Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai yang Menerjang
Lelaki tua itu berbaring di tikar pandan, matanya masih menatap atap kayu rumah Pak Surya. Wajahnya tirus, pipinya cekung, namun di balik itu, napasnya mulai teratur. Joko, yang baru beberapa jam lalu diselamatkan dari perut pabrik, kini terbaring di samping ayahnya. Wajahnya masih pucat, tetapi warna merah perlahan kembali ke pipi. Aroma minyak kayu putih mengisi ruangan, bercampur dengan bau jamu pahit yang dibuat Pak Mahmud. Di atas meja kecil, mangkuk bubur hangat mengepulkan uap, ditunggu Joko setelah ia bisa menelan. Budi duduk di lantai, mengipas badan Joko dengan kipas bambu, sesekali menggambar sketsa di kertas kusut, mencoba mengabadikan momen ini, meski matanya masih berat dari lelah.
Sementara itu, dunia di luar rumah bergolak. Pukul tujuh pagi waktu Jakarta, portal berita internasional yang bekerja sama dengan Mas Jati merilis artikel dengan judul besar: “Rahasia B16: Eksperimen Manusia di Balik Pabrik Makanan Kaleng Indonesia”. Artikel itu menampilkan foto-foto yang diambil oleh Tento dan kawan-kawan: wajah Widya di pelabuhan, injeksi pada narapidana, Joko di laboratorium, dan surat kontrak bertanda tangan Singh dan Widya. Dalam hitungan jam, berita itu disebarkan jutaan orang. Media sosial meledak dengan tagar #StopB16 #SelamatkanJoko #KeadilanBagiKarin. Netizen menulis, “Bagaimana bisa ini terjadi di negara kita?”; “Apakah hidup manusia tidak ada harganya?”; “Kita harus turun ke jalan!” Televisi nasional, yang biasanya enggan menyiarkan berita kontroversial, tidak bisa mengabaikan. Breaking news muncul di layar: “Dugaan Eksperimen Manusia, DPR Akan Panggil PT. Farma Vita.” Para anchor berusaha tampak tenang, namun suaranya sedikit gemetar.
Istana negara akhirnya merespons. Juru bicara presiden memberikan pernyataan: “Pemerintah akan membentuk tim investigasi. Kami tidak membenarkan tindakan apa pun yang melanggar hak asasi manusia. Tidak ada yang kebal hukum.” Sebuah video memperlihatkan Widya berjalan cepat memasuki gedung DPR, dikerumuni wartawan yang melempar pertanyaan. Wajahnya lelah, mata tertutup kaca mata hitam. Ia tidak menjawab.
Reaksi berbeda datang dari pihak perusahaan, PT. Farma Vita mengeluarkan siaran pers: “Kami menyangkal semua tuduhan. Produk kami telah memenuhi standar internasional. Foto-foto yang beredar adalah manipulasi. Kami akan menempuh jalur hukum untuk melindungi nama baik.” Namun, publik tidak percaya. Beberapa cabang perusahaan di kota-kota besar didatangi demonstran. Mereka membawa poster bergambar vial ungu dengan tanda silang besar. Polisi berjaga, namun suasana tetap panas. Di Malang, warung Pakde Selam yang sebelumnya dibakar kini menjadi tempat berkumpul aktivis. Mereka memasang spanduk “Soto untuk Keadilan” dan membagikan soto gratis kepada demonstran.
Di Kalimantan, internet juga heboh. Pak Surya menyalakan radio tua, mendengarkan berita sambil mengganti kain basah di dahi Joko. “DPR memanggil pejabat, tapi apakah mereka benar-benar akan bertindak?” gumamnya. “Aku tidak percaya sampai aku melihat orang-orang itu di penjara.” Perikus duduk di sebelahnya, memegang secangkir teh panas. “Setidaknya sekarang semua orang tahu. Mereka tidak bisa lagi menyembunyikan,” katanya.
Tiba-tiba, pintu rumah diketuk. Seorang pemuda Dayak masuk, membawa pesan dari Maya. “Dia butuh bicara,” katanya sambil menyerahkan selembar kertas. Di kertas itu, tertulis koordinat dan jam. “Ini titik pertemuan. Widya ingin bicara. Dia bilang dia punya informasi dan ingin membantu, tetapi dia harus yakin kita bukan menipunya.” Mereka terdiam. Widya ingin bicara? Apa ini jebakan? Atau tanda bahwa dia menyesal?
