NovelToon NovelToon
TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_va

Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.

Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.

Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.

Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.



Simak cerita selengkapnya 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Rasa

"Setelah mengusirku, tidak mendengar pendapatku, mereka menginginkan aku pulang?" Rama tersenyum miring.

"Aku bahkan dikeluarkan dari kartu keluarga. Dan tabungan yang kamu maksud, dikuras papa. Hanya menyisakan sedikit."

Frans berdehem. "Mungkin, mereka menyadari telah berbuat salah."

Rama mengisap rokoknya. Menjentikkan ujung abu di atas asbak yang tersedia.

"Jika mereka sadar salah. Seharusnya mereka yang datang, bukan menyuruhmu. Selamat malam."

Langkah Rama kembali ke panggung kecil. Merapikan peralatan musik ke tempat semestinya. Dari kecil dia menyukai musik. Bahkan pernah bercita-cita jadi penyanyi profesional.

"Ada titipan untuk istri Anda. Dari Nyonya."

Rama menoleh ke belakang, melihat Frans meletakkan paper bag hitam di ujung panggung. Frans kemudian keluar kafe.

"Siapa dia?" tanya Roy, si bassis yang rambutnya gondrong.

"Hanya kenalan biasa." Rama meraih paper bag yang berisi tas dan baju.

Roy masih penasaran karena gaya bahasa Frans yang formal dan terkesan sopan. Ingin bertanya lagi tapi Rama sudah turun dari panggung.

Rama membuang puntung rokok di tempat sampah. Langkahnya menuju ruangan kecil di belakang yang digunakan sebagai kantor. Di zaman yang serba digital, Rama menerima bayaran tunai.

"Apa besok bisa main lagi? Jam tujuh malam?" tanya lelaki pendek berkepala plontos.

"Si Robert ke ibu kota. Bocah tengik tidak punya adab."

"Bisa." jawab Rama.

"Sampai jumpa besok, Pak Zidan."

"Hei, Rama. Aku dengar kamu sudah menikah. Kenapa tidak mengundangku?"

"Karena mendadak."

"Jangan-jangan karena hamil...."

Rama terkekeh. Tidak tersinggung, karena zaman memang edan. Masih pacaran, tapi rasa suami istri. Bahkan tinggal bersama.

"Istriku baik dan taat norma-norma." kata Rama.

"Apa cantik? Kayak pacar Roy."

"Selamat malam, Pak Zidan." Rama mengabaikan pertanyaan itu. Berderap cepat keluar ruangan.

Di ujung lorong, terlihat para pegawai perempuan berkerumun. Rama melewati mereka.

"Mas Rama!" panggil Mita si cleaning service.

Perempuan berusia tiga puluh tahun yang berstatus janda mati. Suaminya meninggal karena sakit. Harus menghidupi tiga orang anak.

"Di larisi, Mas. Buat istrinya. Pakaian dalam."

Rama garuk-garuk kepala. Sementara Mita dan pegawai lain cengar-cengir.

"Lain kali saja, Mbak," tolak Rama. Karena ia tidak tahu ukuran payudara istrinya. Dia memang pernah mencuci bra milik Nara tetapi tidak pernah mengecek ukuran.

Rama melanjutkan langkah yang sempat terhenti. Melihat Roy dan pacarnya di parkiran.

"Sekarang langsung pulang ya?" canda Roy.

"Kapan-kapan kenalin ke kami dong."

Benar sekali yang dikatakan Roy, sejak menikah tidak pernah nongkrong berlama-lama di kafe.

"Karena ada yang menunggu di rumah." Rama memakai helmnya. "Makanya nikah."

"Belum berani, belum siap mental," kata Dita pacarnya Roy.

"Ya, Itu hak kalian. Aku hanya bercanda."

Rama memacu kendaraan roda duanya. Angin malam menelusup di balik pakaian. Dia sampai di rumah kontrakan jam sembilan malam.

Setelah memasukkan motor dan mengunci pintu, Rama masuk ke ruang tengah. Istrinya tampak tidur miring memeluk guling.

Rama meletakkan paper bag di meja. Berganti pakaian yang tadi dikenakan. Lanjut cuci muka dan sikat gigi.

Paper bag itu sempat diperiksa. Tidak ada catatan apapun. Rama khawatir mamanya memberikan catatan pesan.

