Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Pertemuan dalam Sunyi
Malam turun dengan tenang di desa kecil itu langit tampak gelap tanpa bulan, hanya dihiasi bintang-bintang yang bersinar redup di kejauhan. Udara terasa lebih dingin dibanding biasanya, seolah membawa sesuatu yang tidak terlihat namun perlahan merayap di antara rumah-rumah kayu yang berdiri sunyi.
Lampu-lampu minyak di dalam rumah penduduk satu per satu telah dipadamkan Desa itu tertidur todak ada suara langkah, tidak ada percakapan.
Hanya suara angin yang berhembus pelan, menyusup di antara pepohonan dan celah-celah dinding rumah Namun, di tengah kesunyian itu…ada sesuatu yang bergerak Cepat sangat cepat.
Bayangan hitam melintas di antara pepohonan, hampir tidak terlihat oleh mata manusia biasa. Gerakannya begitu halus, begitu ringan, seolah tidak menyentuh tanah sama sekali.
Dalam sekejap, bayangan itu telah sampai di pinggir desa tidak ada satu pun anjing yang menggonggong.
Tidak ada satu pun orang yang terbangun seolah seluruh desa… tidak menyadari kehadirannya.
Edward berdiri diam di bawah bayangan pohon besar Matanya menatap ke arah satu rumah yang berdiri sedikit terpisah dari yang lain.
Rumah kayu tua milik kakek Alana.
Wajah Edward tetap tenang seperti biasanya Namun ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya malam itu.
Lebih dalam Lebih serius Ia sudah memastikan satu hal Kakek Alana bukan orang biasa Dan pertemuan singkat mereka beberapa hari lalu di desa… sudah cukup untuk memastikan itu.
Tatapan itu.
Cara pria tua itu memperhatikannya Bukan tatapan orang awam Itu adalah tatapan seseorang yang pernah melihat dunia gelap… dan selamat darinya.
Edward menghela napas pelan.
“Jadi kau menyadarinya…” gumamnya hampir tanpa suara.
Tanpa membuang waktu, ia melangkah maju Namun langkah itu tidak terdengar Dalam satu kedipan mata, tubuhnya telah berpindah.
Dari bawah pohon…ke depan rumah kayu tua itu Pintu rumah terlihat tertutup rapat.
Lampu di dalamnya masih menyala redup.
Edward berdiri diam beberapa detik.
Ia tidak mengetuk Ia tidak memanggil.
Namun—
“Masuklah.”
Suara berat terdengar dari dalam rumah tenang Jelas seolah sudah menunggu.
Edward tersenyum tipis.
Tanpa ragu, ia mendorong pintu perlahan dan masuk ke dalam Di dalam rumah, suasana terasa hangat namun sunyi.
Cahaya lampu minyak menerangi ruangan sederhana yang dipenuhi rak-rak buku tua. Aroma kayu dan kertas lama bercampur di udara.
Kakek Alana duduk di kursinya dekat meja.
Tongkat kayunya bersandar di samping Di atas meja, buku tua itu masih terbuka Halaman yang sama.
Tentang kalung berlian hijau, tentang Ratu Vampir Ia tidak terlihat terkejut melihat Edward masuk.
Seolah kehadiran pria itu… sudah ia duga.
“Jadi akhirnya kau datang juga.”
Edward menutup pintu di belakangnya dengan pelan.
“Aku tidak berniat bersembunyi selamanya.”
Kakek Alana menatapnya lurus.
“Tidak perlu.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
“Aku sudah tahu siapa dirimu.”
Ruangan menjadi lebih hening Edward berjalan perlahan mendekati meja.
Langkahnya tetap ringan, hampir tidak terdengar Namun setiap gerakannya terasa terukur.
“Kalau begitu… aku tidak perlu berpura-pura lagi.”
Kakek Alana menyipitkan matanya sedikit.
“Apa tujuanmu datang ke desa ini?”
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada rasa takut dalam suaranya hanya ketegasan Edward berhenti beberapa langkah di depan meja tatapannya bertemu dengan mata pria tua itu.
“Aku datang untuknya.”
“Alana.”