Profesor memegang kertas itu, menatap teman-temannya. “Ini peluang. Mungkin dia akan menjadi whistleblower. Atau dia akan menjebak kita. Tapi kita harus tahu,” katanya. Budi berseru, “Kita harus bertemu di tempat umum dengan banyak orang, supaya aman. Atau kita bawa reog, sekalian menari.” Mereka tertawa, melepaskan sedikit ketegangan.
Sambil menimbang, mereka menerima kabar lain dari Maya: “Aku meretas server Farma Vita. Aku menemukan bukti bahwa B16 akan dikirim ke luar negeri melalui platform minyak di Laut Sulawesi. Ada kontainer yang akan diberangkatkan dari pelabuhan Balikpapan dalam tiga hari. Aku juga menemukan email Singh ke investor luar negeri: ‘Proyek B16 tahap final. Produk siap dikirim.’ Ini lebih besar dari yang kita pikirkan. Perlu diambil tindakan.”
Mata Mereka melebar. “Platform minyak?” tanya Perikus. “Kenapa di sana? Itu di tengah laut. Tidak ada yang bisa mengawasi.” Budi menarik napas dalam. “Mereka ingin menghindari pantai. Jika pengiriman dilakukan di platform, kapal besar bisa langsung mengangkat, tanpa lewat pelabuhan. Pintar, tetapi kita bisa berhenti di tengah laut,” katanya. Mereka memandangnya, terkejut. “Bagaimana?” tanya Tento. “Kita bukan bajak laut.”
Budi menyalakan rokok, menghisap dalam-dalam. “Kalian lupa? Aku pernah baca komik tentang pelayaran bajak laut,” katanya dengan senyum tipis. “Aku punya teman nelayan yang berani ke tengah laut. Kita bisa sewa kapal. Kita berpura-pura memancing. Ketika kapal besar mendekat, kita melompati, menempelkan pelacak, lalu lari. Atau kita menerbangkan drone dari kapal kecil. Mungkin 1% sukses, tapi kita suka angka itu.” Semua tertawa. “Ini gila,” kata Profesor. “Tetapi bukan ide buruk. Kita harus diskusi lebih serius.”
Pak Anto menambahkan, “Laut Sulawesi punya arus kuat. Kita butuh pawang laut. Saya kenal seorang pawang bernama Bu Rukmini. Dia jago membaca arus dan cuaca. Orang-orang Dayak percaya dia bisa berbicara dengan laut. Dia bisa membantu.”
Keputusan diambil: mereka akan membagi tim lagi. Tento, Budi, dan Perikus akan ke Balikpapan untuk mencari kapal dan pawang, menyiapkan operasi laut. Profesor, Pak Surya, dan Pak Hadi akan menemui Widya sesuai koordinat, dengan pengawalan Dayak, di tempat umum, sebuah rumah makan padang di pinggir sungai untuk meminimalkan bahaya. Sementara itu, Rina dan Indah di Bandung terus menekan pabrik, mengumpulkan saksi, dan memberi kesaksian. Jika Widya benar-benar ingin bantu, informasi darinya bisa melengkapi bukti. Jika bukan, mereka akan menjauh.
Perjalanan ke Balikpapan ditempuh dengan bus kecil. Jalan dari Samarinda ke Balikpapan berliku, melewati hutan, jembatan, dan batu-batu besar. Mereka melihat truk besar membawa batubara, mobil-mobil pribadi, dan beberapa motor. Aroma resin dari hutan, campur bau knalpot, memenuhi udara. Di dalam bus, Budi tertidur, kepalanya tergeletak di pundak Perikus. Tento duduk di depan, menatap jalan, memikirkan laut yang akan mereka hadapi.
Di Balikpapan, mereka turun di pasar ikan yang ramai. Bau ikan segar dan udang rebus menyengat. Mereka bertanya-tanya, mencari pawang yang disebut Pak Anto. Setelah beberapa kali salah arah, mereka menemukan rumah panggung kecil di pinggir pantai. Seorang wanita paruh baya dengan rambut dikepang menyambut mereka. Matanya tajam seperti mata elang, wajahnya dihiasi tato kecil. Inilah Bu Rukmini. “Kalian mau menantang laut?” katanya, suaranya dalam. “Laut tidak sembarang menerima tamu. Apa tujuan kalian?”
