NovelToon NovelToon
Anomali Hati Di Suhu Minus

Anomali Hati Di Suhu Minus

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / CEO / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:729
Nilai: 5
Nama Author: Ella

"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.

Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.

Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".

Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta untuk Gisel

Meja Makan "The Glass Garden" (Pukul 19.15)

Hidangan utama datang: sepotong Wagyu Steak yang tebal, juicy, dan dikelilingi sayuran yang ditata seperti taman bunga kecil. Gisel menatap piring itu seolah-olah sedang melihat teka-teki silang yang sangat sulit.

Gisel mengambil pisau dan garpu dengan ragu. Ia mencoba meniru gerakan Adrian garpu di kiri, pisau di kanan. Namun, begitu ia mulai menekan dagingnya, piring porselen mahalnya mengeluarkan suara ngik-ngik yang melengking, memecah keheningan musik jaz di ruangan itu.

Gisel berbisik panik "Aduh... kok suaranya kayak rem truk blong sih? Pak Ian, piringnya licin banget! Dagingnya juga keras, nggak kayak kerupuk yang tinggal digigit!"

Adrian menghentikan gerakannya, menatap Gisel dengan tenang "Jangan ditekan terlalu kuat, Gisel. Gunakan tenagamu untuk mengiris, bukan untuk menghancurkan piringnya."

Gisel mendumel sambil mengerahkan tenaga ekstra "Gimana nggak ditekan! Ini pisaunya tumpul atau saya yang nggak bakat jadi orang kaya sih? Di gudang saya bisa bongkar palet pake tangan kosong, masa potong daging secuil gini aja kalah!"

SREEEEKK!

Satu potong wortel meluncur dari piring Gisel dan mendarat tepat di atas meja marmer. Gisel langsung membeku, wajahnya merah padam. Ia melirik ke meja sebelah, di mana sepasang sosialita sedang menatapnya dengan tatapan "siapa wanita norak ini".

Gisel menaruh pisaunya dengan lemas "Udah deh... saya nyerah. Mending saya pesen nasi goreng atau nasi padang aja yang tinggal disendok. Saya malu, Pak. Saya bener-bener kayak alien di sini."

Adrian tidak tertawa. Ia justru menggeser kursinya sedikit, lalu tanpa berkata apa-apa, ia mengambil piring Gisel dan menaruhnya di depannya sendiri. Ia menukar piring mereka.

"Diam sejenak. Biar saya yang urus." Ucap Adrian dengan nada dingin.

Dengan gerakan yang sangat lihai dan elegan, Adrian memotong daging tersebut menjadi potongan-potongan kecil yang pas untuk satu suapan. Ia melakukannya dengan sangat presisi, seolah-olah sedang melakukan operasi medis yang sangat penting.

Gisel menatap tangan Adrian yang cekatan "Bapak... eh, kak... kenapa baik banget sih? Biasanya kan Bapak taunya cara motong gaji orang, bukan motong daging."

Adrian menggeser kembali piring yang sudah rapi itu ke depan Gisel "Saya hanya tidak ingin sekretaris saya kelaparan dan akhirnya pingsan di depan klien besok. Sekarang, makanlah. Jangan dipikirkan orang-orang di meja sebelah. Di mata saya, mereka hanya dekorasi tambahan."

Gisel mengambil garpunya, lalu menusuk satu potong daging. Rasanya memang luar biasa, lumer di mulut. Tapi yang lebih lumer adalah perasaan Gisel saat melihat Adrian kembali memotong dagingnya sendiri seolah tidak terjadi apa-apa.

Gisel masih dengan gaya khasnya yang konyol mengunyah pelan "Makasih ya, Pak. Ternyata tangan 'Kulkas' kakak bisa anget juga kalau lagi motong daging."

Adrian menatap Gisel lekat-lekat "Hanya untuk orang-orang tertentu, Gisel. Tidak semua orang punya hak untuk membuat saya menggeser piring saya."

“Dasar Robot Kulkas 1000 pintu, nggak bisa apa gaya bicaranya seperti orang normal, jangan kaku terus kayak kanebo kering” ucap Gisel namun tidak dihiraukan oleh Adrian.

