Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
Suara deru mesin mobil yang menjauh dan langkah kaki para wartawan yang dihalau paksa oleh petugas keamanan mulai memudar. Namun, bagi Laila, kebisingan itu justru pindah ke dalam kepalanya. Ia masih berdiri mematung di kamarnya sampai sebuah ketukan lembut di pintu membuyarkan lamunannya.
"Laila? Sayang, kamu di dalam?"
Itu suara Mommy Rosa. Laila menarik napas panjang, mencoba merapikan gurat kesedihan di wajahnya sebelum membuka pintu. Di sana berdiri sosok wanita paruh baya yang tetap terlihat anggun meski hanya mengenakan pakaian rumah berbahan sutra.
"Eh, Mommy..." Laila tersenyum kaku.
Rosa tidak langsung bicara. Ia menatap mata Laila yang sembab, lalu mengelus pipi wanita muda itu. "Wajahmu mendung sekali. Habis dari makam ya? Pasti berat rasanya."
Laila mengangguk pelan. "Iya, Mom. Tapi tadi Zayn menemani, jadi terasa sedikit lebih tenang."
"Zayn memang anak yang bisa diandalkan, meski terkadang kaku seperti papan cucian," canda Rosa, mencoba mencairkan suasana. Ia kemudian melirik ke arah jendela besar di lorong yang menghadap ke halaman depan. "Tapi sepertinya ketenanganmu terusik oleh 'tamu tak diundang' itu, ya?"
Rosa berjalan menuju tirai jendela, menyibaknya sedikit dengan ujung jari. Dari sana, ia bisa melihat Jasmine yang masih berdiri di teras dengan gaya angkuhnya, sementara Zayn terlihat sangat tidak nyaman.
"Lihat itu," gumam Rosa ketus. "Artis itu benar-benar tidak tahu malu. Dia pikir teras rumah orang adalah panggung red carpet. Laila, kemari."
Laila mendekat dan ikut mengintip dari balik tirai. Di bawah sana, Zayn tampak memberikan kode keras kepada kepala pengawalnya, Baskara. Dengan sigap, belasan pengawal berbaju hitam langsung membuat barikade, mendorong mundur para wartawan yang masih berusaha mencuri gambar.
"Cukup! Tidak ada wawancara lagi. Silakan tinggalkan area privat ini sekarang juga atau kami ambil tindakan hukum!" teriak Baskara tegas.
Jasmine yang sedang asyik berpose langsung melongo. Senyum manisnya hilang seketika saat kamera-kamera itu dipaksa menjauh. "Zayn! Apa-apaan sih? Mereka itu media besar, bisa membantu citramu!" protes Jasmine manja.
Zayn tidak menjawab. Ia hanya menatap Jasmine dengan tatapan sedingin es, lalu berbalik masuk ke dalam mansion tanpa mempedulikan wanita itu.
"Mampus kau," bisik Rosa sambil tertawa kecil. "Ayo Laila, kita turun. Sepertinya akan ada drama komedi di ruang tamu."
Di ruang tamu yang luasnya hampir seluas lapangan basket itu, suasana terasa mencekam. Jasmine masuk dengan menghentakkan kaki, sepatu hak tingginya berbunyi klak-klak keras di atas lantai marmer. Ia langsung mengempaskan tubuhnya di sofa kulit, menyilangkan kaki dengan angkuh.
"Zayn! Kamu keterlaluan! Kamu mempermalukan aku di depan wartawan!" seru Jasmine saat Zayn muncul dari arah dapur dengan segelas air putih.
Zayn duduk di kursi tunggal di seberangnya, tampak sangat lelah. "Aku tidak pernah memintamu datang, apalagi membawa rombongan sirkus ke rumahku, Jasmine."
"Rombongan sirkus? Itu pers, Sayang! Mereka yang akan membuat pengumuman pernikahan kita menjadi berita nasional!"
Zayn meletakkan gelasnya dengan dentuman pelan. "Pernikahan apa? Di kepalaku, hal itu tidak pernah ada."