Rama berbaring miring. Hampir separuh bagian kasur di kuasai Nara. Ia tersenyum sendiri melihat wajah pulas itu. Bibir sedikit terbuka. Tangan kanan Rama bergerak menyentuh rambut yang jatuh di pipi. Sebenarnya, sejak pertama kali berkenalan dengan Nara, ada ketertarikan tersendiri. Cantik, ramah, dan baik.

Hampir satu bulan satu atap, ia mulai mengenal sosok Nara yang kadang agak lemot, kadang galak, kadang bisa diajak ngobrol, kadang cuek.

Rama balik badan memunggungi Nara, karena debar halus seiring hasrat mulai merayap. Ia lelaki normal, yang setiap hari melihat sebagian tubuh istrinya. Entah itu paha atau bahu.

Dengan pendapatannya yang tidak menentu walaupun cukup, Rama mulai memikirkan sisa uang di tabungan. Haruskah memutuskan usaha lagi?

Rama berpikiran melanjutkan usaha minimarket atau toko kelontong. Demi masa depan istri dan anak. Ngomong-ngomong soal anak, Rama hanya menginginkan satu atau dua anak.

Rama membalikkan tubuhnya lagi. Memandangi Nara yang tidur telentang.

"Kapan bikin Rama junior??" bisiknya sangat pelan.

Lalu, ia tertawa kecil. Sangat konyol karena mulai ingin memiliki Nara seutuhnya. Cinta kadang membuat bodoh dan konyol.

****************

Rama bilang, di tote bag warna hitam dan kaos warna dusty pink pemberian bos kafe.

Nara membolak balik tas yang bahannya sangat bagus. Bukan seperti tas seratus ribuan yang dibelinya di market place. Merek Coach. Sedangkan kaus merek Zara. Barang-barang produk premium. Untuk gaji UMR, harus pikir-pikir dulu sebelum membelinya. Mungkin dengan nabung tiga kali gaji bisa membeli tas itu.

"Nara!"

Terdengar suara Intan dan pintu yang diketuk.

"Masuk aja!" sahut Nara yang duduk di atas karpet.

Kedua temannya datang. Ajeng dan Intan kerja di pabrik, hari Minggu tentu saja libur. Tidak seperti dirinya yang bekerja di restoran, kadang jatah libur di hari kerja seperti hari Senin atau Selasa.

Nara buru-buru menyimpan tas dan kaos tersebut, tetapi kakinya terkena ujung karpet. Sehingga terjatuh.

"Nara, ngapain kamu?" canda Ajeng.

"Ya, jatuhlah," sahut Nara. Khawatir dianggap pamer tas dan kaos.

Intan duduk di sofa, mengedarkan pandangannya. "Suamimu punya selera tinggi. Dari pemilihan warna cat, meja televisi. Rapi juga."

Nara duduk, mengusap dengkulnya yang sakit.

"Mas Rama memang punya selera yang lain dengan cowok pada umumnya."

Ajeng menaruh tas kresek di dekat Nara. Isinya rujak buah, cireng goreng, donat, dan es teh jumbo.

"Tas baru, Ra?" Ajeng meraih tas hitam itu.

"Iya, dari bosnya Mas Rama," sahut Nara.

"Eh, aku nggak maksud pamer."

"Kamu ini, pamer nggak apa-apa. Wajib hukumnya," gurau Intan yang ikut duduk di bawah.

"Merek semua ini. Bukan yang kategori mewah banget sih. Tapi bagiku cukup menguras kantong. Harga tas dua ratus ribu cukup awet."

"Ya, memang tas ini targetnya bukan kaum mendang mending kayak kita," timpal Ajeng.

"Tas ini tujuh jutaan, kaos lima ratus ribuan. Cukup royal juga bosnya. Mungkin Rama bekerja sangat rajin."

Nara mengangguk. Pikirannya kemana-mana. Suaminya mengaku bisa main piano. Ah, mungkin saja Rama kursus baru-baru saja.

Ajeng mengeluarkan makanan dari tas kresek. Tiga sekawan itu mulai bercerita tentang apa saja. Tentang Ajeng yang mulai berhubungan serius dengan teman sekerja. Atau Intan yang putus hubungan karena si mantan over posesif.