**

Makan malam di The Glass Garden itu diakhiri dengan tawa kecil Adrian yang jarang terlihat. Setelah Gisel hampir menyerah dengan pisau daging yang ia gunakan untuk mengoles mentega, pelayan datang membawakan sebuah paper bag eksklusif dengan logo butik ternama di Jakarta.

Adrian menggeser tas kertas itu ke arah Gisel.

Gisel mengerutkan kening, menatap tas itu dengan curiga "Apa ini, Pak ekh Kak? Jangan bilang isinya garpu sama pisau buat saya latihan di kosan ya?"

Adrian tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya ke kursi "Buka saja. Itu hadiah karena kamu sudah menyelamatkan aset perusahaan dan pak Darwin. Saya tidak suka asisten saya datang ke rapat direksi besok dengan penampilan kemeja dilapisi dengan jaket lapangan"

Gisel mengeluarkan isinya dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat satu setelan baju kantor blazer berwarna charcoal yang elegan, kemeja sutra putih yang sangat lembut, dan rok sepan dengan potongan sempurna.

Gisel menyentuh bahannya, matanya membelalak "Wah... halus banget, Pak ekh Kak. Ini kalau kena kuah bakso di kantin, baksonya yang minta maaf ya? Mahal banget pasti!"

"Jangan pikirkan harganya. Itu investasi. Besok kita ada pertemuan dengan investor dari Korea. Saya mau kamu tampil sebagai perwakilan saya, bukan cuma sebagai 'anak gudang' yang kebetulan pinter audit." Tegas Adrian.

Gisel menatap setelan baju itu, lalu menatap Adrian. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Adrian yang bukan sekadar bos yang dingin, tapi pria yang memperhatikan detail terkecil tentang karyawannya.

"Terima kasih, Pak ekh Kak. aduh ribet banget sih. Bisa jangan paksa saya dulu untuk menyebut bapak dengan sebutan kak atau lainnya" ucap Gisel

Adrian mengangkat alisnya lalu memutuskan untuk tidak peduli dengan panggilan untuknya "Terserah nyamannya kamu mau panggil saya apa saja"

"Nah Gitu dong pak, mmm Pak Adrian saya boleh jujur satu hal lagi?" Ucap Gisel

Adrian mengangkat alisnya "Apa lagi, Gisel? Kamu mau minta tambahan kerupuk?"

"Enggak. Cuma mau bilang, baju ini bagus banget. Tapi saya lebih suka bapak yang tadi tersenyum pas membantu saya memotong stik. bapak kelihatan lebih... manusia."

Adrian tertegun. Ia berdeham, mencoba mengembalikan ekspresi datarnya, meski telinganya sedikit memerah.

"Jangan banyak bicara. Cepat habiskan hidangan penutupmu. Dan besok, pastikan baju itu pas di badanmu. Kalau tidak, saya sendiri yang akan menyeret kamu kembali ke butik itu untuk tukar ukuran."

Gisel Nyengir lebar "Siap, Pak Kulkas! Eh, Pak Adrian!"

**

Suasana di The Glass Garden yang tadinya romantis dan penuh haru mendadak berubah menjadi tegang namun dengan jenis ketegangan yang membuat menahan tawa.

Saat Gisel sedang sibuk merapikan setelan baju kantor barunya ke dalam paper bag, Adrian menyesap kopinya yang terakhir dengan perlahan. Matanya menatap Gisel dengan tatapan tajam yang membuat Gisel mendadak merasa seperti sedang disidang.

"Hadiahnya sudah diterima, Sel? Bagus. Tapi ada satu hal lagi yang mengganjal di pikiran saya malam ini." Ucap Adrian Datar.

Adrian mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah halaman blog dengan desain sederhana namun penuh komentar "Kamu tahu blog 'Si Singa Gudang'? Judul postingan terakhirnya sangat menarik: 'Tips Menghadapi Atasan Kulkas yang Tidak Punya Hati: Gunakan Bahasa Isyarat atau Pura-Pura Budeg.'"

Gisel seketika tersedak air mineral, wajahnya pucat pasi "Huk... huk! Pak... itu... itu mungkin blog orang lain yang kebetulan namanya mirip saya..."