Tento menjelaskan, setengah dalam bahasa Indonesia, setengah dalam bahasa lokal. Bu Rukmini mendengarkan, lalu mengangguk perlahan. “Laut menyukai keberanian dan kejujuran. Jika kalian mencari kebenaran, laut akan membantu. Tapi kalian harus siap. Arus di sana kuat. Angin bisa berubah sekejap. Dan kalian bukan nelayan,” katanya. “Saya akan bantu, tapi kita harus siap. Kita butuh kapal yang kuat. Saya punya perahu, tapi tidak cukup besar. Kita harus sewa kapal motor besar.”
Mereka berjalan ke pelabuhan Balikpapan. Kapal-kapal besar berlabuh, bau solar dan terasi tercium. Mereka bertemu seorang nakhoda, Pak Yus, yang memiliki kapal penangkap ikan ukuran sedang. Pak Yus berpakaian lusuh, berwajah keras, tapi matanya lembut. “Kapalku biasa pergi ke tengah. Tapi jika kalian mau sewa, harus bayar,” katanya. Mereka negosiasi, menggunakan sedikit uang dari dana kumpulan aktivis. Pak Yus akhirnya setuju. Ia juga ingin membantu setelah mendengar cerita mereka. “Anakku juga bekerja di pabrik itu. Dia sakit setelah disuntik. Ia muntah, gelisah, lalu meninggal. Aku ingin mereka diadili,” katanya sambil menatap laut.
Mereka mempersiapkan kapal: mengisi bahan bakar, memasukkan jaring, drum kosong, peralatan memancing sebagai kamuflase. Budi memasang kamera kecil di tiang kapal, menghubungkannya ke ponsel. Mereka membawa drone mini, hasil pemberian Maya yang sudah diperbaiki. “Jangan sampai terjatuh lagi,” candanya. Mereka juga mempelajari peta laut, mempelajari arus, dan mempelajari tanda-tanda cuaca dari Bu Rukmini.
Sementara itu, di tempat lain, Profesor, Pak Surya, Pak Hadi, dan Dayat tiba di rumah makan padang di pinggir sungai seperti rencana. Rumah makan itu ramai oleh orang-orang makan siang, aroma rendang, ayam pop, dan kuah gulai memenuhi udara. Mereka duduk di pojok, memesan teh manis dan nasi Padang, berpura-pura sebagai pelanggan biasa. Dayat duduk di dekat pintu, mengawasi. Profesor memegang tas kain berisi dokumen. Mereka menunggu. Lima belas menit kemudian, seorang wanita masuk. Ia mengenakan kerudung hitam, kacamata besar, dan masker. Wajahnya sulit dikenali, tapi gerakannya memberi petunjuk. Ini Widya.
Widya duduk di meja mereka tanpa basa-basi. Matanya lelah, suara pelan. “Aku tidak punya banyak waktu,” katanya, menatap sekeliling. “Orang-orang itu mengawasiku. Aku tidak bisa keluar dari perusahaan begitu saja. Mereka memegang keluargaku. Mereka sudah mengancam. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak tahu jalan keluar. Aku butuh bantuan kalian.”
Profesor menatap Widya, campuran marah dan simpati. “Kamu menandatangani kontrak itu. Kamu memimpin proyek itu. Kenapa kamu lakukan?” tanyanya. Widya menarik napas panjang. “Dulu, aku pikir B16 untuk kesehatan. Mereka bilang ini vaksin generasi baru. Aku terlibat dari awal, membuat prosedur, menulis laporan. Tapi setelah percobaan pertama, aku lihat efeknya. Aku protes. Singh bilang, jika aku berhenti, mereka akan menghancurkan hidupku. Mereka menunjukkan foto-foto orang yang hilang. Aku takut. Aku bukan jahat, aku bodoh. Aku terjebak,” katanya. “Aku ingin keluar, tapi aku tidak bisa.”
Pak Hadi menatap Widya dengan mata merah. “Anakku hampir mati karena kamu,” katanya. Widya menunduk. “Aku minta maaf,” katanya. “Aku tahu tidak cukup. Tapi aku bisa membantu. Aku punya akses ke server. Aku bisa berikan data, alamat Singh, jadwal pengiriman. Aku juga tahu di mana keluarga kalian ditahan. Tapi aku butuh jaminan kalian lindungi keluargaku.”