"Nara, udah kenal bapak ibunya Mas Rama?" tanya Ajeng, mengambil bantal sofa untuk bantalan kepala.

"Belum kenal. Sepertinya hubungan Mas Rama dan keluarganya kurang harmonis," ungkap Nara.

"Tapi nggak apa-apa bagiku, yang penting Mas Rama baik."

"Ciee, udah kepelet nih." Intan mencolek dagu Nara.

"Gimana nggak kepelet, udah bertukar keringat." Ajeng tertawa terbahak-bahak.

"Belum ...." Nara menyedot es teh.

"Apa?!" Ajeng yang rebahan, langsung terduduk.

"Kalau aku udah tak uyel-uyel tiap malam, Nara. Suami ganteng kok dianggurin."

"Ajeng, itu kan kamu!" tukas Intan.

"Nara sepertinya perlu waktu."

"Iya, aku ngerti," sahut Ajeng.

"Tapi kamu nggak tertarik sama sekali gitu? Lengannya aja urat ototnya terlihat. Pasti tubuhnya seksi. Rajin nge-gym suamimu."

Nara meringis. Rama memang seksi, apalagi perutnya.

"Nanti malam tubruk aja. Jangan lama-lama nunda, Nara," saran Ajeng.

"Iya, iya...." Nara menggaruk alisnya.

"Jangan iya-iya aja." Ajeng memukul pelan paha Nara.

...****************...

Pukul 13.05 Nara sudah siap dengan seragam kerjanya. Memulas bibirnya dengan lipstik warna merah bata. Ajeng dan Intan pulang satu jam yang lalu.

Nara kemudian memakai kardigan dan menyandang tas baru. Kedua kakinya melangkah ke arah pintu. Rama berjanji akan pulang dan mengantar ke tempat kerja.

Ternyata Rama sudah sampai, tetapi berhenti di depan rumah kontrakan Rena.

"Dih, malah ngobrol." Nara ngedumel.

Rama yang melihat Nara, berkata kepada Rena, "suruh Pak Ujang aja, Mbak. Aku mau nganter istri."

"Pak Ujang nggak ada di rumah. Nanti malam aku gelap-gelapan. Mas, Mas Rama!"

Rama melajukan motornya, mengabaikan ucapan Rena. Motor berhenti di depan teras.

"Udah siap?" tanya Rama.

"Udah selesai ngobrolnya?" Nara meraih helm agak kasar.

"Nggak ngobrol. Tadi mendadak nyegat, minta tolong ganti lampu," jelas Rama.

Nara merengut. Duduk membonceng tanpa berpegangan.

"Nara, jangan salah paham," kata Rama.

"Aku nggak salah paham, Mas. Buruan, nanti aku telat," sahut Nara galak.

Rama tertawa. Perempuan kalau ngambek antara lucu, menggemaskan dan menjengkelkan.

1
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
sepanjang jalan kenangan kak😂
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜: Nah itu masalah nya😭😭😭😭🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
꧁ռǟռǟ꧂
panggilan pak rete Kayak nama korea "suho eh suha" 😄😄😄
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Pingsan dong Bu😂😂😂

Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Hmmmmm kecelakaan Radit di sengaja,

Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨

Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Iri bilang bos 😂

Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,

Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
Tri Wahyuni: si gita minta di tampol 😭🤭
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
mulai kebongkar nih siapa Bianca...
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Yg banyak atuh kak,
nanggung kelanjutan nya 😬😬
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Bu Risna Shok ternyata memiliki menantu orang kaya😂😂
Tri Wahyuni: shik shak shock 🤭🤣
total 1 replies
꧁ռǟռǟ꧂
suka sama ceritanya tentang kehidupan sehari hari,, baca sambil bayangin, Kalo gk masuk di bayangan brati ceritanya kurang masuk di Hati......
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
syirik bgt sih nih orang.. 😂😂
Tri Wahyuni: minta di tampol kayanya 😭🤣🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
Nara maklumi saja suami mu ya dia kan polos...😂😂
Tri Wahyuni: pura² polos 🤣🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor..
Tri Wahyuni: baik. di tunggu updatenya kak 😍
total 1 replies
Poni Jem
sampai saat ini belum ada typo. masih baik untuk dibaca. semangat trs 👌
Tri Wahyuni
bagus 🥰
Tri Ayu
semangat berkarya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!