Adrian membaca dengan nada datar namun penuh intimidasi yang menggoda "Poin nomor tiga: Kalau si Bos mulai ngomel soal laporan, tatap matanya dalam-dalam sambil bayangkan dia adalah tukang cilok yang lagi marah karena kita ngambil saos kebanyakan. Dijamin kita nggak akan sakit hati."

Gisel menutup wajahnya dengan telapak tangan, ingin menghilang ke bawah meja "Aduh... siapa sih yang bocorin ke bapak? Itu kan cuma buat curhat seru-seruan sama temen-temen admin dan TIM operational logistic pak..."

"Hadi yang menemukannya. Dia bilang tulisan ini sangat akurat menggambarkan saya. Jadi, selama ini kamu melihat saya sebagai tukang cilok, Gisel?"

Gisel memberanikan diri mendongak, matanya berkilat jahil "Habisnya bapak kaku banget! Kalau nggak digituin, saya bisa darah tinggi tiap hari di kantor. Selalu saja buat kita-kita tegang tiap hari apalagi devisi opersional dan logistic, pasti panas dingin tiap hari, kami terus berusaha menghindar untuk dapat black folder ala bapak, siapa coba yang tidak stress setiap hari ada saja yang membuat bapak marah nggak jelas."

Adrian tersenyum tipis lalu menutup ponselnya, lalu sedikit condong ke arah Gisel "Saya tidak akan menyuruhmu menghapusnya. Tapi, saya punya satu syarat."

"Syarat apa, Pak?"

"Tambahkan poin nomor empat di postingan selanjutnya: 'Atasan yang tidak punya hati itu ternyata sangat baik dan diajak makan malam di restoran mahal dan diberikan baju dari butik ternama.'"

Gisel tertawa lepas, rasa takutnya hilang seketika "Dih! Kepedean banget! Itu mah namanya bukan tips, tapi pamer, pak!"

Adrian kembali menanggapi dengan senyum tipisnya hamper tak terlihat oleh siapa saja.

**

Keluar dari bangunan kaca The Glass Garden, udara malam Jakarta yang biasanya gerah mendadak terasa menusuk karena embusan angin kencang sisa hujan sore tadi. Gisel yang hanya mengenakan jaket lapangan yang tipis langsung bergidik. Langkahnya yang semula sok gagah tiba-tiba menciut, lengannya ia dekap erat ke dada.

Gigi Gisel bergemeletuk kecil "Duh... ini Jakarta apa kutub utara sih? Anginnya kenceng bener, kayak mau niup saya sampe ke Gudang B!"

Adrian yang berjalan di sampingnya berhenti melangkah. Ia menoleh, memperhatikan bahu Gisel yang sedikit bergetar. Tanpa banyak bicara, Adrian melepaskan jas hitam mahalnya jas yang harganya mungkin setara dengan gaji Gisel setahun.

Adrian menyampirkan jasnya ke bahu Gisel dengan gerakan mantap "Pakai ini. Jangan protes. Saya tidak mau besok sekretaris saya izin sakit hanya karena masuk angin."

Gisel tertegun, aroma parfum sandalwood yang hangat langsung menyelimuti indranya "Bapak... ini jas mahal kan? Nanti kalau kena noda atau bau solar gimana? Saya nggak sanggup bayar laundry-nya!"

Adrian merapikan kerah jas itu di leher Gisel, jemarinya sempat bersentuhan dengan kulit leher Gisel selama dua detik "Jas bisa dibeli lagi, Gisel. Tapi sekretaris yang tahu letak kontainer di bawah terpal biru cuma ada satu. Anggap saja ini investasi kesehatan perusahaan."

Gisel mendongak menatap Adrian, wajahnya memerah bukan karena dingin kali ini "Bapak... hobi banget ya, ngomong manis tapi ujung-ujungnya tetep bawa-bawa kerjaan. Bisa nggak sih sekali aja jadi manusia biasa yang nggak mikirin profit?"

Adrian menatap mata Gisel lekat-lekat di bawah lampu taman yang temaram "Mungkin itu cara saya menunjukkan kalau saya peduli tanpa harus terdengar... cengeng. Kamu sendiri, kenapa tidak pernah berhenti mendumel? Apa itu cara kamu menutupi kalau kamu sebenarnya senang saya ada di sini?"