Nama itu menggantung di udara Kakek Alana tidak langsung menjawab Namun genggaman tangannya pada tongkat sedikit menguat.
“Aku sudah menduganya.”
Ia menatap Edward dengan lebih tajam.
“Kalung itu.”
Edward mengangguk pelan.
“Ya.”
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Kemudian kakek Alana berkata pelan,
“Kalung itu milik Ratu Vampir.”
Edward tidak menyangkal.
“Itu benar.”
“Dan dalam catatan keluarga kami… setelah sang ratu menghilang, kalung itu selalu berada di tangan Raja Vampir.”
Kakek Alana berhenti sejenak tatapannya semakin dalam.
“Yang berarti… kau.”
Edward tidak menjawab dengan kata-kata Namun tatapannya sudah cukup pengakuan tanpa suara ruangan terasa semakin berat.
Namun tidak ada permusuhan tidak ada seranga Hanya dua orang… dari dua dunia berbeda… yang saling memahami posisi masing-masing.
“Apa hubunganmu dengan cucuku?”
Akhirnya pertanyaan itu keluar.
Langsung tanpa raguEdward terdiam sejenak seolah mencari kata yang tepat.
Namun ketika ia berbicara, suaranya terdengar lebih dalam dari sebelumnya.
“Dia adalah istriku.”
Kata-kata itu membuat ruangan seolah membeku.
Kakek Alana tidak bergerak Namun matanya menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat.
Kejutan.
“Jangan main-main.”
Suaranya sedikit lebih berat.
Edward tetap tenang.
“Aku tidak pernah main-main tentang hal itu.”
Kakek Alana berdiri perlahan dari kursinya tongkatnya menyentuh lantai dengan suara pelan.
“Kau mengharapkan ku percaya… bahwa cucuku adalah… istrimu?”
Edward menatapnya tanpa berkedip.
“Bukan hanya itu.”
Ia melanjutkan dengan suara rendah,
“Dia adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir.”
Kata-kata itu mengguncang keheningan angin dari luar berhembus pelan melalui celah jendela.
Api lampu minyak sedikit bergoyang Kakek Alana terdiam pikirannya bekerja cepat.
Menghubungkan semua yang telah ia lihat Kalung itu ,aura yang ia rasakan Dan sekarang…penjelasan dari makhluk yang berdiri di depannya.
“Reinkarnasi…” gumamnya pelan.
Edward melangkah satu langkah lebih dekat.
“Aku telah mencarinya… selama waktu yang sangat lama.”
Tatapannya berubah.Bukan lagi sekadar tenang Namun penuh sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Dan akhirnya… aku menemukannya di sini.”
Kakek Alana menatapnya dengan serius.
“Jika itu benar… lalu kenapa dia tidak mengingat apa pun?”
Edward terdiam sejenak.
“Karena dia hidup sebagai manusia.”
“Jiwanya sama… namun ingatannya tidak.”
Ia melanjutkan,
“Dan itu adalah hal yang wajar.”
Kakek Alana menggenggam tongkatnya lebih erat.
“Dan apa yang akan kau lakukan sekarang?”
Pertanyaan itu penuh makna Edward menjawab tanpa ragu,
“Aku akan melindunginya,"
Jawaban itu cepat tegas tanpa keraguan.
Namun kakek Alana tidak langsung percaya.
“Melindungi… atau membawanya kembali ke duniamu?”
Edward tidak tersinggung Ia sudah menduga pertanyaan itu.
“Aku tidak akan memaksanya.”
Ia menatap lurus ke mata kakek Alana.
“Keputusan akan tetap berada di tangannya.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan Kakek Alana menatapnya lama.
Mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi Namun wajah Edward terlalu tenang terlalu sulit ditebak.
“Aku tidak peduli siapa dirimu.”
Akhirnya kakek Alana berbicara.
Suaranya berat, namun stabil.
“Raja Vampir atau apa pun itu.”
Ia melangkah sedikit maju.
Tongkatnya menghentak pelan ke lantai.
“Yang aku pedulikan hanya satu hal.”
Tatapannya tajam.
“Cucuku.”
Edward tidak mengalihkan pandangannya.
“Aku tahu.”
“Kalau begitu dengarkan ini dengan baik.”