Jasmine tertawa sinis. Ia mengeluarkan sebuah map kecil dari tas bermereknya. "Oh, mungkin ingatanmu perlu sedikit disegarkan. Kamu lupa tentang kasus penggelapan dana di proyek satelit tahun lalu? Yang sebenarnya dilakukan oleh sepupumu tapi kamu yang menutupi jejaknya?"
Zayn terdiam. Rahangnya mengeras. Mengingat demi keselamatan Rio sepupunya dia rela untuk menjadi jaminan di kepolisian..Dan kini Rio kembali berulah.
"Bersiaplah," lanjut Jasmine sambil berdiri dan mendekat ke arah Zayn, membungkuk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Besok malam, aku dan keluargaku akan datang ke sini. Ayahku akan membawa dokumen lamaran resmi. Kita akan bertunangan minggu depan."
"Jangan gila, Jasmine," desis Zayn.
"Aku tidak gila, aku hanya ambisius," Jasmine mengusap kerah kemeja Zayn dengan ujung kuku merahnya. "Jika kau berani menolak lamaranku besok, maka aku pastikan file kejahatanmu—dan semua bukti yang sudah dirapikan ayahku di kantor polisi—akan segera tersebar ke publik. Ingat ya, Zayn... Ayahku adalah Komisaris Utama di kepolisian. Satu jentikan jarinya, dan kerajaan Malik-mu ini bisa runtuh."
Jasmine menarik kembali tubuhnya, memasang kacamata hitamnya dengan gaya teatrikal. "Sampai jumpa besok malam, Calon Suamiku."
Tanpa menoleh lagi, ia berjalan keluar. Di tengah jalan, ia sempat berpapasan dengan Mommy Rosa dan Laila yang berdiri di dekat tangga. Jasmine hanya melirik sinis ke arah Laila dari balik kacamata hitamnya, seolah menganggap Laila hanyalah debu di lantai.
Setelah pintu depan tertutup rapat, keheningan menyergap. Zayn menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, memejamkan mata rapat-rapat.
Mommy Rosa mendekat, wajahnya tak lagi bercanda. "Zayn... apa yang dia katakan itu benar? Tentang Ayahnya dan kasus itu?"
Zayn hanya mengangguk lemah. "Dia memegang kartu yang cukup berbahaya, Mom."
Laila, yang sejak tadi hanya diam, merasa dadanya sesak. Ia merasa kehadirannya di rumah ini hanya akan menambah beban bagi Zayn. Ia melangkah pelan mendekati kursi Zayn.
"Zayn... maaf kalau aku jadi beban," bisik Laila.
Zayn membuka matanya, menatap Laila dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah lembut. "Jangan mulai, Laila. Kamu bukan beban. Ini urusanku dengan wanita ular itu."
"Tapi dia mengancammu karena... karena dia ingin posisiku? Maksudku, dia merasa aku ancaman?"
Zayn berdiri, lalu memegang kedua bahu Laila. "Dengar. Jasmine itu hanya obsesi yang dibungkus ambisi. Dia tidak peduli padaku, dia hanya peduli pada takhta. Dan soal ancamannya..." Zayn terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis yang terlihat sangat getir. "Aku akan mencari cara. Sekarang, sebaiknya kamu istirahat. Besok akan jadi hari yang panjang."
Laila kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk. Ia merebahkan diri di ranjang yang sangat empuk, namun hatinya merasa tidak tenang. Ia meraih ponselnya yang sudah lama tidak ia buka. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Istana itu punya banyak duri, Laila. Jangan sampai kau tertusuk sebelum sempat memakai mahkotanya. Besok malam, tontonlah pertunjukannya dengan baik.”
Laila gemetar. Ia tahu siapa pengirimnya. Sarah.
"Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?" gumam Laila pada kegelapan kamar. Ia menatap ke langit-langit, menyadari bahwa hidupnya yang sekarang mungkin memang lebih mewah, tapi ia merindukan saat-saat ia hanya perlu memikirkan bumbu apa yang kurang di masakan Mama Ratih, daripada memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup di antara para hiu bergaun mewah.
Laila memejamkan mata, namun bayangan senyum kemenangan Jasmine dan tatapan dingin Sarah terus menghantuinya. Satu hal yang ia tahu: besok malam, mansion ini tidak akan pernah sama lagi.