Profesor berpikir cepat. “LPSK bisa melindungi keluargamu. Kita bisa bantu,” katanya. “Tapi kamu harus bicara di depan publik. Tanpa itu, ini tidak berarti. Kamu harus menebus kesalahanmu.” Widya menelan ludah. “Aku akan,” katanya. “Aku akan. Aku akan menjadi saksi. Tapi aku butuh satu minggu. Aku harus siapkan diri dan keluargaku.”
Mereka memberikan kontak LPSK dan dokumen jaminan. Widya memasukkan ke tas. Ia berdiri, menghela napas. “Aku harap ini benar,” katanya. “Kalau ini jebakan, mereka akan membunuhku.” Profesor menepuk meja. “Ini bukan jebakan. Ini kesempatan. Jangan sia-siakan.” Widya mengangguk, lalu pergi, menghilang dalam kerumunan pasar.
Pertemuan itu membuat hati mereka campur aduk. Apakah mereka harus mempercayai Widya? Ataukah ini trik? “Kita harus jaga-jaga,” kata Pak Surya setelah Widya pergi. “Tapi jika dia jujur, dia bisa membuka pintu terakhir.” Mereka setuju, namun mereka tidak berhenti mengawasi. Dayat mengikuti Widya dari jauh untuk memastikan dia tidak diikuti. Setelah yakin, mereka kembali ke rumah.
Di Balikpapan, kapal mereka siap. Langit memerah saat matahari mulai terbenam. Kapal bergerak ke Laut Sulawesi dengan tenang, angin lembut, suara motor halus. Mereka memandang ke cakrawala. Budi duduk di dek, memegang drone mini seperti memegang burung kecil. “Kali ini kita bukan hanya kuli, seniman, atau hacker. Kita jadi bajak laut baik,” katanya sambil tertawa. Perikus memeriksa pisau, menyelipkannya di pinggang. Ia menyentuh tasbih di saku. “Semoga laut berpihak pada kebenaran,” katanya.
Malam jatuh. Bulan muncul, sepotong sabit putih, menari di atas ombak. Di kejauhan, lampu-lampu kapal cargo terlihat seperti bintang terbalik. Mereka menyalakan lampu kapal kecil, menyesuaikan agar tidak menarik perhatian. Bu Rukmini berdiri di depan, merasakan arah angin dengan telapak tangan. “Angin baik, arus tenang,” katanya pelan. “Ini saat yang tepat.” Mereka menatap jam. Menurut data Maya, kapal pengangkut B16 akan lewat pukul dua dini hari. Mereka menunggu dengan sabar, mendengarkan suara laut, menghitung detik. Pikirannya campur aduk: tegang, bersemangat, takut.
Di saat-saat menunggu itu, pikiran mereka kembali ke teman dan keluarga. Tento teringat wajah Karin saat di rumah sakit, mata sembab namun bersinar harapan. Perikus memikirkan pesan ibunya semalam, “Jangan lupa shalat, nak.” Budi teringat momen ketika ia hampir menjadi pelukis jalanan, kini ia jadi penyusup. Pak Yus menatap langit, memikirkan putranya yang meninggal. Bu Rukmini memejamkan mata, memohon kepada roh laut. Mereka semua bersatu dalam diam, menyatukan kekuatan yang berbeda demi satu tujuan.
Jauh di Bandung, Rina dan Indah berdiri di depan pabrik, bersama ratusan mahasiswa, memegang lilin. Mereka menyanyikan lagu-lagu harapan. Karin di rumah sakit menonton melalui layar, air mata jatuh. Profesor dan Pak Hadi di Samarinda memantau berita, menunggu kabar. Dunia memerhatikan. Dunia menunggu. Arus perlawanan kini bergeser ke laut.
Kembali ke Balikpapan, dengan gambaran kapal kecil yang menantang lautan luas, menunggu raksasa lewat. Di atasnya, beberapa sosok duduk tegang, mata menatap horizon, hati berdoa. Di seberang, sebuah platform minyak berlampu terang berdiri kokoh, menunggu kargo. Sedangkan di daratan, ribuan orang meneriakkan keadilan. Arus besar mulai bergerak, menggoyang keheningan malam.