Gisel langsung buang muka, pura-pura sibuk membetulkan kancing jas yang kedodoran di badannya " Geer banget jadi orang! Saya tuh mendumel biar nggak ngantuk! Udah, ayo pulang! Sebelum saya beneran berubah jadi es batu di sini!"

Adrian tersenyum tipis kali ini senyum yang benar-benar sampai ke matanya. Ia berjalan mendahului menuju mobil, sementara Gisel mengekor di belakangnya, tenggelam dalam jas Adrian yang kebesaran namun terasa sangat hangat dan aman.

**

Malam itu, setelah diantar pulang oleh Adrian dengan mobil mewahnya, Gisel berjalan menuju kamar kostnya sambil menenteng paper bag butik mahal dengan perasaan campur aduk. Ia masih terbayang wajah Adrian yang menyinggung blog anonimnya.

Namun, begitu ia membuka pintu gerbang kostan yang catnya sudah mengelupas itu...

"SURPRISEEEE!!! HIDUP SINGA GUDANG!!!"

Suara terompet plastik murahan dan taburan potongan kertas koran langsung menyambut wajah Gisel. Di area parkiran motor yang sempit, sudah berkumpul "pasukan elit" dari departemen operasional dan logistik.

Ada Bang Rendi yang memakai topi kerucut dari kertas kalender, Bang Iwan yang sibuk mengipasi sate ayam di atas bakaran kaleng, serta Maya dan Budi yang sudah menyiapkan dua botol besar minuman bersoda dan tumpukan kerupuk kaleng.

Bang Rendi memeluk Gisel layaknya adik sendiri "Sel! Makasih banyak! Kalau bukan karena kamu memberikan bukti selisih angka itu, aku udah jadi pengangguran hari ini. Anak bini ku makan apa kalau aku dipecat si Bos Kulkas?"

"Berkat buku kucel kamu itu, semua kembali ke normal dan Pak Adrian tidak jadi mecat Pak Rendi! Kamu emang beneran Macan, Sel!"

“Aku tuh udah deg-degan Sel, waktu kamu membentak si Bos Kulkas, aku piker kamu akan dipecat juga Sel, tapi siapa sangka dia malah merekrut kamu jadi sekertarisnya” Ucap Bang Rendi

Gisel tertawa terbahak-bahak, "Aduh, Guys, saya itu Cuma memperlihatkan kenyataanya, barang 200 unit itu tidak hilang dan itu masih ada di gudang, sekarang sudah aman, barangnya sudah sampai di Cikarang. Lah kalian kenapa sih pakai pesta segala? Saya cuma nggak mau kalian kena imbas karema ego dari Bos Kulkas!"

"Duh say, harus dirayain, karena berkat yey, kita semua nggak kehilangan pekerjaan di devisi opersional dan logostik. Selain itu say bukan cuma itu, Sel! Kita ngerayain 'Satu Hari Jadi Sekretaris'. Gimana rasanya duduk di kursi empuk lantai 40? Masih bisa napas nggak deket-deket Pak Adrian?" Ucap Budi dengan gaya khas kemayunya.

“Sama saja bang Bud, nggak ada yang berbeda, sama kayak masih di ruangan opersional dan logisti, sama saja bang” ucap Gisel lalu meletakkan bag paper baju pemberian Adrian di atas meja lusuhnya.

“Ayo kita rayakan Sel” ucap Iwan dengan antusias.

Mereka duduk lesehan di atas tikar plastik. Sate ayam panas dan sambal kacang terasa jauh lebih nikmat bagi Gisel daripada steak wagyu yang tadi ia potong pakai pisau mentega di The Glass Garden.

"Eh, Sel. Itu tas apaan? Mewah banget logonya. Jangan bilang lo abis ngerampok brankas Pak Adrian?" ucap bang Iwan

"Hadiah dari si Bos. Setelan baju kantor baru. Katanya biar saya nggak memalukan kalau diajak rapat sama investor."

Maya mengecek bahan bajunya, matanya hampir keluar "Gila! Ini sutra asli, Sel! Harganya bisa buat bayar kostan kita setahun! Pak Adrian beneran nggak punya hati atau sebenernya lagi 'pedekate' sama lo?"