Nada suara kakek Alana berubah lebih dingin lebih tegas.
“Jika kau menyakitinya… sedikit saja…”
Ia berhenti sejenak tatapanya tidak goyah.
“Aku tidak akan peduli seberapa kuat dirimu.”
Ancaman itu jelas Namun tidak diucapkan dengan emosi berlebihan justru itulah yang membuatnya terasa lebih berat Edward terdiam beberapa detik Lalu…ia tersenyum tipis.
Bukan senyum meremehkan Namun seolah memahami.
“Kau mengingatkanku pada seseorang.”
Kakek Alana mengerutkan kening.
“Istriku… dulu memiliki tatapan seperti itu saat ingin melindungi orang yang ia sayangi.”
Ucapan itu membuat suasana berubah sejenak Namun kakek Alana tidak terpengaruh.
“Jangan alihkan pembicaraan.”
Edward mengangguk pelan.
“Aku mengerti maksudmu.”
Ia melanjutkan dengan suara tenang,
“Dan aku tidak akan menyakitinya.”
“Tidak sekarang. Tidak nanti.”
Tatapannya menjadi lebih dalam.
“Tidak selamanya.”
Keheningan kembali jatuh Kali ini lebih panjang.
Kakek Alana akhirnya menarik napas panjang Ia tidak sepenuhnya percaya.
Namun ia juga tidak merasa bahwa pria di depannya sedang berbohong itulah yang membuat semuanya menjadi lebih rumit.
“Kalau begitu… kau harus tahu satu hal lagi.”
Edward menunggu.
Kakek Alana berkata pelan,
“Bukan hanya kau yang mengincarnya.”
Tatapan Edward berubah sedikit.
Lebih tajam.
“Raja Serigala.”
Nama itu disebut dengan jelas Ruangan terasa semakin dingin.
Edward tidak terlihat terkejut seolah ia sudah mengetahuinya.
“Aku sudah merasakannya.”
Kakek Alana menyipitkan mata.
“Kalau begitu kau juga tahu… mereka tidak akan diam.”
Edward mengangguk.
“Ya.”
Beberapa detik berlalu kemudian ia berkata,
“Itulah alasan aku datang lebih dulu.”
Kakek Alana menatapnya tajam.
“Maka lindungi dia.”
Kata-kata itu sederhana namun penuh makna.
Edward mengangguk pelan.
“Itu sudah menjadi tujuanku.”
Angin malam kembali berhembus lampu minyak bergoyang perlahan.
Pertemuan itu tidak berakhir dengan pertarungan.
Tidak ada darah tidak ada kekerasan Namun sesuatu telah berubah sebuah kesepakatan diam-diam bukan sebagai sekutu Namun sebagai dua pihak… yang memiliki tujuan yang sama melindungi Alana.
Edward melangkah mundur perlahan.
“Aku akan pergi.”
Kakek Alana tidak menghentikannya Namun, sebelum Edward benar-benar keluar…
“Jangan biarkan dia tahu dulu.”
Edward berhenti.
“Dia masih manusia.”
Kakek Alana melanjutkan,
“Biarkan dia memilih jalannya sendiri.”
Beberapa detik berlalu kemudian Edward menjawab, “Baik.”
Tanpa menoleh lagi, ia membuka pintu dan keluar.
Dalam sekejap…tubuhnya menghilang dalam kegelapan malam seolah tidak pernah ada.
Di dalam rumah, kakek Alana kembali duduk perlahan Ia menatap buku tua di atas meja Namun kali ini pikirannya tidak lagi dipenuhi keraguan.
Kebenaran sudah datang lebih cepat dari yang ia duga Ia menutup buku itu perlahan.
“Akhirnya…”gumamnya pelan.
Namun wajahnya tidak menunjukkan kelegaan hanya kekhawatiran yang semakin dalam Karena, sekarang ia tahu satu hal dengan pasti bukan hanya masa lalu yang telah kembali.
Namun juga…bahaya yang mengikutinya Dan di tengah semua itu…cucunya berdiri di garis yang sangat tipis.
Antara dua dunia yang suatu saat nanti…akan memaksanya untuk memilih.