yang ditanyakan Selly padanya.

Vania menengok sebentar pada keduanya dan merasa senang karena keduanya tampak berbicara dengan baik meskipun seringkali terdengar Resa mencoba untuk membenarkan namanya pada Selly.

......................

1
Indah Tuk Di Kenang
sakitya thorrr liat satria bahagia 😭😭semangat up therusss thorrr👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!