"Huss! Ngaco! Dia cuma nggak mau sekretarisnya keliatan gembel. Tadi aja dia sempet bahas blog saya soal 'Bos Kulkas'. Saya hampir jantungan, kirain mau langsung dipecat di tempat!"

Budi, yang sedari tadi sibuk membenahi poni lemparnya dan mengipasi diri dengan jari-jarinya yang lentik, tiba-tiba berdiri dan menghampiri paper bag mahal milik Gisel dengan gaya jalannya yang khas sedikit meliuk-liuk manja.

Budi menarik napas dalam, seolah sedang menghirup aroma kemewahan yang keluar dari tas kertas itu.

Budi mengangkat kemeja sutra putih itu dengan ujung jarinya, matanya menyipit bak detektif fashion "Aduuuh, makkk! Ini mah bukan sembarang kain, Sel! Ini sutra organik yang ulatnya pasti disekolahin dulu di Paris! Liat nih seratnya... halus banget, halusannya melebihi janji-janji mantan eike!"

Gisel tertawa sambil mengunyah kerupuk "Lebay lo, Bang Bud! Itu cuma kemeja putih biasa buat ngantor besok."

Budi menepis tangan Gisel dengan gaya gemulai "Hush! Sembarangan lo! Ini namanya Haute Couture, Sayang! Coba sini gue cek ukurannya..."

Budi menempelkan blazer charcoal itu ke tubuh Gisel, lalu ia berputar mengelilingi Gisel sambil memegang dagunya, bergaya ala desainer internasional.

"Ehm... Cutting-annya slim fit. Jahitannya rapi jali, nggak ada benang sisa kayak baju yang kita beli di pasar kaget Senen. Sel... jujur sama mami Budi sekarang. Pak Adrian waktu ngasih ini matanya gimana? Ada binar-binar rindu atau binar-binar mau potong gaji?" ucap Budi

"Matanya kaku kayak es batu, bang! Dia cuma bilang 'pake ini besok biar gak pake jaket lapangan lagi bang'. Gitu doang!"

Budi mencibir, bibirnya maju beberapa senti "Dih, bohong banget! Cowok sekaku Pak Adrian nggak mungkin tau ukuran pinggang yey yang seiprit ini kalau dia nggak merhatiin yey dari ujung rambut sampe ujung jempol kaki setiap hari! Ini mah kode keras, Sel! Kode nuklir!" ucap Budi antusias.

Budi kemudian mengambil rok sepan dari dalam tas dan menelitinya dengan sangat detail, bahkan sampai ke bagian resletingnya.

"Gisel, dengerin Mami. Baju ini tuh ibarat 'pagar ayu'. Pak Adrian sengaja beliin yang mahal supaya semua cowok di kantor minder mau deketin lo. Dia mau bilang: 'Hanya kasta Sultan yang boleh nyentuh sutra ini'. Uhuy! yey mah emang beneran dapet durian runtuh, plus sama pohon-pohonnya sekalian!" ucap Budi gemas

Maya ikut menimpali sambil tertawa "Bener kata Pak Budi, Sel. Besok kamu pake ini, terus kamu jalan lenggak-lenggok depan Pak Adrian. Liat deh, itu Kulkas bakal mencair jadi sirup Marjan apa nggak!"

"Ih, ogah! Saya tetep bakal kerja profesional. Lagian saya lebih takut kotor kena tinta pulpen daripada takut Pak Adrian naksir saya."

Budi menepuk dahi Gisel pelan dengan gaya kemayu "Aduuuh, Singa sayang... otak yey emang encer buat urusan logistik, tapi buat urusan cinta yey mah butiran debu di pojokan gudang! Udah, besok dandan yang cantik. Pake lipstik yang warnanya 'berani mati'. Biar Pak Adrian makin pusing tujuh keliling!"

“Nih pake” Budi memberikan lipstick kepada Gisel.

Gisel melotot ngeri menatap benda kecil berbentuk peluru di tangan Budi. Warna lipstiknya bukan merah biasa, tapi merah cabai rawit yang sangat menyala, seolah-olah kalau dioleskan ke bibir bisa langsung menyulut kebakaran hutan.

Gisel mundur selangkah, tangannya menangkis "Aduh, Mi! Nggak, nggak! Ini mah bukan 'Berani Mati', ini mah 'Ngajak Mati'! Mami mau saya disangka mau lenong di depan investor Korea besok?"

Budi mendelik manja, tangan kirinya di pinggang "Heh, Singa ompong! Dengerin Mami. Investor Korea itu sukanya yang fresh, yang bold! Bukan yang bibirnya pucet kayak kertas laporan yang belum di-print! Ini merk mahal, Sel! Tahan banting, tahan badai, tahan air liur Pak Adrian kalau dia khilaf!"

"Mi! Mulutnya minta di-audit ya?!Saya ini sekretaris, bukan model kalender bengkel Bang Iwan!" Ucap Gisel mulai memanggil Budi dengan sebutan Mami

Budi tetap memaksa, membuka tutup lipstiknya dengan gerakan dramatis "Sini... dikit aja! Cuma di-tap tap manja di tengah, terus lo mwah mwah gitu. Biar gradasi, biar kayak artis drakor yang lagi sariawan estetik. Sini!"

Budi dengan lincahnya memegang dagu Gisel. Gisel sempat berontak, tapi tenaga Budi kalau lagi dandanin orang setara dengan tenaga kuli panggul gudang.

Budi sambil mengoles tipis-tipis "Tahan... jangan monyong dulu... nah... pinter anak Mami. Liat nih, Bang Rendi! Bang Iwan! Liat temen kalian, udah kayak Rose Blackpink habis makan seblak level lima belas kan?"

Bang Iwan sambil ngunyah sate "Waduh, Sel. Kalau lo lewat depan gue pake lipstik gitu, gue kirain lo abis gigit ayam hidup-hidup. Merah bener!"

Gisel langsung ngambil kaca spion motor Bang Iwan buat ngaca "ASTAGA, MAMI! Ini mah bibir gue keliatan kayak abis dicium knalpot panas! Pak Adrian pasti langsung manggil pemadam kebakaran pas liat saya!"

Budi mengibaskan tangannya "Itu mah pujian terselubung! Percaya sama eyke, Sel. Besok Pak Adrian bakal salah fokus. Dia mau bahas saham, eh matanya malah ke bibir yey terus. Itu namanya strategi 'Distraksi Visual', ilmu tingkat tinggi itu!"

Gisel akhirnya pasrah. Ia mengusap sedikit pinggir bibirnya agar tidak terlalu "ngejreng", tapi ia tidak menghapusnya. Ada sedikit rasa percaya diri yang muncul saat melihat pantulan wajahnya yang jadi lebih cerah.

"Ya udah, saya simpen. Tapi saya pakenya tipis aja ya! Jangan sampe pas gue ngomong 'Selamat Pagi Pak', Pak Adrian malah pingsan gara-gara silau liat bibir saya." Ucap Gisel pasrah

"Terserah yey deh, sayangkuh. yang penting besok pas yey masuk lift, dagu tegak, dada busung, bibir merona merapi! Biar karyawan-karyawan lantai bawah yang hobinya nyinyir itu langsung kena mental breakdown!"

Bang Rendi mengangkat gelas plastiknya yang berisi soda, matanya sedikit berkaca-kaca menatap Gisel.

"Sel, jujur ya... kita semua di logistik bangga banget punya kamu di atas sana. Sekarang kita ngerasa punya 'suara'. Jangan lupain kita ya kalau kamu udah jadi nyonya besar di kantor itu."

Gisel tersenyum tulus, merangkul pundak Bang Rendi dan Maya "saya tetep Gisel yang lama, Bang. Tetep Singa Gudang yang hobi makan seblak. Baju ini cuma casing-nya doang, dalemnya mah tetep anak buah kalian!"

Pesta sederhana itu berlangsung meriah dengan tawa yang pecah di bawah lampu neon parkiran yang kedip-kedip. Kontras sekali dengan suasana kaku di restoran mewah tadi, tapi di sinilah Gisel merasa benar-benar pulang.

to be continue

1
TriAileen
mami Budi ampun dah🤣
TriAileen
gitu kan mantap. ada yang berani ma Bos ny
Mom's VB: Terima kasih masih setia dengan author 🙏
total 1 replies
TriAileen
q mampir kak. cinta karena cinta gimana KK. lnjut gak
Mom's VB: Siap akan diusahakan untuk tetap update cerita Dito-Nayla
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!